Virzha menghela nafasnya setelah menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya. Pemuda itu masih tampak frustasi atas apa yang terjadi pada dirinya. Kehilangan Anna dan perkataan-perkataan jahat itu selalu saja menghantuinya. Pemuda itu masih merasa bahwa dirinya memang tidak pantas untuk mencintai gadis secantik Anna. Pikirannya sudah dipenuhi oleh banyak masalah yang ia hadapi. Virzha mengaku salah karena telah membiarkan dirinya membentak Anna. Sebenarnya dia tidak ada maksud tertentu untuk menyakiti hati Anna. Namun, perasaan cemburu itu mendominasi pikirannya hingga kata-kata yang terlontar dari mulutnya tidak bisa dikontrol dan menjadi permasalahan yang makin besar yang telah ia buat. Dia menyakiti hati Anna begitu parah. Gadis itu tidak suka dibentak bahkan ia trauma dibentak. Dan Virzha melakukannya pada kekasihnya itu.
Sebenarnya Virzha sangat merasa aneh dengan kehadiran Noel yang begitu mendadak namun terlihat bahwa dirinya langsung tertarik oleh Anna. Tidak bisa dipungkiri bahwa kekasihnya itu mempunyai daya tarik besar sehingga banyak orang yang menyukainya dan jatuh cinta padanya. Atau terkadang ada yang agresif ingin memilikinya namun karena Anna memiliki ilmu bela diri yang kuat, gadis itu bisa mengalahkan sifat agresif orang lain yang memaksanya untuk bersamanya dan menjadi pacarnya. Virzha sudah terbiasa untuk melihat orang-orang yang selalu menggoda kekasihnya. Tapi, entah kenapa untuk kasus Noel dia merasa bahwa pria itu seakan-akan memaksa Anna untuk bersamanya dan Anna sendiri seperti membuka ruang untuk pria itu masuk ke dalam kehidupannya yang biasanya tenang tanpa gangguan orang lain karena dia membatasi orang-orang lain untuk masuk ke dalam ranah hidupnya.
Noel seperti menembus segala benteng agar ia bisa masuk ke dalam kehidupan Anna. Dia masuk dengan perlahan dan dalam diam namun tegas dan cepat. Virzha bahkan tidak sampai sadar bahwa pria itu sudah benar-benar masuk ke dalam lingkaran kehidupan Anna. Virzha semakin takut bahwa gadisnya akan berpaling darinya dan hidup untuk bersama Noel. Dia tidak bisa memikirkan hal itu karena dadanya sakit hanya dengan memikirkannya saja. Virzha kali ini takut pada pria yang mendekati Anna. Biasanya dia kan cuek dan tidak terlalu peduli pada pria yang mendekati Anna karena dia tau bahwa Anna tidak mungkin mau berdekatan dengan pria-pria agresif itu. Anna akan memilih menamparmu mereka atau memukul mereka yang tiba-tiba bertindak kurang ajar padanya. Virzha tidak takut Anna berpaling darinya karena pria-pria kurang ajar yang mendekatinya.
Bahkan dia hanya takut pada Noel yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan Anna. Pikiran-pikiran buruk itu terus bercokol di kepalanya sehingga membuat emosi itu membuncah dan melampiaskannya kepada Anna hingga membuat gadis itu ketakutan. Dia sudah menyakiti hati Anna. Dan dia semakin takut jika dirinya ditinggalkan. Dia mencintai Anna bahkan lebih dari apapun. Dia tidak bisa membiarkan pria lain masuk ke dalam kehidupan mereka berdua dan menghancurkan kisah mereka.
"KAMU YANG NGGAK TAHU KAPAN JAM KERJA BERHENTI! KAMU TAU AKU JUGA CAPEK KERJA DAN TERUS HARUS MELIHAT VIRZHA LAGI! AKU INI WANITA KARIR. KAMU URUS AJA ANAK ITU DAN TETAP KASIH DIA APA YANG DIA MAU!"
"KAMU ITU IBUNYA. KAMU SEHARUSNYA ADA DI RUMAH DAN MELIHAT DIA. MELIHAT TUMBUH KEMBANGNYA. MENANYAKAN APAPUN YANG DIA ALAMI BIAR AKU YANG AKAN MENCARI NAFKAH. PERUSAHAANKU CUKUP BESAR UNTUK MEMBIAYAI HIDUP KITA."
"PERUSAHAAN KAMU NGGAK CUKUP MEMBIAYAI PAKAIAN AKU DAN ALAT MAKE UP AKU. PERUSAHAAN KAMU HANYA CUKUP UNTUK MEMBERI MAKAN SEADANYA KARENA SEBENTAR LAGI BAKALAN BANGKRUT."
Virzha menutup telinganya dari suara-suara yang dihasilkan oleh kedua orang tuanya. Terus saya seperti itu hingga membuat dirinya perlahan seperti dimatikan mentalnya. Virzha ingin sekali mencari tempat pelampiasan untuk segala kegundahan hati yang ia rasakan. Tangannya langsung mengambil ponselnya dan ingin menelepon Anna. Namun, Anna tidak menjawab teleponnya bahkan ponselnya sepertinya tidak aktif. Virzha menjambak rambutnya kuat sambil mengerang menangis menahan pekikan yang terdengar semakin parah dengan tambahan berbagai barang yang dihancurkan.
