Suara tetesan air mengisi kekosongan nada pada malam hari. Kilatan dan gemuruh petir terdengar bersahut-sahutan. Sebuah suara tangis bayi berbaur dengan melodi hujan, tersamarkan sehingga sulit terdengar. Seorang wanita berkepala tiga itu bersyukur karena keputusannya untuk memeriksa kunci pintu depan tidak jadi ia urungkan, sehingga ia dapat mendengar suara tangisan bayi yang kedinginan dan kelaparan itu.
“Mita! Cepat siapkan air hangat dalam baskom dan handuk kering juga baju bayi!” seru wanita itu sambil mengangkat kardus berisi bayi ke dalam rumah. Ia segera mengunci pintu depan dan bergegas ke kamarnya.
“Siap, Bu. Airnya sudah saya siapkan. Eh? Itu bayi siapa, Bu?” tanya Mita terkejut. Gadis itu membawa baskom berisi air hangat dan mendekati ibu panti yang sudah melepas semua pakaian bayi perempuan itu. Kini, tubuh mungil itu telah dibalut dengan selendang kering yang hangat.
“Namanya aja panti asuhan. Pasti banyak orang tua tidak bertanggung jawab yang meninggalkan bayi mereka begitu saja. Beruntung ibu tadi ngecek kunci pintu. Kalau nggak, mungkin besok kita cuma nemu jasad bayi ini saja. Kamu siapkan baju bayinya, ya? Biar ibu basuh dulu gadis kecil ini.” Tangan terampil wanita itu membasuh tubuh rapuh dengan hati-hati. Seolah akan koyak jika diperlakukan sedikit kasar.
“Bu Aida, ada kertas berisi surat di dalamnya.” Mita mengambil sebuah amplop dan memberikannya pada Aida. Ia memang mengacak-acak kardus tempat bayi itu ditinggal setelah menyiapkan baju ganti dengan harapan menemukan sesuatu seperti identitas atau lainnya. Ternyata memang apa yang dicarinya itu ada.
Selesai dipakaikan baju, gadis kecil itu menjadi tenang. Anak-anak panti lain yang belum tidur ikut berkumpul di depan kamar itu. Mereka penasaran dengan anggota baru yang akan menjadi keluarga mereka. Seorang wanita berusia sekitar 25-an datang dengan sedikit tergopoh-gopoh. Ia mendengar tangisan bayi yang menandakan penambahan anggota baru di keluarga besar ini.
“Maaf, Bu, baru bisa datang. Demam Amel baru turun. Jadi baru bisa tinggalin dia sekarang.” Wanita itu berjalan mendekati Bu Aida dan Mita. Ia berbalik arah dan memelototi anak-anak panti lain yang penasaran dan berkumpul di depan kamar.
“Jam berapa sekarang? Kalian bisa lihat adiknya besok. Sekarang kembali ke kamar masing-masing dan tidur!” perintah wanita yang baru tiba itu.
“Bu Tari galak!” seru Adam, anak laki-laki yang masih berusia enam tahunan.
“Biarin. Lagian ini sudah malam. Kalian mau tidur jam berapa?” Nada suara Bu Tari sedikit naik.
Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum kalau wanita itu merupakan pengasuh paling galak. Tapi, di balik itu semua, Bu Tari merupakan pengasuh yang sangat penyayang dan tulus. Bahkan gadis itu memilih untuk tidak memusingkan jodoh setelah calon suaminya ketahuan selingkuh dengan wanita lain hingga wanita itu hamil.
“Sudah, sudah. Anak-anak, kalian kembali ke kamar, ya? Besok lagi kenalan sama dedeknya. Ini sudah malam.” Suara lembut itu terdengar dari bibir sang ibu panti. Sementara bayi kecil itu berada di pelukan Mita dengan sebotol dot kecil s**u formula. Anak-anak yang tadinya berkerumun kini membubarkan diri dan kembali ke kamar masing-masing.
“Bagaimana keadaan Amel, Tari? Apakah demamnya sudah turun? Perlukah dibawa ke dokter?” Bu Aida bertanya dengan nada khawatir.
