Meskipun udara di musim semi ini terasa hangat, Abby bergerak gelisah dalam tidurnya malamnya. Tidak, sebenarnya, ia memang tidak tertidur. Matanya menatap nyalang langit-langit kamarnya, sedangkan tangannya mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Kehamilannya sudah masuk bulan keempat sekarang. Rasa mual yang menyerangnya sudah tidak seperti tiga bulan sebelumnya di mana ia benar-benar 'disiksa' oleh anaknya dengan mual hebat setiap pagi dan sore hari.
Michelle bahkan sampai takut melihat wajahnya yang sangat pucat. Anak itu hanya mau berada dekat dengan ayahnya dan tidak mau bersama Abby. Devan yang tidak tega meninggalkan istrinya di rumah, pada akhirnya lebih sering mengerjakan pekerjaannya secara daring.
Sungguh, pria itu tidak bisa melihat Abby tersiksa. Akan tetapi, Abby selal
selalu menolak setiap kali pria itu menawarkan diri untuk mengambil cuti panjang. Ia terlalu tahu seberapa keras Devan bekerja untuk sampai di tempatnya berdiri sekarang. Dan ia tidak mau menjadi alasan yang membuat langkah suaminya berhenti.
Jarum jam di nakas sudah lewat dari angka dua. Abby memiringkan tubuhnya untuk yang kesekian kali, lalu menyerah. Punggungnya pegal. Perutnya terasa penuh. Bantal yang biasanya paling nyaman malam ini seperti diisi kerikil.
Ia menoleh ke sisi kiri ranjang. Devan tidur telungkup dengan satu lengan terjulur ke arahnya, seolah bahkan dalam tidurnya pria itu masih ingin memastikan istrinya tetap ada di sana. Cahaya lampu tidur jatuh di separuh wajahnya. Ada bayangan tipis di bawah matanya yang entah kenapa membuat dada Abby terasa nyeri.
Semalam suaminya baru menutup laptop pukul satu. Malam sebelumnya lebih parah lagi. Semua pekerjaan yang seharusnya selesai di kantor kini menumpuk sampai larut, karena siangnya habis untuk menemani Abby yang bahkan tidak sanggup mencium aroma nasi hangat.
Abby mengusap perutnya pelan. “Ayahmu itu keras kepala,” bisiknya. “Sama sepertimu.”
Seperti mengerti, ada gerakan kecil di bawah telapak tangannya. Bukan tendangan. Hanya desakan halus, seperti seseorang yang berpindah posisi karena tidurnya terganggu. Abby menahan napas. Sampai sekarang, tiap kali merasakannya, matanya selalu ikut memanas.
“Kenapa belum tidur?”
Suara serak itu membuat Abby menoleh cepat. Devan sudah membuka mata, meski kelopaknya masih setengah tertutup. Tangan yang tadi terjulur kini bergerak, mencari perut istrinya, lalu berhenti di sana.
“Aku tidak bisa tidur,” jawab Abby jujur.
“Sakit?”
“Tidak.” Abby menggeleng. “Cuma tidak nyaman.”
Devan bangkit setengah duduk. Rambutnya berantakan ke segala arah dan bekas bantal masih tercetak di pipinya, tetapi tatapannya sudah waspada penuh, seperti orang yang tidak pernah benar-benar tidur nyenyak sejak empat bulan terakhir.
“Mau kupijat punggungmu?”
“Sudah, Kak. Tidurlah lagi. Pagi nanti kau ada rapat.”
“Rapatnya bisa mundur.” Pria itu menyingkirkan anak rambut yang menempel di dahi Abby. “Kau tidak bisa.”
Abby ingin protes, tetapi kalimatnya tertelan. Ia menggigit bibir bawahnya, ragu, lalu akhirnya berkata pelan, “Aku ingin es krim.”
Hening sebentar.
“Sekarang?” tanya Devan.
“Iya.”
“Vanila?”
Abby mengangguk dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.
Devan memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang, seperti pria yang baru saja diberi tahu bahwa ia harus menandatangani berkas paling menyebalkan sedunia. “Dari sekian banyak rasa di muka bumi ini, kenapa harus yang itu?”
“Bukan aku yang minta,” bela Abby cepat. “Anakmu.”
“Anakku tidak mungkin punya selera seburuk itu.”
“Kalau begitu dia anakku.”
Pria itu tertawa kecil, suara rendah yang tertahan di dada. Ia menyibak selimut, menurunkan kaki dari ranjang, lalu menunduk mencium kening Abby lama sekali.
“Tunggu di sini.”
“Aku ikut.”
“Abby.”
“Aku bosan di kamar terus,” rengek Abby. “Aku sudah seperti tahanan rumah.”
Devan menatapnya beberapa detik, lalu mengalah seperti biasa. Ia berjalan memutari ranjang, membantu istrinya duduk, menyampirkan kardigan ke bahu Abby, dan menuntun perempuan itu menuruni tangga selangkah demi selangkah seolah anak tangganya terbuat dari kaca.
