Petang datang menjelang. Kesibukan terlihat memadati jalanan, waktunya semua pekerja dan orang – orang yang berkegiatan pulang ke rumah sehingga jalanan dipadati oleh pengendara. Aku juga yang akhirnya selesai mengikuti ekskul basket segera menuju ke parkiran untuk mengendarai motorku untuk pulang ke rumah.
Di rumah…
“Assallamualaikum warrohmatullahi wabbarakattu.. Mah.. Chika pulang,”aku masuk setelah melepaskan sepatu dan meletakkan tasku di ruang tamu. Hari ini aku benar- benar lelah dan capek.
“ Waalaikumsalam warrohmatullahi wabbarakattu, buruan mandi dulu Chik, mama uda masakin sayur kesukaan kamu plus dadar jagung, telur gulung dan sambel uleg,” suara mama terdengar dari ruang makan kami. Segera saja aku menuju ke sana dengan gembira dan perut keroncongan.
“ uwaahhh… sayur kangkung bawang putih hemmpp… enaknya, mau makan dulu mah… laper,”
“ idihh gak boleh.. jorok atuh Chik.., kamu bau keringat. Pasti habis ekskul basket yaa..,” mama membuat gestur tidak nyaman.
“ Chik.. uda kelas 2 loo yaa.. ingat kamu harus belajar, jangan sampe nilai kamu turun. Mama uda ga pernah naik panggung untuk menerima piagam juara kelas lagi selain kakakmu itu… ,” memang sekolahku termasuk penganut acara lama, yaitu mengumumkan peringkat kami ketika belajar saat semesteran dan ketika kenaikan kelas. Akan ada pemanggilan orang tua ketika mengambilan rapot. Di saat itu juga akan ada acara pengumuman peringkat parallel setiap jenjang kelas di atas panggung di akhir acara setelah rapot dibagikan.
Aku merasa acara seperti ini adalah ajang memamerkan prestasi yang dimiliki, hal seperti ini tidak terlalu kusuka. Yahh… aku juga tidak tau, apakah rasa ketidaksukaanku disebabkan karena aku tidak punya kesempatan untuk merasakannya.
Langsung saja aku mulai jengah. Gimana bisa, aku yang sedang membahas makanan dan mama bisa sampe bahas ke situ…,
“Iya..iya Chika mandi,” langsung saja aku ngibrit ke kamarku.
Hahhh.. semua orang berbicara, iri ingin seperti aku. Wajah cantik, tinggi, jago disemua hal.. tapi di mata keluarga. Aku bukan apa – apa… aku masihlah seorang anak yang memiliki banyak kekurangan.
Aku masuk ke kamar mandi dan mulai menyalakan shower mengguyur seluruh badanku. Seperti yang sudah kuduga, semua hal yang aku lakukan itu tidaklah cukup. Lahir dikeluarga akademis dengan kakak dan adik yang memiliki presatasi gemilang, akan membuatku si anak ke 2 kehilangan identitas. Aku sudah berusaha menunjukkan warnaku yang berbeda. Tapi seperti air laut yang ditetesi tinta, aku merasa ini sia – sia. Ketakutanku adalah.. aku harus mengikuti apa yang bukan keinginanku. Bukannya aku anak yang tidak berbakti jika memang itu keinginan orang tua, aku sudah berusaha dan aku merasa tidak bisa menyaingi bahkan mengimbangi saudaraku.
Aku memiliki kakak perempuan yang di terima di kampus bergengsi, ITS Surabaya. Ia mengambil jurusan matematika murni. Sebenarnya kakakku telah diterima di kedokteran Unair juga, namun ia menjelaskan alasannya lebih memilih ITS karena ia ingin menjadi pengajar dan professor matematika kelak. Orang tuaku tentu saja setuju, karena kedokteran ataupun professor semuanya sangat di sukai. Kalau menurutku, kakak hanya tidak ingin belajar terlalu lama di kedokteran, karena rumit, terlalu kaku dan beresiko besar akan kehidupan orang lain, mungkin.
