Suasana malam ini terasa sangat sejuk. Hujan gerimis yang melanda Bandung tadi sore membekas hingga menampakkan aroma patrikor di setiap jalanan yang pria itu lalui.
Noel baru saja pulang dari sekolah. Pikirannya masih berputar tentang Anna. Gadis itu mampu mencuri seluruh isi kepalanya dengan senyuman sederhananya dan juga tutur bahasanya yang terkesan kaku dan dingin. Semua hal itu yang jarang ia dapatkan oleh gadis-gadis lain yang selama ini menjadi teman dekatnya. Iya, Noel adalah contoh anak muda masa kini yang tentu saja sangat mempunyai sifat b***t yaitu hobinya clubbing dan melakukan one night stand. Seperti sekarang, pria itu datang klub namun detik di saat ia mau menenggak minumannya, suara ponselnya hidup dan terpampang bahwa Bundanya menyuruhnya pulang. Alhasil ya dia pulang. Soalnya sekasar atau senakal apapun, dia sayang Bundanya dan tidak mau masuk neraka jalur VIP.
Setelah ia memarkirkan mobilnya nya, Noel berjalan masuk ke dalam rumah dan meletakkan sepatunya di rak sepatu. Matanya berpendar seakan mencari penghuni rumah yang terlihat tidak ada di dalam. Rumah yang sangat besar ini mampu membuat Noel mendesah pelan karena jujur saja rumahnya dua kali lebih besar dari stadion gelora bung Karno. Salah satu stadion bola yang ada di Indonesia.
Sebenarnya Bundanya sudah merengek untuk meminta pindah ke rumah yang lebih kecil atau lebih sederhana karena dia sendiri juga tidak terbiasa untuk tinggal di rumah sebesar ini, namun papanya sendiri juga sangat keras kepala mengatakan bahwa dia nyaman di rumah besar ini katanya dia bisa main apa saja di dalam rumah. Jadi anak-anaknya dan dirinya selaku ayah dari mereka tidak terlalu ketakutan jika anak-anaknya keluar rumah. Salah satu sifat yang membuat Noel sendiri juga mumet dengan kelakuan bapaknya itu. Karena sampai sekarang pun papanya tetap saja ingin bermain dengan anak-anaknya. Bahkan ketika jadwal malam minggu tiba, dua kembar itu bahkan Noel sendiri tidak diperbolehkan keluar rumah. Harus main bola di dalam rumah itu yang sudah disediakan oleh rumahnya juga.
Namun sebenarnya Noel tahu kenapa papanya selalu saja bersikap seperti itu. Kedua orang tua papanya telah meninggal. Dan pasti papanya selalu merasa kesepian jika tidak ada anak-anaknya yang selalu ada di sisi-nya dan menghiburnya setiap hari di sela-sela kesibukannya yang sangat-sangat menyebalkan. Dan Noel juga membiarkan dirinya yang sudah dewasa bahkan sudah mengerti mana cewek seksi dan mana cewek yang bohai, katanya, tetap saja selalu mengajak dirinya bermain umpet-umpetan.
Untung saja Noel tidak perlu bermain diluar menuruti kemauan papanya. Kalau tidak, apa kata dunia nanti? Noel si pemilik perusahaan terbesar di dunia harus menjadi korban oleh papanya sendiri untuk bermain petak umpet.
"Abanggggg ih kenapa sih pulangnya lama banget? Ya Allah bau perempuan," ucap adiknya yang paling kecil dan paling centil yang pernah Noel miliki. Adiknya yang wajahnya bule sama seperti dirinya.
"Kenapa sih? Mana Bunda?" kepala Noel melongok kesana-kemari mencari wanita kesayangannya itu.
"Mandi dulu sana. Abis buat dosa juga!" sungut Ichi yang sama sekali tidak menerima pelukan yang di berikan Noel. Abangnya itu memang selalu saja mencari dirinya untuk di peluk. Bahkan ketika hujan tiba atau Noel merasa pusing dengan pekerjaannya, dia akan mencari Bunda atau Ichi untuk di peluk.
