Dua tahun setelah pernikahan, laboratorium Altar berkembang menjadi pusat kolaborasi dengan enam sekolah dan dua terminal. Ruang Baca Kota memiliki cabang komersial yang membiayai proyek publik. Dari luar, kehidupan Karin dan Altar tampak berhasil tersusun.
Di dalam rumah, keduanya hampir tidak pernah makan bersama.
Altar berangkat sebelum matahari terbit untuk menghindari kereta ramai. Karin pulang setelah rapat malam. Pesan mereka berubah menjadi daftar belanja, jadwal penerbangan, dan pengingat membayar listrik.
Rapat rumah bulanan tiga kali ditunda. Ketika akhirnya dilakukan, Karin membuka laporan rekening sementara Altar masih menjawab surel.
'Kamu bisa taruh ponsel tiga puluh menit?' tanyanya.
'Ada masalah perangkat di sekolah.'
'Selalu ada masalah.'
Altar menatapnya. 'Proyekmu juga selalu punya tenggat.'
Pertengkaran lama tentang siapa lebih sibuk muncul dalam bentuk baru. Karin mengatakan Altar membawa laboratorium ke rumah. Altar menuduh Karin menerima terlalu banyak klien komersial. Tidak ada yang bertanya apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Malam itu mereka tidur di kamar berbeda. Bukan hukuman, tetapi karena Altar membutuhkan tenang dan Karin terlalu marah untuk berbaring di sampingnya.
Keesokan pagi, Karin menemukan Altar masih duduk di ruang kerja dengan pakaian semalam. Ia tidak tidur karena alat di sekolah terus mengirim peringatan. Karin melihat tangannya gemetar.
'Kamu harus istirahat.'
'Aku harus memperbaiki sistem sebelum kelas mulai.'
'Ada tim lain.'
'Aku yang merancang bagian sensornya.'
Karin ingin mengambil laptop, tetapi berhenti. Ia bertanya, 'Kamu mau aku hubungi siapa?'
Altar akhirnya menyebut nama dua teknisi. Karin mengirim pesan atas persetujuannya. Tim mengambil alih, dan sekolah memakai mode manual.
Dokter kemudian menyatakan Altar mengalami kelelahan berat, migrain sensorik, dan kurang tidur. Bukan kerusakan pendengaran baru, tetapi tubuhnya memberi peringatan. Ia disarankan cuti dua minggu.
Altar menolak pada awalnya. Pusat riset sedang mengejar laporan pendanaan. Karin tidak memaksa dengan ancaman, tetapi meminta dewan pengguna dan wakil direktur menilai apakah lembaga memang bergantung pada satu orang.
Hasilnya memalukan: terlalu banyak keputusan harus menunggu persetujuan Altar. Ia membangun sistem akses yang terpusat pada dirinya sendiri.
Dewan menemukan tiga sekolah menunda perbaikan karena teknisi takut bertindak tanpa tanda tangan Altar. Anggaran juga memiliki pos yang hanya dipahami olehnya. Niat menjaga kualitas telah berubah menjadi hambatan.
Wakil direktur, Sinta, meminta prosedur ditulis dan wewenang dibagi. Altar merasa posisinya diambil, lalu menyadari perasaan itu mirip ketakutan Karin saat koperasi tumbuh.
'Kalau pusat ini gak berjalan saat kamu sakit, kita sedang merancang kegagalan,' kata Sinta.
Altar menyerahkan akses sistem. Mereka membuat giliran darurat, batas jam pesan, dan protokol sekolah memakai mode manual tanpa menunggu laboratorium.
'Aku takut kalau melepaskan, proyek berubah dari tujuannya,' kata Altar kepada konselor.
'Lalu kamu membuat dirimu satu-satunya penjaga tujuan,' jawab konselor. 'Itu bukan keberlanjutan.'
Altar mengambil cuti. Hari pertama ia tetap memeriksa surel sembunyi-sembunyi. Karin tidak menyita perangkat, tetapi mengingatkan batas yang sudah disepakati. Mereka membuat jam tanpa layar dan berjalan pagi.