Adik perempuanku baru saja lulus dari SMP, sekarang ia telah diterima di SMA yang sama denganku. Yahhh.. hari ini ia tidak bisa mengikuti kegiatan di sekolah karena terkena alergi kulit. Walaupun ia sedikit lebih lemah dari kami semua, kecerdasannya tidak bisa diremehkan. Dan diantara mereka ada aku, Chika si anak tengah.
Setelah mandi dan berganti baju santai di rumah, tubuhku terasa segar dan bersemangat kembali. Siap berkumpul bersama di ruang makan bersama keluargaku tercinta.
“ Mahh.., ayah belum pulang?,” tanyaku setelah duduk di meja makan dan hanya bertemu dengan mamaku saja yang sedang membuat minuman teh hangat tanpa gula kesukaannya di konter dapur.
Mama melangkah ke meja makan sambil membawa minuman yang telah ia buat dan meletakkanya di meja. Mungkin terdengar aneh bagi orang lain, jika mendengar aku memanggil orang tuaku dengan panggilan Mama dan Ayah. Itu semua terjadi karena, sewaktu kami kecil ayah kami tidak mau dipanggil papa dan meminta kami semua memanggil dengan panggilan Ayah saja.
“ Iya.. Ayah lagi ada kerjaan banyak.. jadi lembur.” Jawab Mama. Entah kenapa aku merasakan nada gelisah dari sana.
“ Oik… ayuk makan malam dulu,” mama memanggil adekku yang pasti ada di kamarnya sedang belajar.
Nama adekku adalah Chory Putri Abiyaksa. Dan kami memanggilnya Oik, ntah kenapa memang sangat tidak sesuai dengan namanya. Kata mama, dulu kami sewaktu kecil sulit sekali mengucapkan kata – kata dengan jelas. Karena memang anak – anak cenderung masih cadel istilahnya. Sehingga aku atau kakakku memanggil nama Chory menjadi Oik, Dek Oik. Jadilah panggilan Dek Oik sebagai nama panggilan sayang dari keluarga untuknya.
Aku sendiri dipanggil Iya, dari nama Chika. Yahh.. entah kenapa sewaktu kecil adekku ga bisa melafalkan huruf k.
Untuk kakakku, dia bernama Widdya Putri Abiyaksa, kemudian aku dan adikku yang masing kecil memanggilnya dengan panggilan Kak Uti, dari nama Putri karena memanggil nama Widdya jauh lebih sulit. Dan sejak saat itu sampai sekarang kami memanggilnya dengan sebutan Kak Uti.
Terdengar langkah kaki adikku membuka dan menutup pintu kamarnya. Ia kemudian duduk di sebelahku, “ Kak Uti belum pulang mah?,” tanyanya.
“ Iya.. lagi ada tambahan Asdos tadi katanya, jadi datang agak larut.” Yahh… jika kalian tahu apa saja kegiatan kakakku yang satu itu, pasti kalian capek. Aku saja yang melihat kegiatannya langsung ikutan Lelah.
Kak Uti memiliki segudang prestasi di bidangnya yaitu matematika. Di mulai sejak ia menginjakkan kakinya ke bangku sekolah, semua kejuaraan di bidang matematika seperti sudah ditakdirkan untuk menjadi milik kakakku. Itu cerita yang kudengar dari mama, mama selalu bangga menceritakan semua hal tentang kakakku. Yahh… memang aku juga membuktikan sendiri kebernaran itu. Seingatku ketika aku masih di Sekolah Dasar dengan juara terbaik yang bisa aku raih yaitu Juara kelas urutan ke 5 Parallel ( semua kelas di jenjang tersebut). Kak Uti sudah merah juara 2 parallel SmpN 1 Surabaya dikelas 1. Dan juara 1 di kelas 2 SMP – nya. Dan masih banyak lagi…
“ Bissmillahhirohmanirrohim… ” dan kami membaca doa makan bersama dengan suara lirih.
Setelah itu aku mengambil piring dan sendok.
“ Uda mendingan Dek Oik?,” tanyaku sambil mengambil nasi untuk mama, dia dan untukku sendiri.