"Tau apa kamu tentang dosa? Kamu sen-heh! malahan menjauh. Sini Abang peluk dulu. Isi energi," pekik Noel saat Ichi semakin menjauh dan ingin masuk ke dalam kamarnya kembali.
"Gak mau! Nanti aku gak bisa sholat karena Abang!" ucap Ichi lagi namun dengan cepat Noel menarik gadis itu lalu memeluknya dari belakang. Ichi meronta keras namun Noel tetap memeluknya erat hingga mereka jatuh di sofa.
"BUNDA!! ABANG NAKAL BANGET INI-Hmmph" teriakan Ichi terhenti kala kaus kaki tiba-tiba mendarat di mulutnya. Siapa lagi kalau bukan saudara kembarnya yaitu Nana yang hobi juga menjahili adiknya itu. Keduanya memang kembar namun wajah mereka sangat berbeda. Yang satu mirip sekali dengan ayahnya dan yang satu mirip sekali dengan bundanya. Namun Ichi yang notabene mirip dengan ayahnya tentu saja kelakuannya hampir sama bahkan sangat sama dengan papanya itu. Sama sama jahil dan sama-sama suka pecicilan. Beda dengan Nana yang terkadang bisa meledak-ledak emosinya dengan tertawa kuat atau sesekali Ia hanya akan pecicilan persis seperti ibunya. Bahkan lelaki itu hobi sekali memasak sama dengan ibunya juga.
"NANA ANJENG! KAOS KAKI KAU BAU BIADAB!" umpat Ichi namun kedua kakaknya itu tidak berhenti untuk melakukan penistaan kepada dirinya. Bukannya jadi tuan putri di rumah, malahan sekarang dia menjadi bulan-bulanan kedua kakaknya itu. Kadang kalau ada papa, beliau juga suka sekali melakukan hal yang sama hingga ketiga pria dengan dirinya yang lemah lembut gemulai menjijikkan itu di perlakukan dengan tidak hormat sebagai manusia.
"Ehhh ini ada arisan? Ya ampun, eh mau potong kambing ya?" ucap papanya yang membuat Ichi kembali melotot hingga nyaris aja jantungnya ingin terjun ke bawah. Karena ya gimana ya, ini tiba-tiba bapaknya datang datang bawa parang tapi masang muka ceria kayak abis menang taruhan terus bicaranya tentang kambing. Gimana Ichi tidak berasa horor? Soalnya ini bapaknya punya tangan ajaib. Bisa aja apa yang ada di tangan itu terpental entah kemana karena saking hebohnya bercerita atau melakukan sesuatu. Bahkan memegang HP saja dia bolak-balik jatuh hingga mengenai wajahnya. Ini apalagi coba, bawa parang, bicara kambing. Udahlah Ichi mau cosplay jadi mermaid saja.
"Udah, Paaa jangan ikutan juga dong. Ini abang udah nyampe di- aduh mau jatuh nih gara-gara mereka berdua. Aku bisa pusing kalau perkara begini mah. Udahlah aku mau jadi anak Om Dave aja kalau begini. Pusing aku-Aaaa YA ALLAH SELAMATKAN LAH HAMBA DARI PARA MANUSIA-WOHH KAKIKU TAPASYA! KAKIKU MASYAALLAH. BUNDAAAA PRINCESS MU INI DI SIKSA!"
Bundanya yang dari dapur langsung tergopoh-gopoh keluar rumah dan melihat bahwa anak perempuannya sudah dijahili oleh ketiga lelaki yang ada di rumahnya itu, "Ada aja sih kalian. Papa, Abang, Mas Nana! Ayo jangan jahili adek. Dia belum makan siang trus lupa makan malam juga. Nanti kalau modar kan Bunda seneng," ucap Bundanya dengan ada yang jahil hingga membuat Ichi merasa manusia yang tertindas itu merasakan sakit hati yang teramat dalam hingga menusuk relung hatinya dan hingga jatuh menetes menemui jempol kakinya.