”Alhamdulillah demam Amel sudah turun. Dia sudah bisa tidur, Bu,” jawab Tari. Bu Aida dan Mita juga turut menggumamkan syukur.
“Ah, iya. Suratnya sudah dibaca, Bu?” tanya Mita. Bu Aida menjawab, “Ini baru mau dibaca.” Alis wanita itu sedikit berkerut saat membaca sebuah kalimat di sana.
“Apa isinya, Bu?” tanya Tari penasaran.
“’Tolong beri dia nama Arakata Ratnaduhika Paramesti.’ Udah cuma itu aja.” Raut wajah wanita itu sedikit kecewa.
“Wah, nama yang bagus,” puji Mita, sementara mata Tari fokus pada perubahan ekspresi Bu Aida.
“Apa-apaan dengan raut wajah itu? Jangan bilang ibu mau menamai gadis ini dengan nama buatan ibu?” tebak Tari. Bu Aida meringis salah tingkah.
“Hehe, tahu saja. Padahal tadinya mau ibu kasih nama Putri Hujan Malam. Kan ibu nemuinnya pas malam-malam dan sedang hujan,” ungkap Bu Aida tanpa rasa bersalah. Mita menahan tawanya sementara Tari menghela napasnya.
“Seandainya kemarin aku gak menolak, mungkin nama Amel bukan Amelia Khoirunnisa, tapi Mutiara Biru karena ada motif mutiara warna biru di selimut Amel,” gerutu Tari.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Di saat teman sebayanya baru belajar membaca, Araka sudah mahir membaca dan menulis. Bahkan gadis kecil itu sudah menguasai perkalian sederhana, di mana materi perkalian adalah materi anak kelas tiga SD. Karena kepandaiannya itulah, seorang donatur utama panti asuhan itu menjadi tertarik dan mengangkat Araka sebagai anak pada usia tujuh tahun.
“Lagi nostalgia, Bu?” ledek Amel seraya memberikan secangkir kopi dengan logo duyung dua ekor berwarna hijau padaku. Aku tersenyum simpul menanggapi sahabat sekaligus sekretaris pribadiku ini. Wajar Amel menebak begitu. Sebab sejak tadi pandanganku terlalu fokus pada sebuah foto lama di ponsel. Foto yang kufoto ulang dari ruang tamu panti. Foto ketika aku diangkat anak oleh ayah angkatku 23 tahun yang lalu.
“Ya, begitulah. Lu gak buruan balik? Katanya anak lu sakit?” tanyaku seraya menyeruput kopi panas ini. Amel sudah menikah enam tahun yang lalu, kini anaknya sudah berusia lima tahun. Sementara diriku ini masih betah menjomlo hingga usiaku berkepala tiga.
“Ada ayahnya di rumah. Hari ini dia yang cuti. Lagian juga dia kan kemarin sudah full kerja. Gantian dia yang di rumah. Alvaro tadi pagi bilang kangen ayahnya, jadi ya gak bakal rewel walaupun nggak ada aku.” Amel juga menyeruput kopinya. Pandangannya menerawang ke depan, menatap lalu-lalang orang di taman kota ini. Rasanya seperti mimpi melihat teman senasibku yang kini menjadi orang sukses. Menurut cerita dari Kak Mita, ia ditemukan dua hari lebih dulu sebelum aku ditemukan. Bedanya, ibu kandungnya datang langsung ke panti dan menitipkan Amel dengan alasan tidak mempunyai biaya. Sementara diriku ditinggalkan begitu saja di depan pintu. Meskipun sedikit ragu, sahabatku ini akhirnya mengutarakan apa yang ia pikirkan sejak tadi. Tertebak dari kerut keningnya ketika ia berpikir. “Ra, lu nggak ada keinginan buat menikah? Lu udah kepala tiga. Gua khawatir nanti lu nggak kuat ngelahirinnya.”
“Entahlah. Gua nggak ada keinginan buat itu. Setiap kali gua dapet calon juga selalu ada aja kejadiannya. Yang diselingkuhin lah, yang diputusin gitu aja, yang meninggal, yang nggak direstui orang tua juga ada. Paket komplit lah,” jawabku seraya terkekeh geli. Aku menertawakan nasibku. Rasanya seperti di dalam novel saja. Di mana setelah berkali-kali gagal menikah, datang seorang pangeran berkuda putih yang menyelamatkanku dari lumpur kejomloan.
