Seluruh peserta, dimulai dari penyihir sampai ksatria berkumpul di lapangan. Matahari sudah condong ke barat dengan bayangannya yang panjang. Badanku terasa lengket oleh keringat mendukung rasa lelah yang menyerang ototku, tapi rasa penasaranku pada hasil keputusannya membuatku merasa tidak keberatan. Aku berdiri di tengah-tengah Nara dan Wira, karena untuk pengumuman ini kami dibebaskan antara penyihir atau ksatria untuk berbaur.
“Aku capek banget,” keluhku sembari menyandarkan kepalaku ke lengan Nara. Berhubung tinggiku hanyalah sebahu Nara, maka kepalaku dengan nyaman menempel di lengan atasnya. Sementara itu, bayangan pepohonan menutupi sinar matahari yang terik.
“Sabar, sebentar lagi selesai.” Nara menepuk kepalaku beberapa kali dengan lembut. Wira menyodorkan air minum ke arahku dan aku menerimanya.
“Saat yang ditunggu akhirnya tiba. Kami akan memanggil nama-nama peserta yang lolos tes masuk pasukan Laskar. Untuk yang namanya dipanggil, harap maju ke depan. Untuk tambahan informasi, dari 750 peserta yang mendaftar, hanya lima puluh teratas yang dipilih sebagai anggota pasukan Laskar. Jadi, jangan terlalu berharap agar tidak terlalu kecewa. Nama kalian akan kami sebut dari ranking terendah.” Lima puluh dari 750 itu bukan angka yang besar. Aku melirik ke sekitar di mana atmosfernya membuat semuanya dalam keadaan tegang. Akan tetapi, seorang laki-laki menarik perhatianku karena hanya dia yang terlihat sangat tenang. Seolah ia sangat yakin bahwa dirinya akan masuk menjadi anggota pasukan Laskar. Mungkin karena ia merasa diperhatikan, laki-laki yang berbaris sebaris di depanku jarak tiga orang ke arah kiri itu menoleh ke arahku lalu tersenyum. Aku juga tersenyum dengan sedikit menganggukkan kepalaku dengan posisi masih bersandar pada Nara. Aku jelas kenal dia. Dia adalah orang yang menjadi lawan tandingku dalam berpedang, Chandra Sena. Wira berdiri di sebelahku tepat di antara aku dan Chandra hanya memperhatikan interaksi kami dalam diam.
“ ..., Chandra Sena, Wira Candrakumara, Rajendra Narasimha, dan yang pertama adalah Arakata Ratnaduhika Paramesti. Untuk seluruh peserta yang lolos diharapkan segera maju ke depan. Untuk yang belum lolos, kalian boleh meninggalkan lapangan ini. Terima kasih atas partisipasi kalian. Kalau kalian belum menyerah, semoga tahun depan kalianlah yang berdiri di sini. Sugeng sonten semuanya.”
Lima puluh orang yang namanya disebut berbondong-bondong maju ke depan, sementara sisanya dengan raut wajah kecewa berbalik untuk pulang. Bahkan tak sedikit ada yang terisak karena gagal lagi.