"Kenapa lah ya ampun aku jumpa sama keluarga kayak kelen ini bah. Dah capek aku setengah mati buat bertahan hidup di dalam rahim ibunda, ternyata besarnya aku hanya menjadi manusia tertindas di keluarga besar ini. Memang nasib sial," lirih anak gadis itu dan membuat kedua orang tuanya kembali terkekeh hingga Abang dan masnya juga ikutan terkekeh. Hal yang selalu saja mereka rasakan dan mereka inginkan adalah keluarga yang hangat seperti ini. Jarang ada perselisihan, namun jika memang ada perselisihan Bundanya akan selalu menjadi garda terdepan untuk membuat keluarga mereka kembali menjadi utuh dan saling memaafkan satu sama lain. Satu hal yang selalu kedua orangtua mereka lakukan dan orang tua mereka nasehatkan kepada anak-anak mereka.
Walau kelakuan papanya kadang suka membuat anak-anaknya naik darah, namun tetap saja keluarga yang utuh seperti ini adalah sesuatu hal atau momen yang bahkan tidak akan pernah dirasakan oleh siapapun jika ada kesempatan. Hal yang selalu saja Key dan Joe lakukan hingga mereka harus tetap siaga agar kejadian di masa lalu tidak akan terulang kembali. Apalagi sekarang mereka tahu, bahwa orang-orang di masa lalu yang mencari reinkarnasi mereka tiba-tiba saja tetap mengawali mereka hingga terus-terusan mengirim surat-surat yang mengatakan bahwa mereka harus menyerahkan salah satu anak mereka untuk menjadi bahan pertimbangan reinkarnasi yang dulu sempat digagalkan oleh keduanya.
"Sumpah ya! Demi apapun. Demi mamaknya si Ucok. Sakit nih kaki aku ya Allah. Kenapa sih aku harus berada di kehidupan mereka semua? Kenapa aku nggak lahir aja dari keluarga yang menyayangi diriku dengan segenap jiwa dan raganya. Aku ingin sekali merasakan kehadiran sosok keluarga yang mencintaiku dan menyayangiku tanpa mereka tahu betapa aku mencintai mereka juga. Rasanya aku seperti terhempas di lautan manusia yang berpikir egois tidak bisa melakukan hal apapun untuk menyenangkan diriku," ucap Ichi saat semua keluarga sedang diam. Gadis itu akan bertingkah seperti ini jika mereka sudah selesai melakukan pertarungan sengit yang mengakibatkan sedikit rambut dari Ichi akan hilang dan jatuh ke bumi juga meninggalkan bekas yang begitu menyakitkan bagi Ichi.
"Bun, sayur asem ini kok rasanya an-"
"SAUDARA KEMBAR MACAM APA LO?! SAUDARA KEMBAR LO INI LAGI SAKIT PARAH. SAKITNYA SEAKAN MENUSUK JANTUNG DAN RELUNG HATIKU YANG TERDALAM. RASANYA AKU INGIN MELEPASKAN DIRIKU MENUJU LAUTAN-"
"Makan aja ikan yang baru Bunda masak. Itu rasanya juga agak enak sih cuman agak kurang asin juga." kata Key sambil menuangkan nasi ke dalam piring suaminya. Hal yang selalu wanita itu lakukan dan selalu suaminya inginkan. Suaminya yang sangat manja dan menginginkan dirinya selalu memperlakukan pria itu dengan baik dan seperti anak-anak. Contohnya ya beginilah. Suka meletakkan nasi ke dalam piring nya, mengikatkan sepatu, atau kadang setiap pergi ke kantor, pria paruh baya itu akan meminta satu kecupan di kening jadi bibir miliknya.
"Bun, aku nggak suka sayur asem. Aku suka ini mah sayur kangkung," celetuk Nana saat wanita cantik kesayangannya itu hanya fokus kepada suaminya saja. Nana kadang kesal dengan papanya ini. Suka sekali mencuri perhatian Bundanya hingga, Bunda mereka diculik dan disabotase oleh papanya sendiri. Rasanya Nana ingin sekali berteriak kepada Papanya dan mengatakan bahwa jangan egois untuk memiliki Bunda. Namun, dia pernah mengatakan hal itu dan pada akhirnya uang jajannya dipotong secara kejam oleh papanya sendiri.
