Pengumuman pensiun Altar tidak berbentuk pesta kejutan. Ia meminta pusat mengadakan rapat terbuka enam bulan sebelum hari terakhirnya. Di layar besar tertulis daftar kewenangan yang masih melekat pada jabatannya: persetujuan anggaran laboratorium, akses arsip teknis, hubungan dengan donor, dan hak menandatangani kerja sama.
'Semua ini harus pindah sebelum aku pergi,' isyarat Altar, diterjemahkan oleh juru bahasa. 'Bukan diberikan sekaligus pada pengganti yang terlihat seperti aku.'
Panitia seleksi dipimpin pengguna pusat, bukan dewan pendiri. Altar dan Karin tidak menjadi anggota. Lestari mendaftar untuk posisi direktur, lalu menarik diri setelah menyadari ia lebih ingin memimpin konsorsium bahasa. Keputusan itu tidak dianggap kurang ambisius.
Direktur baru yang terpilih adalah Bima, manajer operasi yang pernah mengkritik biaya laboratorium Altar. Ia bukan penyandang gangguan pendengaran, tetapi memiliki pengalaman membangun layanan bersama berbagai komunitas. Wakilnya, Ayu, adalah perempuan Tuli dari luar jaringan pendiri.
Beberapa donor mempertanyakan pilihan tersebut. Mereka mengira penerus Altar harus ilmuwan terkenal. Dewan menjelaskan pusat bukan monumen penelitian. Tugas pimpinan ialah menjaga pelayanan, membagi kuasa, serta menerima koreksi.
Masa peralihan berlangsung empat bulan. Bima mengikuti rapat Altar, tetapi tidak duduk diam sebagai murid. Ia menemukan kontrak pemeliharaan alat yang terlalu bergantung pada satu pemasok lama. Ayu menunjukkan jadwal konsultasi publik selalu diadakan pada jam kerja, sehingga pekerja bergaji harian jarang hadir.
'Kalian baru masuk dan sudah membongkar semuanya,' keluh seorang staf senior.
Altar menatap transkripsi, lalu menjawab, 'Bagus. Berarti mereka bekerja.'
Namun melepaskan jabatan tidak semudah kalimat itu. Pada minggu ketiga, Bima mengubah tata letak laboratorium tanpa berkonsultasi dengan Altar. Jalur pandang menjadi lebih baik, tetapi meja lama tempat Altar merancang prototipe dipindahkan ke gudang.
Altar berdiri di ruang baru lebih lama daripada perlu. Tangannya menyentuh bekas sambungan listrik di lantai. Ia tahu meja bukan sejarah, tetapi tubuhnya merasakan kehilangan sebelum pikirannya menyusun alasan.
Di rumah, Karin melihat ia membuka foto laboratorium lama.
'Mau meja itu dibawa pulang?'
'Tidak ada tempat.'
'Kita bisa membuang meja makan.'
Altar menatapnya curiga. Karin tertawa dan menggeleng.
'Aku bercanda. Sedikit.'
Altar akhirnya meminta satu laci kecil dari meja tersebut. Bima menyetujuinya karena laci tidak tercatat sebagai aset bernilai dan meja akan digunakan cabang baru. Di dalam laci ada pensil tumpul, baut yang tidak diketahui asalnya, serta catatan pertama tentang panel peredam adaptif.
Ia membawa ketiganya pulang. Karin tidak mengubahnya menjadi pajangan. Mereka memasukkan benda itu ke kotak arsip pribadi bersama tiket konser lama, foto pernikahan, dan kartu buatan Sari ketika masih kecil.
Karin juga mulai menyerahkan perannya di koperasi. Ia tidak pensiun sepenuhnya, tetapi mengurangi pekerjaan menjadi dua hari seminggu. Mila telah lebih dulu keluar dari jabatan operasional. Sari dan tim generasinya menolak memakai istilah dewan sesepuh karena terdengar seperti izin untuk terus mencampuri keputusan.
'Kalian boleh menelepon kalau butuh konteks,' kata Karin dalam rapat anggota.
Sari menjawab, 'Dan kami boleh tidak mengikuti sarannya.'