“Mulai hari ini kalian adalah anggota pasukan Laskar yang memiliki kewajiban untuk melindungi rakyat dan negeri Swarnanusa. Kedamaian yang kalian rasakan selama ini tak lain karena pengorbanan pasukan Laskar pendahulu kalian. Kalian adalah orang terpilih di antara yang lain, yang artinya tanggung jawab kalian bukanlah omong kosong belaka. Semoga kalian selalu mengingat sumpah pasukan Laskar yang seharusnya sudah kalian hafal sebelum mendaftar dan mengikuti ujian. Untuk perizinan dan lain-lain, bisa kalian urus di kantor administrasi setelah ini dengan membawa surat pengantar yang akan saya bagikan ini. Tidak ada training atau apa pun. Pencapaian kalian diakumulasikan dari seberapa banyak misi yang sudah kalian lakukan. Kalian bebas membentuk kelompok atau bekerja perseorangan. Selama kalian menyelesaikannya dengan baik, semuanya mendapat pencapaian yang sama terlepas dari siapa saja yang berkontribusi secara penuh dalam misi. Meskipun begitu, bukan berarti kalian bisa bermalas-malasan, karena kalian tidak akan tahu bahaya apa yang akan ada di depan kalian dan apa perasaan teman kalian karena kesewenang-wenangan kalian. Untuk pemilihan senjata seumur hidup bagi ksatria sebagai tempat tanda pengenal kalian, bisa kalian ajukan pada saat melakukan perizinan. Pastikan kalian sudah memilih dengan benar, karena sesuai namanya, senjata seumur hidup tidak akan pernah bisa diganti sampai kalian mati. Maka dari itu ketika meleburkan tanda pengenal ke senjata kalian, kami sudah memberi sihir penguat untuk menjaga agar senjata kalian tahan lama dan tidak akan rusak kecuali kalian mati. Sekarang, kalian bisa menuju kantor administrasi. Untuk urutan antrean, bisa dimulai dari peringkat pertama, Arakata Ratnaduhika Paramesti, diikuti peringkat kedua dan ketiga. Antrean seterusnya berurutan dari peringkat kalian. Setelah itu, kalian bebas memilih misi. Sekarang, bubar barisan, jalan!” Seluruh calon anggota pasukan Laskar yang berdiri di lapangan segera berbalik arah membubarkan barisan. Aku menarik tangan Nara dan menuju ruang administrasi, sementara Wira mengekor di belakang kami. Ada tiga petugas yang duduk di ruang administrasi. Aku duduk di depan salah seorang petugas wanita cantik yang duduk di tengah. Wira duduk di kiriku, sementara Nara di kananku. Petugas itu mengeluarkan setumpuk kertas.
“Atas nama Arakata Ratnaduhika Paramesti?” tanyanya dengan pandangan membaca sebaris nama di atas kertas.
“Iya, saya sendiri.”
Ia mengambil sebuah kertas yang berisi formulir, menyuruhku untuk mengisinya. Aku mengisikan berbagai pertanyaan yang ada.
“Bisa berikan senjata yang akan dijadikan sebagai senjata seumur hidup dan juga tanda pengenalnya?”
Aku melepaskan busur dari gendonganku dan juga tanda pengenal yang berada di saku lalu menyerahkan pada petugas itu. Selagi aku mengisi formulir, ia meletakkan tanda pengenalku di atas busur. Petugas itu memejamkan mata, mengalirkan mana melalui tangannya tepat di atas tanda pengenalku. Tanganku masih bergerak guna mengisi formulir, sekalipun mataku memperhatikan apa yang petugas itu lakukan. Tanda pengenal secara perlahan melebur seolah meleleh terkena panas, lalu melapisi gagang busur dan relief dari tanda pengenal yang tadinya samar terlihat perlahan hilang sama sekali. Selesainya formulirku dan peleburan tanda pengenal terjadi bersamaan. Petugas itu menyerahkan busurku kembali berbarengan dengan aku yang menyerahkan kertas formulir.
Saat kupegang, aku bisa sedikit merasakan jejak mana di dalamnya. Aku juga bisa merasakan kalau kini busurku jauh lebih kuat dari awalnya. Petugas wanita itu menyerahkan sebuah lencana berbentuk tameng persegi lima dengan angka 2 berwarna emas ke arahku.
“Ini lencana tanda kalau kau adalah anggota pasukan Laskar. Tingkatmu saat ini adalah kesatria tingkat kedua.. Jika pencapaianmu bagus, sepertinya akan mudah untukmu naik kelas menjadi tingkat pertama. Kalau sampai kamu menghilangkan lencana ini, maka kamu membutuhkan lima puluh kepeng emas untuk membuatnya lagi. Kamu paham, kan?” Aku mengangguk sambil menelan ludah. Lima puluh kepeng emas itu bukanlah nominal kecil. Sebagai contoh, sepuluh kepeng perunggu setara dengan satu kepeng perak. Sepuluh kepeng perak seraya dengan satu kepeng emas. Sementara untuk sekali makan dengan lauk daging dan sayuran, itu hanya menghabiskan sekitar tiga kepeng perunggu. Penginapan Randublatung saja hanya menghabiskan enam kepeng perunggu plus sarapan. Lima puluh kepeng emas berarti lima ribu kepeng perunggu. Itu artinya secara tidak langsung kami tidak boleh menghilangkannya kecuali kami kaya. Aku keluar dari kantor dengan memasang lencana di bajuku. Wira sudah menunggu di depan pintu, sementara Nara baru selesai mengisi formulir. Aku dan Wira sama-sama mencapai tingkat dua, sementara Nara berada di kelas Candra tingkat dua. Kami hanya kurang satu tingkat lagi menuju ke tingkat pertama. Sepertinya tidak mungkin untuk anggota pasukan Laskar yang baru selesai ujian masuk langsung ke tingkat pertama kecuali dia memang benar-benar hebat. Kira-kira kalau aku memberitahu bahwa aku memiliki dua tanda sekaligus, apa aku akan langsung ke tingkat nol yang mana hanya dicapai oleh beberapa orang?
