Altar memilih kafe kecil di dekat kampus untuk bertemu Étienne. Tempat itu memiliki meja luar dan tidak memutar musik. Ia memberi alamat kepada Mama Hanna, Karin, serta Luc, lalu datang lima belas menit lebih awal agar dapat memilih posisi dekat jalan keluar.
Étienne tiba tepat waktu. Rambutnya sudah beruban, tetapi mata hazel yang dimilikinya sama seperti mata Altar. Lelaki itu berhenti beberapa langkah dari meja, seolah tidak yakin boleh mendekat.
'Bonjour, Altar.'
'Kita bisa bicara bahasa Inggris atau Indonesia,' jawab Altar. 'Bahasa Prancisku belum cukup.'
Étienne duduk setelah mendapat izin. Ia memesan kopi dan bertanya tentang penerbangan, asrama, serta jurusan kuliah. Pertanyaan biasa itu membuat Altar kesal. Mereka bukan ayah dan anak yang baru berpisah seminggu.
'Kita punya satu jam,' katanya. 'Aku gak mau menghabiskannya bicara cuaca.'
Étienne menurunkan cangkir. 'Kamu berhak marah.'
'Aku gak butuh izin untuk marah.'
Altar membuka daftar pertanyaan. Ia bertanya mengapa ayahnya pergi, mengapa tidak pernah menghubungi, dan bagaimana Étienne mengetahui kedatangannya. Lelaki itu mengaku mendapat kabar dari kerabat di Indonesia yang masih berkomunikasi dengan Mama Hanna.
'Aku pergi karena pengecut,' katanya. 'Pernikahan kami sudah sulit, lalu diagnosis kamu membuat semuanya terasa lebih berat. Aku takut seluruh hidup akan berubah menjadi rumah sakit dan pertengkaran.'
'Jadi Ayah meninggalkan Mama menghadapi semuanya sendiri.'
'Iya.'
Tidak ada alasan pekerjaan atau pengorbanan. Pengakuan itu menyakitkan, tetapi setidaknya tidak dibungkus sebagai tindakan mulia.
'Apa Ayah pernah mau kembali?'
'Sering. Tapi semakin lama aku menunggu, semakin malu aku menghubungi.'
'Rasa malu Ayah menjadi hukuman buat aku dan Mama.'
Étienne mengangguk. 'Aku tahu sekarang.'
Altar bertanya apakah ayahnya memiliki keluarga baru. Étienne sudah menikah dan memiliki seorang putra berusia sembilan tahun bernama Jules. Altar tersenyum pahit. Hidup mereka memiliki kemiripan yang tidak lucu: ayah yang pergi, keluarga baru, dan adik yang tidak pernah dikenal.
'Jules tahu tentang aku?'
'Tahu. Aku tidak mau mengulang kebohongan yang sama.'
'Tapi Ayah tetap menunggu aku datang ke kota ini sebelum menghubungi.'
Étienne tidak dapat membantah. Ia mengatakan takut Hanna melarang, meski tidak pernah benar-benar bertanya.
Altar memeriksa waktu. Masih dua puluh menit. Étienne menawarkan bantuan biaya dan tempat tinggal. Altar menolak karena beasiswanya mencukupi.
'Aku tidak datang mencari uang,' katanya.
'Lalu apa yang kamu inginkan dariku?'
Pertanyaan tersebut membuat Altar diam. Sebagian dirinya ingin ayah yang dapat ditelepon, seseorang yang meminta maaf lalu hadir seperti tidak pernah pergi. Bagian lain tidak percaya hubungan dapat dibangun dari satu pertemuan.
'Aku belum tahu. Untuk sekarang, jangan datang tanpa izin. Jangan hubungi kampus atau dokterku. Kalau ingin bicara lagi, kirim email dan tunggu jawabanku.'
'Bolehkah aku mengirim pesan seminggu sekali?'
'Sebulan sekali.'
Étienne menerima batas itu. Sebelum pergi, ia meletakkan sebuah foto lama di meja. Foto tersebut memperlihatkan Altar kecil duduk di bahu ayahnya di kebun anggur Mama Hanna.
