Altar menepati janjinya merencanakan kencan sebelum berangkat. Ia merahasiakan tujuan dan hanya meminta Karin memakai pakaian nyaman. Karin menduga mereka akan makan di restoran mewah, sehingga datang dengan gaun dan sepatu berhak tinggi.
Altar menatap sepatunya. 'Kamu yakin nyaman jalan jauh?'
'Kita mau ke mana?'
'Kebun raya.'
Karin memandang sepatu, lalu tertawa. Ia mengganti dengan sepatu olahraga cadangan yang selalu disimpan Pak Yadi di mobil karena mengenal kebiasaan majikannya.
Kebun raya dipilih karena luas, tenang, dan memiliki taman anggur kecil yang mengingatkan Altar pada rumah. Mereka berjalan di bawah pepohonan, membawa bekal buatan Mama Hanna. Tidak ada dekorasi romantis atau meja berlapis lilin, tetapi Altar menyiapkan peta dengan tujuh titik yang harus mereka kunjungi.
'Kenapa tujuh?' tanya Karin.
'Karena kamu suka grup beranggota tujuh orang.'
Karin langsung tersenyum. 'Ternyata kamu memperhatikan.'
Di titik pertama, Altar memberikan foto hari ketika mereka menyelesaikan festival. Titik kedua berisi permen yang biasa ia berikan ketika Karin cemburu. Setiap tempat mewakili satu bagian perjalanan mereka, tanpa hadiah mahal.
Pada titik ketiga, Karin menemukan selembar kertas bertuliskan aturan kencan. Ia membacanya keras-keras: tidak boleh berlari tanpa melihat jalan, tidak boleh memanjat pagar, tidak boleh memaksa hewan mendekat, dan wajib minum air.
'Ini kencan atau kunjungan anak TK?'
'Aturannya disesuaikan dengan peserta.'
Karin mengejarnya, tetapi berhenti ketika Altar menunjuk aturan pertama. Mereka tertawa sampai harus duduk di rumput.
Titik keempat berada di rumah kaca. Altar memberi Karin buku catatan kosong untuk menuliskan rencana kuliah dan impiannya sendiri. Semua orang menanyakan bagaimana Karin mempertahankan hubungan jarak jauh, tetapi jarang bertanya apa yang ingin ia bangun ketika Altar pergi.
'Aku tertarik desain komunikasi,' kata Karin. 'Waktu bikin tanda festival ternyata aku senang membuat informasi gampang dilihat.'
'Kamu bisa mencari program kuliahnya.'
'Nilai masuknya mungkin tinggi.'
'Cari tahu dulu. Jangan menolak dirimu sebelum kampus sempat menilai.'
Karin menulis tiga kampus yang pernah direkomendasikan guru. Kertas kosong itu lebih menakutkan daripada poster idola, tetapi juga lebih nyata.
Di titik kelima, mereka menemukan panggung terbuka tanpa pertunjukan. Karin melakukan tarian BTS dengan gerakan sengaja berlebihan. Altar merekam sambil tertawa. Setelah itu Karin menariknya ke panggung, tetapi tidak memaksa menari. Mereka hanya membungkuk kepada kursi kosong seperti pemain yang baru menyelesaikan pertunjukan besar.
'Ternyata tempat sepi tetap bisa menyenangkan,' kata Karin.
'Dan orang berisik bisa menyenangkan dalam dosis tepat.'
Karin mengejarnya mengitari panggung sampai keduanya kehabisan napas.
Mereka memeriksa daftar aturan dan menyadari sudah melanggar larangan berlari. Sebagai hukuman, Altar meminta mereka duduk sepuluh menit sambil minum. Karin protes bahwa pembuat aturan tidak boleh sekaligus menjadi hakim, lalu menambahkan aturan baru: semua hukuman harus disepakati kedua peserta. Altar menerima revisi tersebut. Karin tersenyum puas sekali.
Di taman anggur, Altar bercerita tentang Mama Hanna yang memulai kebun kecil setelah ayahnya pergi. Merawat tanaman memberi ibunya sesuatu yang bisa ditunggu tanpa janji palsu: tunas, bunga, lalu buah jika musim mendukung.