"AKU KAN LAGI SAKIT. KENAPA GAK ADA YANG PEDULI?!" teriak Ichi namun dengan cepat Noel menyeret adiknya untuk duduk di bangku meja makan. Kebiasaan adiknya yang selalu saja banyak bicara dan banyak drama hingga ditinggal makan oleh saudara-saudara dan kedua orang tuanya.
"Kemarin aku udah ikutin beberapa kelas memasak, Bunda. Kayaknya aku beneran pengen jadi chef aja deh," kata Nana membuat Joe menatap putranya dengan kedipan mata yang seakan masih mencerna perkataan Nana.
"Usah yakin kalau beneran mau jadi chef?" tanya Key untuk meyakinkan pilihan yang dipilih oleh putranya. Key tidak akan menghakimi putranya untuk memilih apa yang ia inginkan. Selama itu di jalur yang benar dan di jalur yang positif, Key akan selalu mendukung putranya menggapai apa yang ia inginkan. Key selalu memberikan motivasi untuk putrinya ataupun anak-anaknya yang lain tentang apa yang mereka inginkan. Seperti jika mereka menginginkan sesuatu yang diluar ekspektasi orang tua mereka, Key akan memberi beberapa gambaran agar anak-anaknya tau konsekuensi dari pilihannya itu karena jika orang-orang mengambil apa yang mereka inginkan, mereka jarang untuk melihat sisi konsekuensi sehingga ketika mereka mendapatkan sesuatu yang diluar keinginan mereka, mereka merasa bahwa mereka gagal.
Key dan Joe selaku orang tua menginginkan anaknya untuk mengikuti apa yang anak-anaknya inginkan. Joe sebenarnya menginginkan kedua anak kembarnya mengikuti jejak kakaknya. Tapi, balik lagi ke keinginan anak-anaknya. Selama apa yang mereka buat itu bisa membuat mereka bahagia dan ada timbal balik di dalamnya, Joe akan mendukung itu.
"Aku yakin Bunda. Aku pengen mencoba memasak pelan-pelan sampai akhirnya aku yakin dengan keputusan aku. Aku bakalan berpikir lagi sampai benar-benar keputusan aku final. Aku juga bakalan sering tanya-tanya sama bunda dan papa karena apa yang kalian bicarakan pasti akan menenangkan aku dan membuat aku tahu jalan yang harus aku jalani," ungkap Nana yang membuat Bundanya menitikkan air mata saat mendengar kata-kata manis yang keluar dari putra sulungnya. Key bangga pada Nana yang mau meyakinkan Bundanya dan Papanya untuk mendukung dirinya menggapai cita-cita yang dia inginkan. Bahkan dia memberikan bukti bahwa dirinya memang yakin untuk bisa melakukan hal yang ia inginkan.
Ichi yang mendengarkan perkataan saudara kembarnya itu terdiam sembari tersenyum tipis. Semua orang sudah memiliki cita-cita dan keinginan mereka bahkan sudah berjalan hampir setengahnya. Namun, dia masih saja jalan di tempat dan belum tahu apa yang ia bisa dan ia inginkan.
"Aku pengen juga tau apa yang aku inginkan. Tapi apa bisa ya?" tanya Ichi ada orang-orang yang ada di sekitarnya itu.
"Bisaaa, kamu bisa melakukan apa yang kamu inginkan jika kamu tau apa yang kamu sukai dan apa yang membuat kamu nyaman. Ichi, sesuatu hal itu akan ada timbal baliknya. Sesuatu hal akan kita dapatkan jika kita tahu apa yang kita inginkan. Intinya kita harus tau apa yang kita inginkan itu sudah lebih dari cukup untuk kita mengembangkan sesuatu yang ada di dalam diri kita," nasehat Noel pada adik kecilnya itu. Ichi mengangguk pelan kemudian memakan tempe orek kesukaannya yang selalu saja dibuatkan oleh sang Bunda.
Semua hal akan bisa kita dapatkan asalkan kita tahu apa yang kita sukai. Itu inti dari secara keseluruhannya.