Minggu ujian kelulusan membuat seluruh sekolah lebih sunyi dari biasanya. Bahkan Karin berhenti membawa album idolanya ke kelas. Ia datang pagi, membaca catatan, dan menghindari percakapan yang membuat konsentrasi pecah.
'Aku kehilangan Karin yang asli,' kata Dion.
'Karin asli sedang menyelamatkan masa depan,' jawabnya tanpa mendongak.
Altar menjalani ujian di ruang kecil bersama beberapa siswa yang membutuhkan penyesuaian. Sekolah mengizinkan pelindung telinga dan memberi tempat jauh dari pengeras suara. Dulu Altar mungkin menolak karena takut dianggap berbeda. Kini ia menerima fasilitas itu sebagai hak, bukan hadiah.
Pada hari ujian matematika, Karin bangun terlambat setelah belajar sampai malam. Pak Yadi sudah menunggu, tetapi jalan menuju sekolah macet akibat kecelakaan. Karin panik melihat waktu.
'Kita gak bakal sampai!'
'Saya cari jalan lain, Non.'
Karin menelepon Kevin. Kakaknya sudah berada di sekolah dan tidak mungkin menjemput. Altar mengirim pesan agar Karin tenang dan menghubungi pengawas. Karin mengikuti saran tersebut. Sekolah mencatat kondisinya dan memberi toleransi sesuai aturan jika ada bukti kemacetan dari kepolisian.
Ia tiba sembilan menit sebelum batas toleransi berakhir. Alih-alih berlari tanpa melihat jalan, Karin berjalan cepat sambil mengatur napas. Ia masuk ruangan dengan tangan dingin, tetapi tidak lupa membaca instruksi.
Soal pertama terasa asing. Karin hampir menyerah, lalu melihat pola yang pernah dijelaskan Altar melalui perbandingan harga tiket. Ia menulis langkah demi langkah. Tidak semua jawaban yakin benar, tetapi tidak ada lembar yang dibiarkan kosong.
Setelah ujian, Karin menemukan Altar di taman.
'Aku hampir mati,' katanya sambil menjatuhkan diri di bangku.
'Ujiannya atau perjalanan ke sekolah?'
'Dua-duanya.'
Altar memberikan air. 'Kamu berhasil datang dan menyelesaikannya.'
'Kalau nilainya jelek?'
'Nilai tidak menghapus usahamu. Tapi kita tunggu hasil sebelum membuat tragedi.'
Karin menyandarkan kepala di bahunya. Mereka duduk lima menit sebelum kembali belajar untuk mata pelajaran berikutnya.
Ujian terakhir selesai pada Jumat. Siswa bersorak di halaman, tetapi Altar memilih berdiri agak jauh. Karin merayakan bersama Hany dan Dion, lalu berjalan menghampirinya tanpa menarik paksa ke kerumunan.
Hany dan Dion ikut menyusul setelah suasana lebih tenang. Mereka memberikan buku kenangan yang halaman pertamanya dipenuhi foto-foto Altar selama festival. Sebagian besar diambil diam-diam dari kejauhan, tetapi teman-temannya meminta izin sebelum mencetak.
'Ternyata kamu punya masa SMA juga,' kata Dion.
'Sebagian besar baru terjadi beberapa bulan terakhir,' jawab Altar.
'Lebih baik terlambat daripada seluruh fotomu cuma pasfoto rapor.'
Altar menulis pesan pada halaman milik mereka. Kepada Karin, ia hanya menulis: terima kasih sudah mengetuk pintu dan belajar menunggu. Karin membacanya dua kali lalu menutup buku agar tidak menangis di depan semua orang.
'Mau foto dari sini?' tanyanya.
Mereka mengambil foto dengan keramaian sebagai latar. Untuk pertama kalinya Altar memiliki dokumentasi masa sekolah yang tidak hanya berlatar rak perpustakaan.
Pada sore yang sama, email beasiswa datang. Altar membukanya bersama Mama Hanna di rumah. Ia diterima dengan pembiayaan penuh, termasuk dukungan medis dan akses ruang belajar tenang.
Mama Hanna memeluk putranya sambil menangis. 'Ayahmu pasti bangga.'
