Anna baru saja menyelesaikan tugasnya. Ia keluar dari ruangan kemudian berjalan cepat untuk menemui Virzha. Ia bisa melihat Virzha sedang berbicara dengan Sakha. Ah, Sakha itu si cowok yang di kekang posesif sama pacarnya. Anna kadang agak risih melihat pacar Sakha. Namun, ya dia mana boleh bicara yang tidak sopan karena tidak suka.
"Hai," sapa Anna membuat kedua pemuda yang daritadi bicara itu menjadi memutar kepalanya melihat siapa yang datang. Tepat, keduanya diam kemudian Sakha berdiri dan senyum pada Anna.
"Kelar gak tuh OSIS? Ini kalau lo tinggal OSIS kayaknya bakalan hancur mereka tanpa lo."
"Biasanya sih orang jarang ibadah gak diterima doanya," ucap Anna hingga di hadiahi pukulan pelan dari Sakha.
"Sialan lo! Udah, ah. Gue mau cabut dulu," kata Sakha kemudian pemuda itu pergi dari sana. Anna duduk di samping Virzha dengan perlahan sembari merapikan roknya.
"Virzha, udah makan?" tanya Anna dengan pelan. Virzha mengangguk kemudian pura-pura memainkan gitarnya.
"Sayang," panggil Anna dan membuat Virzha kaget setengah mati. Dalam hubungan mereka, Anna sangat dan benar-benar sangat jarang memanggilnya sayang. Bahkan sepertinya tidak pernah.
Virzha mengulum bibirnya. Ia merasa deg-degan hanya di panggil begitu saja. Sial, kenapa dia sangat lemah hanya dengan panggilan saja? Padahal sebenarnya ia ingin ngambek lama.
"Sayang, kamu kenapa diam aja sih? Ayo dong bicara sama aku. Aku gak tau kalau kamu diam aja kalau ada masalah."
Virzha kembali memikirkan masalah mereka. Sial, dia baru saja teringat kalau dia sedang marah. Virzha menatap Anna yang menatapnya dengan tatapan sendu. Kenapa kamu sangat abu-abu, Ann. Itulah pikiran Virzha. Ia tidak bisa menebak seperti apa karakteristik kekasihnya ini.
"Ann, aku mau kamu jawab jujur pertanyaan aku."
"Sure, you can ask anything and I will answer as best I can."
"Do you love me? Are you really being honest with me?" tanya Virzha dengan hati-hati. Ia takut menyinggung Anna.
"Kenapa pertanyaannya begitu? Kamu meragukan perasaan aku?" tanya Anna balik.
"Bisa gak sih kalau pertanyaan aku kamu jawab aja. Nggak usah kamu balik nanya," kata Virzha membuat Anna membungkam bibirnya.
"Kenapa jadi kayak marah gitu? Kamu bisa bicara dengan baik-baik aja."
"Kayaknya aku udah sering bicara baik-baik tapi kamu gak mengerti sedikitpun? Ann, butuh berapa lama lagi aku pahamin hati kamu itu? Butuh berapa lama lagi buat aku ngerti kalau apa yang kamu lakukan sama Noel itu cukup menganggu aku? Aku paham kalau kamu mungkin ada masalah sama Noel. Tapi, apa kamu gak bisa jujur sama aku apa yang terjadi antara kamu sama dia? Apa kamu gak bisa bilang sama aku apa yang kalian rencanakan? Kamu gak pernah mau terbuka sama aku. Aku udah kayak orang bodoh yang beneran gak tau pacar aku ngapain aja sama yang lain."
Anna terkekeh. Ia lelah sekali memikirkan banyak masalah yang ia hadapi. Ia hanya berharap Virzha mengerti bahwa ia punya masalah. Dia bukanlah orang yang mudah untuk bicara tentang masalah yang ia punya. Namun, pemuda ini selalu menekannya agar jujur. Memangnya dia tidak tersiksa dengan kebohongannya? Ia tersiksa akan hal itu. Tapi di satu sisi dia juga tidak tau harus bagaimana. Ia tidak bisa banyak melakukan hal karena ada hal yang memang membuatnya begitu pusing akan masalah yang ia punya.
