Virzha melihat gadis kesayangannya tengah berjalan sembari membaca buku tentang teknologi kesukaannya. Gadis yang selalu berhasil mencuri perhatiannya itu memang sangat cantik bahkan walau menampakkan wajah datarnya. Anna salah satu alasan yang selalu ia inginkan untuk selalu bersamanya. Maka dari itu, di saat hujan sedikit turun alias nama kerennya gerimis, Virzha mengambil tetesannya dan berlari ingin melempar pada Anna.
"Argh! Virzha? Aduhh lo tuh ngapain sih?" keluh Anna saat ia melihat percikan itu sedikit mengenai bukunya.
"Apaan sih? Kamu sayang. Gak boleh pakai lo lagi."
"Terserah gue lah. Lihat! Buku gue basah."
"Elahhh masih bisa di keringin. Kayak hati aku yang kamu keringin selama ini." Anna hanya tersenyum lalu ia berjalan kembali ingin memasuki kelas.
"Ada yang aku pikirkan dalam diriku. Aku lupa berapa angka di dunia ini kala melihat senyum manismu," ucap Virzha hingga lengkungan itu tercipta di pipi Anna. Anna menggeleng pelan karena memang dia tau kebiasaan apa yang selalu di lakukan oleh Virzha. Jika tidak melakukan gombalan, dia sepertinya tidak akan tenang. "Katanya bakalan ada guru baru ya yang masuk kelas?"
"Hmm"
"Ganteng katanya. Mukanya muka-muka bule," Anna menaikkan alisnya lalu terkekeh pelan mendengar gerutuan dari pria yang ada di hadapannya ini.
"Kenapa kalau cowok? Kamu kan cowok."
"Ya nanti kamu suka."
"Kamu suka sama aku aja selama itu aku enggak ngerti. Apalagi ini orang yang baru aku kenal dan baru aku lihat. Kenapa bisa tiba-tiba aku suka sama dia?" ucapnya dengan nada lembut.
Virzha menarik bibirnya panjang. Ia mendengus lalu menarik Anna dalam pelukannya. Tempat mereka sedang sepi karena kelas sudah masuk. Namun Virzha yang notabenenya anak nakal ya harus ketemu sama doi dulu. Ia menumpukkan kepalanya dalam ceruk leher Anna. "Takut banget aku kalau kamu diambil sama orang lain. Nanti kalau kamu udah diambil sama orang lain, aku sama siapa?" lirih Virzha.
Anna tersenyum lalu menarik Virzha. Menjinjit lalu mengecup pelan kening pemuda itu. "Percaya sama aku aja. Jangan sama insting kamu,"
"Iya dehhh. Mau percaya sama pacar aku aja. Tapi, pacar aku juga gak boleh ingkar janji yaaa. Harus tepati janji kalau fokusnya hanya aku. Gak boleh yang lain," ucap Virzha dengan manja. Anna mengernyitkan dahinya kemudian seperti nenrutuk dalam hati karena geli dengan ucapan juga nada pemuda itu yang seakan memaksa untuk imut. Anna kemudian menggeleng pelan mengusir rasa aneh dalam hatinya. Ia tidak boleh terlarut terlalu dalam pada pria ini.
-/-
Kelas sedang ribut ribut nya. Banyak sekali pembahasan yang sama. Yaitu tentang guru baru ganteng. Kenapa label ganteng atau sepantaran dengan penampilan itu menjadi prioritas di atas segalanya bagi manusia zaman sekarang? Apa mereka tidak merasa sumpek dengan embel-embel penampilan ketika berbicara? Anna selalu saja menemui manusia yang mengatakan hal itu.
Kenapa begitu? Tentu saja kakaknya sendiri juga sangat populer. Mereka akan menyeletuk jika Gama mengantarnya ke sekolah. Satu hal yang selalu saja ia kesali. Sejujurnya apa sih yang ada di benak para anak manusia tentang manusia lainnya? Seakan tampang adalah segalanya dan menyingkirkan sesuatu yang sebenarnya utama.
Kini Anna mendudukkan dirinya setelah ia meletakkan buku absen di depan. Lebih tepatnya meja guru. Keadaan kelas makin kacau saat suara sepatu terdengar menggema di lantai. Sesuatu hal yang lagi-lagi membuat Anna kesal dan ingin menampar para manusia ndablek di hadapannya.
"Selamat pagi anak-anak."
"Pagi pakkk."
"Baik, saya mendengar suara yang semangat sekali dalam kelas ini. Apakah ada yang membuat kalian semangat?" tanya guru dengan kepala yang plontos di bagian depannya.
Pertanyaannya apa harus di tanyakan?
