"Sayang, apa kau sibuk sekarang?" tanya wanita cantik berumur tiga puluh tahunan tersebut, ketika ia baru saja mengantarkan makan siang ke kantor sang suami.
Kevin, yang notabenenya adalah suami Sharon itu hanya menggeleng tanpa mengalihkan matanya dari layar iPad di hadapannya. "Tidak."
"K-kurasa ... baby sedang ingin berjalan-jalan keliling kantor," cicit Sharon ragu. Entahlah, mungkin sudah seminggu ini Kevin agak jinak dengannya, tapi tetap saja rasa canggung itu masih ada—apalagi Kevin adalah pria yang cukup pendiam dan cuek, membuatnya harus berusaha mencari-cari topik untuk diperbincangkan keduanya.
"Ya sudah, keliling saja," jawab Kevin tak acuh. Matanya masih terpaku dengan diagram-diagram di layar gadget-nya.
Lihat, Kevin itu sudah sifat bawaannya cuek.
Sharon menggigit bibir bawahnya, sedikitnya ia tak yakin akan permintaannya sendiri. Sebenarnya dirinya adalah perempuan yang suka memberikan kode, tapi apa daya kalau suaminya ialah pria tak peka yang apa-apa harus diucapkan secara gamblang.
Maka dari itu, dengan memalu ia berkata, "M-maukah kau mengantarkanku berkeliling?"
Kevin menaikkan pandangannya, menatap Sharon dengan satu alis terangkat—yang mana membuat Sharon semakin terpesona akan maskulinitas sang suami—untuk kemudian mengangkat kedua bahunya bersamaan.
Mungkin setelah seminggu ini hanya mendekam di ruang kerjanya, tak apa untuk sekadar berjalan-jalan sebentar. Hitung-hitung mencari hiburan di tengah penatnya pekerjaan. "Baiklah."
-
Mungkin ini pilihan yang salah bagi Kevin.
Seharusnya ia tak menuruti keinginan istrinya untuk berkeliling. Seharusnya ia sibuk saja berkutat dengan pekerjaannya agar tidak kepikiran, bukannya malah ada waktu luang hanya dipakai untuk membanyaki pikiran.
Apalagi hatinya semakin kacau tatkala melihat pria itu tengah bergelut dengan pekerjaannya di depan komputer, dibalut dengan ekspresi seriusnya.
Lagi-lagi Kevin terkesima.
Androgini yang satu itu memang selalu cantik dalam kondisi apa pun, mungkin Tuhan sedang dalam hati yang bahagia saat menciptakannya. Lelaki itu benar-benar tak bisa untuk tak dikagumi.
" ... Kevin?" Sharon yang sedari tadi sibuk berceloteh sambil bergelayut manja di lengan kekar Kevin pun terdiam. Ia menyadari sesuatu ketika ia memfokuskan pandangan pada objek yang Kevin tatap.
Eren.
Sharon mengembuskan napasnya berat. Ia tersenyum tipis sambil mendongak, menatapi ekspresi yang suaminya tampilkan.
Ia sangat tahu betapa besar cinta keduanya—terutama Kevin—dan apa dirinya egois kalau dia juga menginginkan cinta Kevin? Ia kan istrinya.
Ia ingin dicintai juga, ia ingin eksistensinya di hidup Kevin itu terasa nyata—bukan semu di antara kisah cinta yang kelabu.
"Kevin," panggil Sharon sembari mengusap lengan Kevin. Ia menundukkan kepalanya dan tampak murung, "aku ingin pulang."
Kevin tersentak, ia dengan gelagapan menatap Sharon yang mungkin menyadari kelakuannya yang terus memakukan pandangannya pada Eren.
"A-ah, maaf. Y-ya, lebih baik kau—kita pulang. Aku akan mengantarkanmu."
-
Sharon lagi-lagi harus menggigit jemarinya gusar manakala saat ingin mengantar bekal makan siang Kevin, ternyata ada Eren juga di ruangan suaminya.
Sudah seminggu lebih, tapi kenapa tiba-tiba Eren ke sini?
Untuk apa pria itu kemari? Bukankah pindah divisi telah memberi jarak pada keduanya? Bukan tugasnya untuk mendatangi CEO seperti Kevin langsung seperti ini.
