Ujian dimulai hari ini. Sebelumnya, aku sudah mendiskusikan ini dengan Bi Heera dan Nara kalau aku harus mengambil profesi Ksatria. Mengingat aku yang belum bisa mengendalikan manaku dengan benar, menggunakan sihir itu terasa nyaris mustahil dilakukan saat ini. Tubuhku juga tidak terlalu mengingat mana milikku untuk digunakan. Lagipula, tanda pengenalku mencatat sebagai seorang ksatria.
Paman Hayam membantu kami dengan memberikan tur singkat di ibukota dalam tiga hari ini, juga memberi tahu kami garis besar dari ujian yang akan diujikan pada ujian mendatang. Saat aku bertanya ia tahu darimana, ia hanya menjawab bahwa dulu pernah bekerja sebagai aparat pemerintahan.
“Udah siap, Rak?” Nara merapikan baju kemeja putih yang dilapisi rompi berwarna cokelat tanpa lengan. Celana dasar berwarna hitam yang jejak setrikaan tercetak jelas tampak serasi dipadukan dengan sepatu pantofel hitamnya. Aku mengangguk sambil menatap penampilan Nara dari atas hingga bawah tanpa celah. Remaja itu terlihat risih karena tatapanku. “Kenapa? Aneh, ya?” tanyanya merasa tak nyaman. Aku tertawa terbahak-bahak.
“Nggak, nggak. Cuma nggak biasa aja. Biasanya kamu pake kaus sama celana panjang biasa. Tapi, sekarang kamu pakai pakaian resmi kaya gini rasanya lain gitu. Itu setelan yang kamu beli bareng Wira dan Paman Hayam kemarin, 'kan?” Nara mengangguk sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan. “Itu baju yang kamu cari sama Bibi Sartika?” tanyanya balik. Bi Sartika adalah istri dari Paman Dwipangga. Pasutri yang sudah memasuki usia setengah abad itu memiliki seorang putra yang kini berada di desa lain bersama istrinya. Hanya tinggal Bi Sartika dan Paman Dwipangga yang mengelola penginapan ini dibantu beberapa pekerjanya.
“Yaps. Kemarin aku belanja keperluan perempuan bareng Bibi Sartika. Gimana, bagus, gak?” Aku mematut diriku di depan cermin yang berada di kamar Nara. Memang aku menghampirinya selagi menunggu Wira yang sedang mandi. Gaun berwarna biru toska dengan sebuah rangkaian bunga di bagian bahu hingga siku memperlihatkan kesan sederhana. Padahal ujian untuk Ksatria itu memakai fisik dan pertarungan, tapi, pakaian yang harus dipakai untuk awal acara adalah gaun untuk perempuan dan pakaian resmi untuk laki-laki. Setelah upacara, sebenarnya dibebaskan mau berganti pakaian atau tidak. Asalkan peserta ujian memakai pakaian formal untuk permulaan.
Bi Sartika memilihkan gaun berwarna biru toska karena sesuai dengan warna rambut dan netraku. Untuk bentuk wajah dan tubuh, jujur saja tidak ada perbedaan sama sekali dengan bentuk fisikku di kehidupanku sebelumnya, hidung yang tidak terlalu mancung, lesung pipi yang cukup dalam di pipi kanan dengan helaian alis yang lumayan tebal. Bulu mataku juga tidak bisa dibilang lentik, tapi lumayan tebal. Bahkan seolah aku ini orang yang sama dengan diriku di bumi dulu, hanya berbeda warna rambut dan netra saja.
“Rasanya aneh ngeliat kamu yang biasanya pakai celana dan kaus tiba-tiba pakai gaun. Rambut panjang yang biasanya cuma kamu kucir ekor kuda, sekarang malah digelung dan dihias pakai bunga-bunga. Aku ngerasanya seolah kamu bukan Arakata.” Benar apa yang dikatakan Nara. Penampilanku jauh berbeda dengan penampilan sehari-hariku. Selain gaun dengan motif bunga-bunga berwarna biru toska ini, flatshoes berwarna biru muda juga menambah kesan sejuk membalut kakiku. Rambutku digelung atas dan dihiasi dengan rangkaian bunga dan menyisakan sejumput rambut yang menjuntai di samping telinga memberikan kesan feminim yang biasanya tidak pernah ada dalam diriku. Kuakui, aku merasa benar-benar berbeda dengan keseharianku.
Wira datang dengan rambut yang agak basah. Ia berjalan mendekatiku ke arah cermin tanpa menoleh ke arahku sama sekali. Tangannya meraih sisir yang berada di meja kecil dekat cermin berdiri. Aku yang paham bahwa Wira membutuhkan tempat untuk merapikan penampilannya akhirnya bergeser agak jauh. Remaja itu menyisir rambutnya sambil melirik penampilan Nara dari pantulan cermin. “Jasmu ke mana?” tanyanya kemudian. Dari tatapannya, aku merasa kalau Wira terlalu fokus pada sesuatu. Nara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Pakai kaya gini aja udah gerah, masa mau pake jas juga?” Nara tersenyum masam. Wira sendiri terlihat elegan dengan kemeja biru muda dan jas berwarna dongker dengan dasi berwarna senada. Rambutnya juga sudah disisir rapi dan terlihat seperti orang kantoran menurutku.
