Anna melotot kaget saat tangan itu kembali memegangnya begitu erat. Anna benar-benar dibuat bungkam seribu bahasa oleh pria yang tetap saja bersikeras untuk mengambilnya dari pelukan seseorang yang berusaha ia cintai. Anna tidak habis pikir dengan pria ini yang selalu saja melakukan berbagai cara untuk merenggut seluruh kebahagiaannya. Ia seakan tidak diberikan kebahagiaan barang untuk sejenak saja. Bahkan setelah ultimatum yang dia berikan, Noel tetap saja tidak memperdulikan apapun yang ia katakan dan tetap saja berusaha untuk mengambil dirinya. Anna sudah tidak habis pikir lagi harus melakukan hal seperti apa untuk menjauhkan Noel dari hidupnya karena dia sendiri juga sudah takut jika Virzha mengetahui hal yang sesungguhnya.
Virzha sendiri tidak peduli terhadap sekitar dan tetap saja menonton. Mereka duduk di barisan kedua paling belakang. Cahaya yang gelap menyelimuti tempat itu membuat Virzha sama sekali tidak bisa melihat siapa yang ada di samping Anna. Anna menghela nafasnya geram kemudian memaksa tangannya untuk terlepas dari genggaman Noel. Namun, tangan pria itu begitu kuat sehingga genggaman itu tidak bisa lepas begitu saja. Ia semakin menariknya begitu keras namun ternyata itu mencuri perhatian Virzha.
"Sayang, kenapa? Ada yang sakit badannya?" tanya Virzha yang melihat Anna dari tadi gelisah tidak menentu. Pemuda itu mengusap tangan kekasihnya.
"Nggak, ini kayaknya tempat duduknya kurang nyaman, deh, makanya aku susah nyaman."
"Oh, apa kamu mau tukar tempat duduk sama aku?"
"Nggak, enggak perlu kok. Aku udah nyaman sekarang," kata Anna. Ia takut saja jika Virzha mengetahui siapa yang ada di samping Anna sekarang.
Sedangkan Noel, pria itu masih saja tetap mencuri pandang dan berusaha memegang tangan Anna daritadi. Dengan cepat Anna menggenggam tangan Virzha dengan erat. Ia tidak peduli dengan tatapan aneh Virzha dan tetap memegang tangan itu begitu erat. Noel semakin mengerikan sekali belakangan ini. Pria itu seakan predator yang siap menerkam dirinya dengan segala upaya agar ia bisa terjerat di dalamnya.
Film terus berlanjut dan tangan Noel tetap setia di paha Anna. Anna ingin menyingkirkan tangan itu lagi. Tapi, tetap saja Noel akan bersikeras meletakkan tangannya di paha Anna. Anna sudah lelah untuk mengusirnya.
"Sayang, habis ini aku main ke rumah kamu boleh nggak?" tanya Virzha dengan tiba-tiba. Anna yang mendengarnya langsung kaget dan menoleh ke arah Virzha.
"Ngapain? Bukannya seharian ini kita udah bersama-sama terus?"
"Aaa masih kangen. Aku masih mau banyak bicara sama kamu," kata Virzha dengan manja. Anna bisa mendengar dengusan kasar di sebelahnya. Ia yakin kalau Virzha baru saja mendengus sebal mendengar nada bicara Virzha.
"Ya, kamu boleh main ke rumah aku. Tapi, belakangan ini bahan makanan aku juga nggak banyak. Kayaknya juga, sih, bahan makanan aku udah banyak yang habis. Dan, jujur aku belum ada uang untuk beli makanan lagi. So, kayaknya kita bakalan makan dengan sisa makanan dari kita jalan-jalan. Tadi, hot dog yang kamu beli kan banyak. Nah, nanti kita makan itu aja ya. Soalnya kalau kita kumpul-kumpul kalau nggak ada makanan itu nggak enak," ucap Anna.
"Nggak usah. Entar aku beli makanan aja. Kamu mau makan apa terserah. Entar, kita mampir aja ke tempat yang biasa kita singgahi untuk beli makan. Kalau kamu mau, kamu sekalian bawa untuk persediaan juga nggak masalah kok."