'Itu bagian favoritku.'
Karin mengatakannya ringan, lalu malamnya mengaku kepada Altar bahwa kalimat tersebut menusuk sedikit. Selama puluhan tahun, kegunaan menjadi cara ia memahami dirinya. Tidak lagi dibutuhkan setiap hari terasa seperti pintu yang ditutup, walaupun ia sendiri menyerahkan kuncinya.
Mereka membicarakan masa pensiun dengan konselor keuangan dan dokter. Penghasilan mereka cukup, tetapi rumah bertingkat mulai merepotkan lutut Karin. Alarm lama mengandalkan suara, sementara sistem lampu sudah sering rusak. Altar tidak ingin menunggu keadaan darurat untuk pindah.
Mereka memilih apartemen satu lantai dekat taman peninggalan Hanna, transportasi umum, dan klinik. Unit itu lebih kecil. Untuk pertama kalinya setelah lama menikah, mereka harus menentukan barang mana yang benar-benar ikut.
Karin menemukan kotak berisi puluhan barang penggemar BTS. Ia mengadakan sore terbuka bersama beberapa penggemar muda. Sebagian koleksi disumbangkan ke arsip budaya populer, sebagian ia berikan, dan beberapa benda paling pribadi tetap dibawa.
'Aku kira kamu akan menyimpan semuanya,' kata Sari sambil memegang light stick lama.
'Kenangan gak hilang cuma karena raknya kosong.'
'Yang ini?'
'Yang itu ikut. Jangan rakus.'
Altar memilah perangkat audio lama. Komponen yang masih berguna diberikan kepada bengkel komunitas. Prototipe bersejarah masuk arsip pusat setelah kurator menyetujui konteksnya. Ia membuang kabel rusak tanpa upacara.
Hari terakhir di pusat diperingati dengan forum kerja, sesuai permintaannya. Bukan hanya orang yang memuji. Raka menceritakan kegagalan transkripsi yang pernah menghabiskan waktunya. Seorang mantan pegawai mengkritik kebiasaan Altar membalas pesan terlalu lambat. Ayu menyebut kebijakan baik yang tetap perlu diperbarui.
Setelah itu barulah mereka makan. Kue bertuliskan TERIMA KASIH memiliki huruf kontras tinggi dan hiasan tangan yang membentuk isyarat pulang. Altar menerima sebuah buku berisi pesan tertulis agar ia dapat membacanya tanpa juru bahasa.
Bima menyerahkan kartu akses lama yang telah dilubangi.
'Besok kartu tamu berlaku seperti milik orang lain,' katanya.
'Bagus.'
Altar memasukkan kartu itu ke saku, tetapi tidak menyembunyikan matanya yang basah.
Keesokan pagi ia bangun pada jam biasa. Tangannya hampir meraih pakaian kerja. Karin sudah duduk di balkon baru dengan dua cangkir kopi. Jalan di bawah bergerak tanpa menunggu mereka.
'Kita harus melakukan apa?' tanya Karin.
Altar mengangkat bahu. 'Sarapan.'
'Setelah itu?'
'Belum tahu.'
Mereka pergi ke taman Hanna setelah makan. Kebun tersebut kini dikelola pengurus komunitas. Tanaman yang dipilih Hanna sudah beberapa kali berganti karena musim, penyakit, dan kebutuhan pengunjung. Sebuah bangku baru berdiri di tempat yang dahulu kosong.
Seorang relawan muda mengenali mereka dan hendak memanggil koordinator. Karin menolak dengan halus. Mereka tidak datang untuk memeriksa. Mereka duduk seperti pengunjung lain, membaca papan kegiatan yang dirancang tim Sari dan menikmati bayangan daun.
Altar menyandarkan bahu pada Karin. Tidak ada rapat yang menunggu persetujuannya. Tidak ada pekerja yang harus menebak apakah pendiri akan menyukai keputusan mereka. Kursi di pusat sengaja ia kosongkan agar orang lain dapat mengisinya, mengubahnya, atau memindahkannya.
Di bangku taman, ruang kosong di depan mereka tidak terasa seperti akhir. Ia menyerupai halaman yang belum diberi perintah.