Hany mengirim undangan reuni dengan judul yang sengaja berlebihan: MALAM PARA PENYINTAS MASA MUDA KARIN. Tempatnya bukan aula mewah, melainkan rumah makan milik sepupunya. Dion datang membawa dua kotak makanan tambahan meski meja sudah penuh.
Kevin tiba paling akhir. Rambutnya memutih di pelipis, dan ia tetap memilih kursi dekat pintu. Sandra tidak ikut karena sedang bepergian bersama komunitas berkebun. Nadine mengirim panggilan video dari kota lain.
Mereka tidak pernah menjadi kelompok yang bertemu setiap minggu. Tahun-tahun memisahkan mereka melalui pekerjaan, pasangan, perceraian, kematian orang tua, dan pilihan tinggal. Namun Hany mempertahankan kebiasaan mengumpulkan siapa pun yang bersedia tanpa menghukum yang absen.
'Agenda pertama,' kata Hany sambil mengangkat gelas, 'membuktikan Karin pernah diam lebih dari lima menit.'
'Fitnah,' jawab Karin.
Dion menunjukkan video lama dari masa sekolah. Gambar bergetar, suara buruk, dan Karin muda terlihat berteriak menyanyikan lagu BTS. Altar menonton dengan teks yang dibuat otomatis. Sistem keliru menulis satu teriakan sebagai perintah membeli ikan.
Ia tertawa dan meminta video diputar lagi.
Karin sempat malu melihat dirinya yang begitu yakin semua orang harus ikut merasakan kegembiraannya. Lalu ia melihat Hany muda menari di belakang kamera dan Dion pura-pura pingsan. Kebisingan itu tidak hanya miliknya. Mereka semua pernah mengambil ruang dengan cara yang belum matang.
'Aku menyebalkan,' kata Karin.
'Masih,' sahut Kevin.
Karin melempar serbet. Kevin menangkapnya sambil tersenyum kecil.
Hubungan kakak beradik mereka pulih perlahan setelah kematian Adrian. Tidak menjadi dekat setiap hari, tetapi mereka dapat duduk semeja tanpa mengubah semua percakapan menjadi persidangan keluarga. Kevin bekerja di bidang logistik nirlaba dan menolak jabatan tinggi beberapa kali. Ia menikah, bercerai baik-baik, serta membesarkan seorang anak yang kini kuliah.
Ketika Hany bertanya tentang ayah mereka, Kevin menjawab pendek bahwa ia sudah membaca surat Adrian. Tidak ada yang meminta isi.
'Aku membakarnya,' katanya kemudian. 'Itu yang kubutuhkan.'
Karin menggenggam ujung meja. Ia ingin bertanya apakah Kevin menyesal, tetapi menahan diri.
'Baik,' jawabnya.
'Kamu simpan punyamu?'
'Iya.'
'Juga baik.'
Nadine muncul di layar untuk menyapa. Ia telah menjadi konsultan kesehatan kerja dan memiliki dua anak remaja. Maya tinggal dekat dengannya, tetap mandiri dengan bantuan harian. Nadine tidak lagi memperkenalkan diri sebagai anak dari keluarga kedua. Ia menyebut Karin dan Kevin sebagai saudara tanpa catatan kaki.
Dion membawa kabar tentang beberapa teman yang telah meninggal. Nama mereka disebut satu per satu. Ada jeda, tetapi malam tidak berubah menjadi upacara muram. Hany menceritakan bagaimana salah satu dari mereka pernah mencuri sandal kepala sekolah, lalu seluruh meja tertawa.
Altar mengikuti percakapan melalui juru bahasa yang duduk dalam lingkaran, bukan di sudut. Teman-teman sudah terbiasa menunggu pandangannya sebelum berbicara dan tidak menutupi mulut saat isyarat diperlukan. Sesekali aturan pecah ketika semua tertawa bersamaan. Altar mengangkat tangan, dan mereka mengulang bagian yang hilang tanpa membuatnya meminta maaf.
