Mama Hanna berusia tujuh puluh tiga tahun ketika gangguan jantungnya memburuk. Obat tidak lagi cukup mengendalikan gejala, dan dokter menawarkan prosedur baru dengan risiko tinggi. Hanna meminta semua penjelasan tertulis, lalu memutuskan tidak menjalani operasi besar.
'Mama mau perawatan yang membuat hari nyaman, bukan memperpanjang rumah sakit,' katanya kepada Altar dan Karin.
Altar ingin meminta pendapat ketiga. Hanna mengizinkan satu konsultasi tambahan, tetapi jawabannya tidak berubah. Ia memilih perawatan paliatif di rumah dengan kunjungan dokter dan perawat.
Kerabat menuduh Altar menyerah. Ia menjawab keputusan itu milik Hanna. Karin membantu membatasi telepon agar Mama Hanna tidak menghabiskan tenaga membela pilihan kepada orang yang tidak ikut merawat.
Rumah kebun disesuaikan kembali. Tempat tidur dipindahkan dekat jendela, jalur ke kebun dibuat rata, dan kursi roda disiapkan untuk hari lemah. Hanna tetap memilih pakaian, menu, serta siapa yang boleh datang.
Tim paliatif meminta Hanna menulis prioritas jika kondisi memburuk. Ia tidak ingin resusitasi agresif, tidak ingin ruang intensif kecuali gejala tak terkendali, dan memilih obat nyeri meski membuatnya lebih banyak tidur.
Altar takut menandatangani sebagai saksi sama dengan membiarkan ibunya pergi. Dokter menjelaskan tugas keluarga bukan memilih kematian, melainkan menghormati perawatan pilihan pasien.
Salinan dokumen diberikan kepada layanan darurat dan grup perawatan agar tidak terjadi pertengkaran saat krisis.
Étienne meminta berkunjung. Hanna setuju satu kali dengan syarat tanpa pembicaraan meminta maaf berulang. Pertemuan berlangsung di teras. Étienne mengucapkan terima kasih karena Hanna membesarkan Altar. Hanna menjawab, 'Aku melakukannya untuk anakku, bukan untuk menebus bagianmu.'
Mereka membicarakan kebun dan Jules. Sebelum pulang, Étienne bertanya apakah ada sesuatu yang dapat dilakukan.
'Jangan membuat Altar merawat rasa bersalahmu setelah aku pergi,' jawab Hanna.
Étienne mengangguk.
Mama Hanna menyusun dokumen akhir bersama notaris. Rumah diwariskan kepada Altar, tetapi kebun dikelola yayasan kecil komunitas selama minimal sepuluh tahun. Tetangga boleh memanen, sekolah dapat belajar bercocok tanam, dan pekerja kebun mendapat kontrak jelas.
'Aku gak mau rumah ini jadi makam kenangan yang dikunci,' katanya.
Altar boleh menjual setelah masa tersebut jika pengelolaan tidak mungkin, tanpa dianggap mengkhianati ibunya. Hanna tidak ingin warisan berubah menjadi rantai.
Barang pribadi dibagi semasa ia masih hidup. Karin mendapat alat kebun kecil karena Hanna tahu dirinya sering menyiram tanaman berlebihan.
'Ini bukan jimat. Baca petunjuk tanam,' pesan Hanna.
Nadine mendapat buku resep, Sari memperoleh selimut yang pernah dipakainya, dan Jules menerima foto kebun bersama Altar kecil. Dika mendapat koleksi novel yang sering ia pinjam tanpa mengembalikan.
Pada minggu-minggu terakhir, rumah dipenuhi kunjungan yang dijadwalkan singkat. Hanna menolak acara perpisahan besar. Ia lebih suka satu atau dua orang duduk di teras.
Dika membaca novel pada hari Hanna ingin mendengar. Sari membawa sup resep keluarga. Nadine menyiram tanaman tanpa mengubah kebun menjadi ruang sedih.
