Karin kembali ke sekolah dua hari kemudian. Dion menyambutnya dengan pemeriksaan berlebihan, mulai dari menempelkan telapak tangan di kening sampai menyuruhnya berjalan lurus untuk membuktikan tidak pusing.
'Aku cuma izin sehari, bukan bangun dari koma,' protes Karin.
'Kamu gak balas pesan. Kami kira kamu diculik alien,' jawab Dion.
Hany memeluknya. 'Kalau ada masalah, cerita. Jangan menghilang sendiri.'
Karin belum siap membuka rahasia keluarganya kepada banyak orang. Ia hanya mengatakan sedang ada masalah di rumah dan meminta waktu. Hany menerima, sedangkan Dion berjanji tidak mengganggu selama lima menit. Janji itu bertahan dua menit sebelum ia mengomentari mata Karin yang bengkak.
Saat jam istirahat, Karin pergi menemui Altar. Cowok itu tidak berada di perpustakaan. Dika mengatakan Altar sedang rapat panitia festival karena wali kelas akhirnya berhasil membujuknya ikut membantu.
'Dia bersedia masuk keramaian?' tanya Karin.
'Katanya ditempatkan di bagian administrasi. Tapi aula rapat tetap berisik.'
Karin bergegas ke aula. Dari pintu, ia melihat puluhan siswa berbicara bersamaan. Altar duduk di sisi paling belakang dengan alat peredam terpasang, sementara Kevin berdiri di depan menjelaskan pembagian tugas.
Beberapa kursi digeser serentak. Altar meringis. Karin tidak langsung menerobos. Ia mengirim pesan.
Karin: 'Aku di luar. Kamu butuh keluar sebentar?'
Altar membaca layar, lalu menoleh ke pintu. Ia mengangguk kecil dan meminta izin kepada Kevin. Mereka berjalan menuju taman belakang yang sepi.
'Kenapa ikut kalau terlalu ramai?' tanya Karin.
'Aku ingin mencoba. Selama ini aku selalu menghindar, padahal sebentar lagi lulus.'
'Mencoba bukan berarti harus menyiksa diri.'
'Dokter bilang aku boleh ikut selama punya rencana keluar dan tidak terlalu lama.'
Karin mengangguk. 'Jadi aku bukan penyelamat yang datang tepat waktu?'
'Kamu teman yang bertanya lebih dulu. Itu sudah membantu.'
Mereka duduk di bangku taman. Karin menceritakan pembicaraannya dengan keluarga. Altar mendengarkan tanpa menatap berlebihan, seolah memberi ruang agar Karin tidak merasa sedang diperiksa.
'Papa minta bertemu lagi hari Minggu,' katanya. 'Katanya mau mengenalkan istri dan anaknya.'
'Kamu mau datang?'
'Aku gak tahu.'
'Kalau belum tahu, jangan biarkan siapa pun memaksamu menjawab sekarang.'
Karin menatapnya curiga. 'Kamu belajar jadi bijak dari mana sih?'
'Dari Mama. Kadang dari buku. Selebihnya mungkin aku cuma pandai bicara tentang masalah orang lain.'
'Kalau masalah sendiri?'
Altar mengalihkan pandangan. 'Masih belajar.'
Karin tidak mengejar. Ia mulai mengerti bahwa berteman bukan berarti mendobrak semua pintu. Ada pintu yang harus diketuk dan ditunggu sampai pemiliknya membuka.
Kevin muncul membawa map. Ia menyerahkan lembar pembagian tugas kepada Altar. 'Aku pindahkan rapat administrasi ke perpustakaan kecil mulai besok. Cuma enam orang dan gak ada pengeras suara.'
Altar menerima map itu. 'Kamu gak perlu mengubah semuanya karena aku.'
'Bukan cuma buat kamu. Tadi separuh peserta juga tidak dengar penjelasan karena aula terlalu bising.'
Karin menyenggol lengan Altar. 'Tuh, penyesuaian bukan berarti dikasihani.'
'Iya, Bu Polisi Suara.'
Altar menjelaskan bahwa tugasnya mencatat kebutuhan setiap stan, memeriksa jadwal penggunaan listrik, dan memastikan jalur keluar tidak tertutup dekorasi. Ia memilih pekerjaan itu karena dapat dilakukan di tempat tenang, tetapi hasilnya tetap penting bagi festival.
