Satu tahun setelah insiden kereta, Altar sudah terbiasa menggunakan alat bantu pada telinga kiri dan bahasa isyarat untuk situasi ketika mendengar terlalu melelahkan. Pendengaran kanan tidak pulih. Dokter menawarkan evaluasi implan, tetapi tidak menjanjikan hasil yang sama seperti pendengaran sebelumnya.
Altar mengumpulkan informasi selama berbulan-bulan. Ia berbicara dengan pengguna implan yang merasa terbantu, orang yang memilih tidak menjalani operasi, serta komunitas Tuli yang menolak anggapan bahwa semua kehilangan pendengaran harus diperbaiki.
Karin tidak memberi pendapat sebelum diminta. Ia belajar bahasa isyarat Indonesia dan dasar bahasa isyarat Prancis melalui kelas daring, meskipun kedua bahasa itu berbeda. Kesalahan gerak masih sering terjadi, tetapi komunikasi mereka tidak lagi bergantung pada suara.
'Kalau aku memilih gak operasi, kamu kecewa?' tanya Altar melalui video.
'Kenapa aku harus kecewa?'
'Karena panggilan dan komunikasi mungkin tetap lebih sulit.'
'Kesulitan kita urus bareng. Tubuhmu bukan proyek yang harus selesai supaya aku nyaman.'
Altar memandang layar lama. 'Aku belum memutuskan selamanya. Tapi sekarang aku gak mau operasi.'
'Berarti sekarang jawabannya tidak.'
Keputusan itu dicatat dalam berkas medis. Dokter menghormati dan menjadwalkan pemantauan rutin. Étienne sempat mengirim artikel tentang klinik terkenal, lalu meminta maaf setelah Altar mengingatkan batas. Sebagai gantinya, ia dan Jules melanjutkan kelas bahasa isyarat.
Tidak semua orang memahami keputusan tersebut. Seorang kerabat Étienne mengatakan Altar menyia-nyiakan teknologi. Altar membalas bahwa kemungkinan medis bukan kewajiban moral. Ia boleh mempertimbangkan kembali nanti tanpa membuat pilihannya hari ini menjadi salah.
Mama Hanna juga membutuhkan waktu. Sebagai ibu, ia masih berharap ada prosedur yang mengembalikan keadaan sebelum insiden. Dalam sesi konseling keluarga, ia mengakui harapan itu tanpa menekan putranya.
'Mama ingin kamu punya pilihan sebanyak mungkin,' katanya.
'Pilihan termasuk menolak,' jawab Altar.
'Iya. Mama sedang belajar menerima itu.'
Altar bergabung dengan perkumpulan mahasiswa Tuli dan kurang dengar. Sebagian menggunakan suara, sebagian bahasa isyarat, sebagian keduanya. Ia tidak merasa harus memilih satu identitas yang berlaku selamanya. Pada hari melelahkan ia menyebut dirinya Tuli; pada situasi lain ia menjelaskan sebagai kurang dengar. Tidak ada ujian keanggotaan yang wajib ia lewati sendirian.
Di kampus, Altar mengembangkan proyek panel akustik menjadi sistem ruang adaptif. Panel dapat mengurangi gema tanpa membuat ruangan sepenuhnya senyap, sementara layar menampilkan transkripsi dan peringatan visual. Ia menolak menamai alat itu sebagai solusi bagi semua orang.
'Akses harus memberi pilihan,' katanya saat presentasi. 'Bukan memaksa semua tubuh menyesuaikan satu standar baru.'
Kelompoknya mendapat dana riset kecil. Elise mengurus pengujian material, Farid menangani perangkat lunak, dan Altar memimpin desain akustik. Untuk pertama kalinya ia menjadi koordinator, peran yang dahulu pasti ditolaknya karena membutuhkan banyak komunikasi.
Syarat dana meminta kelompok menampilkan kisah pribadi Altar dalam video promosi. Ia menolak dan menawarkan demonstrasi sistem bersama beberapa pengguna yang dibayar. Pemberi dana sempat mengatakan kisah perjuangan akan lebih menyentuh.