Anna mendengus lalu membuka buku Matematika nya. Ia meletakkan beberapa buku dan pensil di sampingnya dengan rapi.
"Nah, saya akan memperkenalkan kalian dengan guru baru yang akan mengajar di sekolah kita ini. Saya harap kalian bisa bersikap lebih baik dan sopan," ucap guru tersebut. "Mari pak bisa masuk sekarang."
Perlahan dengan pasti. Seakan ini sinetron yang ada slow motion nya, para murid menatap ke depan dengan wajah yang sangat serius. Ini kalau gurunya masuk apa tidak bakalan kaget pas melihat wajah kaku para muridnya? Namun gerutuan Anna terhenti saat ada guru yang masuk dengan gaya yang terlihat seperti artis daripada guru.
Kayaknya gurunya gabut makannya masuk ke sini
"Nah, anak anak atur wajah kalian agar lebih sopan lagi." Pak Ari mempersilahkan guru dengan gaya artis itu memperkenalkan dirinya dengan berdiri di tengah kelas. "Boleh di perkenalkan diri bapak pada anak-anak murid kita ini."
"Selamat pagi semuanya," ucap guru tersebut dengan gaya sok cool. Anna bahkan kesal melihat wajah songongnya. Bahkan wajah itu ingin sekali Anna pukul karena entah kenapa yang terlihat dari Anna hanya ke-songongan dari pria ini. Bukannya Anna tidak sopan. Hanya saja ia merasa begitu.
"Pagi pakkkkk" sahut para murid semangat menjawab sapaan guru tersebut. Ya semangat lah. Gurunya tampan dengan gaya yang membuat siapapun akan menyukainya.
"Nama saya Noel Aksara Cakra. Panggil saya Noel. Saya akan mengajar pelajaran yang sebagian orang membencinya. Yaitu Matematika. Saya harap kalian bisa belajar dengan maksimal karena beberapa yang saya dengar dari guru kalau hanya sedikit murid yang mau mengikuti pelajaran Matematika. Bahkan saya banyak mendengar bahwa kelas ini penuh dengan manusia yang suka bolos dan tidak tahu aturan. Bahkan ketika saya masuk kelas saya sudah melihat banyak anak yang menaikkan kakinya ke atas dan memakai pakaiannya dengan compang-camping seperti pecundang."
Para anak laki-laki langsung menahan gerutuan mereka setelah mendengar beberapa kata yang pedas keluar dari mulut guru tersebut. Noel tersenyum lalu mempersilahkan bapak kepala sekolah itu pergi dari kelas. Anna melihat dengan jelas wajah itu kaget saat bertatapan dengan matanya. Namun Anna menepis segala pemikirannya dan memilih untuk membuka bukunya kembali.
"Kita akan mengerjakan beberapa soal terlebih dahulu. Namun sepertinya saya harus tahu siapa-siapa saja nama murid di kelas ini. Bisa kita perkenalkan dulu sebelum kita masuk ke dalam pelajaran?" tanya Noel seraya membuka tablet di kelas yang sudah terisi seperti buku absen.
"Baik. Saya minta nama-nama yang sesuai saya sebutkan untuk mengangkat tangannya dan memperkenalkan dirinya. Oke, yang pertama Anggita Anggraini. Dimana dia?" Noel mengedarkan pandangannya untuk melihat siapa yang bernama Anggi tersebut.
"Gak hadir pak. Katanya dia lagi sakit"
"Baik. Selanjutnya Anna Geraya. Ayo di persilahkan,"
Anna berdiri dari duduknya dan menatap ke depan dengan tetap di mejanya.
"Nama saya Anna Geraya. Saya selaku Sekretaris di kelas ini dan menjabat sebagai wakil ketua OSIS di SMA Negara. Senang bertemu dengan anda pak Noel. Saya harap anda bisa mengajar kami dengan baik. Terimakasih," ucapnya memperkenalkan dirinya lalu bow sesaat setelah itu duduk kembali.
Noel terus-terusan saja memperhatikan gadis tersebut. Wajahnya benar-benar sangat cantik namun lebih cantik adiknya. Kulitnya yang eksotis dengan warna mata hijau tanpa membuat Noel terkesima bahkan dengan bibir penuh yang menghiasinya. Definisi gadis yang sangat cantik dan terlihat kalem juga sederhana.
"Kamu wakil ketua OSIS dan Sekretaris di kelas ini?" tanya Noel meminta penjelasan kembali.
"Iya pak. Saya menjabat di keduanya," jawab Anna dengan sopan.
"Kamu tidak pusing dengan itu? Keduanya butuh tenaga ekstra mengerjakannya."