"Virzha, aku sendiri juga bingung bagaimana menyelesaikan masalah yang aku punya. Kamu kira aku enggak mau cerita sama kamu? Aku pengen bilang semua masalah yang aku punya dan berbagi sama kamu. Tapi, apa semua orang bisa melakukan hal itu? Ada kalanya orang lebih memilih menyimpan masalah karena dia tahu masalah itu bukan selesai dengan catur pembicaraan aja, tapi dengan banyak pembicaraan dari butuh diskusi yang lebih baik. Atau seenggaknya memang orang yang kita ajak bicara itu paham dengan masalah yang kita punya. Kamu, kamu sama sekali nggak tahu masalah yang aku punya. Kamu sama sekali enggak tahu kalau aku merasakan begitu sakit perasaan ini yang tak tahu lagi harus aku perbuat dengan bentuknya seperti apa."
"..."
"Virzha, untuk belajar jujur sama orang lain juga bukan perkara yang mudah. Aku berusaha untuk membuka hati aku. Aku berusaha untuk pengen membuka semua luka aku dan bilang sama kamu kalau aku lagi capek. Tapi, emang aku nggak tahu seberapa kerasnya hati dan kepalaku sampai-sampai aku gak bisa cerita sama kamu. Itu jadi beban buat aku. Aku terlalu terbiasa menyimpan semuanya sendiri hingga saat ada orang yang mau menolong aku, Aku enggak bisa berbuat lebih. Semuanya terlalu sering aku simpan sendiri. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku-aku selalu berpikir bagaimana caranya supaya kamu nggak pergi dari hidup aku. Aku berusaha sekuat tenaga mempertahankan perasaan aku yang bahkan aku masih bisa pertanyakan sudah entah di tahap yang mana. Apa kamu bisa mengerti sekarang?"
"Karena apa begitu?" tanya Virzha. "Karena kamu terlalu gak percaya sama orang lain dan berpikir bahwa orang yang kamu ajak bicara itu nggak bisa memberikan kamu respon sesuai ekspektasi yang kamu inginkan. Kamu menganggap aku hanya anak-anak yang nggak bakalan pernah mengerti masalah kamu padahal kamu sendiri nggak pernah mau cerita sama aku."
"Nggak! Aku mau cerita sama kamu. Tapi, aku nggak mau menyia-nyiakan waktu untuk menceritakan sama kamu yang bahkan belum tentu bisa mendapatkan solusi dari semua masalah yang aku punya. Selain itu, aku hanya mau kamu memikirkan masalah kamu dan tanpa mikirin perasaan aku. Aku udah nggak mau lagi berpikir yang aneh-aneh tapi kamu sendiri juga gak bisa percaya sama aku. Aku harus gimana?"
"Nggak perlu gimana-gimana. Aku-"
"Tapi secara langsung kamu bilang aku itu pecundang."
"Aku nggak bilang gitu! Kenapa kamu berpikiran gitu? Kamu yang memenangkan tadi kamu, tapi yang kamu salahin aku!"
Ah, sial, pada akhirnya mereka bertengkar. Entah apa duduk masalah yang mereka punya dari awal, namun, sudah kelihatan jelas bahwa mereka memiliki masalah. Anna begitu lelah menghadapi semua masalah yang ia punya dan sekarang ia harus mengerti kekasihnya. Anna bukan seorang robot yang bisa mematuhi semua omongan orang yang ada di hadapannya. Ia juga bisa kesal dan marah jika orang yang ia sayangi ini selalu menekannya. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin agar Virzha paham dengan kode yang ia berikan. Tapi, memang pada dasarnya hubungan mereka sedang di ujung tanduk, maka dari itu yang dilakukan oleh Anna sekarang hanya berdiri dan membalikkan tubuhnya karena ia sudah terlalu malas untuk mendengarkan segala ocehan buruk yang dilontarkan oleh Virzha.