Karin juga memeriksa kehidupannya sendiri. Cabang komersial tumbuh cepat karena ia menyetujui hampir semua proyek demi menjaga dana publik. Raka serta Mila sudah berulang kali meminta merekrut direktur operasional, tetapi Karin takut kehilangan kendali.
Ia melakukan audit beban kerja. Ternyata sebagian besar persetujuan warna, jadwal, dan vendor tidak membutuhkan dirinya. Koperasi membentuk tim mandat dan membatasi masa jabatan direktur dua tahun. Karin akan menyerahkan posisi pada akhir periode, tetap sebagai desainer senior dan anggota dewan.
Anggota khawatir nama Karin terlalu melekat. Ia menghapus foto pribadinya dari halaman utama dan menggantinya dengan portofolio tim. Wawancara media dibagi bergantian.
Mila terpilih menjadi direktur berikutnya. Karin cemburu melihat tim menyambut perubahan, lalu mengakui dirinya takut tidak lagi dibutuhkan.
'Lembaga sehat gak membuktikan cinta dengan ketergantungan,' kata Mila. 'Kamu masih bagian dari kami, cuma bukan semua bagiannya.'
'Kamu yakin?' tanya Sandra.
'Aku mendirikan koperasi supaya gak bergantung satu orang. Kalau aku gak bisa pergi, berarti aku gagal membangun.'
Di rumah, Karin dan Altar akhirnya mengadakan rapat tanpa laptop. Mereka mengakui pekerjaan telah menjadi cara menghindari pertanyaan tentang anak yang dijadwalkan untuk dievaluasi tahun itu.
'Aku takut kalau kita punya anak, semua yang kubangun berhenti,' kata Karin.
'Aku takut pekerjaan perawatan jatuh ke kamu karena aku sering bepergian.'
'Aku juga takut gak punya anak lalu menyesal.'
Altar mengangguk. Ia pun memiliki bayangan mengajari anak membaca gerak tangan, tetapi tidak yakin bayangan sama dengan kesiapan.
Mereka tidak mengambil keputusan malam itu. Mereka menjadwalkan konseling, pemeriksaan kesehatan, dan percakapan dengan orang tua yang memiliki pola kerja serupa. Pilihan mereka mencakup anak biologis, adopsi, pengasuhan sementara, atau tetap tanpa anak.
Dokter menjelaskan usia, kesehatan, dan risiko tanpa menakut-nakuti. Konselor memperingatkan adopsi serta pengasuhan bukan jalan cadangan yang otomatis mudah. Setiap pilihan melibatkan hak anak, keluarga asal, dan kesiapan emosional.
Karin serta Altar membuat daftar dukungan nyata. Sandra masih bekerja. Mama Hanna tinggal jauh. Hany dan Dion dapat menjadi teman darurat, bukan pengasuh tetap. Daftar itu lebih kecil daripada kalimat keluarga pasti membantu.
Mereka sepakat tidak mengambil keputusan karena tekanan usia dalam semalam. Informasi disimpan dan sesi berikutnya dijadwalkan enam bulan kemudian.
Sementara itu, mereka mengembalikan rutinitas sederhana: makan bersama dua kali seminggu tanpa pekerjaan, satu akhir pekan bebas proyek per bulan, dan rapat rumah yang tidak boleh ditunda lebih dari tujuh hari.
Altar kembali bekerja setelah cuti dengan struktur baru. Wakil direktur memiliki kewenangan operasional, sekolah punya jalur bantuan lain, dan Altar tidak lagi menerima peringatan sistem di ponsel pribadi pada malam hari.
Karin menyerahkan proyek klien kepada tim tanpa memeriksa setiap detail. Kesalahan kecil terjadi, tetapi koperasi tidak runtuh.
Kerja yang mereka cintai pernah membantu membangun identitas di luar keluarga dan hubungan. Tanpa sadar, kerja juga menjadi tempat persembunyian paling sunyi—tempat mereka dapat merasa berguna tanpa menghadapi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban cepat.
Kali ini mereka keluar dari persembunyian sebelum tubuh dan pernikahan benar-benar meminta berhenti.