Karin mengunyah makanannya sambil memperhatikan Kevin dan Altar yang kembali menyusun miniatur. Ia sudah menawarkan bantuan, tetapi Kevin hanya memberinya tugas memotong kertas warna karena tidak percaya adiknya mampu menyentuh lem tanpa membuat kekacauan.
'Kak Kevin meremehkan kemampuan orang terus,' gerutu Karin.
'Kemarin siapa yang menempelkan jarinya sendiri waktu bikin tugas seni?'
'Itu kecelakaan kecil.'
Altar menahan senyum. 'Potong bagian biru sesuai garis ini saja, Rin. Nanti bisa kita pakai untuk jendela.'
Karin langsung duduk lebih tegak. Perintah Altar terdengar jauh lebih menyenangkan daripada omelan Kevin. Dengan sungguh-sungguh ia memotong kertas, meskipun hasil pertamanya miring dan terlalu kecil.
'Ini seni abstrak,' katanya ketika Kevin mengangkat potongan itu.
'Ini jendela yang kena gempa.'
Karin hendak membalas, tetapi suara benda jatuh dari halaman belakang membuat mereka menoleh. Poli rupanya berhasil keluar dari kandang dan menjatuhkan baki logam yang disandarkan di dekat pintu. Bunyi dentangnya memantul keras di ruang tengah.
Altar mendadak menjatuhkan penggaris. Kedua tangannya menutup telinga, bahunya menegang, dan wajahnya kehilangan warna. Kevin berdiri karena terkejut, sedangkan Karin yang semula hendak menjauh dari kucing justru membeku melihat Altar membungkuk kesakitan.
'Al?' panggil Kevin.
Altar tidak menjawab. Napasnya cepat. Salah satu alat kecil di telinganya terlepas dan jatuh di bawah meja. Karin melihat benda itu, lalu teringat kejadian di pertunjukan sulap. Saat itu Altar melarangnya menyentuh telinganya dan berkata benda tersebut justru melindunginya.
Tanpa banyak bicara, Karin mematikan televisi yang menyala dan memberi isyarat kepada Kevin agar diam. Ia memungut alat kecil itu, tetapi tidak langsung memasangnya. Ia meletakkannya di telapak tangan Altar agar cowok itu dapat melakukannya sendiri.
Beberapa menit terasa sangat panjang. Altar akhirnya mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca bukan karena menangis, melainkan menahan nyeri yang menusuk sampai ke kepala.
'Maaf,' ucapnya lirih.
'Kenapa kamu minta maaf?' Karin bertanya, kali ini dengan suara jauh lebih rendah dari biasanya.
Mama Hanna datang dari dapur dan langsung memahami situasi. Ia meminta mereka memberi Altar ruang. Poli dibawa kembali ke kandang, baki logam dipindahkan, dan semua pintu ditutup pelan.
Kevin menatap alat yang kembali terpasang di telinga Altar. 'Itu alat bantu dengar?'
'Bukan persis begitu,' jawab Altar setelah napasnya membaik. 'Pendengaranku terlalu sensitif terhadap suara tertentu. Alat ini membantu meredamnya.'
Karin duduk di lantai, tidak terlalu dekat. 'Makanya kamu selalu pergi ke perpustakaan dan menghindari keramaian?'
Altar mengangguk. Ia kelihatan malu karena rahasianya terbuka dengan cara yang tidak ia inginkan. 'Aku tidak tuli. Tapi kalau terlalu sering terkena suara keras, saraf pendengaranku bisa semakin rusak. Dokter bilang ada kemungkinan aku justru kehilangan pendengaran.'
Kevin menarik kursi dan duduk. Tidak ada rasa kasihan berlebihan pada wajahnya, hanya perhatian seorang teman. 'Kenapa tidak pernah bilang? Setidaknya aku bisa mencegah anak-anak kelas ribut dekat kamu.'
'Aku tidak mau diperlakukan berbeda.'
'Memberi tahu batasmu bukan meminta dikasihani,' jawab Kevin.
Karin menunduk. Bayangan dirinya berteriak memanggil Altar di perpustakaan, memaksa cowok itu datang ke pertunjukan ramai, dan bersuara keras setiap kali senang berputar dalam kepalanya. Ia mendadak merasa seperti orang paling ceroboh di dunia.
'Berarti selama ini aku bikin kamu sakit?' tanyanya.
'Kamu tidak tahu.'
'Tapi waktu pertunjukan, kamu sampai keluar gara-gara suara tepuk tangan. Aku malah maksa periksa telingamu.'
