"Trus tentang kissmark dan Noel itu apa? Aku beneran belum paham yang kamu ucapkan tentang Noel tadi. Iya, kamu jumpa sama dia dan dia memberi kamu tumpangan. Apa dia juga memberikan kamu kissmark? .....
Apa kamu memberikan servis sama dia supaya dia kasih kamu uang?"
Anna terdiam mendengar ucapan Virzha padanya. Gadis itu mengepalkan tangannya kemudian menatap tajam pemuda yang ada di hadapannya. Hatinya rasanya hancur ketika mendengar ucapan pria itu. Ia ingin sekali menampar Virzha dengan kuat namun ia menahannya.
Anna tertawa, "Oh, jadi kamu pikir aku jual diri? Gila ya. Kamu kenal aku sejak kapan? Udah lama atau nggak? Apa kamu pernah liat aku melakukan hal dengan jual diri entah dimana?"
Bibir Virzha rasanya kelu. Ia bisa melihat dengan jelas saat mata itu berkaca-kaca namun masih sangat jelas suaranya memberikan penegasan walau bentuk dalam tanda tanya. Virzha merasa bersalah namun ia juga marah. Ia berhak marah. Bukan semata karena ia menyukai Anna dan Anna bisa seenaknya pada perasaan miliknya. Ia juga bukan manusia yang sangat sabar untuk mengatasi kecemburuannya.
"Gue tanya sama lo. Lo pernah liat gue jual diri? Lo pernah liat gue dengan gaya sok pakai rok pendek sekolah di atas paha dengan gaya yang kayak cewek murahan? Lo pernah liat gue melakukan hal senonoh? Apa juga lu pernah melihat gue pecicilan menggoda beberapa cowok?" Anna menunjuk d**a Virzha, "Lo enggak pernah melihat gue dengan gaya murahan untuk mendapatkan apa yang gue mau. Dan bagaimana bisa lo ngomong seakan-akan gue adalah orang yang materialistis?"
Virzha tetap diam. Ia tidak mengatakan hal apapun karena dia pikir dia juga sudah kelewatan. Dengan cepat ia menyingkir dari hadapan Anna dengan wajah yang memerah.
"Kalau lo gak memberi gue kebahagiaan, kenapa gue harus mempertahankan lo? Lo mengatakan kalau gue adalah bahagia lo. Tapi lo sendiri membuat gue merasa rendahan karena lo" Anna tetap membelakangi Virzha. Gadis itu menahan isakan yang ada di bibirnya.
Virzha berjalan cepat keluar meninggalkan Anna yang sendiri. Anna terduduk di lantai. Sejak bertemu dengan Noel hidupnya menjadi runyam. Jarang ada kebahagiaan yang terjadi dalam hidupnya. Ia seakan di paksa untuk tau apa yang terjadi dalam hidupnya namun ia harus menerima penderitaan di saat yang bersamaan.
"Gue pikir lo bisa membuat gue berada di poros kebahagiaan. Gue udah berharap kalau lo bisa memberikan gue kebahagiaan di saat gue kehilangan berkali-kali. Tapi lo juga yang membuat gue merasakan sakit atas apa yang kau katakan lo pada gue. Gue sayang sama lo tapi kenapa lo gak percaya sama gue?"
Tangisan Anna semakin menjadi. Dadanya benar-benar sesak dan membuat ia merasa lemas. Anna terduduk di lantai dengan masih menangis. Bagaimana ucapan VirzHa masih mengaung di telinganya. Ia merasakan semua hal kebahagiaan itu sirna ketika dengan lancangnya pria itu menjatuhkan harga dirinya. Anna benar-benar kecewa dan juga menyalahkan Noel yang membuat Virzha menjadi seperti itu. Andai saja dia tidak dipaksa dan dia tidak mau dibawa oleh Noel, maka hal seperti ini tidak akan terjadi dalam hidupnya. Di mana orang yang ia anggap akan memberikan dia kebahagiaan juga bisa mengatakan hal se enteng itu.
"Apa yang saya bilang sama kamu. Jika kamu takdir saya, hal apapun yang kamu usahakan untuk mempertahankan hubungan kamu dengan Virzha tidak akan pernah berhasil. Karena pada dasarnya saya adalah takdir kamu. Dan asal kamu tahu, dengan entengnya dia mengatakan hal tersebut berarti dia tidak bisa memberikan kamu kebahagiaan seterusnya dan selalu akan berpikiran negatif tentang kamu walau kamu tidak melakukan hal-hal apapun yang negatif itu" ucap Noel yang entah kenapa muncul tiba-tiba. Anna yang membelakangi Noel otomatis membalikan tubuhnya kearah pria yang sedang bersedekap d**a itu.
"Karena lo. Karena membuat kepercayaan Virzha hilang terhadap gue. Karena Kenapa lo harus memaksakan apa yang seharusnya nggak bisa dipaksakan? Kenapa lo selalu aja membuat gue di posisi yang seharusnya nggak gue alami"
"Kenapa?" Noel mendekati Anna dan menggenggam tangan gadis itu, "Karena saya tahu bahwa kamu memang ditakdirkan untuk saya. Mau berusaha sekuat apapun kamu dan pacarmu itu mempertahankan hubungan kalian, jika memang takdir Tuhan kamu ada jodoh saya kamu mau apa?" tanya Noel hingga membuat Anna mengerutkan dahinya. Kemudian ia tertawa.
