Di kampus, hari itu berjalan tanpa kejadian besar. Dean melewati koridor FK sambil membawa berkas seminar, dan Ana berada di gedung Sastra mengikuti kelasnya. Mereka tidak perlu bertemu untuk membuktikan bahwa hubungan mereka baik-baik saja. Ana menyelesaikan tugasnya, lalu pulang dengan angkot sebelum gerbang kos ditutup. Ia memilih membaca catatan sejenak sebelum tidur, agar pikirannya tidak terus kembali pada hujan.
Malam itu, Ana tidak langsung tidur setelah kembali ke kamar. Ia mengganti pakaian, menyimpan tas, lalu duduk di meja kecil sambil menunggu rambutnya kering. Hujan yang tadi turun masih terasa dekat, meskipun kini hanya terdengar tetesan air dari talang kos.
Ia membuka ponsel dan membaca ulang percakapan dengan Dean. Tidak ada kata-kata yang berlebihan. Dean hanya memastikan ia sudah masuk dan mengatakan bahwa ia boleh menyampaikan apa yang dibutuhkan. Bagi Ana, kalimat itu lebih berarti daripada janji bahwa ia akan selalu melindunginya. Dean tidak menganggap dirinya bisa menghapus rasa takut Ana; ia bersedia mendengar apa yang Ana pilih untuk dibagikan.
Ana mengetik beberapa kalimat tentang malam saat ibunya meninggal, lalu menghapus semuanya. Ia belum siap mengirim cerita itu. Ia takut begitu memulai, seluruh kenangan yang berusaha ia simpan akan datang sekaligus. Ia juga takut melihat perubahan di wajah Dean setelah tahu alasan fobianya.
Ia menarik napas perlahan dan menaruh ponsel di meja. Ada waktu lain untuk bercerita. Untuk saat ini, ia cukup mengatakan bahwa earphone membantu dan bahwa ia sudah sampai dengan aman.
Di sisi lain kota, Dean masih terjaga di ruang tengah. Ia memeriksa pintu dan memastikan lampu teras dimatikan. Saat melihat pesan Ana sudah dibalas, ia merasa lega. Ia hampir mengirim pertanyaan tentang apa yang membuatnya takut, tetapi urung. Ana sudah menjawab dengan jelas bahwa ia belum siap. Menghormati itu lebih penting daripada memuaskan rasa ingin tahunya.
Pagi berikutnya, Dean bangun dengan kepala yang lebih jernih. Ia menyelesaikan sarapan bersama keluarganya dan berangkat ke kampus tanpa menunggu pesan dari Ana. Ia tidak ingin menjadikan kabar tentang kedatangan Ana sebagai kewajiban. Kalau mereka bertemu, ia akan menyapanya; kalau tidak, hari mereka tetap berjalan masing-masing.
Ana pun memulai pagi dengan rutinitasnya. Ia memeriksa cuaca, memasukkan earphone ke tas, dan memastikan membawa catatan kuliah. Ia tidak membiarkan rasa takut menghalanginya pergi. Di halte, ia berdiri di tempat yang ramai dan naik angkot seperti biasa.
Setelah mobil Dean menjauh dari kos, Ana berdiri beberapa saat di bawah teras. Hujan tinggal gerimis, tetapi suara air yang jatuh dari ujung atap masih membuat tubuhnya waspada. Ia memejamkan mata, mengatur napas, lalu masuk ke kamar.
Ia menggantung jaket yang sedikit lembap dan menaruh earphone di meja. Dean tadi bertanya tentang penyebab fobianya. Ana belum siap menjawab, tetapi jawaban Dean setelah ia menolak bercerita terus terngiang: ia tidak harus menjelaskan sekarang.
Ponselnya bergetar.
Deanova : Lo sudah masuk?
Ana : Sudah. Terima kasih sudah berhenti dan menunggu tadi.
Deanova : Sama-sama. Kalau hujan lagi, bilang apa yang lo butuhkan. Gue enggak mau menebak-nebak.
