Beberapa hari setelah percakapan mereka di taman, Dean menjalani jadwal kampus seperti biasa. Ia mengirim jadwal latihan seminar kepada Ana dan para panitia, lalu menyibukkan diri dengan daftar kebutuhan acara. Ana membalas bahwa ia bisa hadir pada salah satu sesi latihan. Tidak ada percakapan tentang janji mereka.
Menjelang siang, ponsel Dean bergetar berulang kali. Grup angkatan FK yang biasanya dipenuhi pengumuman kelas mendadak ramai. Gus menunjukkan layar ponselnya dari seberang meja.
‘Dean, ada foto lo sama Ana di grup.’
Dean mengulurkan tangan, tetapi Gus tetap memegang ponselnya. Ia tidak ingin Dean mengambil perangkat orang lain begitu saja. Gus membuka foto di layarnya sendiri dan memperlihatkannya.
Foto itu diambil dari kejauhan di parkiran motor Fakultas Sastra. Dean tampak memeluk Ana saat hujan, ketika gadis itu ketakutan dan membutuhkan pertolongan. Wajah Ana terlihat sebagian, tetapi bandana merah mudanya mudah dikenali. Di bawah foto ada beberapa komentar yang menyebut mereka berpacaran dan mempertanyakan apakah Dean menyalahgunakan posisinya sebagai Presiden BEM.
Rahang Dean mengeras. Ia teringat kejadian itu dan tahu foto tersebut diambil tanpa sepengetahuan mereka. Ia tidak marah kepada Ana. Ia justru khawatir orang-orang akan mengubah momen ketika Ana ketakutan menjadi bahan gosip.
‘Jangan balas dulu,’ kata Gus.
‘Gue enggak akan debat di grup.’
Dean meminta Gus mencatat siapa yang mengirim foto pertama dan kapan pesan itu muncul, tanpa membuka perangkat siapa pun atau menyebarkan ulang gambarnya. Ia tidak ingin menambah jangkauan foto itu. Ia menyimpan tangkapan layar yang dikirim Gus hanya sebagai bukti bahwa rumor telah beredar, lalu meminta Gus menghapusnya dari percakapan pribadi setelah mereka mencatat detail seperlunya.
‘Kita perlu lapor ke pihak kampus,’ kata Dean. ‘Gue enggak mau orang menelusuri sendiri atau menyerang siapa pun.’
Gus mengangguk. Mereka sepakat bahwa Dean akan berbicara dengan dekan sebagai Presiden BEM. Foto itu menyangkut privasi Ana, dan Dean tidak ingin mengambil keputusan atas namanya. Ia mengirim pesan kepada Ana dengan singkat, memberi tahu bahwa foto mereka beredar di grup FK dan bahwa ia akan melapor secara resmi.
Deanova : Ada foto kita di parkiran yang beredar di grup FK. Aku belum membalas atau menyebarkannya. Aku akan melaporkan ke dekan. Kamu mau aku lakukan sesuatu lagi?
Ana membaca pesan itu beberapa menit kemudian. Dean melihat tanda pesan telah dibaca, tetapi tidak memanggil atau menelepon. Ia menunggu jawabannya.
Ana : Tolong jangan sebut namaku di grup atau membalas komentar mereka. Aku tidak mau fotonya makin tersebar.
Deanova : Oke. Aku tidak akan menyebut namamu. Aku akan jelaskan ke dekan tanpa membuka hal pribadi.
Ana meletakkan ponsel. Foto itu membuatnya malu dan takut, terutama karena ia tidak tahu siapa yang mengambilnya. Namun Dean tidak menyalahkannya atau memintanya menjelaskan mengapa mereka berpelukan. Ia bertanya apa yang ia inginkan, lalu menerima jawabannya.
Dean menyiapkan catatan singkat untuk pertemuan dengan dekan. Ia menulis bahwa foto diambil tanpa persetujuan, disebar dengan komentar yang mengganggu, dan berpotensi merugikan mahasiswa yang ada di dalamnya. Ia tidak menulis dugaan tentang siapa yang mengambil atau mengirimkannya.