"Lo bilang gue adalah takdir lo yang diciptakan dari Tuhan? Apa yang bisa lo pikir kan kalau gue adalah jodoh lo? Lo hanya percaya dengan mimpi-mimpi yang ada di hidup lo yang padahal itu adalah bunga tidur. Dengan kepercayaan diri yang tinggi lu seakan-akan menentukan bahwa gue adalah orang yang menjadi jodoh lo. Lo pikir gue bakalan percaya hal itu? Gak sama sekali bastard!" Anna memukul d**a pria itu hingga dengan cepat Noel menarik tangan itu hingga terbentur dengan dinding gudang sekolah.
"Kamu pikir kamu bisa bahagia dengan Virzha? Kamu pikir dia adalah orang yang akan membuat kamu bahagia selalu? Dari mana kamu percaya bahwa dia yang akan memberikan kamu kebahagiaan seperti apa yang kamu inginkan itu? Apa kamu yakin dia tidak akan mengecewakan kamu sekarang atau di kemudian hari nanti?"
"Dia selama ini memberikan gue kebahagiaan dengan men-support apapun yang gue lakukan. Dia selalu aja ada di saat gue merasakan kesedihan bahkan dia selalu tahu kalau gue mau butuh pelukan atau sekedar untuk teman cerita. Selama ini gue berpangku sama dia. Semua kebahagiaan gue, gue rasakan dari dia. Dan dengan gampang lo memberikan gue tanda di leher gue juga orang yang gue cintai dan orang yang gue sayang nggak percaya sama gue nama gue adalah w************n"
"Kalau dia sayang sama kamu dan dia cinta sama kamu dia enggak akan mengatakan hal seperti itu. Karena pada hakikatnya dia seharusnya percaya pada kamu apapun yang terjadi. Namun kenapa tiba-tiba dia mengatakan hal itu tanpa dia bertanya apapun sama kamu? Bahkan saat kamu pulang kamu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja tapi kenapa dia tidak menanyakan hal itu terlebih dahulu di malahan berfokus pada satu titik dan tiba-tiba dia menuduh kamu dengan hal-hal yang tidak berdasar. Dia mengatakan hal se enteng itu kepada kamu. Kamu tahu apa kalau dia memang benar-benar mencintai kamu tapi dia nggak bisa percaya sama kamu? Kamu mau mengharapkan hubungan seperti ini sama dia? Di saat dia aja nggak pernah peduli sampai sekarang tiba-tiba menjauhi kamu padahal dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya obsesi sama kamu bukan cinta sama kamu. Dan kamu dengan gampangnya berpangku sama dia yang belum tentu menjadi sumber kebahagiaan kamu seutuhnya?"
"Lo baru tahu gue beberapa minggu ini. Lo bahkan nggak tahu tentang apapun yang terjadi pada diri gue belakangan ini atas nama diri gue hidup. Lo nggak pernah tahu bahwa gue merasakan segala sakit yang gue rasakan. Dan lo datang dengan gaya lo yang percaya diri tingkat tinggi dan mengatakan kepada gue bawa gue adalah orang yang ditakdirkan dari Tuhan untuk lo. Lo pikir dengan cara begini gue bakalan percaya gue bakalan tiba-tiba jatuh cinta sama lo dimakan bersama lo. Jangan pernah berharap lebih kalau gue bakalan jatuh cinta sama lo. Karena sampai gue mati sekalipun nama lo bukanlah hal yang gue inginkan" Anna melepaskan tangan Noel dengan kasar. Ia menatap tajam pria itu lalu menunjuk Noel dengan jari telunjuknya tepat di depan matanya. "Karena lo adalah sumber kesedihan yang gue dapat belakangan ini. Dan sekarang hue berharap kau pergi dari hidup gue dan jangan pernah lagi muncul di hadapan gue dengan segala spekulasi lo yang buat gue muak" ucap Anna kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan pria yang ia benci itu. Namun tiba-tiba tangannya dicekal dengan kuat.
"Kamu kira aku bakalan menyerah gitu aja? Gak akan pernah. Aku nggak akan pernah menyerah untuk mendapatkan kamu karena aku nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak peduli sampai kamu jadi milikku aku dan aku akan bersikap egois dan gila jika kamu memang benar enggak bisa aku dapatkan" Noel menatap remeh pada Anna.
Anna menampar Noel kuat. Ia benar-benar kesal dengan pria egois ini, "Lo seenaknya melakukan hal itu membuat hidup gue sama sekali nggak ada damainya lagi. Udah cukup lo buat Virzha menjauh dari gue. Dan sekarang lo mau gue untuk bersama lo dan mencintai lo secara utuh karena beranggapan bahwa kita memang jodoh dari Tuhan. Bulshit anjing! Omongan rubah kan Gak pernah gue dengerin lagi nggak bakalan gue pedulikan lagi. Sekalipun lo pengen gue berada di sisi lo, gue nggak akan pernah semudah itu untuk jatuh kedalam pelukan lo. Karena dalam hati kecil gue bahkan gue enggak pernah mengharapkan orang seperti lo menjadi orang yang gue cintai. Jadi saran gue adalah lo harus baik-baik aja dengan otak lo itu. Karena gue nggak akan pernah melakukan hal apa pun dan nggak akan jatuh begitu gampang ke dalam pelukan lo sesuai apa yang lo mau"
Anna mendorong kuat Noel kemudian berlari keluar. Ia hanya menginginkan waktunya sendirian karena dia sudah muak dengan keadaan yang begitu parah menyakitinya.