Di tengah makan, Dion menyerahkan amplop kepada Karin. Isinya tiket konser BTS dari acara aksesibel yang dahulu ditangani koperasi. Ia menemukannya saat membersihkan rumah.
'Harus masuk museum,' kata Dion.
'Museum kekacauan?' tanya Altar melalui isyarat.
Hany memahami dan menjawab, 'Ruang utama.'
Mereka mulai membicarakan arsip. Hany memiliki foto, Dion menyimpan video, Karin punya buku catatan, dan Altar menyimpan korespondensi lama. Gagasan awalnya adalah memberikan semua kepada perpustakaan.
Namun Kevin bertanya siapa yang berhak melihat percakapan pribadi orang yang masih hidup. Pertanyaan itu mengingatkan mereka bahwa nostalgia dapat menjadi bentuk pengambilan tanpa izin.
Mereka menyepakati setiap orang memilah miliknya sendiri. Materi yang melibatkan orang lain memerlukan persetujuan. Sebagian dapat dibuka untuk publik setelah jangka waktu tertentu, sebagian hanya untuk keluarga, dan sebagian dimusnahkan.
'Kenapa repot sekali untuk video Karin teriak?' keluh Hany.
'Karena sejarah juga harus punya tata krama,' jawab Kevin.
Setelah makan, rumah makan memutar daftar lagu lama dengan volume rendah. Karin berdiri lebih dulu dan menarik Hany menari. Dion bergabung dengan gerakan kaku. Kevin menolak, kemudian bergerak sedikit dari kursinya.
Altar tidak mendengar musik seperti mereka. Nara pernah memasang aplikasi yang mengirim pola ketukan ke gelangnya, tetapi malam itu ia tidak membawanya. Karin menghampiri dan menawarkan tangan.
Ia meletakkan telapak Altar pada bahunya agar merasakan gerak, lalu mereka mengikuti irama yang dibentuk tubuh orang lain. Tidak seragam, tidak perlu.
Di luar rumah makan, hujan baru berhenti. Mereka berdiri terlalu lama karena setiap orang mengucapkan selamat tinggal lalu memulai cerita lain. Akhirnya Hany memesan kendaraan dan memerintahkan semua pulang sebelum reuni berubah menjadi menginap.
Dion memeluk Altar, lalu Karin. Kevin hanya mengangguk sebelum tiba-tiba merangkul kakaknya sebentar.
'Jangan tunggu pemakaman lagi,' kata Karin.
'Jangan buat undangan dengan huruf besar semua.'
'Itu Hany.'
'Aku tahu.'
Dalam perjalanan pulang, Karin menyadari persahabatan mereka tidak bertahan karena tetap sama. Beberapa hubungan renggang dan kembali, beberapa berubah bentuk, sebagian selesai. Yang hadir malam itu bukan versi awet dari masa muda. Mereka adalah orang-orang yang berkali-kali memilih saling mengenal lagi.
Tiket konser lama diletakkan Karin di kotak arsip, dalam sampul yang mencantumkan siapa saja terlihat di foto belakangnya. Ia menulis pesan untuk meminta izin sebelum publikasi. Kenangan tidak perlu dikunci, tetapi juga bukan barang tanpa pemilik.
Sebelum tidur, Hany mengirim foto kelompok. Mata Dion tertutup, Kevin melihat ke arah lain, juru bahasa sedang tertawa, dan Karin tampak bicara saat gambar diambil. Altar menatap kamera dengan senyum tenang.
Foto itu tidak sempurna. Karin menyimpannya tanpa memperbaiki satu pun wajah.
Seminggu kemudian, mereka membuat jadwal pertemuan berikutnya enam bulan lagi. Tanggal itu mungkin berubah dan seseorang mungkin batal, tetapi undangan sudah dikirim. Persahabatan tidak dibiarkan bergantung pada kebetulan atau kabar duka. Hany tetap memakai huruf besar, Kevin tetap mengeluh, dan Karin membalas dengan tiga belas tanda seru. Altar membaca percakapan itu sambil tersenyum.