Air muka Amel tiba-tiba berubah. Entah kenapa, rasanya bulu kudukku mendadak berdiri begitu saja saat melihat Amel menatapku dengan ekspresi aneh itu. Aku pun menjauhkan badanku saat ia mencondongkannya mendekatiku sambil bertanya, “Lu mikir apa, Mel? Firasat gua nggak enak, nih.”
“Araka, ikut gua, yuk!” ajaknya tiba-tiba. Bulu kudukku semakin berdiri sebelum menanyakannya, “Mau kemana?”
“Ke tempat rukyah. Gua rasa lu lagi ditempeli makhluk halus. Makanya lu susah dapet jodoh.” Aku mendadak membeku. Bagaimana aku bisa melupakan betapa absurd pola pikirnya itu.
“Udah, nggak usah ngaco. Gua nggak diikutin atau ditempelin apa pun. Udah, lah, gua mau pulang. Lu juga buruan pulang. Udah mau maghrib. Makasih udah mau temenin gua ngilangin stres sore ini. Kasian tuh Alvaro nunggu lu di rumah.” Aku bangkit dari tempat dudukku. Lalu berjalan ke arah tempat sampah yang tak jauh dari kursi taman untuk membuang gelas sterofoam bekas kopi tadi. Amel mengikuti tindakanku.
“Mau gua anterin? Perasaan gua agak nggak enak ini,” pintanya tiba-tiba. Kuakui, Amel memiliki kepekaan yang luar biasa untuk firasat. Tapi firasatku jauh lebih buruk kalau Amel ikut pulang denganku.
“Gak usah aneh-aneh, deh. Apartemen gua sama rumah lu lawan arah. Alvaro udah nunggu dari tadi. Gua pulang aja sendiri. Tenang aja, nggak perlu khawatir. Firasat gua kali ini lebih kuat dari lu. Dan gua ngerasa gua nggak bakal kenapa-kenapa. Oke?” Aku mencoba meyakinkannya. Meskipun tidak setuju, tapi ibu beranak satu itu menuruti apa mauku. Kami berpisah jalan setelahnya. Meskipun kemudian, aku memanggil Amel kembali ketika jarak ini baru beberapa langkah. Kuhampiri ia dengan sedikit berlari dan kupeluk sahabatku itu. Air mataku tiba-tiba menetes begitu saja. Meskipun segera kuhapus dengan cepat.
“Kenapa? Lu sakit? Ngeyel, sih. Sini gua anterin.” Aku menolak. Kupegang tanganya setelah mengurai pelukan singkat tadi. “Tolong jaga Ibu, Bu Tari, sama Kak Mita, ya? Juga tolong jagain ayah, ibu, sama Chika. Yah, walaupun tuh anak radak nyebelin, tapi gua berhutang banyak sama dia dan keluarganya.” Tanpa menunggu reaksi Amel, aku segera berbalik dan meninggalkannya.
“Woy, Raka! Jelasin apa maksudnya? Jangan berpikiran buat aneh-aneh, gua nggak mau jagain mereka! Karena lu yang harus jagain mereka! Arakata!” Maaf, Mel. Meskipun kamu berteriak, tapi aku tetap mempercepat lajuku. Aku sendiri bingung mengapa bibirku tiba-tiba mengucapkan kata itu. Yang pasti, sesuatu yang besar pasti akan terjadi.
Tanpa menunggu lama, aku memasuki mobil yang kuparkir di parkiran taman. Baru sepuluh menit aku berkendara, tiba-tiba jantungku terasa begitu sakit. Kepalaku serasa berputar. Di saat itulah aku tak menyadari sebuah truck melaju di depanku, karena sepertinya aku yang berjalan melawan arus. Sebuah hantaman menabrakku telak. Menghentikan kerja jantungku dan memecahkan tempurung kepalaku. Saat itu aku merasa kilas balik perjalanan hidupku sedang diputar ulang. Ah, aku belum sempat membahagiakan siapa pun ketika aku harus berpamitan pada dunia.
Selamat tinggal, semua.