"Nggak, aku sama sekali nggak mau ngerepotin kamu. Aku nggak mau membebani kamu atas tanggung jawab yang bukan hak milik kamu."
"Sayang," Virzha mengenggam tangan Anna erat. "Aku lakukan hal apapun untuk kamu. Emang sekarang aku belum bisa ngasih kamu banyak hal. Cuman berharap kamu selalu sehat dan jajanin kamu sikit-sikit aja. Tapi, Aku juga udah berusaha supaya diterima di perusahaan Papa untuk sementara waktu supaya kamu bisa jajan sepuasnya dengan orang aku dan hasil kerja keras aku sendiri."
"Virzha, kamu nggak perlu harus melakukan hal seperti itu. Aku bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan kamu. Aku hanya menginginkan kamu ada di sisi aku dan mendukung seluruh hal yang aku perbuat selama itu hal yang positif. Kalau kamu terus-terusan bantuin aku, nanti lama-lama aku nggak bisa sendirian. Aku nggak mau berpangku terus sama kamu karena hal itu bukan aku banget."
"Ann, bukan masalah itu kamu banget atau enggak. Tapi, di satu sisi realistis aja sih, sekarang cari pekerjaan juga bukan perkara yang mudah. Kalau kamu terus-terusan hidup dengan uang yang setipis itu, aku nggak bakalan jangan kalau kamu bakalan makan sampai bulan depan."
"Kalau masalah makan bulan depan aku udah ada uang. Lagian, selalu aja di rumah itu, aku stok banyak makanan selama satu bulan penuh. Dan, semenjak Mas Gama nggak ada di rumah, makanan itu sudah aman juga untuk mungkin sampai bulan depannya lagi. Lagian, di rumah aku cuman sendirian. So, Aku enggak mungkin habisin banyak makanan hanya untuk diri aku sendiri." Anna tersenyum sumringah dengan mengatakan hal-hal tersebut. Kini, memang benar hanya ada dirinya di rumah. Cyborg Mama tidak mungkin bisa makan. Sedangkan, dirinya di rumah hanya sendirian. Mas Gama yang belum ada kabar sama sekali untuk kembali kerumah atau tidak, itu masih menjadi pertanyaan bagi Anna. Namun, terlepas dari itu semua stok makanan untuk Anna sebulan ke depan masih aman.
"Yaudah, nanti kalau kamu memang butuh uang untuk belanja kamu bulanan, Kamu bisa panggil aku. Aku bakalan sedikit bantu kamu supaya kamu tetap bisa makan seperti biasanya. Lagian, Mas Gama kenapa nggak niat pulang sih? Kamu sendirian di rumah itu aja buat aku khawatir. Kalau kamu kenapa-napa gimana? Kalau tiba-tiba ada orang yang mau culik kamu atau misalnya kamu tiba-tiba kabur dari aku, aku takut kalau hal itu terjadi. Nanti, kalau kamu kabur dari aku, aku sama siapa?" tanya Virzha dengan nada yang sedikit tidak meyakinkan Anna. Anna seakan di beri ultimatum untuk selalu waspada.
"Virzha, Aku nggak bakalan pernah kabur dari kamu. Kamu, kamu adalah orang yang bisa membuat aku bahagia. Tujuan aku sekarang supaya bisa pantas bersanding di samping kamu. Mungkin, kamu masih meragukan apa yang aku perbuat. Tapi, sejujurnya kamu adalah orang yang aku harapkan untuk bahagia bersama aku. Aku harap kamu nggak terus-terusan meragukan kesetian aku sama kamu. Karena, lama-lama juga capek kalau aku diragukan terus. Seakan-akan apa yang selama ini aku coba untuk supaya meyakini kamu itu bukan sesuatu yang harus dilakukan. Tapi, kalau kamu emang terus-terusan meragukan aku, lebih baik kita sudahi aja hubungan kita yang nggak akan pernah mencapai sesuatu yang kita inginkan."