'Aku dulu mengira ikut kegiatan berarti harus berdiri di panggung atau berteriak memberi aba-aba,' katanya. 'Ternyata ada banyak cara untuk terlibat.'
Kevin mengangguk. 'Sekolah juga salah kalau cuma menganggap anak aktif itu yang paling kelihatan.'
Karin mengambil map lalu membacanya sekilas. 'Kalau begitu aku bisa membantu menggambar tanda peringatan.'
'Tulisanmu harus bisa dibaca manusia,' kata Kevin.
'Aku punya tulisan artistik.'
'Itu cara sopan menyebut berantakan.'
Perdebatan mereka membuat Altar tertawa. Ia menyadari ruang tenang bukan tempat untuk mengasingkannya, melainkan jalan agar kemampuannya dapat dipakai tanpa mempertaruhkan kesehatan.
Mereka kembali ke kelas masing-masing. Sore harinya, kelompok administrasi berkumpul untuk menyusun daftar stan. Karin seharusnya tidak terlibat, tetapi muncul membawa makanan dan mengaku sebagai penyedia konsumsi sukarela.
Ia juga membawa beberapa rancangan tanda. Tulisan pertamanya terlalu penuh hiasan, tetapi rancangan kedua sederhana dan jelas. Selvi mengusulkan agar Karin resmi bergabung dalam tim dekorasi. Karin menerima setelah memastikan jadwalnya tidak mengganggu latihan ujian.
'Aku bisa bertanggung jawab,' katanya ketika Kevin tampak ragu.
'Aku belum bilang apa-apa.'
'Wajah Kakak sudah pidato panjang.'
'Kamu sebenarnya mau membantu atau mengawasi aku?' tanya Altar.
'Dua-duanya.'
Salah satu anggota bernama Selvi memperhatikan kedekatan mereka. Selvi satu kelas dengan Altar dan selama ini jarang melihat cowok itu bicara sepanjang itu kepada seseorang.
'Kalian pacaran?' tanyanya tanpa basa-basi.
Karin hampir menjawab cepat, tetapi teringat ucapan Altar tentang keterikatan yang tidak jelas. Ia menoleh, memberi kesempatan kepada Altar menjawab.
'Kami teman,' kata Altar.
'Teman dekat,' tambah Karin.
Selvi tersenyum seolah tidak percaya. Ia kemudian meminta Altar membantunya membuat daftar anggaran. Karin tidak menyukai cara Selvi mendekatkan kursi, tetapi ia menahan diri. Tidak ada alasan baginya merasa cemburu jika mereka hanya teman.
Masalahnya, perasaan tidak nyaman itu tetap muncul.
Ketika rapat selesai, Karin berjalan di samping Altar menuju gerbang. 'Selvi cantik, ya?'
'Lumayan.'
'Pintar juga.'
'Dia juara tiga di kelas.'
'Kamu hafal banget.'
Altar berhenti dan menatap Karin. 'Dia teman sekelasku selama hampir tiga tahun. Kenapa?'
'Gak kenapa-kenapa.' Karin mempercepat langkah.
Altar mengejarnya. 'Kamu marah?'
'Enggak.'
'Cara jalanmu seperti mau menginjak bumi sampai retak.'
Karin berbalik. 'Aku cuma kesal karena kamu gampang banget bilang cewek lain cantik.'
'Kamu yang bertanya.'
'Harusnya kamu bilang gak memperhatikan.'
'Tapi itu bohong.'
Karin terdiam. Setelah semua yang terjadi di rumah, ia justru meminta Altar memberikan kebohongan kecil agar hatinya nyaman. Kesadaran itu membuatnya malu.
'Iya, kamu benar,' katanya. 'Maaf. Aku lagi sensitif soal bohong.'
Altar tersenyum. 'Kalau kamu ingin tahu, menurutku kamu juga cantik saat tidak sedang berteriak.'
Karin membeku. Pipi dan telinganya terasa panas. Altar berjalan lebih dulu seolah baru mengatakan hal biasa.
'Altar!' panggil Karin, lalu cepat-cepat mengecilkan volume. 'Kamu gak boleh pergi setelah ngomong begitu!'
Altar menoleh sambil tertawa. Untuk pertama kalinya, Karin yang biasanya tidak pernah kehabisan kata harus mengejar seseorang hanya untuk meminta penjelasan tentang satu pujian.