Insiden terjadi pada hari kesembilan. Karin dan Altar sedang menaiki kereta menuju kota kecil tempat pameran desain. Gerbong tidak terlalu penuh. Altar memakai pelindung telinga dan memilih kursi jauh dari sambungan kereta.
Di salah satu stasiun, gangguan listrik membuat sistem pengeras suara mengeluarkan lengkingan tajam. Bunyi itu berlangsung beberapa detik, jauh lebih keras daripada umpan balik saat festival sekolah. Altar langsung membungkuk dan menutup telinga.
Karin menekan tombol bantuan lalu memberi isyarat kepada penumpang agar tidak mengerumuni. Setelah suara berhenti, Altar mengangkat kepala. Wajahnya pucat.
'Kita turun di stasiun berikutnya?' tanya Karin.
Altar menatap bibirnya dengan bingung. 'Apa?'
Karin mengulang lebih pelan. Altar menyentuh telinga kanan, lalu kiri. Ia hanya mendengar denging dan suara jauh seperti dari bawah air.
Petugas kereta memindahkan mereka ke ruang tenang di stasiun berikutnya dan memanggil ambulans. Karin menghubungi klinik kampus, Mama Hanna, serta Luc. Ia berbicara melalui teks di ponsel agar Altar tidak perlu menebak ucapan.
Di rumah sakit, dokter melakukan pemeriksaan awal. Pendengaran Altar menurun tajam pada kedua telinga, lebih berat di kanan. Mereka memberikan obat untuk mengurangi peradangan dan menjadwalkan tes lanjutan. Belum ada yang dapat memastikan apakah kehilangan itu sementara.
Karena Altar sulit mengikuti percakapan, rumah sakit menyediakan penerjemahan teks langsung. Dokter berbicara menghadapnya, satu orang pada satu waktu, dan memberikan ringkasan tertulis. Karin tidak menjawab pertanyaan medis atas nama Altar kecuali diminta.
Formulir persetujuan pengobatan memuat risiko yang membuat mereka takut. Altar meminta waktu membaca dan menghubungi dokter spesialis kampus untuk pendapat kedua. Kedua dokter sepakat terapi harus dimulai segera. Setelah memahami pilihan, Altar sendiri yang menandatangani.
Operator kereta mengirim perwakilan untuk mencatat insiden. Karin menyimpan nomor laporan, rekaman waktu, serta kesaksian penumpang. Ia menolak tawaran kompensasi cepat sebelum dampak medis diketahui.
'Ini bukan soal tiket gratis,' tulisnya kepada petugas. 'Sistem peringatan kalian harus diperiksa agar tidak melukai penumpang lain.'
Altar meminta kampus membantu komunikasi dengan operator. Ia tidak ingin seluruh energi pemulihannya habis untuk mengurus laporan, tetapi juga tidak ingin kejadian tersebut dianggap kecelakaan tanpa tindak lanjut.
Altar membaca penjelasan tertulis dengan tangan gemetar. 'Kalau gak kembali?'
Dokter menjawab melalui penerjemah teks. Mereka akan membahas rehabilitasi, alat bantu, bahasa isyarat, dan pilihan lain setelah mengetahui hasil. Untuk sekarang, pengobatan harus dimulai secepat mungkin.
Karin duduk di samping tanpa mengatakan semuanya akan pulih. Ia bertanya apakah Altar ingin disentuh. Ketika Altar mengangguk, ia menggenggam tangannya.
Étienne datang setelah mendapat kabar dari klinik. Altar menolak bertemu. Ia meminta hanya Luc dan Karin berada di kamar sampai Mama Hanna dapat dihubungi melalui video.
Mama Hanna menangis di layar, tetapi berusaha tenang. Ia ingin terbang malam itu juga. Altar mengetik bahwa keputusan perjalanan dapat dibuat setelah dokter memberi jadwal pemeriksaan. Mama Hanna menyetujui dan mulai mengurus tiket.
Malam pertama, Altar tidak bisa tidur. Ia berulang kali menjentikkan jari dekat telinga, mencari suara yang dahulu dianggap biasa. Karin mengambil tangannya agar ia berhenti setelah mendapat izin.
