Setelah beberapa hari, Anna dan Virzha tidak ada komunikasi satu sama lain. Mereka memilih untuk mendamaikan hati masing-masing untuk lebih bisa menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Keduanya masih sama-sama remaja. Keduanya masih sering diliputi oleh egois dan keras kepala sehingga untuk pemecahan masalah bukanlah perkara mudah bagi kedua dara muda tersebut. Anna sendiri juga lebih memilih untuk diam karena dia sendiri tidak terlalu ingin memaksakan keadaan keduanya di saat masih sama-sama emosi. Anna tidak mau Virzha merasakan bahwa dirinya tidak peduli, namun di sisi lain dia menghargai pemuda itu yang menginginkan waktu agar bisa mendamaikan hati dan pikirannya untuk hubungan mereka.
Kini, keduanya bahkan saling berjalan dengan kedua arah yang berbeda namun seperti orang yang asing. Mereka lebih memilih untuk tidak mengenal satu sama lain agar ketenangan yang mereka inginkan bisa tercapai. Anna ingin mengarah ke perpustakaan. Ia mengambil beberapa buku biologi yang akan dipakai nanti ketika les UN. Beberapa hari lagi mereka juga akan menjalani simulasi dan Anna akan menyibukkan dirinya untuk belajar agar ia bisa mendapatkan universitas yang ia inginkan dari dulu.
SMA Negara memiliki relasi sampai universitas di luar negeri sehingga mungkin ada beberapa siswa yang akan mendapatkan beasiswa tersebut. Anna sebenarnya sudah menjadi kandidat untuk mendapatkan posisi tersebut. Namun, satu kali ia mengalami penurunan nilai sehingga guru-guru kembali mengulang pikiran mereka agar Anna tetep bisa masuk ke dalam kandidat beasiswa ke luar negeri tersebut. Anna sendiri selalu tak lupa berdoa untuk mendapatkan nilai yang bagus sehingga dia bisa membanggakan kakaknya dan memberikan kado terindah setelah beberapa tahun pria itu tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang benar-benar sempurna. Anna tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini karena kesempatan tersebut tidak akan datang dua kali.
"Bioteknologi tersusun dari tiga kata Bahasa Latin, yaitu bios berarti hidup, tekno berarti penerapan dan logos berarti ilmu. Dari sini dapat disimpulkan bahwa bioteknologi adalah ilmu yang mempelajari prinsip pemanfaatan atau penerapan makhluk hidup (bakteri, fungi dan lain-lain) melalui teknik modern untuk mengubah bahan mentah melalui transformasi biologi agar menjadi produk yang berguna."
Catatan itu Anna tulis tablet yang ia miliki. Matanya terus-terusan saja membaca bagian bioteknologi karena minggu semalam dia sudah mempelajari tentang teori evolusi. Anna sendiri sebenarnya tidak terlalu suka tentang biologi walau biologi terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ia lebih menyukai pelajaran kimia dan fisika juga matematika yang lebih menguras pikirannya dan membuang segala pikiran negatif yang ia miliki. Anna tidak terlalu suka belajar banyak teori karena itu membuatnya pusing. Dia lebih memilih untuk belajar dengan menggunakan banyak hitungan dan juga rumus. Dan itu juga yang membuat nilai Anna sedikit merosot daripada biasanya karena garis itu lama-lama tidak terlalu suka membaca tentang biologi maupun bahasa Indonesia. Terlalu banyak sekali paragraf yang dibaca sehingga kepalanya terasa sakit daripada ia mengerjakan banyak rumus. Namun Anna sudah mengubah kebiasaan itu menjadi lebih baik.
Mata Anna kini berpendar untuk melihat beberapa contoh dari bioteknologi konvensional. Beberapa hal yang sebenarnya belum ia pahami dan akan ia pelajari lebih dalam lagi mungkin sampai besok karena untuk pelajaran yang tidak ia sukai, Anna akan memahami materi dari 1 bab itu selama satu minggu kecuali matematika dan teman-teman yang memakai rumus mungkin hanya menggunakan waktu 3 hari untuk memahami 1 bab. Hal yang sangat membuat bingung pada teman-temannya karena gadis itu sangat unik. Otaknya lebih menerima pelajaran yang memiliki banyak rumus dan membuat kepala mumet setengah mati daripada pelajaran yang memiliki banyak teori. Bahkan Anna sama sekali tidak menyukai sejarah dan itu selalu membuatnya mengantuk setiap pelajaran. Apalagi selalu di jam siang sebelum pulang. Pelajaran sejarah akan membuat kepalanya sehingga matanya mengantuk. Anna sendiri juga tidak paham kenapa otaknya lebih memilih banyak rumus dari pada teori. Dia sama sekali tidak paham akan hal itu.