Ana membaca pesan itu perlahan. Selama beberapa hari terakhir, Dean sering memutuskan lebih dulu apa yang menurutnya aman bagi Ana. Kali ini ia bertanya dan menunggu. Perubahan kecil itu membuat Ana merasa lebih dihargai.
Ana : Aku akan bilang. Earphone tadi membantu.
Deanova : Oke. Istirahat yang cukup.
Ana meletakkan ponsel. Ia sempat ingin menambahkan bahwa ia belum siap membicarakan masa lalu, tetapi Dean sudah mengerti. Tak perlu menuliskan batas yang sama dua kali.
Di rumah, Dean masuk tanpa menyalakan seluruh lampu ruang tengah. Mama dan Papa sudah beristirahat, sedangkan Dea mungkin sedang membaca di kamarnya. Ia menaruh kunci, menggantung jaket, dan memeriksa ponsel. Tidak ada pesan baru dari Ana. Dean tidak mengirim pertanyaan lain.
Ia duduk di sofa dan mengingat bagaimana Ana menutup telinga ketika petir terdengar. Ia ingin memahami sumber ketakutan itu, tetapi ia juga sadar bahwa rasa ingin tahunya bukan alasan untuk mendesak. Dalam perjalanan tadi, Ana sudah mengatakan belum siap. Dean harus menghormati jawaban tersebut.
Pagi berikutnya, hujan telah berhenti. Dean mengirim pesan singkat untuk menanyakan apakah Ana tidur cukup. Ana menjawab bahwa ia baik-baik saja dan akan berangkat kuliah seperti biasa. Dean tidak menawarkan tumpangan karena ia tahu Ana punya rencana sendiri hari itu.
Di kampus, mereka berpapasan di koridor FK. Ana sedang menuju gedung Sastra setelah mengantar buku ke perpustakaan pusat. Dean melihatnya lebih dulu.
‘An.’
Ana berhenti dan tersenyum. ‘Hai, Deanova.’
‘Lo sudah lebih enak?’
‘Iya. Terima kasih sudah tanya.’
Dean mengangguk, tidak mengulang pertanyaan tentang fobia. ‘Kalau gitu, gue enggak akan nahan lo. Lo mau ke kelas?’
‘Iya. Aku harus masuk sebentar lagi.’
‘Oke. Hati-hati.’
Mereka berpisah tanpa percakapan panjang. Ana merasa lega karena Dean tidak mengubah pertemuan singkat itu menjadi pembicaraan serius. Ia melanjutkan langkah ke gedungnya, sementara Dean kembali ke kelas.
Siang itu, Ana duduk bersama Bagas di kantin Sastra. Mereka membahas tugas dan jadwal seminar. Bagas bertanya apakah latihan pembacaan puisi sudah dimulai. Ana menjelaskan bahwa belum, dan ia masih menunggu jadwal final dari Dean.
‘Lo masih gugup?’ tanya Bagas.
‘Masih. Tapi aku akan coba pelan-pelan.’
‘Bagus. Jangan bikin target yang terlalu berat.’
Ana mengangguk. Ia tidak menceritakan bahwa Dean baru saja bertanya lagi tentang keadaan dirinya, tetapi ia juga tidak merasa perlu menyembunyikannya. Hubungan mereka sebagai sahabat terasa tetap sama. Bagas menyimpan rahasianya dan tidak mengubah perhatian menjadi tuntutan.
Hari berjalan biasa sampai Ana melihat Audrey berdiri di ujung koridor. Perempuan itu berbicara dengan dua mahasiswa, tetapi pandangannya sesekali mengarah kepada Ana. Ana menahan diri untuk tidak langsung berasumsi. Ia kembali menutup buku dan mengikuti Bagas keluar dari kantin.
‘Lo kenal dia?’ tanya Bagas, melihat arah pandang Ana.
‘Audrey. Aku pernah lihat di kampus.’
‘Dia sering dekatin Dean, kan?’
Ana mengangguk. Ia tak ingin membuat dugaan tentang alasan Audrey memperhatikannya. Bagas juga tidak mendesak. Mereka berjalan ke kelas dan melanjutkan hari, sementara tatapan Audrey tertinggal sebagai kegelisahan kecil yang belum memiliki bentuk.