"Anna, misalnya meninggal duluan gimana?"
Pertanyaan itu entah kenapa menjadi sakit saat ia dengar. Perkataan yang entah kenapa terdengar seperti sebuah wasiat yang akan dikatakan sebelum seseorang meninggal. Seseorang yang sepertinya akan pergi namun sebelumnya dia akan meninggalkan sebuah pesan untuk di dengarkan oleh orang-orang di sekitarnya. Anna entah kenapa merasakan Virzha seperti mengatakan hal tersebut padanya. Seperti sebuah perjalanan dimana dirinya akan pergi mengembara meninggalkan Anna sendirian tanpa siapapun.
"Kamu kenapa tiba-tiba bicara begitu? Kamu juga mau meninggalkan aku sama seperti yang lainnya? Kamu juga nggak kuat berada di samping aku dan terus berusaha menjadi orang yang menjaga aku? Kamu nggak mau jadi orang yang bisa nggak saat memiliki aku?"
"Bukan begitu. Aku nggak ada maksud mau meninggalkan kamu. Aku cuman bilang sama kamu kalau misalnya aku meninggal duluan daripada kamu, apa yang akan kamu lakukan? Apa yang akan kamu rasakan ketika kehilangan aku?"
Anna mengernyitkan dahinya kesal. "Ya tentu saja aku bakalan nangis. Aku bakalan marah sama diri aku sendiri karena nggak bisa sama kamu atau menjaga kamu dengan baik sehingga kamu pergi meninggalkan aku duluan. Aku bahkan bisa aja bunuh diri. Aku nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini kecuali kamu. Aku udah nggak punya harapan lagi kecuali kamu yang berada di sisi aku. Kamu yang selalu menemani aku dalam segala hal apapun yang terjadi dalam hidup aku. Kalau kamu benar-benar pergi meninggalkan aku, aku bakal gimana nantinya? Aku bakalan sedih nantinya karena orang yang aku sayang pergi meninggalkan aku dan aku gagal untuk menjaga mereka agar menetap."
Virzha bisa melihat dengan jelas bagaimana tatapan itu. Tatapan yang mengisyaratkan bahwa semua luka sudah ia tanggung dan ia ketahui akibatnya. Anna memang sudah banyak menderita selama ia hidup. Anna tidak bisa mengatakan apapun lagi dan hanya menatap wajah kekasihnya yang terlihat gusar. Virzha menghela nafas kasar kemudian memeluk tubuh itu dengan erat. Ia bisa merasakan semua kesedihan sudah tertimpa di bahunya. Ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi dan hanya Virzha yang menjadi orang yang bisa menolong kekasihnya dari segala kesedihan maupun gundah gulana yang ia rasakan.
"Aku tiba-tiba merasa kamu bakalan jauh dari aku. Belakangan kamu juga banyak pikiran dan nggak ada bilang apa pun sama aku. Kamu anggap aku apa sampai-sampai kamu enggak mau jujur sama aku atas apa yang terjadi sama kamu."
"Virzha. Aku udah bilang sama kamu kalau aku bakalan cerita sama kamu setelah semuanya selesai. Aku seakan mau kamu terlibat dalam pertarungan ini karena kamu terlalu berharga buat aku. Karena kamu adalah seseorang yang bisa aku andalkan. Aku nggak mau kamu pergi dari hidup aku dan semua masalah aku itu adalah urusan yang bakalan aku selesaikan secepatnya supaya kita semua bakalan aman. Jika aku mengatakan hal ini sama kamu, percayalah kalau aku bakalan siap bertempur demi kamu."
"Kamu bicara apaan sih? Kok jadi pertempuran?" kekeh Virzha.