Dapur masih menyimpan bau samar sup yang dimasak sore tadi. Devan menyalakan lampu di atas meja pantry saja, membiarkan sisa ruangan tetap remang. Abby didudukkan di kursi tinggi, kemudian pria itu membuka pintu lemari pendingin.
Satu cup kecil es krim vanila tergeletak di rak paling bawah. Devan mengangkatnya dengan dua jari, seperti mengangkat barang bukti.
“Kenapa masih ada benda ini di rumahku?”
“Karena aku yang menyimpannya di rumah kita,” koreksi Abby sambil mengulurkan tangan tidak sabar.
Devan menyerahkannya bersama sebuah sendok kecil, lalu bersandar di meja, melipat tangan di dada, dan memandangi istrinya menyendok suapan pertama. Abby memejamkan mata. Rasa dingin dan manis itu langsung menenangkan perutnya yang sejak tadi bergolak.
“Enak,” gumamnya.
“Aneh,” balas Devan.
“Kau bahkan belum mencobanya lagi sejak sepuluh tahun lalu.”
“Karena aku masih ingat rasanya sepuluh tahun lalu.”
Abby menyendok sedikit, lalu mengangkat sendok itu ke arah suaminya. “Sekali saja. Demi anakmu.”
“Jangan bawa-bawa anakku.”
“Sekali. Saja.”
Devan menatap sendok itu seperti menatap musuh lama. Akhirnya ia menunduk dan membuka mulut. Detik berikutnya keningnya berkerut dalam, rahangnya mengeras, dan ia langsung meraih gelas air di belakangnya.
Abby tertawa. Tawa lepas yang sudah lama tidak terdengar di rumah itu, sampai ia harus menahan perutnya sendiri.
“Kau puas?” tanya Devan dengan wajah masam.
“Sangat.”
Pria itu mendekat, berdiri di antara kedua kaki istrinya, dan mengusap sisa es krim di sudut bibir Abby dengan ibu jarinya. Tawa Abby perlahan surut. Yang tersisa hanya suara mesin pendingin dan detak jam dinding dapur.
“Kak,” panggil Abby lirih.
“Hm?”
“Maaf.”
Devan mengangkat wajah istrinya dengan satu jari di dagu. “Untuk apa?”
“Untuk semuanya.” Abby menelan ludah. “Untuk pekerjaanmu yang menumpuk. Untuk rapat yang kau pindahkan. Untuk malam-malam seperti ini. Kau tidak pernah bisa istirahat karena aku.”
“Abby—”
“Aku serius.” Suaranya mulai bergetar. Belakangan air matanya memang gampang sekali tumpah, dan ia benci itu. “Kau membangun semuanya dari nol. Aku tahu betul bagaimana kau memulainya. Lalu sekarang aku membuatmu duduk di rumah menonton istrimu muntah-muntah.”
Devan diam beberapa saat. Ia menarik kursi lain, mendudukkan dirinya berhadapan, lalu menggenggam kedua tangan Abby.
“Dengar,” katanya pelan. “Aku pernah kehilangan sepuluh tahun.”
Abby terkesiap.
“Sepuluh tahun, Cantik. Aku tidak tahu kau di mana, kau makan apa, kau menangis atau tidak. Setiap tanggal dua puluh November aku hanya bisa duduk sendirian dan menghitung berapa lama lagi aku harus bertahan.” Ibu jarinya bergerak di punggung tangan Abby. “Sekarang kau ada di depanku, dan kau memintaku memilih antara rapat dan menemanimu. Menurutmu aku akan memilih yang mana?”
Air mata yang sejak tadi ditahan Abby akhirnya jatuh juga.
“Pekerjaan itu bisa menunggu sampai besok,” lanjut Devan. “Kau tidak. Malam ini tidak akan datang dua kali.”
Abby menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya menarik tangan suaminya, meletakkannya di perutnya, dan menahannya di sana.
Devan berlutut di lantai dapur yang dingin. Ia menempelkan telinganya ke perut Abby, memejamkan mata, dan berbisik cukup keras agar terdengar.
“Kau dengar itu? Kau boleh menyiksa ibumu sedikit lagi. Tapi setelah itu, jaga dia baik-baik.”
Abby mengusap rambut suaminya sambil tersenyum di sela air matanya.
Mereka kembali ke kamar hampir pukul tiga. Devan menyusun dua bantal di punggung istrinya, mematikan lampu, lalu memeluknya dari belakang dengan telapak tangan yang tetap bertumpu di perut Abby.
Menjelang matanya benar-benar terpejam, Abby teringat sesuatu.
“Kak, hari Kamis kita ke dokter, kan?”
“Hm. Jam sepuluh.”
“Kata suster kemarin, kalau posisinya bagus, kita sudah bisa tahu.”
Devan tidak langsung menjawab. Abby merasakan pelukan di perutnya mengerat sedikit.
“Kalau begitu,” gumam pria itu di belakang tengkuknya, “kita harus mulai bertengkar soal nama.”