“Jangan banyak protes! Ambil jasmu dan segera pakai!” Wira seolah baru sadar bahwa ada aku di dalam ruangan ini terkesiap saat tatapan kami beradu. Sepertinya benar kalau remaja itu terlalu serius saat masuk ke dalam ruangan ini sampai tidak memperhatikanku yang berdiri di depan cermin. Atau jangan-jangan dia tidak menyangka kalau gadis di hadapannya ini adalah aku?
“Kamu Arakata?” tanyanya dengan mata masih menatapku.
“Ya kamu pikir siapa?” tanyaku agak sewot.
“Oh, memang Arakata.” Hah? Apa maksudnya? Aku cengo saat itu juga.
“Oh doang? Kamu nggak terpesona gitu?” tanyaku dengan nada sok pede.
“Dikit. Tapi sebentar doang.” Fix, rasanya inginku melelangnya!
“Sudah, jangan banyak omong lagi. Udah jam berapa sekarang ini? Ayo buruan selesaiin beres-beresnya. Buat Nara, pakai jasmu atau aku pakaiin saat ini juga?” Nadanya mengatakan bahwa ancaman itu bukanlah ancaman kosong. Nara yang masih menenteng jas, dengan berat hati memakai jasnya sambil bergumam. Entahlah apa yang dikatakannya. Tapi aku yakin, perkataan itu tak jauh-jauh dari kata gerah dan panas.
Kami bertiga diantar Paman Arya ke aula tempat ujian diselenggarakan. Pendaftaran telah dilakukan sehari sebelum tes, sehingga kami bisa langsung mengikuti serangkaian acaranya. Omong-omong, aku membawa baju ganti agar ujian nanti bisa leluasa bertarung. Memakai gaun adalah siksaan dunia untukku saat ini. Kesampingkan saja diriku di dunia yang lalu, karena rasanya selain raga yang berbeda, kepribadian dan hobi juga tetap ada perbedaan. Anehnya walaupun beda, aku merasa semuanya familiar, seolah dua raga dalam satu jiwa.
Setibanya di aula, aku terkesima dengan bangunan yang berdiri megah itu. Bentuknya mirip sebuah pendopo tapi ukurannya sangat luas. Cukup untuk menampung ribuan orang dalam barisan. Menurut yang dikatakan Paman Hayam, pendopo ini hanya digunakan untuk upacara saja. Penilaiannya berada di tempat lain. Selain digunakan untuk upacara, pendopo yang berada tak jauh dari istana ini juga kerap kali digunakan sebagai tempat pertemuan atau acara-acara penting lainnya. Meskipun di luar wilayah istana, tapi pendopo ini juga dikelilingi pagar tinggi. Gunanya untuk mencegah adanya orang yang mengganggu jalannya acara karena raja dan petinggi lain juga sering ikut andil dalam acara. Kami semua dikumpulkan di pendopo dalam barisan sesuai profesi. Aku dan Nara berada di barisan Ksatria, sementara Wira berada di barisan Penyihir.
“Gila, isinya kebanyakan orang elit, ya?” bisikku pada Nara.
“Darimana kamu nebak kaya gitu?” tanyanya balik ikut berbisik.
“Dari postur mereka, pakaian, bahkan muka mereka seolah kaya mengumumkan kalo mereka tuh keturunan bangsawan …” Aku menyisir sekitar sembari menilai satu persatu. “Eh, tapi gak sedikit juga, sih, yang rakyat jelata kaya kita,” sambungku mengakhiri pindaian seluruh peserta. Diam-diam begini aku sangat pandai menganalisis. Itulah kenapa dulu di bumi bisnis yang kukembangkan terus berhasil.
“Ya, Paman Hayam ‘kan sudah bilang, sebagian besar peserta ujian ini adalah keturunan ningrat. Karena dengan diterimanya sebagai pasukan Laskar, maka banyak keuntungan baik dari segi koneksi maupun fasilitas yang didapat.” Nara menjawabnya dengan santai.
“Yah, semoga nggak ada panitia yang korup.” Aku mengakhiri pembicaraan ini. Alasannya adalah karena seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahunan dengan pakaian kebesaran ala raja di film anima laga sudah menaiki podium. Aku merasa mendadak bernostalgia dengan sebuah film tahun 90-an yang terkadang masih diputar ulang tentang Mak Lampir dengan suara tawa khasnya.
