Farah muda adalah gadis cantik periang dan memiliki pergaulan luas, sama seperti remaja pada umumnya. Senang berkumpul bersama dengan sahabat untuk sekedar berbincang ataupun bergosip, bertemu dan berteman dengan orang-orang baru. Sebagai ketua Himpunan Mahasiswa siapa yang tidak kenal Farah, gadis tomboy cerdas yang selalu jadi pusat perhatian.
Sekarang dipenghujung usia nya yang ke 25, Farah gamang, bukan saja karena rencana hidupnya harus berubah tapi karena memang ada kegelisahan yang tidak berkesudahan yang selalu menghantuinya. Perjalanan cinta Farah tidaklah mudah, setelah ditinggalkan kekasihnya untuk menikahi wanita yang lebih muda. Farah memutuskan untuk menutup diri dari dunia luar. Keputusan Farah untuk menepi bukan karena putus asa, bukan pula sebagai bentuk kekecewaan. Farah hanya ingin menepi, Dia lelah dengan ketidakpastian.
Farah tahu perjodohannya kali ini adalah awal dari petualangan yang dia sendiri tidak pernah tahu apa yang dijanjikan pada akhirnya. Saat ini Dia hanya perlu jadi berani. Calon suami Farah menurut cerita adalah seorang pria modern yang baik. Kadang Farah bertanya-tanya dalam hati mengapa harus disebut pria modern yang baik, kenapa tidak sebut saja Dia pria yang baik. Pertanyaan yang Ia sendiri enggan untuk mencari tahu.
Perjodohan ini diatur oleh kedua orang tua mereka setelah orang tua Farah tahu putri mereka ditinggal menikah oleh kekasihnya, sedangkan sang calon suami sama sama sudah menginjak usia cukup untuk menikah, memiliki pekerjaan tetap dan mapan tapi belum juga menunjukkan tanda-tanda kedekatan dengan seorang wanita. Sehingga terjadilah kesepakatan untuk menjodohkan keduanya.