'Tujuan kami bukan membuat penonton tersentuh,' jawab Altar. 'Tujuan kami membuat ruang dapat digunakan.'
Universitas mendukung keberatannya. Video akhir berfokus pada proses pengujian dan pilihan pengguna, bukan musik sedih atau gambar rumah sakit. Altar belajar penelitian juga memiliki politik tentang siapa yang dipandang ahli dan siapa yang hanya dijadikan cerita.
Ia meminta rapat memiliki agenda tertulis dan giliran bicara. Ternyata aturan tersebut membantu semua anggota, bukan hanya dirinya. Rapat menjadi lebih singkat dan keputusan tidak mudah terlupakan.
Sementara itu, Karin diterima dalam program pertukaran satu semester di Belanda. Proposal peta akses ruang publiknya mendapat beasiswa sebagian. Ia memilih program itu karena laboratorium desain sosialnya, bukan karena negara tersebut lebih dekat ke Prancis.
'Kereta dari kotaku ke kotamu sekitar empat jam,' kata Altar.
'Dekat dibanding pesawat dua belas jam.'
'Tapi kita gak akan bertemu setiap minggu. Biayanya tetap besar.'
'Aku tahu.'
Mereka menyusun anggaran kunjungan sebulan sekali bergantian. Karin tinggal di asrama sendiri dan mengikuti seluruh kegiatan program. Kedekatan geografis tidak boleh mengubah pertukaran menjadi liburan pacaran.
Sebelum berangkat, studio mahasiswa Karin memenangkan proyek membuat sistem informasi untuk terminal bus. Klien ingin memakai wajah Karin dalam kampanye karena kasus keluarganya pernah dikenal media. Karin menolak.
'Nilai proyeknya ada pada desain dan pengguna, bukan nama ayahku,' katanya.
Raka mendukung, tetapi mengingatkan keputusan itu mungkin mengurangi jangkauan promosi. Karin menerima risikonya. Mereka meminta komunitas pengguna menjadi bagian presentasi dan membayar honor mereka.
Karin juga menyelesaikan cicilan pinjaman tiket kepada Sandra. Ibunya mengadakan makan malam kecil, bukan untuk merayakan uang kembali, melainkan kedisiplinan putrinya.
'Mama dulu salah karena menganggap memberikan semua yang kamu minta adalah bentuk kasih sayang,' kata Sandra. 'Ternyata kadang Mama hanya menghindari pertengkaran.'
'Aku juga dulu menganggap uang muncul sendiri di rekening.'
'Sekarang?'
'Sekarang aku tahu uang muncul setelah klien minta revisi warna sebelas kali.'
Mereka tertawa.
Hari keberangkatan ke Belanda jauh lebih tenang daripada perjalanan Karin sebelumnya. Ia sudah terbiasa membaca dokumen, membuat dana darurat, dan menyusun kontak keamanan. Kevin tetap memeriksa semuanya, tetapi tidak mengambil alih.
Altar menunggu melalui panggilan video saat Karin tiba di asrama. Karin menunjukkan kamar, dapur bersama, dan meja kerja.
'Sekarang cuma beda satu jam,' katanya.
'Jangan sampai karena waktunya dekat kita kembali menuntut selalu tersedia.'
'Iya, Pak Ketua Rapat.'
Minggu pertama dipenuhi orientasi. Karin berteman dengan mahasiswa dari berbagai negara dan belajar bersepeda di jalan kota. Ia jatuh satu kali karena berhenti mendadak untuk memotret tanda jalan. Lututnya lecet, tetapi tidak parah.
Ketika ia menceritakan kejadian itu, Altar menghela napas. 'Kamu tetap manusia yang sama.'
'Berkembang bukan berarti kehilangan bakat kecelakaan.'
Mereka tertawa melalui layar. Jarak kini lebih pendek, tetapi perkembangan terbesar bukan kilometer. Karin dan Altar sudah belajar hidup tanpa menjadikan kesembuhan, pertemuan, atau kedekatan sebagai syarat untuk merasa hubungan mereka nyata.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.