"Ya, kalau misalnya kamu kenapa-napa dan ada nyakitin kamu, aku bakalan bertindak dengan tindakan yang bahkan kamu sendiri nggak bakalan pernah menyangkanya. Aku belakangan ini selalu saja bisa melakukan tindakan aneh karena aku terlalu capek sama orang-orang yang berada di sekitar aku. Aku udah berusaha untuk menjadi orang yang jahat dan orang-orang di sekitar aku membuat aku menjadi jahat. Aku nggak akan biarkan kamu pergi dari hidup aku. Aku nggak bakalan pernah buat kamu merasa sendirian karena kamu yang selalu ada di sisi aku. Aku bakalan melakukan tindakan apapun untuk menyelamatkan kamu dari orang-orang yang menyakiti kamu. Virzha, mungkin ini kedengarannya terlalu naif. Tapi, sejujurnya ketika ada kamu disisi aku, aku selalu merasa terlindungi dan bahkan aku mengucapkan banyak terima kasih sama kamu karena kamu udah baik dengan menjaga aku dan terus berada di samping aku. Aku nggak pernah menyangka kalau kamu bakalan selalu menetap sama aku dan tidak meninggalkan aku sama seperti yang lainnya." Anna menatap tepat pada mata itu. Mata yang entah kenapa membuatnya nyaman.
"Makasih."
-/-
Anna berjalan di sekitar apartemen Noel. Gadis itu baru saja mendapat perintah bahwa dirinya harus mengambil beberapa berkas yang berisi formula ataupun beberapa orang yang mengikat kerjasama dengan perusahaan Noel. Anna menganggap hal itu gampang dan dia langsung menyetujui ucapan dari seseorang yang akan membantu dirinya untuk menghancurkan Noel dan menyelamatkan kakaknya dari orang-orang yang mau melakukan tindakan jahat kepada kakaknya. Anna akan melakukan segala cara agar orang-orang yang berada disekitarnya tidak mengalami hal-hal buruk.
Tangannya terkepal saat perlahan ia cara memasuki ruangan yang berada di dekat tangga. Entah kenapa Anna ingin sekali masuk ke dalamnya dan melihat apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia perlahan langkahkan kakinya kedalam sana. Ia membuka pintu itu secara perlahan dan kebetulan baik nya adalah pintu tersebut tidak dikunci sama sekali. Hal yang membuat Anna semakin mudah untuk memasuki ruangan tersebut. Ia bergidik kaget saat melihat banyaknya foto dirinya. Anna bahkan merinding karena ruangan tersebut ternyata benar-benar berisi fotonya bahkan dari bayi sampai kejadian semalam. Anna bahkan bisa melihat dengan jelas bahwa foto tersebut tidak diedit sama sekali dan masih bagus juga tidak luntur. Seakan foto tersebut selalu saja dirawat dengan sepenuh hati dan tidak dibiarkan usang sama sekali. Anna merasa bahwa tahap Noel menyukainya adalah tahap orang gila yang menyukai seseorang manusia normal. Ia tidak menyangka pria yang terlihat dingin dan karismatik itu ternyata menyimpan fotonya begitu banyak bahkan dirinya tidak pernah ia lihat juga ada. Anna entah kenapa merasakan takut tiba-tiba.
Ia mengambil salah satu foto yang sepertinya diambil dua hari yang lalu. Anna memakai baju putih dengan terusan sampai lutut kemudian membawa beberapa buku yang akan ia simpan ke dalam perpustakaan. Anna merasakan kaget luar biasa saat foto tersebut terlihat sangat dekat dengan dirinya namun dia sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Anna bahkan kini merasakan dadanya bergemuruh saat ia melihat foto selanjutnya dimana dirinya tengah memeluk ibunya. Anna ingin sekali membuang foto-foto tersebut dan kembali ke rumah karena ternyata dia berurusan dengan seorang psiko. Anna jelas ketakutan karena dia juga masih waras untuk bahagia saat ada orang yang mengambil fotonya. Anna bakal kena gemetaran seakan ia sudah di lantai dengan serangan panik. Anna benar-benar ingin melarikan diri dari tempat ini bahkan tidak akan pernah kembali lagi ke tempat yang menjijikkan ini.
"Hai, sayang."
SESEORANG MEMELUKNYA!