“ Heem.. lumayan,” kulihat ia mulai menggaruk lagi tangannya yang memang memerah. “ Kayaknya kena ulet di taman sekolah deh. Uda minum obat tapi masih gatel.,” dan memang pemicu yang biasanya dialami seremeh itu, tapi menyebabkan ruam gatal yang hampir menyeluruh. Ia memiliki riwayat antibody yang lemah sehingga seringkali sakit.
“ Uda gak usah digarukin gitu ah.. nanti malah tambah parah ruamnya,” dengan semangat aku mengambil sambel uleg buatan mama.
“ Iya tapi gatel banget kak, Kak Iya tumben uda pulang? Oik kira bakal malem karena nguru kegiatan buat besok,”
“ Enggak.. kegiatan mah beres.. tadi kak langsung pulang selesai basket bentar,” jelasku.
“ooo.. Masih sempet banget kak?,”
“ Sempetlah.. Harus. Uda hobby soalnya, lagian persiapan turnamen jadi tiap hari disempetin klo bisa,”
“ Iya… tapi belajar disempetin juga ya Ka, kewajiban utama loo itu..,” ku jawab dengan anggukan.
“ Besok masih ijin?,” tanyaku pada Dek Oi, mencari topik lain.
“ Iya kayaknya, tadi uda ke dokter, cuman disuruh istirahat 2 hari dan uda dikasih salep sama obat. Besok hari Kamis ya kak? Terakhir MPLS yaa… habis gitu MPLS Camp?,” Ia bertanya dengan nada sedikit kesal dan mulai mengambil lauk pauk dengan eseng kangkung dan mulai melahap makanan di depannya.
“ Ehh uda terakhir yaa?,” Mama ikutan nimbrung sambil menyendok sesekali.
“ Ehhmm iya kayaknya uda tinggal besok..,”
“ Kok gak yakin gitu sih kak.., mesti… pasti lupa jadwalnya kan..,” dan kujawab dengan cengiran.
“ Duhhh… aku pengen masuk. Soalnya pasti akan ada info – info kegiatan buat MPLS Camp,”
“ Thenang ajha.. ntr kak inpoin..,”
“ ditelen dululah Ka..,” Mama mengingatkan.
Dan aku nyengir lagi.
“ Kak… nanti waktu MPLS Camp pura – pura nggak kenal aku yaa…,” aku berhenti menyendok dan memandangnya.
Seakan tau aku meminta penjelasan, “ Nggak ga usah berpikir aneh – aneh deh… aku cuman malu. Kak Iya banyak dikenal orang… Teman – temanku pada ngefans,” ia menjawab dengan riang tapi aku tetap merasa sedih.
“ Bilang aja Kak Iya populer…,” jawabku dengan iseng dan nyengir lebar.
“ Yeee.. aku gak bilang gitu ya.” Dan ia memandangiku sebal, “ Iiiihhh… Mah, wajahnya Kak Iya nyebelin, Tuhhh – tuhkan… songong,”
Aku memang suka menggodanya.
“ Oik.. udah, kayak anak kecil aja,” dan aku menjulurkan lidah kearah adekku.
Ia memelototkan matanya dan menatap kesal.
“ Emang iya, Kak Iya sepopuler itu?,” Mama tersenyum melihat interaksi kami.
“ Idih Mama, Oik ga bilang gitu. Tapi klo mau dijelasin, di dalam Kelas Oik, kelas X – 4 hari pertama Kak Iya jadi bahan gossip temen – temen baru Oik. Karena jadi Koordinator Humas dan Wakil ketua OSIS. Temen – temen Oik yang di SMP sih uda gak kaget. Cuman hari ini, di grup chat kelas bener – bener rame gara – gara Kak Iya,”
Aku nyengir, katanya gak mau mengakuiku sebagai kakaknya. Tapi sekarang matanya berbinar – binar menceritakan tentangku, dasar aneh. Dan tanpa bisa ku cegah hatiku menghangat dengan kebersamaan sederhana ini. Bahagia itu memang sesederhana itu.
To Be Continued