Di grup, Dean hanya mengirim pesan agar anggota tidak meneruskan foto atau menyebut nama mahasiswa yang terlihat. Ia meminta mereka menjaga privasi dan menyerahkan penanganan kepada pihak kampus. Ia tidak menyatakan siapa perempuan itu, tidak mengancam, dan tidak membuat tuduhan.
Beberapa teman menyetujui pesannya. Ada pula yang bertanya apakah Dean sedang membela pacarnya. Dean tidak menjawab. Ia menutup grup dan melanjutkan pekerjaan seminar. Ia merasa marah, tetapi tidak akan membiarkan amarah memutuskan langkahnya.
Sore itu ia mengabari Ana bahwa pihak dekan akan menemuinya keesokan harinya. Ia meminta izin untuk menjelaskan bahwa foto tersebut menampilkan seorang temannya, tetapi tidak menyebut nama. Ana menjawab bahwa itu boleh. Dean bersiap menghadapi pertemuan resmi, sambil memastikan keputusan yang menyangkut Ana tetap melibatkannya.
Sebelum meninggalkan ruang panitia, Dean menulis ringkasan kronologi dengan tanggal dan waktu yang ia ingat. Ia membedakan hal yang ia lihat sendiri dari hal yang hanya ia dengar di grup. Ia tidak menambahkan perkiraan tentang siapa yang memotret. Jika pihak kampus membutuhkan informasi, mereka akan menilai bukti melalui prosedur yang tepat.
Gus membantu mengingat waktu foto pertama kali muncul tanpa meneruskannya ke grup lain. Ia mencatat nama grup dan akun yang mengunggah, tetapi tidak menghubungi orang tersebut untuk menekan atau mengancamnya. Dean meminta agar catatan itu diserahkan hanya kepada dekan.
‘Ana tahu?’ tanya Gus.
‘Gue sudah kasih tahu dan tanya apa yang dia mau. Dia minta gue enggak menyebut namanya.’
‘Bagus. Biar dia tetap punya kendali atas ceritanya.’
Dean mengangguk. Ia mengirim pesan kepada Ana setelah seluruh laporan siap. Ia mengatakan bahwa ia akan berangkat menemui dekan besok pagi dan meminta Ana memberi tahu jika ada keberatan. Ana menjawab bahwa ia tidak keberatan selama namanya tidak disebut.
Di rumah, Dean menerima beberapa pesan dari mahasiswa FK yang bertanya siapa perempuan dalam foto. Ia tidak menjawab. Ia menghapus notifikasi dan menyimpan ponselnya. Ia tidak ingin mengubah foto menjadi obrolan yang lebih besar hanya demi meluruskan gosip.
Ana pun menerima satu pesan dari teman sekelas yang bertanya apakah ia ada di foto. Ana menjawab bahwa ia tidak ingin membahasnya dan meminta temannya tidak meneruskan gambar itu. Temannya meminta maaf dan berjanji menghapusnya. Ana merasa sedikit lega, tetapi tetap cemas menghadapi hari esok.
Ia berbicara sebentar dengan Bagas setelah kelas. Bagas bertanya apakah Dean sudah meminta izin sebelum melapor. Ana menjawab bahwa Dean menjelaskan rencananya dan bertanya apa yang ia inginkan. Bagas mengangguk puas. Ana menambahkan bahwa ia tidak ingin Dean menyebut namanya, sebab ia tidak ingin masalah itu menjadi pembicaraan seluruh kampus.
Bagas mendukung pilihannya. Ia tidak menyarankan Ana bersembunyi atau berhenti kuliah. Ia hanya mengingatkan bahwa ia bisa meminta bantuan pihak kampus jika ada yang mengganggunya langsung. Ana menyimpan nomor layanan mahasiswa di ponsel, bukan karena ingin membuat laporan sekarang, tetapi agar tahu pilihan yang tersedia.
Malam itu, Dean memeriksa map laporannya sekali lagi. Ia memastikan tidak ada salinan foto yang disertakan. Ia menulis bahwa dirinya bersedia memberikan keterangan langsung, tetapi tidak akan menyelidiki sendiri. Setelah itu ia menutup map dan menyiapkan pakaian untuk bertemu dekan esok pagi.