Berbeda dengan tingkatan lainnya, Ksatria tingkat pertama dan Penyihir tingkat srengenge tidak menjalankan misi yang dipajang di papan pengumuman. Misi mereka diajukan langsung oleh petugas di dalam kantor dan mereka bisa memilih garis besar tugas itu. Seperti yang kami lakukan saat ini. Kami sedang duduk di depan meja petugas yang membuka buku misi rank-S untuk tingkat tinggi.
“Kalian mau cari misi yang ke Negeri Siluman? Kalian ada urusan apa di sana?” tanya petugas itu dengan pandangan menyelidik. Wajar saja, misi keluar negeri seperti ini adalah misi yang sangat dihindari. Alasannya, Negeri Siluman tidak ramah untuk manusia karena banyaknya siluman-siluman tingkat tinggi yang membenci manusia. Beberapa kelompok siluman tingkat rendah memang sering datang ke Swarnanusa untuk mencari makanan. Tapi, biasanya mereka tidak berbahaya. Mereka juga tidak bisa sembarang masuk ke negeri ini, karena di sekeliling negeri ini diselimuti oleh mana pelindung yang sangat kuat, tapi bisa dilewati oleh siluman yang tidak berbahaya karena perjanjian mereka dengan leluhur mereka dulu. Manusia juga hanya bisa ke Negeri Siluman kalau ia sudah mengantongi izin dari petugas administrasi untuk melewati tabir itu.
“Mendiang ibu saya berkata kalau ayah saya terjebak di Negeri Siluman sesaat saya akan dilahirkan. Jadi, saya hanya ingin menemui beliau sekalipun kemungkinan beliau hidup itu sangat kecil. Jadi, saya harap dengan sangat agar bapak berkenan untuk memberikan izin saya menyelesaikan misi yang berada di luar negeri Swarnanusa ini.” Aku memulai untuk berimprovisasi. Ada yang bilang kalau kebohongan yang baik itu adalah kebohongan yang mengandung kebenaran.
“Kalian kan baru aja naik tingkat. Asal kalian tahu saja, nama kalian itu terkenal di kalangan petugas administrasi karena kalian adalah orang pertama yang menjadi tingkat teratas dalam waktu kurang dari satu tahun sejak kalian menjadi Laskar. Apa kalian sadar itu?”
Kami bertiga terdiam sebentar. Karena aku merasa perlu sedikit kuluruskan, aku akhirnya membuat sebuah pembelaan. “Bukannya kami bermaksud apa-apa, tapi alasan kami menjadi anggota Laskar adalah untuk pergi ke Negeri Siluman. Kami hanya ingin melakukannya secepat mungkin karena ada beberapa hal yang tidak bisa disuruh menunggu. Seandainya bukan karena itu, mungkin aku dan Nara tidak akan mendaftar menjadi anggota Laskar dan memilih untuk tetap di desa Sekala Bekhak dan tinggal dengan keluarga terakhir kami yang sudah tua.”
Petugas itu kemudian menatap Wira. Mungkin karena aku hanya me-notice nama Nara saja. Wira terlihat sedikit berpikir lalu membuka suaranya. “Kalau saya nggak ada alasan pasti. Tapi, mungkin saya bisa balas dendam pada siluman-siluman yang menghancurkan dan meluluh lantakkan desaku dan membunuh orang tuaku. Atau mungkin saya bisa menemui dalangnya yang membuat siluman yang seharusnya tidak ada di sana malah berkumpul di sana.”
“Maksudnya berkumpul di sana?” tanya petugas itu bingung.
“Desa Pasai adalah desa yang berada di perbatasan antara Swarnanusa dan Negeri Siluman. Seperti yang kita tahu, ada sebuah tempat kosong tanpa kepemilikan di perbatasan yang menjadi pusat mana hitam yang sangat pekat. Saking pekatnya, tak perlu waktu lama untuk siluman tingkat rendah menjadi liar karena terkontaminasi mana hitam. Tapi, suatu hari jalan mereka yang biasa mereka lalui untuk masuk ke Swarnanusa tiba-tiba tidak bisa dilewati. Karena mereka butuh untuk segera ke Swarnanusa, beberapa dari mereka melewati daerah itu dan berakhir dengan meluluh lantakkan desaku. Wajar, kan, kalau aku mau ikut?” jelas Wira tanpa ekspresi. Mungkin ia ingin segera selesai dengan pertanyaan-pertanyaan layaknya interogasi ini.