'Aku tidak membawa ini untuk memaksamu mengingat yang baik,' kata Étienne. 'Hanya ingin mengembalikan sesuatu yang seharusnya milikmu.'
Altar menerima foto, tetapi tidak memeluknya. Pertemuan berakhir tepat satu jam.
Setelah Étienne pergi, Altar tetap duduk sampai pelayan bertanya apakah ia membutuhkan sesuatu. Tangannya baru mulai gemetar ketika kursi di seberang kosong. Selama bertahun-tahun ia membayangkan akan berteriak jika bertemu ayahnya. Kenyataannya, kemarahan justru terasa dingin dan melelahkan.
Luc datang setelah menerima pesan singkat. Ia tidak menanyakan isi pertemuan dan hanya berjalan bersama Altar mengelilingi taman. Ketika suara kendaraan mulai membuat kepala Altar sakit, mereka masuk ke ruang tenang kampus.
'Aku bertemu ayahku setelah bertahun-tahun,' kata Altar akhirnya.
'Kamu ingin aku mendengar atau memberi pendapat?'
'Dengar saja.'
Pertanyaan Luc mengingatkannya kepada cara Karin belajar mendampingi. Altar menceritakan bagian yang sanggup ia ucapkan, kemudian berhenti tanpa diminta menyelesaikan semuanya.
Malamnya, Elise mengirim catatan praktikum yang terlewat. Altar berterima kasih dan menjelaskan ada urusan keluarga. Ia mulai memahami dukungan tidak hanya datang dari satu orang di Indonesia. Memiliki teman baru bukan pengkhianatan terhadap hubungan lama.
Di taman kampus, ia menelepon Mama Hanna. Sang ibu menangis ketika mendengar Étienne mengakui kepergiannya tanpa menyalahkan siapa pun. Altar menjelaskan batas yang dibuat dan bertanya apakah ibunya keberatan jika suatu hari ia mengenal Jules.
'Hubunganmu dengan adikmu bukan sesuatu yang boleh Mama putuskan,' jawab Hanna. 'Mama hanya minta kamu menjaga dirimu.'
Panggilan dengan Karin dilakukan setelah tengah malam waktu Indonesia. Karin tetap terjaga meski esok ada kelas.
'Gimana rasanya setelah ketemu?' tanyanya.
'Seperti membuka kotak yang kukira berisi jawaban, ternyata isinya lebih banyak pertanyaan.'
'Kamu menyesal?'
'Enggak. Tapi aku juga belum memaafkan.'
'Kamu gak harus.'
Altar menunjukkan foto lama. Karin tersenyum melihat pipinya yang bulat saat kecil, lalu menahan diri agar tidak mengubah momen menjadi lelucon.
'Aku mungkin mau bertemu Jules suatu hari,' kata Altar.
'Kenalan pelan-pelan,' jawab Karin, memakai kalimat yang pernah ia berikan kepada Nadine.
Mereka berbicara sampai Karin menguap berkali-kali. Altar menyuruhnya tidur, tetapi Karin meminta satu hal.
'Jangan menghilang setelah pertemuan berikutnya. Walaupun kamu bingung mau cerita apa, bilang kamu aman.'
'Janji.'
Setelah panggilan selesai, Altar menaruh foto di laci, bukan di meja. Ia belum siap melihatnya setiap hari. Namun ia juga tidak membuangnya.
Ia menuliskan catatan untuk konselor kampus dan membuat janji sesi pertama. Selama ini Altar mengira mampu mengolah semua luka melalui kesendirian. Pertemuan dengan Étienne menunjukkan beberapa pertanyaan terus berputar jika hanya disimpan di kepala.
Kepada konselor, ia ingin membicarakan rasa bersalah karena masih merindukan ayah yang meninggalkannya. Ia juga ingin belajar membedakan keinginan membangun hubungan dari harapan kekanak-kanakan bahwa masa lalu dapat dikembalikan.
Satu jam bersama Étienne tidak memperbaiki masa kecil. Pertemuan itu hanya memindahkan ayahnya dari bayangan menjadi manusia nyata—manusia yang pernah berbuat pengecut dan kini harus membuktikan perubahan melalui waktu, bukan kata-kata.