Noel melihat kesana kemari lingkungan sekolah yang cukup ramai. Pagi menjelang siang ini ia belum saja menemukan seseorang yang sudah beberapa hari tidak ia lihat dan hilang seperti ditelan bumi. Dan pada akhirnya ia pertanyaan pada salah satu murid yang baru saja keluar dari perpustakaan dengan mengambil buku kimia.
"Kamu, kamu kenal sama, Anna?" tanya Noel.
"Emm, kenal, pak. Kenapa ya?" jawab murid tersebut.
"Oh, oke, kamu tahu di mana dia sekarang? Belakangan ini saya nggak ada kabar- emm maksud saya, saya tidak melihat Anna belakangan hari ini untuk mengurus OSIS atau mengurus kelas. Apa kamu tahu di mana dia sekarang sampai-sampai dia sudah beberapa hari ini tidak masuk sekolah?"
"Oh, dia sekarang lagi di rumah sakit pak," ucap murid perempuan itu. "Udah beberapa hari ini dia memang enggak sekolah dengan izin sih sama guru kelas. Dia kemarin baru aja mengalami musibah dan sampai dia masuk rumah sakit karena stress. Saya dan teman-teman bahwa aja ketemu sama dia semalam dan kondisinya udah lumayan membaik," kata gadis itu.
"Benarkah? Kenapa? Ada apa dengan dia?"
"Kemarin kami di kelas 10 melihat Kak Anna tiduran di lantai dengan kepala di antukkan berkali-kali di bangku taman yang terbuat dari besi. Di bawah hujan dia menangis dan melakukan hal tersebut berkali-kali sehingga kepalanya mengalami luka dan kami anak kelas 10 langsung membawa kak Anna ke rumah sakit karena banyak sekali darah yang keluar dari pelipis dia," jelas gadis dengan kuncir kuda itu kemudian membuat Noel hanya terbengong heran atas apa yang dikatakan oleh oleh gadis itu.
Setelahnya gadis itu pergi setelah berpamitan dengan Noel. Noel menggelengkan kepalanya mendadak merasa pusing mendera. Bagaimana bisa dia tidak tau bahwa gadis yang ia cintai itu berada di rumah sakit beberapa hari inin? Sial, dia terlalu lengah sampai dirinya tidak tau kabar terbaru dari Anna. Dan, bagaimana bisa tidak ada satupun pengawalnya yang mengatakan hal tersebut padanya. Biasanya mereka akan langsung cepat mengetahui masalah ini.
Noel berjalan cepat ke arah parkiran guna untuk datang menemui Anna. Dia tidak bisa tenang kalau gadis itu tidak ia lihat keadaannya. Walau bagaimanapun juga, walau dia selalu saja memberontak layaknya orang yang tak pernah mau di kekang oleh siapapun, namun, Noel membutuhkannya. Dia tidak bisa kalau Anna tidak berada di jangkauannya dan ia juga tidak bisa kalau Anna sakit begini. Hatinya serasa di remas dan itu membuat dirinya merasakan kecemasan yang begitu berat. Bagaimana keadaan Anna sampai gadis itu bisa-bisanya melakukan tindakan menyakiti dirinya sendiri? Apa Anna sedang memiliki masalah yang begitu berat sehingga yang ia lakukan adalah memukul dirinya sendiri.
"Eits, mau kemana?" tanya Jeffry saat melihat Noel ingin masuk ke dalam mobilnya. Beberapa hari ini ia tidak melihat Noel di manapun dan sekarang ia melihat sepupunya ini tengah sibuk mau pergi padahal jam sekolah masih berlangsung.
"Kenapa sih?" sewot Noel.
"Lo mau kemana, bang? Mau cabut lo? Dih, mentang mentang jadi guru melunjak banget pergi kemana-mana."
"Gue mau jemput Anna ya bajing. Lo sana deh urusin cewek lo!"
Jeffry tertawa, "Kenapa sensi banget sih? Anna gak kenapa-napa." Noel menoleh pada Jeffry meminta penjelasan lebih detail.
"Maksud lo gimana?"
