Minggu malam, Ana duduk di depan meja kecil di kamar kosnya. Dari balik jendela, lampu halaman memantulkan cahaya redup pada dinding. Di samping buku kuliah tergeletak sebuah map tipis berisi beberapa lembar puisi yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Ia mengambil selembar kertas baru. Sudah beberapa pekan ia menulis puisi untuk mading Fakultas Kedokteran. Setiap Senin, sebelum lorong ramai, ia menyelipkan satu lembar di antara pengumuman akademik dan poster kegiatan. Ia tidak pernah menunggu untuk melihat siapa yang membaca.
Namun sejak mengetahui Dean memotret puisi-puisi itu, kebiasaan tersebut terasa berbeda. Ia tahu Dean mengagumi tulisan Eidelweiss. Ia juga tahu Dean belum mengerti bahwa penulis yang dicari-carinya duduk di sampingnya di mobil, berbicara kepadanya dengan nama Ana.
Ana menatap kertas kosong. Ia tidak ingin menulis sesuatu yang terlalu jelas. Puisi bukan pengakuan langsung; selama ini puisi menjadi tempat baginya menyimpan hal-hal yang belum sanggup ia ucapkan.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Bagas masuk.
Bagas : Besok jangan lupa bawa catatan kuliah. Miss Diana biasanya minta tugas mendadak.
Ana tersenyum kecil dan membalas.
Ana : Sudah aku siapkan. Kamu juga jangan lupa.
Ia meletakkan ponsel, lalu mencoba menulis. Kata-kata pertama terasa kaku. Ia mencoret satu baris, mengganti kata, kemudian berhenti. Di kepalanya muncul wajah Dean saat mengatakan bahwa ia tidak ingin bertemu Adeline lagi. Ada ketegasan di sana, tetapi juga luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Ana tidak ingin puisinya menjadi cara untuk menuntut Dean memilih siapa pun. Ia hanya ingin menulis tentang seseorang yang belajar mengakui batas, tentang jarak yang tidak selalu berarti meninggalkan, dan tentang keberanian untuk berkata tidak.
Beberapa baris akhirnya terbentuk. Ana membacanya dalam hati, lalu menambahkan satu kalimat penutup. Ia belum yakin apakah puisi itu cukup baik. Namun waktu terus berjalan, dan ia harus tidur sebelum pagi.
Di lantai bawah, pemilik kos mengingatkan penghuni bahwa pintu gerbang akan dikunci pukul sepuluh malam. Ana memeriksa alarm, menyiapkan pakaian kuliah, kemudian menyimpan puisi itu ke dalam map. Ia tidak menulis nama Dean di sana. Ia juga tidak menulis nama siapa pun.
Sebelum mematikan lampu, Ana membuka percakapan dengan Dean. Pesan terakhir mereka masih tentang perjalanan pulang. Ia mengetik kalimat ‘Semoga besok harimu lancar’, tetapi menghapusnya. Terlalu sederhana untuk dikirim tanpa alasan, pikirnya.
Ia meletakkan ponsel dan memejamkan mata. Di benaknya, suara hujan dari malam-malam lama masih kadang muncul. Ia berusaha mengatur napas seperti yang selalu ia lakukan: menarik perlahan, menahan sejenak, lalu mengembuskannya. Tidak ada hujan malam itu. Hanya angin yang menggesek daun di halaman.
Pagi-pagi sekali, sebelum kos ramai, Ana bangun dan bersiap. Map puisinya ia masukkan ke dalam tas. Ia memeriksa isinya dua kali, memastikan lembar baru itu tidak tertinggal. Hari itu ia tidak akan naik ke Fakultas Kedokteran sampai jam kuliah siang. Ia hanya perlu datang lebih awal, menempelkan puisi, lalu pergi sebelum orang-orang memenuhi lorong.
Di meja kecil, ia kembali mengeluarkan lembar yang ditulis semalam. Ada satu kata yang masih terasa tidak tepat. Ana menghapusnya dengan hati-hati, lalu menuliskan penggantinya di atas bekas tinta. Ia membaca seluruh puisi tanpa suara. Pada baris terakhir, ia berhenti cukup lama.
Ia tidak ingin menyebut nama seseorang. Nama akan membuat perasaan itu terlalu nyata, sementara ia belum tahu apa yang akan terjadi jika Dean suatu hari menemukan siapa Eidelweiss. Ia juga tidak ingin menulis janji yang tak sanggup ia tepati. Maka ia memilih kalimat yang lebih sederhana: tentang seseorang yang boleh pergi bila memang perlu, tetapi tak perlu berpura-pura bahwa ia tidak pernah berarti.
Ana membalik kertas dan memastikan tidak ada bekas tulisan lain di sisi belakangnya. Ia menuliskan nama pena di bagian bawah, dengan huruf yang sama seperti biasanya. Tangannya sempat berhenti di huruf terakhir. Ia membayangkan Dean memotret puisi itu dan membacanya berulang kali, lalu segera menggeleng kecil. Ia tidak boleh menulis hanya untuk membayangkan reaksi Dean. Puisi itu harus tetap menjadi miliknya sendiri.
Setelah merapikan map, ia menyiapkan earphone di kantong depan tas. Kebiasaan itu memberinya rasa aman, terutama ketika cuaca berubah mendadak. Ia melihat langit dari jendela. Pagi masih cerah, tetapi ia tetap membawa payung lipat. Tidak ada salahnya bersiap tanpa membuat ketakutannya menentukan seluruh hari.
Ana lalu memeriksa jadwal kuliah minggu depan. Ada kelas pagi di gedung Sastra dan tugas yang harus dikumpulkan sebelum siang. Ia menghitung waktu perjalanan menuju FK, memperkirakan kapan lorong masih sepi, dan memilih datang sedikit lebih awal. Rencananya sederhana: menempelkan puisi, memastikan kertasnya tidak mudah jatuh, kemudian kembali ke fakultasnya sendiri.
Sebelum berangkat, ia merapikan rambut dan menutup map. Wajahnya tampak biasa saja, tidak berbeda dari hari-hari lain. Itulah yang ia inginkan. Tak seorang pun perlu tahu bahwa ada puisi baru di dalam tasnya atau bahwa ia baru saja memikirkan Dean selama hampir satu jam.
Pagi-pagi sekali, sebelum kos ramai, Ana bangun dan bersiap. Map puisinya ia masukkan ke dalam tas. Ia memeriksa isinya dua kali, memastikan lembar baru itu tidak tertinggal. Hari itu ia tidak akan naik ke Fakultas Kedokteran sampai jam kuliah siang. Ia hanya perlu datang lebih awal, menempelkan puisi, lalu pergi sebelum orang-orang memenuhi lorong.
Di kampus, Dean juga memulai hari lebih pagi. Ia masih mengingat foto puisi yang tersimpan di ponselnya. Beberapa bait ia baca ulang dalam perjalanan dari parkiran ke gedung. Ia tidak tahu mengapa tulisan seseorang yang tak pernah ia temui terasa lebih dekat daripada percakapan dengan banyak orang yang ia kenal.
Senin selalu menjadi hari yang ia tunggu. Kali ini, ia memutuskan datang sebelum kelas dimulai dan mencoba mencari tahu bagaimana puisi itu sampai di mading. Ia tidak akan menyentuh atau mengambil kertasnya. Ia hanya ingin bertanya kepada penjaga gedung, barangkali ada petunjuk kecil yang selama ini ia lewatkan.