"ARGH! KAMU SIH!! KAN AKU UDAH BILANG LEMPARNYA KE ARAH KANAN BUKAN KE ARAH KIRI!" teriak Anna pada Virzha saat permainan bola basket mereka terus-terusan saja kalah karena Virzha yang tidak pandai melambungkan bola basket disebut atau memang sengaja melakukannya. Sudah kesekian kalinya Anna marah-marah pada pemuda itu karena tidak bisa melempar nya dengan baik sehingga mereka tidak mendapatkan hadiah yang mereka inginkan. Namun, sepertinya kekesalan itu hanya berpihak pada Anna. Dia yang dari tadi mendengus keras dan marah-marah sedangkan yang dimarahi hanya santai-santai dan tetap memasukkan bolanya dengan asal-asalan. Hal yang benar-benar memicu Anna ingin memukuli pemuda yang sekarang hanya cekikikan di sampingnya itu.
"Kamu marah-marah terus sih, kan, aku jadi seneng," celetuk Virzha dengan mencubit pipi kanan milik kekasihnya. Belakangan ini Anna banyak makan karena pizza yang selalu saja mentraktir gadisnya untuk makan di mana saja gadis itu mau. Hingga pada akhirnya pipi itu sedikit menggembung dari biasanya. Virzha belakangan juga selalu memperhatikan pola makan kekasihnya supaya tidak selalu saja skip makan. Soalnya, kebiasaan Anna memang selalu saja lupa makan atau memang sengaja tidak mau makan.
"Aku pengen kamu dapetin hadiah yang aku pengen sekarang. Kenapa sih, susah banget kamu untuk mengambil hadiah yang aku pengen. Aku males banget deh sama kamu kalau kayak gini. Main-main aja!" sebal Anna hingga membuat Virzha kembali cekikikan. Anna makin kesal dengan pemuda itu kemudian beranjak dari sana menuju ke tempat duduk. Ia sudah malas jika diledekin terus-terusan seperti itu. Pada akhirnya ia memilih untuk mengambil ponselnya dan membaca pesan pesan dari teman-temannya walau tidak ia balas.
Virzha mendekati Anna. Ia melihat wajah cantik itu terus manyun dan membuatnya sangat gemas dengan wajah tersebut. Anna memberengut dengan begitu manisnya sehingga membuat dirinya berdebar. Dengan cepat ia mencuri kecupan di pipi gadisnya. Anna tersenyum senang melihatnya kemudian mengajak Virzha ke tempat permainan lainnya.
"Eh, aku ke kamar mandi dulu deh. Soalnya kebelet pipis, nih, " izin Anna kemudian ia berlari cepat untuk menuntaskan keinginannya. Setelah itu ia membersihkan tangannya. Namun, ia melihat bayangan seseorang di cermin dan membuat ia berputar langsung ke depan. Pemuda itu mendorongnya ke salah satu bilik kamar mandi.
Anna seperti di lahap habis bibirnya. Gadis itu bahkan sampai susah bernafas kala tangan Noel dengan kasarnya meremat d**a Anna. Anna ketakutan kala pria itu bahkan tidak memperdulikan dirinya yang sudah gemetaran ia malahan semakin gencar mencicip tubuh Anna hingga tangan itu menyentuh bagian bawah Anna. Anna kaget sekaligus ingin menangis sekeras mungkin kala tangan itu semakin menusuk dalam. Ia rasanya ingin sekali menangis menjerit namun bibirnya di bungkam oleh Noel. Ia tidak bisa bergerak karena tubuhnya cukup lemas. Dan rasanya ia sudah tak punya tenaga lebih untuk segera berlari dari rasa sakit yang ia rasakan sekarang.
