Wira memacu kudanya dengan frustrasi. Sesampainya ia di Lembah Hitam, ia langsung turun begitu saja dan mengikat kuda asal-asalan. Langkah kakinya menuju ke tempat di mana ia memakamkan kerangka tadi.
“Tolong ketemu. Tolong ketemu. Kumohon!” harap Wira dengan tangan yang terus menggali tanah. Ia bahkan tidak kepikiran untuk memakai sihirnya atau memakai kulit kayu yang kebetulan sedikit terkelupas dari pohon. Hingga akhirnya, tangannya menyentuh kepala kerangka itu.
“Akhirnya!” pekiknya senang. Dengan hati-hati, Wira mengeluarkan kerangka ular itu sampai sepenuhnya keluar dari tanah.
“Aku nggak tahu apa benar kamu itu pemilik bisa yang ada di tubuh Arakata sekarang. Dan aku juga nggak tahu apa tulangmu juga bisa jadi penawarnya, selain darahmu yang jelas udah mengering. Tapi, aku berharap semoga berhasil. Tolong, jadilah penawar untuk gadis itu. Di pundaknya sekarang ada tugas yang berat. Bahkan sekalipun tidak ada yang tahu itu apa, tapi ia sedang memanggul beban berat. Kalau dirinya harus pergi saat ini, siapa lagi yang akan menggantikannya?” rintih Wira seraya memeluk rangka itu. Ia segera mengambil kain untuk membungkus kerangkanya dan menaiki kuda untuk kembali ke istana. Matahari sudah setinggi pohon kelapa. Ia semakin dikejar dengan waktu. Di jalan, Wira mengonsumsi banyak sekali pil pemulih mana. Mungkin kalau itu obat kimia, remaja itu sudah over dosis sekarang.
Wira sampai di depan istana dengan terengah-engah. Ia langsung turun dan berlari lagi-lagi dengan meninggalkan kudanya yang kebingungan karena tiba-tiba ditinggal. Langkah kakinya langsung menuju ke kamar Arakata dengan terburu-buru.
“Gimana, Wir? Dapet obatnya?” tanya Nara yang melihatnya terburu-buru.
“Sudah. Tapi, aku sendiri nggak tahu ini bisa jadi penawarnya apa nggak. Kamu tahu sendiri jurnal itu tidak dilanjutkan karena penulisnya tiba-tiba hilang di Lembah Hitam,” jawab Wira lemah.
“Tapi kamu yakin ini bisa mengobati Arakata?” tanya Nara sedikit tak sabar.
“Entahlah. Aku juga nggak yakin,” jawab Wira tanpa tenaga.
“Apa maksudnya nggak yakin?” Nada suara Nara sedikit meninggi.
“Nggak yakin ya nggak yakin! Bisa diam nggak kamu?!” bentak Wira yang sudah sangat kesal. Nara yang juga kesal langsung membalas dengan bentakan. “Kamu pikir nyawanya Arakata itu mainan, ha?! Kalo kamu gagal gimana? Arakata bisa mati saat itu juga!”
“Terus aku harus apa?! Diam saja dan menunggu sampai dia meninggal?! Aku nggak sepasrah itu! Pada dasarnya racun yang ada di dalam tubuh Arakata itu mematikan dan tidak mungkin ada penawarnya! Aku hanya mencoba semaksimal mungkin untuk mencarikan penawar untuk dia! Bukan hanya kamu yang khawatir, aku juga khawatir! Jadi, diam saja dan duduk di sana sambil berdoa, semoga ini memang penawarnya!” sentak Wira. Ia sendiri sudah merasa mentok. Mendengar ocehan Nara membuatnya semakin kesal dan ingin mengamuk.
“SIAAL!!!” Nara meninju tembok karena ia merasa apa yang dikatakan oleh Wira itu benar. Ah, seandainya ada yang bisa ia lakukan, mungkin ia akan melakukannya meskipun bertaruh nyawa.
Wira mengambil cawan yang diisinya dengan air. Setelah itu, ia mengeluarkan bungkusan tulang itu dan mengambil tulang ekor dari ular derik tiga warna. Tidak ada alasan khusus, tapi, Wira ingat kalau tetangganya yang menyelidiki ular derik tiga warna itu pernah berkata bahwa ekor ular itu istimewa. Meskipun belum dilakukan penyelidikan lebih lanjut, fakta itu terpatri jelas di ingatan Wira karena menurutnya menarik.