"Anna," panggil Devan salah satu temannya yang juga teman dari Virzha. Pria badboy yang hobinya membuat onar itu tersenyum padanya dan duduk di hadapannya.
"Tumben lo ke perpustakaan? Nggak salah arah lo? Di sini nggak bakalan bisa merokok," ujar Anna dan di hadiahi oleh pukulan di kepala gadis itu.
"Fitnah aja lo! Gue di sini murni pengen belajar tau!" sewot pemuda dengan satu anting di telinga kanannya.
"Lo? Belajar? Bukannya dari SMP lo anti banget sama pelajaran?" tanya Anna. Anna memang dari dulu bertetangga dengan Devan juga Dika. Dan dia juga hafal betul bahwa pemuda ini tidak terlalu suka belajar dan akan lebih memilih untuk duduk di belakang gudang dengan menikmati satu batang rokok miliknya hasil dari malak para adik kelas.
"Gue tuh udah lumayan tobat."
"Kenapa? Udah ada pawang?"
Tampak raut terkejut lalu wajah memerah dari Devan. Pemuda itu berdahan menormalkan suaranya agar tidak terdengar grogi. Bisa-bisa diejek habis-habisan oleh sahabatnya ini. Walau dia tau Anna tidak mungkin akan melakukan hal itu karena gadis itu tidak terlalu peduli juga pada urusan orang lain.
"Kenapa sih? Gue mau belajar juga kan karena gue pengen. Gue itu udah kelas 12, Naaa. Gue mesti belajar banyak supaya gue bisa lulus dan bisa membanggakan kedua orang tua gue," kata Devan dengan bangganya seakan-akan kedua orang tuanya memang sebangga itu padanya. Anna sangat tau bahwa pria itu selalu saja menyimpan duka di dalam hatinya. Kedua orang tuanya telah meninggal karena terkena virus mematikan saat mereka tengah berlibur ke luar negeri. Anna tahu seberapa sakitnya ditinggalkan oleh kedua orang yang terkasih sehingga dia selalu menguatkan sahabatnya itu agar tidak menangis dan menjadikan Anna tumpuan hidupnya di saat dia tidak punya harapan lagi. Anna tidak bersedia untuk hal itu karena dia pernah tahu rasa sakit apa ditinggalkan di saat mereka masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Iyaa belajar yang rajin. Orangtua lo pasti bangga banget punya lo dan tahu bahwa lu kuat untuk menjalani segala hal yang terjadi dalam hidup lo. Gue tahu kok diam-diam belajar agama lebih rajin dan bahkan udah nggak pernah lagi minum alkohol. Gue juga tahu kalau lo diam-diam belajar membaca Alquran dan rajin bersedekah di masjid. Lo mencintai orang yang tepat sehingga bisa mengubah lo lebih baik bahkan tanpa dia sendiri yang ingin mengubah lo. Ketika lo melihat dia, masakan langsung ingin berubah menjadi lebih baik padahal tanpa dia suruh. Gue bener-bener bangga banget kalau bisa dapetin cewek sebaik Khansa karena kepribadian dia yang begitu sholehah."
Devan tersenyum malu-malu kemudian menitikan air matanya. Ah, Devan sebenarnya adalah pemuda yang cengeng. Namun, dia memang sangar jika di hadapan teman-temannya. Pemuda itu bahkan tidak malu atau sebagian jika merengek pada Anna. Hal yang selalu membuat Anna merasa bahwa Devan adalah adiknya padahal mereka umurnya sebaya.
"Gue lebih beruntung mendapatkan dia. Ketika gue sendiri nggak tahu arah jalan yang akan kutempuh dan gue nggak percaya akan kehadiran Tuhan, dia datang menyelamatkan gue dari hasutan hasutan setan yang menyuruh gue untuk mengarah ke jalan yang buruk secara terus-menerus. Dan, cewek yang dulu gue bilang sok alim itu ternyata membuat gue merasa tenang hanya dengan mendengar lantunan suaranya saat membaca ayat suci Alquran. Gue seperti merasa bahwa dia adalah wanita yang sempurna yang diberikan tuhan sama gue. Gue nggak tahu kenapa hati gue bener-bener jatuh banget sama dia," ucap pemuda itu dengan wajah yang memerah karena malu. Khas Devan jika merasa malu dan marah wajahnya akan marah sama seperti Jeffry.
"Lo sangat beruntung udah mendapatkan dia. Kalau gue jadi cowok juga gue bakalan memperlakukan hal yang sama ke dia," kata Anna.
Devan diam sesaat kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Anna.
"Ann, lo udah putus dari Virzha?" tanya Devan tiba-tiba.
"Belum, Kenapa?"
"Loh dia bilang udah. Semalam dia jalan sama Rose"