Perusahaan teknologi global menawarkan sistem kecerdasan buatan untuk meningkatkan transkripsi di Pusat Ruang Bersama. Sistem itu jauh lebih akurat daripada perangkat lokal, terutama dalam ruangan ramai. Tawaran mencakup penggunaan gratis selama tiga tahun.
Sinta meminta tim Altar serta Lestari mengaudit. Mereka menemukan model dilatih menggunakan jutaan rekaman percakapan, tetapi perusahaan tidak menjelaskan apakah semua pembicara memberi persetujuan. Data baru dari pusat juga akan dipakai meningkatkan sistem.
'Gratis berarti kita membayar dengan data,' kata Lestari.
Perusahaan menjawab data dianonimkan. Farid, yang kembali sebagai konsultan, menunjukkan suara dapat mengandung identitas, lokasi, kesehatan, serta hubungan yang tidak mudah dihapus.
Namun perangkat lokal masih gagal mengenali banyak aksen dan bahasa daerah. Menolak teknologi tanpa alternatif berarti pengguna menerima akses lebih buruk.
Dewan mengadakan konsultasi publik. Sebagian pengguna memilih akurasi meski data diproses luar negeri. Yang lain menolak percakapan terapi, hukum, atau keluarga masuk sistem. Tidak ada jawaban tunggal.
Altar mengusulkan pilihan bertingkat. Pusat dapat menyediakan sistem lokal sebagai standar dan layanan awan hanya setelah persetujuan jelas untuk setiap sesi. Ruang sensitif tidak boleh memakai awan. Pengguna dapat melihat kapan mikrofon aktif dan menghapus rekaman.
Perusahaan menolak karena model bisnis membutuhkan pengumpulan otomatis. Mereka mengancam menarik tawaran gratis.
Pusat memilih tidak menandatangani. Keputusan itu mengharuskan dana besar untuk mengembangkan model lokal. Pemerintah tidak langsung bersedia membayar.
Ruang Baca Kota membantu kampanye pendanaan, tetapi Sari mengingatkan jangan memakai kisah pengguna sebagai bahan takut. Mereka menjelaskan risiko, keterbatasan, serta biaya secara terbuka.
Universitas, komunitas bahasa, dan beberapa pemerintah daerah membentuk konsorsium. Pembicara dapat menyumbangkan rekaman secara sukarela, dibayar, memilih jenis penggunaan, dan menarik data untuk versi berikutnya. Bahasa daerah tidak diperlakukan sekadar variasi dari bahasa Indonesia baku.
Proyek berkembang lambat. Akurasi tahun pertama masih di bawah produk global. Kritik muncul bahwa pusat lebih memilih kesucian etika daripada kebutuhan nyata.
Kritik paling keras datang dari Raka, mahasiswa Tuli yang sedang menyusun tesis. Sistem lokal berkali-kali mengubah istilah teknik menjadi kalimat acak. Ia harus menghabiskan malam untuk memperbaiki transkrip kuliah yang seharusnya membantunya menghemat tenaga.
'Tubuhku bukan tempat kalian menguji kesabaran,' katanya di forum evaluasi.
Tidak seorang pun membalas dengan daftar prestasi. Lestari mencatat keluhan itu sebagai kegagalan layanan, bukan ketidaksabaran pengguna. Pusat membayar jasa transkrip manusia untuk kuliah Raka selama perbaikan berlangsung dan memasukkan biaya pengganti seperti itu ke dalam anggaran proyek.
Kebijakan persetujuan pun diuji. Formulir awal terlalu panjang dan dipenuhi istilah hukum. Banyak orang menekan tombol setuju agar sesi cepat dimulai. Sari meminta tim desain mengamati proses tanpa merekam peserta. Mereka mengganti formulir dengan pilihan pendek, ikon yang dapat dipahami, video bahasa isyarat, serta tombol untuk bertanya kepada petugas.
Peserta dapat menyetujui penggunaan langsung tanpa menyumbangkan data latihan. Mereka juga dapat menyumbangkan suara hanya untuk satu bahasa atau satu jenis situasi. Setiap pilihan menghasilkan tanda terima digital dan kertas yang menjelaskan cara menarik izin.