'Mama pernah marah ketika aku memutuskan menerima beasiswa?' tanya Karin.
'Dia sedih. Tapi katanya membesarkan anak bukan menanam pohon di pot kecil supaya tidak ke mana-mana.'
'Aku suka Mama Hanna.'
'Dia juga suka kamu, meski khawatir rumah kami akan semakin berisik.'
Karin mencubit lengannya pelan.
Saat makan siang, Karin memberikan hadiah buatannya sendiri: sebuah kotak berisi kartu-kartu kecil. Setiap kartu memuat satu pesan untuk dibuka pada keadaan tertentu, seperti ketika Altar rindu rumah, gagal ujian, marah kepada Karin, atau takut bertemu ayahnya.
'Kamu menulis berapa banyak?' tanya Altar.
'Tiga puluh.'
'Kalau habis?'
'Kamu hubungi aku. Kartu bukan pengganti manusia.'
Altar membaca kartu pertama yang diberi label buka sekarang. Isinya meminta ia menikmati makanan sebelum dingin. Ia menggeleng sambil tersenyum.
Titik keenam berada di dekat danau. Mereka menyewa perahu kayuh dan hampir berputar-putar karena Karin bersikeras mengendalikan arah. Setelah menyerah, ia membiarkan Altar mengatur kemudi sementara mereka mengayuh bersama.
'Hubungan kita kayak perahu ini,' kata Karin. 'Kalau aku pegang semuanya, muter di tempat.'
'Analogi yang mengejutkan dari orang yang tadi menabrak pembatas.'
'Jangan merusak momen bijakku.'
Titik terakhir adalah bangku di bawah pohon besar. Altar mengeluarkan kotak kecil. Karin menahan napas, lalu kecewa bercampur lega ketika isinya bukan cincin, melainkan alat pelindung telinga berwarna ungu.
'Buat aku?'
'Kalau nanti kamu datang ke konser atau tempat ramai, pakai ini supaya kita sama-sama belajar menjaga pendengaran.'
Karin memasangnya. Dunia langsung terdengar lebih lembut. Ia baru memahami betapa melelahkannya suara berlapis-lapis meski tidak memiliki kondisi Altar.
'Terima kasih,' katanya.
Mereka duduk berdampingan sampai matahari turun. Karin memandang bibir Altar, lalu segera melihat ke danau. Altar menangkap gerakan itu.
'Kamu mau mengatakan sesuatu?'
'Enggak.'
'Kamu menggigit bibir kalau menyembunyikan sesuatu.'
Karin mendesah. 'Kita sudah pacaran lebih dari sebulan dan belum pernah ciuman.'
Wajah Altar memerah. 'Kamu ingin?'
'Kalau kamu juga mau.'
Altar meminta waktu beberapa detik, bukan karena menolak, tetapi memastikan dirinya siap. Karin menunggu. Ketika ia mengangguk, Karin mendekat perlahan. Ciuman pertama mereka singkat dan canggung. Hidung mereka hampir berbenturan, membuat Karin tertawa tepat setelahnya.
'Jangan tertawa,' protes Altar.
'Aku senang, bukan mengejek.'
Mereka mencoba sekali lagi, tetap lembut dan tanpa tergesa. Setelah itu Altar menyandarkan dahi pada Karin.
'Aturan kedelapan,' katanya. 'Kalau salah satu bilang berhenti, kita berhenti.'
'Setuju.'
Kencan berakhir sebelum malam. Pak Yadi menjemput di pintu keluar, dan Karin menceritakan semua kecuali bagian ciuman. Namun wajahnya membuat sang sopir tersenyum penuh pengertian.
Di rumah, Karin menempelkan peta tujuh titik pada dinding yang dahulu seluruhnya berisi poster idolanya. Ia tidak menurunkan koleksi BTS. Ia hanya menyediakan ruang bagi kenangan nyata di antara dunia yang selama ini ia kagumi dari jauh.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.