Altar memandangnya. 'Aku juga salah karena tidak menjelaskan.'
Karin menggigit bibir bawah. Biasanya ia selalu mempunyai jawaban, bahkan untuk hal yang tidak dipahaminya. Kali ini ia tidak mampu bercanda.
'Kalau kamu mau aku menjauh karena aku berisik, bilang saja,' katanya pelan. 'Aku bakal berusaha nerima.'
Altar tidak segera menjawab. Beberapa hari lalu memang itulah yang ia minta. Ia ingin Karin menganggap mereka tidak pernah saling mengenal karena merasa kedekatan akan membawa masalah. Namun ketika Karin sungguh menawarkan pergi, dadanya justru terasa tidak nyaman.
'Aku tidak ingin kamu menjauh,' katanya akhirnya. 'Aku cuma ingin kamu tidak berteriak dekat telingaku.'
Karin mengangkat wajah. 'Serius?'
Altar buru-buru mengangkat telunjuk di depan bibir sebelum volume suara Karin naik. Karin langsung menutup mulutnya sendiri, kemudian mengangguk berkali-kali dengan mata berbinar.
'Aku akan belajar pelan-pelan,' bisiknya sangat kecil sampai Kevin hampir tidak mendengar.
'Tidak perlu sekecil itu juga,' kata Altar sambil tersenyum.
Suasana kembali ringan. Mereka melanjutkan prakarya, tetapi kali ini Karin memperhatikan setiap suara yang ia buat. Ia meletakkan gunting dengan hati-hati, tidak menghentakkan gelas, bahkan menegur Kevin ketika kakaknya menggeser kursi terlalu keras.
'Kamu baru tahu lima menit sudah jadi polisi suara,' keluh Kevin.
'Aku sedang menjaga teman.'
Altar melihat Karin yang kembali berkonsentrasi pada potongan kertas. Potongan keduanya jauh lebih rapi. Ia sadar gadis itu bukan tidak bisa berhati-hati. Karin hanya tidak pernah memiliki alasan cukup kuat untuk melatih dirinya.
Ketika tugas hampir selesai, hujan turun di luar. Karin yang biasanya akan berseru senang hanya menunjuk jendela lalu berbisik, 'Hujan.'
Altar tertawa. 'Kamu boleh bicara biasa, Rin.'
'Aku takut lupa.'
'Kamu pasti sesekali lupa. Tidak apa-apa, asal mau diingatkan.'
Karin menatapnya serius. 'Kalau sakit, kamu juga harus bilang. Jangan sok kuat lalu menghilang. Teman itu harus kasih tahu kalau ada masalah, kan?'
Altar mengulurkan jari kelingking. 'Baik.'
Karin mengaitkan kelingkingnya. 'Janji.'
Kevin yang melihat dari seberang meja menggeleng sambil tersenyum tipis. Ia tidak tahu hubungan keduanya akan dibawa ke mana, tetapi baru kali itu ia melihat Karin bersedia mengubah kebiasaan demi seseorang tanpa ancaman uang jajan atau larangan pergi ke Korea.
Sebelum pulang, Karin meminta Mama Hanna menuliskan hal-hal yang perlu dihindari Altar. Mama Hanna menolak membuat daftar panjang karena tidak ingin putranya diperlakukan sebagai orang rapuh. Ia hanya menjelaskan tanda-tanda ketika Altar kewalahan dan cara membantu tanpa menyentuh paksa.
'Yang terpenting, tanyakan apa yang dia butuhkan,' kata Mama Hanna.
Karin mengangguk. 'Bukan langsung memutuskan sendiri.'
'Benar.'
Di perjalanan pulang, Karin jauh lebih diam. Kevin yang mengendarai motor sesekali melihatnya lewat kaca spion.
'Kamu kenapa?'
'Lagi mikir.'
'Tumben.'
Karin memukul pelan punggung Kevin, lalu segera teringat janjinya dan menarik tangan. 'Aku selama ini mungkin sering bikin orang gak nyaman tanpa sadar, Kak.'
'Kamu memang sering bikin orang pusing.'
'Aku serius.'
Kevin terdiam sebentar. 'Kalau sudah sadar, ya belajar. Tidak ada orang yang langsung jadi sempurna.'
Karin memandang jalan yang basah. Untuk pertama kalinya, kedekatannya dengan Altar tidak terasa seperti permainan mengejar teman pendiam. Ada kepercayaan yang baru saja diberikan kepadanya, dan ia tidak ingin merusaknya.