“Hah ... Kalian menang. Padahal, misi ini harusnya diberikan untuk Laskar yang sudah memiliki pengalaman minimal dua tahun menjadi tingkat pertama. Tapi, karena kalian adalah orang yang punya tujuan, maka aku akan izinkan kalian. Misinya, selidiki bagaimana bisa ada Gandarewa yang masuk ke dalam negeri ini. Selain itu, cari anomali pada siluman yang ada di sana. Lalu, untuk tugas utama kalian ...,” petugas itu mengeluarkan sebuah surat, lalu diberikan kepadaku. “Sebelum kalian berangkat, datang ke perpustakaan umum yang tak jauh dari sini, lalu berikan kertas ini pada petugasnya. Setelah petugas itu menyerahkan sebuah benda, bawa benda itu ke Negeri Siluman dan berikan benda itu ke raja siluman yang sekarang. Misi ini datang langsung dari raja. Jadi, saya harap kalian berhasil melakukannya.”
Pantas saja dia sangat ragu untuk menyerahkan misi ini pada amatiran seperti kami. Ternyata misi ini turun langsung dari Yang Mulia.
Stempel telah dibubuhkan. Lencana kami juga diberikan beberapa sihir agar bisa melewati tabir di perbatasan. Namun, sebelum kami berangkat, kami harus mengambil ‘barang’ yang akan diantar ke Negeri Siluman di perpustakaan. Setelah mengambil barang itu, kami juga berbelanja beberapa kebutuhan dasar kami dan kembali ke penginapan untuk berpamitan. Tak lupa kalau aku perlu mengirim surat untuk Bi Heera agar beliau tidak tambah khawatir. Lagi-lagi Bi Sartika memberikan banyak barang untuk kami bawa. Untung tadi aku menolak saat Nara meminta beli bahan makanan. Karena, saat ini bahan makanan sudah lebih dari cukup untuk dipakai sebulan penuh hanya dari Bi Sartika saja. Untuk uang saku, kebetulan uang kami sudah banyak. Uang sisa misi beberapa waktu lalu, hadiah misi pertama dan kedua yang masih belum dipakai, ditambah bonusnya menjadi sumber denting kepeng di saku kain yang kami bawa. Itulah kenapa kami menolak saat mereka menawari kamu untuk membawa uang mereka untuk ‘jajan’.
***
Lima belas hari sudah terlewat sejak keberangkatan kami. Karena jalannya berbeda dengan arah Desa Sekala Bekhak, akhirnya kami memutuskan untuk tidak mampir saat perjalanan ini, tapi mungkin akan singgah sebentar saat pulang.
Kami sudah tiba di perbatasan dan berhenti sejenak. Tidak terlihat berbeda dengan kondisi alam Swarnanusa. Saat ini, kami menggunakan ‘gerbang’ yang biasa dipakai siluman untuk berlalu-lalang yang ditandai dengan dua prasasti yang berdiri sejajar dengan jarak tiga meter. Aku sempat mendekatinya dan mencoba membaca tulisannya, tapi, sepertinya aku tidak bisa. Penulisan prasasti itu menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang hanya dipahami oleh orang-orang yang mendalami bahasa kuno. Mungkin, kalau bahasa Inggris aku bisa paham.
“Kalian udah siap? Kemungkinan di depan sana berisi kematian kita. Kalian siap?” tanyaku pada mereka berdua. Mereka mengangguk tanpa ragu sambil berkata, “Ya, aku sangat siap.” Sebagai kusir, Nara akhirnya menjalankan lagi keretanya setelah merasa mendapatkan kepercayaan diri dari temannya.
Tapi, mendadak aku yang meragu. Apakah aku akan bertemu ayahku di sana? Apakah aku akan diakui sebagai anaknya di sana? Apakah ayahku memang benar ada dan masih hidup? Aku hanya terdiam dengan menatap jalanan yang terus melaju. Sudah beberapa puluh meter perbatasan sudah terlewati. Kuda dipacu dengan santai karena kami sedang berada di daerah lawan. Wira yang sepertinya menangkap kegelisahanku, memegang tanganku dengan tujuan untuk menenangkanku.