“Sugeng Enjing, semua. Terima kasih sudah berpartisipasi dalam upacara pembukaan untuk seleksi anggota pasukan Laskar. Saya selaku pemimpin negeri ini, sekaligus ketua pelaksana ujian masuk pasukan Laskar berharap semoga diberi kelancaran dalam pelaksanaan serangkaian ujian yang ada. Untuk kalian yang terpilih sebagai anggota Laskar, tanggung jawab kalian itu besar. Semoga kalian mampu mengembannya. Untuk kalian yang gagal dalam ujian masuk tahun ini, saya berharap kalian berhasil di ujian masuk tahun depan. Karena saya tidak ingin memperpanjang kata sambutan, maka saya akhiri sampai sini saja. Lebih jelasnya akan dijelaskan pembina kalian saat ujian akan di mulai. Untuk itu, ujian masuk penerimaan anggota pasukan Laskar resmi dibuka.”
Riuh tepuk tangan mengudara begitu saja. Wibawa yang besar, karisma yang kuat, membuatnya seolah memang dilahirkan sebagai raja. Menurut sejarah, sebenarnya beliau bukanlah kandidat pewaris tahta. Beliau hanyalah anak dari pelayan yang memiliki skandal dengan sang raja sebelumnya. Alasan kenapa beliau menjadi raja karena keturunan asli raja, sang pangeran mahkota diusir dengan alasan yang dirahasiakan. Tapi, kabar burung mengatakan kalau pangeran itu diusir karena diduga membantu komplotan pemberontak untuk menggulingkan raja dari tahtanya. Tapi, sebagian lain mengatakan kalau pangeran mahkota diusir karena meracuni sang Raja. Pangeran mahkota memang diusir setelah kematian sang Raja. Namanya saja rumor, tentu ada banyak versi dari banyak sumber. Tapi di mana pun tempatnya, sepertinya perebutan tahta selalu menjadi konflik utama dalam kehidupan kerajaan. Padahal kupikir menjadi pemimpin itu sulit. Tapi entah mengapa banyak yang tergila-gila akan tahta.
Segala macam sambutan telah selesai dilakukan. Sang Maharaja Yosadana Sri Rajasanagara, nama dan gelar raja saat ini, sudah kembali menuju istananya, sementara panitia ujian lain juga sudah kembali ke tempat mereka akan melakukan ujian. Peserta diperbolehkan bubar barisan dengan lima belas menit waktu istirahat. Aku dan Nara memilih untuk ganti baju. Awalnya kami hendak mengganti pakaian kami dengan pakaian keseharian kami, kaus dan celana biasa. Tapi, Bi Sartika melarangnya dan membantu mencarikan pakaian kami yang baru. Karena kelasku sebagai petarung atau Ksatria, maka beliau mencarikan setelan yang nyaman untukku bergerak. Sebuah celana kulit yang sedikit ketat ditambah rok pendek setengah paha dan aksesoris ikat pinggang dengan kantung kain membalut bagian bawah. Untuk bagian atas, Bi Sartika memilihkan kemeja biru muda ketat dengan jaket kulit setengah badan dan berlengan panjang berwarna dongker. Lalu, sepatu boot kain bertali berwarna hitam setinggi setengah betis menjadi pilihan untuk alas kaki. Aku juga turut menggendong tempat anak panah dan juga busurku, sementara pedang dengan gagang berwarna biru yang baru kubeli di pasar kemarin kugantungkan di pinggang sebelah kanan. Rambut biru toska kukuncir dengan model ponytail. Bi Sartika juga membawakan sepasang sarung tangan setengah jari yang nyaman untuk dikenakan. Aku mengganti pakaianku di salah satu ruang ganti yang memang khusus disediakan untuk peserta ujian. Sementara gaun yang kupakai tadi kutitipkan di dalam tas yang dibawa Nara dan sudah diberikan sihir ruang Wira agar tidak berat, begitupun dengan setelan jas milik Nara.
“Udah siap, Nar?” tanyaku pada Nara yang menggenggam pedangnya dengan posisinya mengatur napas. Wira dan kami kembali berpisah setelah bertemu pada saat istirahat tadi sebelum akhirnya kami kembali berpisah.
“Udah. Kamu sendiri?”
“Aku selalu siap.” Aku mengedipkan mata ke arahnya sambil tertawa. Ketegangan yang jelas ia rasakan tadi sedikit mengendur.
“Kita beda subkelas, kan?” tanyanya kemudian.
“Nggak juga. Kan aku termasuk dua tipe petarung. Jarak dekat dan jarak jauh.”
“Aku cuma bisa jarak dekat. Itupun senjata yang kukuasai cuma pedang dan pisau. Kadang aku iri sama kamu yang serba bisa.” Remaja itu kembali murung. Aku menyentil dahinya dengan agak keras.
“Walaupun gitu, aku nggak pernah menang kalo tanding jarak dekat sama kamu. Jadi nggak usah iri, oke? Ayo, ikut baris.” Aku menarik tangan Wira ke arah barisan kelas petarung jarak dekat. Seorang laki-laki sebagai pemandu dengan kumis dan jenggot yang tebal sudah berdiri berkacak pinggang sembari menanti semua anggotanya kumpul.