Altar tersenyum, tetapi sebutan ayah menimbulkan bayangan lama. Karin pernah bertanya apakah ia pernah dibohongi seseorang. Ia belum menceritakan bahwa ayahnya tidak tinggal di Prancis karena pekerjaan seperti yang sering dikatakan kepada orang. Lelaki itu pergi setelah diagnosis Altar, tidak sanggup menghadapi biaya dan perubahan hidup anaknya.
Altar menelepon Karin untuk memberi kabar. Karin menjerit di rumahnya sendiri, cukup jauh dari telinga Altar, lalu menari sambil membawa ponsel.
'Kamu diterima! Aku bilang juga apa!'
'Aku berangkat delapan minggu lagi.'
Tarian Karin berhenti. 'Delapan minggu itu cepat banget.'
'Iya.'
Mereka sepakat bertemu malam hari. Di taman, Karin membawa kue kecil bertuliskan selamat. Kevin dan Mama Hanna ikut makan, kemudian memberi mereka waktu berdua.
'Ada hal yang belum aku ceritakan,' kata Altar.
Karin menunggu.
'Ayahku tinggal di Prancis. Tapi kami tidak dekat. Dia pergi waktu dokter bilang pendengaranku mungkin terus memburuk.'
'Pergi karena kamu sakit?'
'Mama bilang hubungan mereka sudah bermasalah. Tapi aku mendengar pertengkaran terakhir. Ayah bilang dia tidak mau hidupnya dipenuhi rumah sakit dan anak yang harus selalu dijaga.'
Karin menggenggam tangan Altar. Ia ingin menghina lelaki itu, namun memilih bertanya, 'Kamu mungkin bertemu dia nanti?'
'Universitasku satu kota dengan tempat tinggalnya.'
'Apa itu alasan kamu sempat mau menolak?'
Altar mengangguk. 'Aku takut dia datang. Aku juga takut berharap dia datang.'
Karin memahami dua perasaan bertentangan itu. Ia sendiri marah kepada Adrian tetapi masih sesekali menunggu pesan yang bukan tentang perusahaan.
'Kamu gak harus memutuskan sekarang mau bertemu atau enggak,' katanya, mengembalikan nasihat Altar. 'Dan kalau nanti kamu berubah pikiran, itu juga boleh.'
Altar menatapnya lega. 'Aku dulu bilang pernah dibohongi. Itu maksudku. Mama menyuruhku bilang Ayah pergi karena bekerja supaya aku tidak merasa ditinggalkan.'
'Kamu marah sama Mama?'
'Pernah. Sekarang kami sudah membicarakannya. Dia mengaku takut aku menyalahkan diri sendiri.'
Karin menghela napas. 'Orang tua kita ternyata sama-sama berpikir kebohongan bisa jadi selimut.'
'Padahal lama-lama membuat sesak.'
Malam semakin dingin. Mereka membahas keberangkatan, bukan sebagai akhir, tetapi perubahan yang harus disiapkan. Karin ingin mengantar sampai bandara. Altar meminta satu hal lain: jangan membuat delapan minggu tersisa menjadi hitung mundur penuh kesedihan.
'Kita tetap jalani hari biasa,' katanya. 'Belajar, bertemu teman, dan menyelesaikan masalahmu.'
'Sesekali boleh kencan yang benar-benar romantis?'
'Kartu rumusku kurang romantis?'
'Sangat romantis buat kalkulator.'
Altar tertawa. Ia berjanji merencanakan satu kencan sebelum berangkat.
Keesokan hari, hasil pemeriksaan perusahaan membawa kabar lain. Polisi memanggil Adrian untuk diperiksa sebagai terlapor. Bukti komunikasi menunjukkan ia mengetahui penggunaan tanda tangan Karin. Ratna mengingatkan prosesnya panjang dan Adrian belum dinyatakan bersalah.
Karin membaca surat panggilan dengan perasaan campur aduk. Kelulusan, keberangkatan Altar, dan kemungkinan ayahnya menjalani perkara datang hampir bersamaan.
Ujian sekolah telah selesai, tetapi ujian sebenarnya baru dimulai: menjalani perubahan tanpa kembali melarikan diri ke dunia khayalan atau menyerahkan pilihan kepada orang lain.