“Kamu tenang aja, ya, Nar. Aku yakin ayahmu pasti ada di sana. Nggak mungkin Bi Heera dan ibumu berbohong, kan?” Berbeda dengan Wira yang menenangkanku dengan tindakan, Nara menenangkanku dengan kata-kata meskipun ia tidak menoleh ke belakang. Wira memang terlihat sedang tidak mood bersuara, tapi ia tetap memberiku dukungan. Mungkin, kalau saat ini Nara yang ada di sampingku, aku sudah memeluknya untuk mencari ketenangan. Kami sudah biasa berbagai perasaan sejak kecil, jadi, sudah biasa bagi kami saling berpelukan satu sama lain.
Tiba-tiba saja sesosok ular piton besar dengan badan separuh ke atas berbentuk manusia berdiri menghadang kami. Nara langsung menghentikan keretanya. Kami semua memilih untuk turun dan berusaha untuk menyelesaikannya tanpa perlu baku hantam.
“Sebelumnya mohon maaf dan permisi. Kami hanya ingin melewati jalan ini untuk tugas kami. Kami tidak bermaksud mengganggu atau menyakiti siapa pun. Jadi, tolong izinkan kami lewat.” Nara mencoba untuk pamit dengan siluman yang menatap kami dengan tajam itu. Bukannya menjawab langsung, siluman itu malah mengirimkan sinyal telepati ke kami bertiga.
“Apa kalian utusan?” tanyanya lewat telepati itu. Aku bisa merasakan gemanya di kepala, anehnya, dua orang sahabatku malah terjatuh seraya memegangi kepalanya seperti sangat kesakitan. Aku berpikir kalau ini efek telepati ini, jadi, aku memilih untuk mengamankan frekuensi mereka dengan menyambungkan frekuensinya dengan milikku. Dengan kata lain, aku memasukkan mereka dalam satu grup telepati ini. Mereka terlihat membaik walaupun masih lemas dan berbaring di tanah dengan keringat yang bercucuran.
“Iya. Kami utusan yang menginginkan kedamaian dan tidak bermaksud mengganggu siapa pun. Kami mendapatkan mandat untuk mengirimkan sebuah kotak ke pimpinan kalian. Apakah beliau ada?” Kini giliranku yang membujuknya agar mau melepaskan kami dan mengutarakan maksud kami yang sebenarnya.
“Lancang! Bagaimana bisa kamu berkata ingin bertemu dengan pemimpin kami semudah itu? Lagi pula, siapa kamu? Bagaimana bisa kamu tidak apa-apa saat terkena telepati milikku?” Siluman itu terlihat bingung. Antara marah dan bingung menjadi satu.
“Saya tidak bermaksud untuk merendahkan siapa pun. Kami mendapatkan tugas sebagai utusan untuk memberikan kotak itu ke pemimpin kalian. Anda tidak tahu, kan, seberapa pentingnya kotak ini? Bisa saja raja kalian sedang membutuhkannya. Kalau kita terlalu lama membuang waktu, kupikir akan buruk nantinya.”
Siluman setengah ular dan manusia itu akhirnya menyetujui apa yang kuutarakan. Aku yakin dia juga tidak ingin dihukum rajanya karena lalai. Aku menaikkan Wira dan Nara ke atas kereta, sementara aku memilih untuk menjadi kusir untuk menarik mereka.
Setelah beberapa jam berjalan, kami tiba di sebuah bangunan mewah berlapis emas dan perak yang sangat megah. Siluman itu terdiam dengan memandang seorang penjaga di gerbang. Lalu, penjaga gerbang itu membukakan pintunya tanpa banyak kata. Ketika kami masuk, siluman itu kembali ke asalnya meninggalkan kami yang kebingungan. Belum selesai kebingunganku, sebuah suara menyambut pendengaranku dan membuatku terkejut kaku.
“Selamat datang, Arakata Sayang. Aku sudah menunggumu dalam waktu yang lama.”