Pada tahun kesepuluh laboratorium, pemerintah kota menawarkan gedung permanen untuk pusat desain akses. Syaratnya, pusat tersebut memakai nama Altar sebagai tokoh inspiratif dan dikelola yayasan yang diketuainya seumur hidup.
Altar membaca proposal bersama Sinta serta dewan pengguna. Gedung itu dibutuhkan. Laboratorium selama ini berpindah ruang sewa, dan permintaan sekolah terus bertambah. Namun jabatan seumur hidup bertentangan dengan semua yang telah mereka bangun.
'Nama besar membantu penggalangan dana,' kata pejabat kota.
'Nama juga dapat membuat kritik terasa seperti serangan pribadi,' jawab Altar melalui penerjemah. 'Pusat harus bisa mengganti pemimpin dan mengoreksi pendiri.'
Mereka mengusulkan nama Pusat Ruang Bersama, masa jabatan direktur empat tahun, serta dewan yang mayoritas diisi pengguna dan pekerja. Nama Altar hanya dicantumkan dalam arsip sejarah bersama seluruh pendiri.
Negosiasi berlangsung berbulan-bulan. Sebagian sponsor mundur karena tidak mendapat tokoh utama untuk kampanye. Karin memahami tekanan itu dari pengalaman koperasi, tetapi tidak ikut dalam dewan laboratorium.
'Kalau aku membantu komunikasi publik, kontraknya harus lewat koperasi dan konflik kepentingan dicatat,' katanya.
Pusat menyewa tim lain melalui tender agar tidak terlihat memberi pekerjaan kepada istri pendiri. Ruang Baca Kota hanya menjadi salah satu peserta dan kalah karena harga lebih tinggi. Karin kecewa, tetapi menerima proses.
'Ternyata integritas kadang berarti kehilangan proyek,' katanya kepada Altar.
'Aku tetap traktir makan.'
'Pakai rekening pribadi, bukan dana pusat.'
Proposal akhir disetujui. Gedung memiliki ruang uji, bengkel produksi lokal, perpustakaan, ruang tenang, dan aula serbaguna. Desain diuji kepada anak, lansia, pengguna kursi roda, orang Tuli, orang dengan sensitivitas suara, serta pekerja perawatan.
Dewan juga menyusun aturan kepemilikan data. Rekaman pengujian tidak boleh disimpan tanpa batas atau dipakai sponsor. Pengguna dapat menarik persetujuan, sedangkan laporan publik hanya memuat data yang telah dianonimkan.
Anggaran tahunan dipublikasikan. Gaji direktur dibatasi melalui rentang yang disetujui pekerja, dan sponsor tidak mendapat kursi otomatis. Masa jabatan dewan dibatasi agar aktivis terkenal tidak menguasai representasi selamanya.
Seorang anggota menanyakan apakah aturan terlalu rumit untuk sebuah pusat desain. Sinta menjawab gedung aksesibel tanpa tata kelola aksesibel hanya memindahkan hambatan dari pintu ke meja keputusan.
Mereka menyediakan mekanisme pengaduan dalam teks, isyarat, suara, dan formulir anonim. Keluhan terhadap pendiri ditangani komite tanpa Altar.
Salah satu rancangan awal menempatkan ruang tenang di ujung lorong tersembunyi. Pengguna mengkritik karena seolah orang yang kewalahan harus disingkirkan. Arsitek memindahkannya dekat area utama dengan dua pintu, tetap privat tetapi tidak terasing.
Pekerja kebersihan menunjukkan panel dinding sulit dibuka dan menjadi tempat debu. Tim mengubah engsel. Altar memastikan nama mereka ada dalam laporan kontribusi, bukan hanya arsitek dan peneliti.
Ketika gedung hampir selesai, seorang sponsor menawarkan dana besar dengan syarat memasang layar iklan bersuara di lobi. Dewan menolak. Mereka menerima sponsor lebih kecil dari koperasi pekerja dan menyesuaikan anggaran furnitur.
Altar tidak menjadi direktur pertama. Dewan memilih Sinta berdasarkan pengalaman operasional. Altar mengambil posisi peneliti senior dengan masa kontrak tiga tahun.