'Aku takut,' ketik Altar.
'Aku juga,' balas Karin.
'Kamu seharusnya pulang tiga hari lagi.'
'Kita bicara soal tiket nanti.'
'Jangan batalkan kuliah tanpa rencana.'
Bahkan dalam keadaan itu Altar tidak mau Karin mengorbankan semuanya secara refleks. Karin menghubungi dosen dan maskapai. Ia mendapat perpanjangan perjalanan lima hari dengan biaya yang masih dapat ditanggung dana darurat. Jika perlu lebih lama, Sandra atau Mama Hanna akan menggantikannya.
'Aku tinggal lima hari tambahan, bukan selamanya,' tulis Karin. 'Setelah itu kita evaluasi.'
Altar menerima keputusan tersebut.
Hari berikutnya, tes menunjukkan pendengaran kiri mulai merespons beberapa frekuensi, tetapi telinga kanan hampir tidak berubah. Dokter mengatakan pemulihan dapat berlangsung berminggu-minggu dan hasil akhirnya tidak pasti.
Seorang audiolog menunjukkan grafik sebelum dan sesudah insiden. Altar memahami garis-garis itu lebih mudah daripada penjelasan lisan. Ia meminta salinan data dan mencatat pertanyaan: apakah alat lama masih aman, bagaimana melindungi pendengaran tersisa, serta kapan dapat kembali ke laboratorium.
Audiolog tidak menjanjikan hasil. Ia menjelaskan kehilangan pendengaran bukan satu garis dari mendengar menuju tidak mendengar; kemampuan memahami bicara, mengenali arah, dan menoleransi frekuensi dapat berubah berbeda. Informasi itu menakutkan sekaligus memberi bentuk pada ketidakpastian.
Altar marah. Ia menolak makan dan membuang papan tulis kecil ketika komunikasi terasa lambat. Karin tidak memarahinya, tetapi juga tidak menerima ketika Altar menyuruhnya pergi dengan kata-kata kasar.
'Kamu boleh marah,' tulisnya. 'Tapi jangan menjadikanku sasaran. Aku akan keluar satu jam dan kembali kalau kamu mau bicara dengan hormat.'
Karin meninggalkan kamar. Di lorong, ia menangis di bahu Luc. Setelah satu jam, pesan Altar masuk berisi permintaan maaf.
Ketika kembali, mereka membicarakan ketakutan terbesar. Altar takut tidak mampu melanjutkan jurusan akustik jika tidak dapat mendengar. Karin takut dirinya akan mencoba menjadi perawat dan melupakan peran sebagai pasangan.
'Aku gak mau kamu tinggal karena kasihan,' tulis Altar.
'Aku tinggal sekarang karena memilih menemani. Kalau suatu hari aku lelah, aku akan bilang.'
Mama Hanna tiba dua hari kemudian. Ia memeluk Altar lama, lalu berterima kasih kepada Karin. Mereka membagi tugas: Mama Hanna menangani dokumen medis, Luc membantu kampus, dan Karin mengurus perubahan tiket serta makanan. Altar tetap memegang keputusan akhir.
Kampus menyediakan juru ketik langsung untuk kuliah dan menawarkan cuti medis. Altar memilih cuti dua minggu, bukan berhenti. Ia mulai belajar bahasa isyarat dasar bersama Karin dan Mama Hanna melalui instruktur rumah sakit.
Instruktur menegaskan bahasa isyarat bukan rencana cadangan yang hanya dipakai jika pengobatan gagal. Bahasa itu adalah akses dan komunitas dengan tata bahasa sendiri. Altar merasa canggung pada gerakan pertama, tetapi senang dapat berkomunikasi tanpa memaksa telinganya bekerja.
Karin beberapa kali salah membentuk tangan dan tanpa sengaja membuat arti berbeda. Mereka tertawa, lalu mengulang. Mama Hanna merekam latihan hanya setelah semua setuju.
Gerakan pertama yang dipelajari Karin adalah bertanya kamu baik-baik saja. Altar membalas belum, tetapi aku di sini.
Suara belum kembali sepenuhnya. Namun di kamar rumah sakit yang tenang, komunikasi tidak berhenti. Ia hanya berubah bentuk.