"Dia baik-baik aja. Kemaren gue juga baru jenguk dia dan ternyata dia sudah siuman. Udah bisa ketawa-ketawa lah kayak biasanya. Walau Anna adalah Anna. Cewek dingin yang kaku."
Noel menautkan alisnya, "KENAPA LO GAK KASIH TAU GUE b*****t?!"
Jeffry ngakak sampai ia hampir terjungkal. Pemuda itu memang suka sekali melihat ekspresi wajah sepupunya yang sangat lucu. Bagaimana wajah dengan kulit putih itu marah sampai telinganya memerah bahkan wajahnya juga.
"Lo kenapa heboh sih. Emang lo siapanya, Anna? Lo kan cuma guru."
"Lo tau kalau gue suka dia. Gak usah belagak sok nggak tau deh lo! Gue nggak mau tau ya, lo hutang penjelasan sama gue kenapa sampai Anna melakukan tindakan dengan menyakiti dirinya sendiri? Kenapa bisa dia bisa berpikiran seperti itu?"
"Bisalah. Penyebabnya Lo!" sentak Jeffry. Pemuda itu menumpukan tangannya di depan d**a. "Lo memaksa dia untuk masuk ke dunia lo padahal dia nggak tahu apa-apa. Lo tanpa aba-aba menyeret dia untuk tahu tentang keadaan kalian seperti dulu tanpa lo tahu gimana mental dia. Lo maksa dia melakukan tindakan-tindakan dengan pemaksaan hingga pada akhirnya jatuh mentalnya semakin parah. Lo membiarkan diri lo memaksa memisahkan kedua orang yang sedang jatuh cinta dengan merusak hubungan mereka. Lo kira lo paling hebat? Lo lupa kalau itu manusia bukan Tuhan? Gue tahu adalah ilmuwan yang paling disegani oleh orang-orang hebat. Tapi sampe sekarang gue nggak menyangka kalau lo seakan ingin mengendalikan semua orang yang berada di dekat laut dan mengikuti apa yang lo mau,"
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu? Lo tahu apa yang gue rasakan? Lo pernah dalam situasi seperti gue dan harus terbang dengan masa lalu yang menyakitkan begitu parah sampai-sampai gue sendiri juga malu atas apa yang gue lakukan. Lo pernah merasakan gimana rasanya melihat orang yang pernah kau sakiti masa lalu hidup di hadapan lo dengan senyum yang manis tapi ingat masa lalu di mana lo nyakitin dia itu masih melekat di dalam diri lo? Gue? Gue yang menghancurkan kisah mereka berdua? Mereka emang pada dasarnya itu nggak bisa bersatu. Lo tahu kenapa begitu? Karena gue dan Anna adalah orang yang paling diberi Tuhan untuk bersatu kembali dan menjalani kehidupan yang lebih baik dari masa lalu," kata Noel. Jeffry mendecih sarkas kemudian dia tertawa mengejek.
"Nggak bro. Lo bukannya menjadi jodoh dari langit untuk Anna. Tapi, lo adalah orang yang menghancurkan segala impiannya hingga yang tersisa oleh Anna adalah mental yang lo jatuhkan berkali-kali karena lo memaksa dia untuk tahu kehidupan di masa lalu. Lo tau, kalaupun ia tahu di kehidupan dari masa lalu, dia pasti akan mengalami trauma yang begitu berat. Kenapa? Lo sendirinya sebagai pelaku aja malu atas tindakan lo yang kelewat kasar dan tidak manusiawi. Gimana dia? Apa lo kenapa tanya sama dia bagaimana mimpi dia menghantui dirinya sampai-sampai dia nggak bisa pikirannya. Apa lo udah tanya sama dia bagaimana dia menjalani kehidupannya dengan mimpi-mimpi buruk yang terus-terusan saja menghantuinya. Apa lo pernah bertanya seberapa sulitnya dia menjalani hidup dengan memaksa dia untuk mengingat masa lalu sedangkan masa lalu dia begitu buruk dan menjijikan. Lo b*****t!"
BUGH!