"Saya mengerjakan keduanya dengan hati dan ketulusan saya. Jika Saya pusing itu konsekuensi saya karena telah mengambil apa yang saya mau. Namun terlepas dari itu semua, Saya ingin bersosialisasi dengan sekitar saya dan mencoba untuk menjadi pemimpin yang baik untuk orang-orang di sekitar saya. Termasuk para anggota saya yang selalu saja saya banggakan," ucapnya dengan nada yang sangat kalem. Noel tersenyum dengan lembut karena dia mengingat adiknya yang selalu pecicilan dan tidak bisa di bilangin. Wajahnya dan senyuman yang sangat manis hampir sama seperti Ichi sehingga membuat Noel merasa seperti rindu.
Padahal mereka satu rumah.
"Baiklah saya akan lanjutkan," ucap Noel kemudian melanjutkan absensi kembali sampai habis. Semuanya mengucapkan dan memperkenalkan diri mereka dengan semangat. Seakan tak puas dengan sisi kenalan mereka. Para anak murid pun menyuruh Noel untuk memperkenalkan dirinya lebih lagi. Karena sebaiknya mereka juga penasaran dengan lelaki yang ada di hadapan mereka ini, apa lelaki ini memang seperti apa yang dikatakan bahwa dia terlihat kalem dan sangat kaya raya.
"Nama saya Noel Aksara Cakra. Umur saya 23 tahun. Saya lulusan Universitas di London dan S2 di Jerman. Mendapatkan gelar profesor ketika saya berumur empat belas tahun. Dan saya adalah pemilik dari sekolah ini. Jadi, jika kalian macam-macam dengan saya ataupun dengan sekolah ini, Saya tidak akan segan-segan untuk melempar kalian dari sekolah ini," ancamnya yang mampu membuat para murid yang nakal juga agak sedikit takut karena ucapan lelaki itu.
"Kalian pasti tau kan bagaimana perusahaan saya berdiri? Perusahaan saya sudah berdiri sejak lama saat ayah dan Papa saya masih muda. Ah, lebih tepatnya perusahaan itu adalah milik ayah saya. Dan tentu saja jadi ikut campur oleh adiknya juga. Kalian bisa saja saya ajak nanti mengetahui tempat laboratorium yang sering saya pakai. Hanya beberapa murid terpilih yang akan saya beri tahu tempatnya," kata Noel hingga membuat para murid berteriak histeris.
Sumpah, perusahaan yang dimiliki Noel adalah perusahaan yang sangat menjadi incaran banyak orang. Namun, untuk masuk ke dalam sana memang membutuhkan banyak kepintaran. Bahkan untuk menjadi bagian dari pembersih ruangan di perusahaan saja mesti punya pendidikan yang baik walau hanya minimal lulusan SMA. Paling rendah pokoknya lulusan SMA namun juara satu terus. Dia bisa jadi pembersih perusahaan namun juga akan naik jabatan jika dia berusaha keras.
Anna yang mendengarkan pria itu mengatakan hal tersebut membuatnya sangat senang. Ia semangat untuk melatih segala pelajaran miliknya dan kuliah dengan baik agar dia bisa menjadi bagian dari perusahaan teknologi terbesar nomor satu di dunia. Perusahaan yang menciptakan robot, barang elektronik lainnya yang lebih up to date dan sangat rapi juga lebih ramah tempat. Anna akan berusaha kerasa agar keinginan dirinya untuk masuk ke dalam perusahaan Noel akan terwujud dengan lancar.
"Baik, saya tahu kalau kalian banyak yang menginginkan untuk masuk ke dalam perusahaan saya yang terkenal dengan sistem privasi yang begitu kuat sehingga tidak sembarangan orang bisa masuk dan melihat proses penelitian atau ciptaan yang sedang kami lakukan. Tapi, untuk beberapa orang yang akan mendapatkan kesempatan itu, bisa saja perusahaan saya merekrut orang orang yang bisa menyelesaikan apa yang saya katakan agar bisa masuk ke dalam perusahaan saya. Tanpa banyak sekali tes. Kalian bisa masuk dengan begitu mudah atas akses saya sendiri selaku pemilik dari perusahaan tersebut," kata Noel dan kembali mendapat kesenangan dari para murid yang mendengarkan langsung perkataan itu. Anna bahkan sudah menghentak-hentakkan kakinya begitu senang mendapatkan pernyataan dari pria yang ada dihadapannya ini. Walau tadi dia sedikit kesal dengan pria ini, namun atas ucapannya membuat Anna merasakan energi positif langsung masuk ke dalam tubuh dan pikirannya sehingga ia ingin sekali cepat-cepat menyelesaikan pendidikannya dan melihat penelitian juga ikut serta di dalamnya.