“Langsung pulang?” tanyaku.
“Langsung aja. Mau ke mana lagi emang? Sebentar lagi gelap, badanku udah lengket semua.” Nara menjawab. Wira mengangguk sekali tanda setuju.
“Oke, ayo pulang. Jalan kaki atau naik kereta kuda?”
“Jalan aja. Kita kan miskin nggak punya uang. Emang kamu ada duit buat ongkos kereta kudanya?” celetuk Wira dengan pedas seperti biasa.
“Nggak usah diperjelas. Kita memang masih miskin. Udah, ayo pulang. Kalo beruntung mungkin bakal ada yang mau nebengin.” Aku sebenarnya hanya asal ucap. Tapi, saat kami berjalan sekitar lima belas menit, sebuah kereta kuda berhenti di samping kami begitu saja. Sebuah kepala nongol dari pintu kereta.
“Pulangnya ke arah mana?” tanyanya kemudian. Hari sudah menggelap. Tapi, aku bisa tahu dengan pasti siapa dia lewat penerangan dari kereta kuda. Dia adalah Chandra Sena.
“Arah sana,” jawabku simple.
“Ambigu. Aku ganti pertanyaannya, di mana rumahmu?”
“Rumahku di Sekala Bekhak. Mau anterin?” Aku sengaja menjawab dengan sedikit menyebalkan.
“Haduh. Maksud aku, kamu bermalam di mana saat ini? Kalau searah, ayo kuantar.” Anehnya, laki-laki itu masih sabar meladeniku.
“Penginapan Randublatung,” celetuk Wira tiba-tiba. Sepertinya dia sudah lelah melihatku memutar-mutar pertanyaan.
“Oh, kita searah. Aku di penginapan Kunduran. Nggak jauh dari penginapan Randublatung. Ayo, kalian bertiga bisa ikut aku. Hari sudah gelap.”
Wira langsung masuk tanpa ba-bi-bu. Sementara aku dan Nara berpandang-pandangan sebentar sebelum kemudian kami masuk ke dalam. Paman Hayam memang sudah berpesan tadi, katanya, ia tidak bisa menjemput kami. Begitu pun paman Arya dan paman Dwipangga. Alasannya, karena malam ini ada beberapa tamu penting yang tidak bisa ditinggal. Sementara paman Hayam beralasan kalau ia memiliki beberapa urusan.
“Kalian berteman sejak kecil?” tanya Chandra membuka percakapan. Suara jangkrik dan tonggaret menggema saling mengisi dan menciptakan perasaan nyaman. Gemerisik angin juga ikut meramaikan orkestra alam.
“Cuma aku sama Nara aja. Kalo Wira, kami gak sengaja bertemu di jalan.”
“Oalah. Tapi kalian kelihatan akur banget. Aku kira kalian bertiga udah bersama dari kecil.”
“Nggak mungkin aku betah berteman dengan dua manusia otak otot itu. Kami hanya kebetulan satu kepentingan, jadi aku mengikuti mereka,” celetuk Wira begitu saja. Nara sudah mengerutkan alisnya kesal. Aku buru-buru menyela sebelum semuanya tambah panjang. “Omong-omong, otak otot ini yang menyelamatkanmu dari siluman tingkat rendah.”
Wira berdecih pelan. Chandra masih asyik dengan percakapan kami, sementara Nara menahan tawanya puas. Ya, sesekali menanggapi omongan garamnya sepertinya tidak masalah. Ah, aku rindu sebuah karakter di anime favoritku ketika masih hidup saat melihat Wira.
***