Hanna memiliki hari buruk ketika marah dan menolak obat. Perawat bertanya apakah ia mual atau takut. Setelah mual ditangani, Hanna memilih minum.
Karin pernah menangis karena merasa tidak cukup melakukan. Perawat mengingatkan duduk bersama dan menerima keluhan sup juga bentuk kehadiran. Keluarga tidak harus menciptakan momen bermakna setiap jam.
Karin mengambil cuti bergantian dengan Altar. Mereka tetap memakai sistem perawatan agar tidak ada satu orang runtuh. Perawat profesional menangani kebutuhan medis; keluarga hadir sebagai keluarga.
Suatu malam Hanna meminta tidur di dekat pintu kebun. Altar duduk di samping dan menggunakan bahasa isyarat karena alat bantu sudah membuatnya lelah.
'Kamu takut?' tanya Hanna melalui gerak yang dipelajarinya perlahan.
'Iya.'
'Mama juga. Berani bukan gak takut.'
Altar menunduk. 'Aku belum siap.'
'Tidak ada waktu yang membuat kehilangan siap.'
Hanna meminta Altar tidak mengubah kematiannya menjadi alasan berhenti hidup atau bekerja. Ia juga meminta Karin menjaga dirinya sendiri, bukan berjanji menjaga Altar seolah suaminya anak kecil.
'Kami saling jaga,' kata Karin.
'Bagus. Bergantian.'
Mama Hanna meninggal dua hari kemudian saat tidur, dengan Altar, Karin, dan perawat berada di rumah. Tidak ada kalimat terakhir sempurna. Napasnya perlahan berhenti setelah sore yang diisi keluhan tentang sup terlalu hambar.
Perawat memastikan kematian sesuai prosedur dan memberi waktu sebelum petugas datang. Karin membuka jendela ke kebun sesuai dokumen Hanna.
Mereka tidak segera menelepon semua orang. Satu jam pertama digunakan duduk dan menangis. Setelah itu tugas dibagi: Karin menghubungi pemakaman, Dika memberi kabar tetangga, dan Altar menelepon Jules serta Étienne.
Étienne tidak datang tanpa izin. Ia mengikuti pemakaman melalui video karena penerbangan tidak memungkinkan.
Pemakaman dilakukan sederhana. Kebun dibuka bagi tetangga, tetapi media tidak diundang. Altar melepas alat bantu selama sebagian acara dan menerima belasungkawa melalui isyarat, tulisan, serta pelukan yang diminta izin.
Kesedihan tidak datang sekali. Ia muncul saat Altar melihat cangkir ibunya, ketika panen pertama tanpa Hanna tiba, dan ketika alat kebun Karin akhirnya berhasil menumbuhkan tanaman.
Altar mengikuti konseling duka. Ia tidak menjadikan kesibukan sebagai obat. Karin juga berduka atas kehilangan ibu mertua yang memperlakukannya sebagai keluarga tanpa menuntut peran istri tertentu.
Setahun kemudian, sekolah datang ke kebun untuk panen. Anak-anak berlari di antara tanaman dengan pendamping. Papan kecil di pintu hanya bertuliskan Kebun Hanna, dirawat bersama. Tidak ada kisah panjang tentang pengorbanan.
Yayasan memilih tetangga sebagai ketua, bukan Altar. Laporan panen dan biaya diterbitkan. Ketika hasil gagal karena cuaca, komunitas mengubah jadwal serta mencari dana bersama, bukan meminta Altar menutup kekurangan.
Rumah tetap boleh dipakai Altar menginap, tetapi ia mengikuti aturan kebun seperti semua orang. Warisan memberinya akses, bukan kuasa mutlak.
Altar memetik satu tangkai anggur dan mencicipinya. Rasanya masam karena belum matang. Ia tertawa mengingat pelajaran lama ibunya tentang memilih buah.
Kebun yang diwariskan bukan tempat Altar harus tinggal selamanya. Ia adalah ruang hidup yang terus berubah, dipanen orang lain, dan tumbuh setelah perempuan yang menanamnya tidak lagi ada.