Beberapa hari setelah laporan Dean, suasana kampus tampak kembali normal. Foto itu sudah dihapus dari grup, tetapi cerita tentang Dean dan seorang mahasiswi Sastra masih beredar dari mulut ke mulut. Ana mencoba mengabaikannya. Ia tidak ingin membiarkan rumor menentukan apakah ia boleh datang ke kantin atau menghadiri kelas.
Bagas menawarkan makan siang bersama. Ana menerima, tetapi meminta mereka duduk di tempat yang tidak terlalu ramai. Bagas memahami dan memilih meja dekat jendela. Mereka membicarakan tugas kuliah serta lamaran kerja Aleska. Ana merasa lega karena Bagas tidak memaksanya membahas foto.
‘Kalau ada yang tanya soal rumor itu, lo enggak wajib jawab,’ kata Bagas.
‘Aku tahu. Aku cuma ingin makan tanpa merasa semua orang menunggu reaksiku.’
Bagas mengangguk. Ia mengubah topik ke tugas puisi yang harus dikumpulkan. Ana mulai bercerita tentang ide tulisannya, dan untuk beberapa menit kantin terasa seperti tempat biasa.
Di sisi lain ruangan, Audrey datang bersama dua temannya. Ia melihat Ana dan Bagas duduk berhadapan. Pandangannya beralih ke layar ponsel salah seorang temannya, yang menunjukkan percakapan tentang foto Dean. Audrey membaca komentar yang menyebut Ana sebagai perempuan di dalam gambar. Wajahnya menegang.
Audrey telah beberapa kali melihat Dean menolak perhatiannya. Ia mengira Dean hanya tidak tertarik pada siapa pun, tetapi foto itu membuatnya merasa dipermalukan. Ia tidak tahu apa yang terjadi di parkiran dan tidak bertanya kepada Ana. Ia hanya menyimpulkan bahwa Ana menggunakan kedekatannya dengan Dean untuk mendapatkan perhatian.
Temannya menyarankan agar Audrey tidak ikut campur. ‘Foto itu sudah dihapus. Mending jangan bikin masalah.’
Audrey menjawab bahwa ia hanya ingin bertanya. Ia tidak berniat membuat keributan, tetapi amarahnya semakin kuat saat melihat Ana tersenyum kecil kepada Bagas. Ia mengira semua orang melindungi Ana karena Dean.
Ana menyadari ada seseorang memperhatikannya. Ia menoleh dan melihat Audrey berdiri dekat antrean. Mereka bertukar pandang. Audrey tidak menyapa, hanya menatap tajam sebelum duduk di meja lain.
Bagas menangkap perubahan ekspresi Ana. ‘Lo kenal Audrey?’
‘Aku pernah melihatnya di kampus. Dia dekat dengan Dean.’
‘Lo mau pindah meja?’
Ana mempertimbangkan sebentar. Ia tidak ingin menghindar setiap kali ada orang menatapnya, tetapi juga tidak ingin memancing keributan. ‘Enggak. Kita belum selesai makan.’
Bagas menghormati keputusannya. Ia tidak berdiri untuk mendatangi Audrey atau membalas tatapannya. Mereka melanjutkan makan siang, meskipun Ana kini lebih waspada terhadap suasana sekitar.
Audrey melihat bahwa Ana tidak pergi. Ia menafsirkan sikap itu sebagai tantangan. Ia mulai menyusun kata-kata yang ingin ia sampaikan, tetapi belum menghampiri. Teman-temannya kembali mengingatkan agar ia tidak bertindak gegabah.
‘Kalau lo mau bicara, bicara baik-baik,’ ujar salah satu dari mereka.
Audrey mengangguk, meski pikirannya sudah dipenuhi prasangka. Ia mengambil minuman dari nampan dan berdiri. Ia melihat Ana dan Bagas mulai merapikan barang-barang mereka. Audrey menunggu di dekat jalur keluar, menahan gelas di tangannya.