"... Apa kau makan dengan baik? Kau agak kurusan." Sayup-sayup terdengar suara Kevin dari pintu yang sedikit dibuka oleh Sharon. Oh astaga, semenjak kejadian ia memergoki Kevin pertama kali ia jadi seperti tukang intip.
"... Ya."
"Kudengar Emer kemarin masuk rumah sakit, aku jadi khawatir. Memangnya apa yang terjadi padanya?"
Sharon yang mendengar ucapan Kevin—yang sebenarnya terdengar seperti tengah mencari-cari topik—hanya meremas perutnya pelan. Apa nanti anaknya juga akan diperhatikan sedemikian rupa? Apa seandainya ada masa di mana anaknya terluka, daddy-nya akan sekhawatir ini?
"Iya, kemarin ia bermain sepeda dan terjatuh hingga kakinya patah. Tapi syukurlah, ia tak apa."
"Aku ... boleh menjenguknya?"
"Sebenarnya apa maumu?" Eren bertanya dengan nada kesal yang kentara. Ia tak suka kalau Kevin menjadi sok perhatian di tengah-tengah misi menjauh antara keduanya.
"Tidak, tidak. Tolong jangan marah dulu." Kevin berujar panik, "Aku hanya ingin menjenguknya. Aku ... rindu Emer."—juga merindukanmu, Eren.
"Berhenti melakukan ini, Kevin!" teriak Eren yang seketika suaranya menggemai ruangan Kevin. "Kau sudah berjanji akan menjauh! Ini tak akan berhasil kalau kau terus beralasan ini-itu yang akhirnya membawa kita untuk bertemu kembali. Itu benar-benar menyulitkanku, kau tahu?"
Kevin memelaskan wajahnya, raut sedihnya langsung terpancar. Benar-benar pria buaya ini.
Dengan lirih, Kevin pun berkata, "Aku hanya ingin menjenguk Emer, tak ada maksud lain seperti yang kau katakan. Aku merindukan Em—"
"KAU BUKAN SIAPA-SIAPANYA, BERENGSEK! Berhenti bertingkah sok peduli seperti ini."
"Tapi aku daddy-nya!" balas Kevin berteriak.
"Kau bukan siapa-siapa kami." Eren menekankan kalimatnya. "Berhenti dan kembalilah pada keluarga yang lebih berhak menyebutmu daddy. Khawatirkan saja mereka, tak perlu mengkhawatirkan anakku."
"Eren—"
"Saya pamit."
Seketika ruangan berubah senyap kala Eren berjalan keluar menuju ruangannya dan Kevin hanya bisa menghela napas sembari menatapi punggung sempit sang pujaan hati.
"Eren, aku mencintaimu ... serta Emer," tukasnya pelan, yang mana membuat Eren memberhentikan langkahnya. "Sangat."
Eren merasa ucapan itu membebaninya, sungguh. Maka dengan mengeraskan hatinya, ia membalas ucapan Kevin tanpa menoleh, "Berhenti bicara omong kosong. Takkan ada lagi cinta di antara kau dan aku."
Dengan langkah pelan nan murung, Eren yang berjalan sambil menatap lantai itu berusaha untuk tak sedih. Ia tak ingin berlarut-larut hingga mengganggu pikirannya, yang lantas membuatnya tak fokus.
Saat membuka pintu, alangkah kagetnya Eren saat melihat dua orang yang menatapnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.
"Sharon? Tuan Baldwin?"
Sharon ikut terkejut. Ia pun tersentak sembari membalikkan tubuhnya cepat guna menatap seseorang sedari tadi di belakangnya tanpa ia sadari. Ternyata ia tak melihat adegan cekcoknya sepasang kekasih ini sendirian.
"A-ayah mertua?"
Pria berumur enam puluh tahunan yang sangat mirip dengan Kevin itu pun menatap Eren lurus-lurus, netra itu menelisiknya dengan pandangan dingin tak suka yang kentara sekali.
"Lama tak bertemu, Pria Jalang," katanya. "Dan kau pun masih menjadi jalang Kevin bahkan setelah ia menikah, huh?"