Kedua orang tuanya memang dulunya dijodohkan hingga ketika mereka sudah menikah ada saja masalah yang mereka hadapi. Contohnya seperti keduanya yang tidak sepakat untuk membiarkan Virzha terlantar tanpa kasih sayang dari ibunya. Papanya menginginkan Mamanya untuk tidak bekerja dan hanya fokus pada putra semata wayang mereka saja. Tapi wanita cantik dan semampai itu tidak menginginkan hal itu sehingga menjadi kehancuran bagi mereka berdua dalam rumah tangga mereka. Virzha seakan sudah terbiasa dengan pertengkaran kedua orang tuanya dan hanya bisa diam saja saat kedua orang tuanya bertengkar lagi secara terus-terusan. Dia sebenarnya lebih tidak tahu harus melakukan hal seperti apa agar kedua orang tuanya berhenti bertengkar. Dia tidak usah dipedulikan juga tidak apa-apa karena dia sudah terbiasa untuk itu. Virzha tidak akan menuntut banyak hal dari kedua orang tuanya asalkan mereka damai dan tidak bertengkar secara terus-terusan.
Pikirannya sangat kacau. Ia seperti mengalami buntu sehingga dirinya berpikir untuk menyakiti dirinya sendiri. Virzha meraung menahan sesak di dadanya. Tangisannya ia tahan agar kedua orang tuanya tidak mendengar itu. Virzha seperti akan mati rasa jika ia terus-terusan mendengar cekcok yang dihasilkan oleh kedua orang tuanya itu. Ia ingin sekali berteriak dan memukul kepalanya berkali-kali di tembok saat suara bareng semakin parah terdengar bercampakkan.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka menampilkan sosok papanya yang kaget dengan keadaan putranya itu. Ia berlari lalu memeluk putranya kuat untuk menenangkannya. Rasanya iya merasakan sakit hati ketika melihat anak semata wayangnya itu menangis menahan sesak di dadanya dan ia tahu penyebab dari hal yang dirasakan oleh Virzha. Papanya memberikan kekuatan untuk putra semata wayangnya itu. Ia tidak tega melihat Virzha menangis akibat mendengar pertengkaran antara dirinya dan istrinya. Ia tidak ingin merusak mental putranya dan ingin putranya hidup dengan damai tidak seperti dirinya dahulu yang selalu saja mendengar pertengkaran dan menyuruh dirinya untuk kuat. Papa Virzha juga tidak pernah menyuruh Virzha tidak menangis. Ia membiarkan putranya itu menangis bahkan sering menyuruh Virzha agar mengekspresikan dirinya lebih lagi. Virzha tidak akan dipaksa untuk diam saja. Ia tidak akan mengatakan pada anaknya bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Dia tetap akan mengajarkan pada Virzha bahwa menangis itu adalah manusiawi semua orang berhak untuk melakukannya tanpa melihat gender manusia tersebut.
"Maafin papa, nak. Papa belum bisa menjadi Papa yang baik buat kamu. Papa belum bisa membuat kamu bahagia dan betah di rumah," ucap Papa hingga tak terasa air mata itu mengalir begitu deras dengan perasaan d**a yang dipukul begitu hebat. Papa tidak bisa melihat putranya menangis sampai sebegitu hebatnya. Rasanya dadanya seperti dipukul berkali-kali saat suara tangisan itu menguar.
"Papa kenapa nggak cerai aja sama mama. Aku ikhlas, Pa. Aku nggak mau mendengar pertengkaran pertengkaran seperti ini lagi. Aku ingin papa bahagia dan bebas dengan pilihan papa. Aku nggak mau Papa selalu diinjak harga dirinya oleh Mama. Papa, aku udah besar. Aku nggak akan menuntut apapun dari Papa asalkan papa bahagia. Papa nggak boleh diam aja diperlakukan seperti itu oleh Mama. Papa adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Papa adalah Papa terbaik sedunia yang pernah ada dalam hidup aku," lirih Virzha membuat ,Rudi, apa Virzha kembali menangis. Putranya, putranya anak hebat. Dia adalah anak yang paling kuat.
"Papa nggak bakalan membiarkan kamu nggak punya mama. Papa rela diperlakukan seperti itu oleh Mama kamu asalkan kamu tetap punya mama. Papa pernah merasakan nggak punya Ibu di sisi Papa. Ibunya Papa meninggal karena kecelakaan dan meninggalkan luka yang begitu hebat di dalam hati papa. Dan dalam waktu sekejap juga kehidupan Papa yang semulanya damai dan bahagia karena Papa mempunyai orang tua yang lengkap, hilang dan sirna sejak ayah Papa menikah lagi. Papa diajak oleh banyak teman Papa karena Papa nggak punya ibu yang sayang sama Papa. Ibu tiri Papa tidak menyukai papa. Dan dari situ Papa meyakinkan diri papa kalau Papa enggak bakalan membiarkan anak Papa menangis karena tidak mempunyai seorang mama. Kamu nggak boleh tidak mempunyai seorang mama."
"Tapi aku udah gede. Aku bisa membantah semua omongan orang itu. Aku nggak mau Papa terus-terusan sedih karena omongan mama yang menyakitkan. Kalaupun Papa nggak bisa dari mama, tetap aja aku kayak nggak punya mama, Pa." tangisan itu semakin tak terbendung. Keduanya merasakan hati mereka masing-masing. Kesakitan itu mereka keluarkan hingga menjadi raungan tangis diantara kedua manusia tersebut. Virzha tidak akan membiarkan Papanya terus-terusan sedih dan akan mengatakan pada Mamanya untuk segera mengakhiri hubungannya dengan Papa.