Anna di cium begitu kasar dan juga tangan pria itu yang tidak bisa diam sama sekali menyentuhnya kesana kemari dengan tentu saja sakit sekali. Anna mendorong d**a pria itu kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia bisa melihat tatapan orang yang berada di depannya benar-benar seperti orang yang membara. Apakah Noel cemburu ketika dirinya datang dengan orang lain? Apakah Noel akan membenci dirinya yang keluar dengan pakaian yang tidak ia sukai warnanya karena dia tidak suka warna putih. Anna menggelengkan kepalanya kemudian mendorong pelan d**a pria yang ada dihadapannya itu. Ia merasakan oksigen seperti di raup habis oleh pria bongsor yang ada dihadapannya sehingga tidak bisa bernafas dengan baik di dalam toilet tersebut. Padahal, ya, kalau mereka terlihat oleh orang lain bagaimana? Bisa-bisa nanti dirinya tidak bisa menemui kekasihnya lagi.
"Lo apaan ha?! Lo kira, lo bagus banget berperilaku kayak tadi?" tanya Anna dengan mata yang memerah. Gadis itu merasakan sakit hati lantaran ia seperti di perlakukan layaknya w************n. Seharusnya memang ia tak pernah menaruh harapan pada pria di depannya ini karena yang terjadi seperti ini.
"Kamu tahu kalau kamu melihat aku ada di situ tapi kamu melakukan tindakan yang seperti memanasi aku supaya aku menjauh dari kamu? Kamu kira semudah itu kamu bisa berlari dari aku dan menjauh sehingga kamu enggak bisa lagi sama aku? Nggak, aku bakalan berusaha semaksimal mungkin agar kamu nggak bisa pergi dari aku dengan begitu mudahnya. Mudah sekali. Dengan membuat salah satu atau beberapa orang yang terluka di sekitar kamu sehingga pada akhirnya kamu nyerah dan berakhir dengan kamu akan bersamaku selamanya."
"NGGAK USAH GILA! LO SEBENARNYA ADA MASALAH APA SAMA GUE?! GUA UDAH CUKUP CAPEK YA, NOEL. GUE UDAH CUKUP CAPEK UNTUK MENGERTI LO DAN MEMAHAMI SEMUA KEGILAAN YANG PERNAH LO PERBUAT SAMA GUE. KARENA LO SEKARANG KAKAK GUE HARUS MENANGGUNG NYAWA. KARENA GUE JUGA HARUS SENDIRIAN DI DUNIA INI DAN JALANI SEMUANYA TANPA ADA SATU ORANG PUN YANG MENDUKUNG GUE!" sentak Anna karena sudah lelah dengan segala prahara yang ditimbulkan oleh Noel. Namun, bukan tatapan merasa bersalah yang ia temukan di mata pria itu. Melainkan tatapan yang lain, seakan dia tidak terganggu dengan ucapan ataupun kesedihan yang ditimbulkan oleh Anna.
"Kamu masih ada aku di sisi kamu. Kamu bisa meminta apapun itu asalkan kamu tidak pergi dari hidup aku. Aku hanya menginginkan kamu selalu berada di sisi aku dan menuruti apapun yang aku katakan karena aku bakalan membuat kamu bahagia. Kamu nggak usah mengulik apapun lagi tentang masa lalu hidup aku ataupun kamu karena kita akan memulai semuanya menjadi lembaran baru. Kita akan pergi dari negara ini dan memulai hidup yang lebih baik. Kamu dan aku sama-sama akan menjalani kehidupan seperti pasangan pada umumnya tanpa melibatkan orang lain dalam hubungan kita. Hanya aku dan kamu ataupun anak-anak kita nantinya."
Anna speechless dengan ucapan yang dilontarkan oleh Noel. Pria itu sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Anna. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan itu cukup membuat Anna merasa terguncang jiwanya. Ia sudah lelah dengan Gama yang harus diselamatkan dan sekarang dirinya harus berhadapan dengan sosok pria yang tidak tahu diri dan tidak bisa dibilangin sama sekali. Anna ingin rasanya menyerah dengan segala kehidupan yang dirasakan namun dia tahu kalau itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk terlepas dari segalanya. Hingga pada akhirnya dia sampai di titik jenuh dan ingin sekali mengatakan pada semesta bahwa dirinya sudah menyerah dan ingin kembali ke rumah Tuhan.
"You will be mine forever. Until you can't go anywhere."