Pada rapat pemilihan, Altar keluar dari ruangan saat namanya dibahas. Beberapa anggota tetap memilihnya sebagai calon, tetapi Sinta memperoleh suara mayoritas. Hasil dan alasan dipublikasikan.
Altar merasa malu karena kecewa. Ia menghabiskan bertahun-tahun mengatakan pusat tidak boleh bergantung padanya, tetapi bagian dirinya berharap tetap dipilih. Konselor membantunya menerima bahwa nilai seseorang tidak selalu harus dibuktikan dengan jabatan tertinggi.
Sinta menawarinya peran penasihat khusus. Altar menolak tambahan gelar dan memilih deskripsi kerja jelas dengan atasan langsung. Untuk pertama kali, mantan wakilnya menjadi orang yang mengevaluasi kinerjanya.
'Orang akan mengira kamu disingkirkan dari pusat sendiri,' kata Étienne melalui panggilan.
'Bukan pusatku. Itu tujuannya.'
Étienne yang dahulu mengukur keberhasilan lewat jabatan membutuhkan waktu memahami. Jules justru berkata keputusan itu masuk akal.
Pada acara pembukaan, tidak ada patung atau potret Altar. Dinding arsip menampilkan garis waktu proyek, termasuk kegagalan kereta, kontrak Sonance yang ditolak, fitur yang tidak bekerja, dan kontribusi sekolah.
Media meminta Altar berdiri di depan untuk memotong pita. Ia mengajak perwakilan pengguna, teknisi, guru, dan petugas kebersihan. Pita dipotong bersama.
Setelah pembukaan, pusat menjalani audit eksternal. Auditor menemukan ruang staf lebih sulit diakses daripada ruang publik dan kontrak pekerja kebersihan tidak menjamin pelatihan keselamatan setara. Dewan memperbaiki keduanya sebelum membuka cabang baru.
Temuan itu dimasukkan ke laporan, bukan disembunyikan agar reputasi gedung terjaga. Altar belajar warisan yang sehat bukan bangunan tanpa kesalahan, melainkan sistem yang dapat menunjukkan kesalahan tanpa runtuh bersama ego pendiri.
Satu tahun kemudian kontrak peneliti seniornya ditinjau seperti staf lain. Sinta meminta ia memperbaiki dokumentasi dan mengurangi keterlambatan laporan. Altar menerima tanpa mengingatkan siapa yang memulai pusat.
Karin hadir sebagai pasangan, bukan perwakilan koperasi. Ia memakai kartu tamu seperti semua orang. Ketika wartawan bertanya bagaimana rasanya menjadi istri tokoh inspiratif, ia menjawab, 'Saya bangga pada pekerjaannya. Tapi hari ini sebaiknya Anda bicara juga dengan orang yang akan menggunakan gedung.'
Setelah acara, Altar masuk ke ruang tenang. Ia melepas alat bantu dan duduk. Kelelahan menyerang setelah seharian membaca bibir serta transkripsi.
Karin mengetuk lalu masuk setelah diizinkan. Ia duduk tanpa bicara.
'Aku senang namaku gak ada di depan gedung,' isyarat Altar.
'Sedikit pun gak kecewa?'
'Sedikit. Bagian ego tetap ingin dilihat.'
'Mengakuinya gak membuat keputusanmu palsu.'
Altar tersenyum. Ia tahu kerendahan hati juga dapat menjadi pertunjukan jika seseorang menyangkal ingin dihargai. Ia menerima ucapan terima kasih, tetapi tidak mengubah penghargaan menjadi hak menguasai.
Malamnya, dewan mengirim berita bahwa sistem alarm salah di satu lantai. Dulu Altar akan kembali ke gedung. Kini ia meneruskan kepada tim bertugas dan pulang bersama Karin.
Pusat yang tidak memakai namanya menyala di belakang mereka. Lampu-lampunya menjadi bukti karya dapat terus hidup justru ketika pendiri bersedia melangkah keluar dari pusat cerita.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.