Ana memasukkan buku ke dalam tas. Ia hendak pergi ke perpustakaan setelah makan. Bagas bertanya apakah ia ingin ditemani. Ana mengangguk. Mereka berdiri bersama.
Audrey melangkah mendekat sebelum mereka sampai ke pintu. Ia memanggil nama Ana dengan nada yang membuat Bagas segera menoleh. Ana berhenti, tetapi tidak mundur.
‘Kamu bisa bicara sebentar?’ tanya Audrey.
Ana mengangguk kecil. ‘Kalau kamu ingin bicara, katakan saja di sini. Aku tidak mau pergi ke tempat lain.’
Audrey menahan gelasnya lebih erat. Bagas berdiri di samping Ana, tidak menyentuhnya, hanya siap mendampingi. Beberapa mahasiswa di meja sekitar mulai memperhatikan. Audrey menarik napas, lalu membuka mulut untuk menyampaikan tuduhan yang selama ini ia simpan.
Pada hari berikutnya, Ana kembali ke kampus lebih awal untuk menyelesaikan tugas sebelum kelas. Ia melihat beberapa mahasiswa berbisik ketika ia melewati lorong, tetapi tidak mendengar namanya disebut dengan jelas. Ia tidak berhenti untuk mencari tahu. Ia menaruh buku di meja perpustakaan dan mencoba bekerja.
Bagas datang membawa dua minuman. Ia bertanya apakah Ana ingin pindah ke ruang baca yang lebih sepi. Ana menimbang tawaran itu. Ia tidak ingin semua pilihannya ditentukan oleh gosip, tetapi ia juga berhak memilih tempat yang membuatnya nyaman.
‘Kita ke kantin saja nanti. Aku belum makan,’ katanya.
Bagas mengangguk. Mereka menyelesaikan satu bagian tugas, lalu berjalan ke kantin. Ana memilih meja dekat jendela yang tidak berada di tengah keramaian. Bagas tidak mendesaknya untuk membahas foto atau janji dengan Dean.
Saat makan, Ana menerima pesan dari Dean tentang perubahan kecil jadwal latihan seminar. Ia membalas bahwa ia bisa hadir. Dean menyampaikan terima kasih dan tidak menyinggung gosip yang beredar. Ana merasa lega karena ia masih bisa membicarakan tugas biasa dengannya.
Bagas bertanya apakah Ana ingin Dean menemaninya setelah kelas. Ana menjawab belum perlu. Ia ingin menjalani siang itu tanpa membuat Dean bertanggung jawab atas semua ketidaknyamanan yang muncul. Bagas menerima jawabannya.
Di meja lain, Audrey memperhatikan mereka. Ia mendengar potongan percakapan orang-orang tentang foto yang telah dihapus, tetapi rumor masih beredar. Seseorang berkata Dean melindungi mahasiswi Sastra itu karena mereka berpacaran. Audrey menahan rasa kesal. Ia merasa Dean membuat dirinya terlihat bodoh karena selalu menolak pendekatannya, sementara Ana mendapat perhatian tanpa berusaha.
Audrey berdiri dan berjalan ke antrean. Temannya memintanya berhenti sebelum membuat masalah. Audrey berkata ia hanya ingin bicara dan tidak akan berbuat apa-apa. Namun ketika melihat Ana tertawa kecil kepada Bagas, ia menganggap tawa itu sebagai ejekan terhadap dirinya.
Ana dan Bagas menyelesaikan makan. Ana mengelap meja dan memasukkan buku ke tas. Ia melihat Audrey berdiri dekat jalur keluar. Audrey tidak lagi duduk bersama teman-temannya. Ana memilih tidak mengubah arah, tetapi meminta Bagas berjalan di sampingnya.
Audrey melangkah mendekat dan memanggil Ana. Ana berhenti, lalu menegaskan bahwa ia hanya akan bicara di tempat umum. Bagas tetap di sisinya, memberi ruang bagi Ana untuk menjawab sendiri. Audrey mengangkat gelas minumannya dan mulai membuka percakapan dengan nada tajam.