'Kalau menolak dibuat melelahkan, itu bukan pilihan,' kata Sari.
Sebagian peneliti khawatir penarikan data akan merusak versi model yang sudah dirilis. Konsorsium lalu menetapkan bahwa penarikan berlaku pada pelatihan berikutnya dan salinan mentah harus dihapus segera. Mereka menjelaskan batas teknis tersebut sebelum persetujuan, bukan setelah masalah muncul.
Pusat juga membentuk komite keluhan yang tidak berada di bawah laboratorium Altar. Seorang peserta menemukan rekamannya salah diberi label sebagai aksen lucu oleh pekerja kontrak. Label itu dihapus, peserta menerima permintaan maaf serta kompensasi, dan kontrak anotasi diubah. Altar tidak menyebut kejadian itu sekadar kesalahan individu. Sistem yang membolehkan penghinaan masuk ke data adalah sistem yang perlu diperbaiki.
Altar menerima kritik tersebut. 'Kalau sistem lokal gagal membantu, persetujuan bagus saja gak cukup.'
Mereka tetap menyediakan pilihan produk global melalui perangkat pribadi pengguna tanpa mengirim data ke akun pusat. Pusat tidak memblokir orang yang memilih risiko berbeda.
Seorang pengembang muda menemukan model lokal lebih akurat jika menggunakan rekaman lama laboratorium. Formulir persetujuan lama tidak mencakup pelatihan AI. Beberapa anggota ingin menganggap riset baru masih satu tujuan.
Altar menolak. Mereka menghubungi peserta lama jika memungkinkan dan menghapus rekaman lain. Hal itu membuat berbulan-bulan pekerjaan hilang.
'Kamu gak menyesal?' tanya Karin di rumah.
'Menyesal waktunya hilang. Gak menyesal berhenti memakai sesuatu yang bukan hak kami.'
Karin menghadapi persoalan serupa ketika klien meminta koperasi memakai gambar AI untuk mempercepat ilustrasi publik. Model tidak menjelaskan sumber karya seniman. Koperasi memilih perpustakaan aset berlisensi dan membayar ilustrator, meski harga proposal naik.
Mereka kehilangan klien komersial. Mila menilai ulang agar keputusan etis tidak membuat pekerja kehilangan pendapatan. Koperasi menerima proyek lain dan mengurangi keuntungan pendiri, bukan honor staf.
Setelah tiga tahun, model konsorsium mencapai akurasi yang layak untuk banyak situasi. Kode dasar dibuka, tetapi data suara tetap terlindungi. Perusahaan global kemudian menawarkan membeli proyek.
Dewan menolak penjualan penuh dan menawarkan kerja sama interoperabilitas. Kali ini perusahaan setuju karena konsorsium sudah memiliki pengguna luas.
Media menulis Altar memenangkan pertarungan melawan raksasa teknologi. Ia membantah.
'Bukan satu orang dan bukan kemenangan final. Perjanjian harus terus diaudit.'
Altar sudah mendekati masa pensiun. Ia tidak mengambil kursi tetap dalam konsorsium. Lestari dipilih menjadi wakil pusat, sementara pengembang serta komunitas bahasa memiliki suara setara.
Pada hari penyerahan jabatan, seorang wartawan bertanya apakah Altar tidak takut proyek menyimpang tanpa dirinya. Altar membaca pertanyaan pada layar, lalu tersenyum tipis.
'Kalau keselamatan proyek bergantung pada satu orang, sejak awal kami membangun sesuatu yang rapuh.'
Ia tetap bersedia menjadi narasumber dengan masa tugas terbatas. Nasihatnya harus dicatat, dapat ditolak, dan tidak memiliki suara veto. Ketentuan itu ia usulkan sendiri sebelum namanya dipakai orang lain untuk menekan pemimpin baru.
Pada rapat terakhirnya, Altar melihat sistem menampilkan transkripsi dalam beberapa bahasa. Kesalahan masih muncul dan pengguna dapat membetulkan. Mesin belajar bukan dari data tanpa wajah, melainkan dari orang-orang yang diberi hak mengetahui, menolak, dan mendapat bagian dari nilai yang mereka ciptakan.