Sepotong tulang ekor yang sudah masuk ke dalam air itu bergerak perlahan, seolah ekor cecak yang baru saja putus dari tubuhnya. Air yang berwarna jernih mendadak menjadi keruh layaknya s**u. Ia nyaris menyerah karena khawatir bukannya menjadi obat justru air itu menjadi racun yang membunuh gadis itu.
“Kenapa ragu? Kalau kita nggak mencoba, kita nggak pernah tahu hasilnya, kan?” Omkara tiba-tiba menyeletuk. Lelaki itu sudah berdiri di ambang pintu dan menatap Wira yang khawatir. Nara sendiri sudah pasrah dengan duduk lesehan di pojok kamar, menatap setiap gerak-gerik yang dilakukan Wira.
“Aku takut, Paman. Bagaimana kalau aku malah membunuh Arakata?” Kepercayaan diri yang Wira ucapkan pada Nara tadi mendadak hilang. Nara bangkit dari duduknya dan mengambil alih cawan yang dipegang Wira dengan gemetar.
“Paman mengizinkan ini terlepas dari risiko yang akan terjadi nantinya, kan?” tanya Nara tegas.
“Lakukan saja, selama itu menjadi usaha menyembuhkan Arakata. Sekalipun harus gagal, ini bukan kesalahan siapa pun, justru kalian sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya. Jadi, jangan ada yang menyesal atas apa pun yang terjadi,” jawab Omkara tegas. Di mata seorang ayah itu hanya ada tegar dan pasrah akan kondisi anaknya. Ia berjalan mendekati Arakata dan menggenggam tangan putrinya yang dingin.
“Baik, Paman ...,” Nara menoleh ke arah Wira yang masih gemetar. “mau aku, atau kamu aja yang kasih ini ke Arakata?”
“Kamu aja. Aku nggak sanggup,” jawab Wira yang jongkok karena tidak kuat lagi berdiri. Ia mendekap kedua tangannya yang berkeringat dingin.
“Aku mulai, Paman, Wira. Semoga ini memang obat untuk Arakata.” Perlahan, Nara menuangkan air yang ada di dalam cawan sedikit demi sedikit dengan posisi Omkara memegang tengkuk Arakata agar mulutnya terbuka. Awalnya, air itu keluar tanpa berhasil masuk ke dalam tubuh Arakata. Omkara menutup kedua lubang hidung Arakata dengan cara dipencet agar gadis itu bernapas dengan mulutnya. Akhirnya, air itu berhasil masuk ke dalam tubuh Arakata. Omkara meletakkan kembali kepala putrinya ke atas bantal, sementara Nara meletakkan cawan yang sudah kosong. Mereka hanya bisa berharap-harap cemas.
Tiba-tiba, tubuh Arakata bergetar hebat. Ia kejang-kejang sampai menggoyang ranjang tempatnya tidur. Ketiga laki-laki yang menanti Arakata di samping gadis itu panik dan ketakutan. Mereka ingin memegangi gadis itu, tapi, mereka bingung apa yang harus mereka lakukan. Tak seberapa lama, kejang-kejang gadis itu berhenti. Arakata lalu memuntahkan cairan berwarna hijau pekat yang berbau busuk dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Wira dengan sigap menggunakan sihir telekinesisnya untuk mengangkat cairan itu dan meletakkan di cawan tempat minumnya tadi. Cairan yang berdesis itu seolah dimurnikan oleh potongan ekor ular yang ada di dalam cawan.
Perlahan, warna tubuh Arakata dalam kembali cerah dengan suhu tubuhnya yang perlahan naik. Gadis itu seolah mendapat kembali kehidupannya meskipun matanya masih terpejam.
“Dhanu! Panggil tabib istana untuk memeriksa Arakata. Wira, kamu tetap di sini, temani dia dan tabib nanti. Kamu bisa langsung membunuh siapa saja kalau menurut kamu mengancam nyawa Arakata. Nara, kamu ikut aku. Sepertinya umpan yang kupasang sudah diambil ikan,” titah Maharaja Omkara dengan wibawanya. Nara dan Wira langsung mengikuti apa yang diperintahkan Maharaja itu. Seorang tabib dan Dhanu masuk ke dalam kamar Arakata, bebarengan dengan Nara dan Omkara yang keluar. Omkara memang sudah memasang umpan dari tadi. Ia sengaja membuka pintu Arakata lebar-lebar agar bisa dilihat dari luar. Benar saja dugaannya, ada seorang prajurit yang mengintip dari balik pilar yang kebetulan memiliki sudut pandangan lurus ke arah ranjang Arakata. Omkara sudah menandai pelakunya dengan sihir, jadi, mudah baginya untuk menangkap pelaku itu.