Mataku tergelitik oleh sinar matahari yang menusuk. Rumah di desa ini semuanya terbuat dari kayu, kecuali rumah pengungsian di ujung desa. Hanya rumah itu yang terbuat dari batu bata dan beratap genteng. Maka dari itu cahaya matahari dapat dengan leluasa menyusup dan membombardir mimpi untuk segera diganti dengan realita. Aku perlahan bangkit dari mimpi kosongku dan merasakan rasa sakit yang masih tersisa di tubuh. Otakku memutar ulang kejadian semalam. Aku meringis saat menggerakkan kakiku untuk turun dari dipan kayu beralas kasur kapuk yang sudah mengempis. “Aduh.” Aku mengaduh saat rasa sakit itu menyerang sekali lagi. Tak lama setelah aku mengeluarkan suara, sebuah langkah kaki terdengar mendekat dengan terburu-buru. Aku tahu ini langkah kaki Bi Heera. Benar saja. Tak lama dari itu, wanita paruh baya dengan tubuh agak tambun masuk dengan membawa nampan berisi mangkuk yang berasap dan segelas air. Wanita itu meletakkan nampan di atas meja dan berjalan mendekatiku.
“Jangan banyak gerak dulu. Tubuhmu masih terlalu lemah. Ada banyak luka dalam di tubuhmu. Setidaknya beristirahatlah dua sampai tiga hari.” Wanita itu membimbingku untuk kembali tidur di kasurku setelah sebelumnya meninggikan bantal agar aku dapat tidur di posisi bersandar setengah tertidur.
“Apa yang terjadi padaku, Bi?” tanyaku lebih seperti berbisik. Bi Heera mengambil mangkuk berisi bubur yang telah hangat untuk disuapkan perlahan. “Sebelumnya ibumu sudah memperingatkan ini kepada Bibi.” Sesuap bubur lolos melewati kerongkongan setelah sebelumnya bercampur air liur di dalam rongga mulut. Ini adalah bubur terenak kedua yang kumakan saat sakit setelah punya Bu Aida. Bukan perkara rasa, melainkan kehangatan dan cinta yang menjadi bumbu dasar utama di dalam bubur ini.
“Tadi Bibi bilang Ibuku? Bukannya kata Bibi aku ini adalah bayi yang ditemukan tergeletak begitu saja di depan pintu?” tanyaku bingung. “Maaf ... Bibi berbohong.” Akibat pengakuan mendadak ini, aku mematung begitu saja. Ingatan gadis ini mengatakan kalau Bi Heera pernah berkata bahwa ia ditemukan di depan pintu. Siapa sangka kalau wanita yang paling disayangi gadis ini –yang tak lain adalah diriku—tega mengatakan sebuah kebohongan besar.
“Lalu, di mana ibuku? Siapa dia? Apa Bibi mengenalnya?” Aku tak bisa membohongi perasaanku. Air mataku mengalir begitu saja mendengar kata ‘ibu’. Meskipun ini bukan tubuhku, apakah aku salah jika ibu tubuh ini kuanggap ibuku juga? Seumur kehidupanku, baik di bumi maupun dunia ini aku selalu menjadi seorang yatim piatu. Bi Heera hendak membuka mulutnya untuk menjawab, namun ditutup kembali untuk berpikir. Hingga ia menghela napasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengatakan apa yang ada di pikirannya. “Ibumu dan orang tua Nara dulu bersahabat dan satu kelompok. Mereka bertiga adalah laskar hebat yang sudah mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Tidak terikat dengan lembaga atau pasukan mana pun. Meskipun begitu, mereka bertiga memiliki banyak kenalan dari bermacam lembaga. Hebat, kan? Sejauh apa pun mereka mengembara, mereka selalu menyempatkan diri untuk nongkrong di rumah makan bibi. Dulu suami bibi masih hidup. Mereka bertiga dan suami bibi sudah seperti anak dan ayah jika sudah berbicara tentang siluman. Karena memang dulunya mereka semua adalah petualang …,” bibi menarik napasnya perlahan. Terdengar berat dan memilukan. “Nara, sini ikut bergabung. Tidak perlu menguping seperti itu.” Nara yang bersembunyi di balik dinding perlahan keluar dan mendekati mereka berdua. Remaja itu juga penasaran meskipun ia merasa tidak enak hati.
“Kamu dengar dari awal, kan?” tanya bibi. Nara mengangguk pelan. Bibi melanjutkan, “Bagus, berarti bibi tidak perlu mengulang dari awal. Intinya kalian tahu, kan, bagaimana dekatnya mereka?” Lagi-lagi aku dan Nara mengangguk. “Kalian tahu pepatah witing tresno jalaran saka kulina? Begitulah hasil akhirnya. Dua perempuan itu mencintai satu laki-laki yang sama. Geya Asmita, Nawasena Utama, dan terakhir Fyneen Charity Kishika. Tidak seperti kedua anggota kelompok lain, Fyna –nama panggilan Fyneen—adalah gadis kerturunan keraton. Dengan kata lain dia berdarah biru. Fyna dan Geya sama-sama mencintai Nawasena. Awalnya tidak ada yang keberatan akan ini karena mereka bisa bersaing secara sehat, namun akhirnya Fyna mengalah saat ia disuruh pulang untuk dijodohkan. Sayangnya, perjodohan itu batal saat calon mempelai pria tidak datang. Usut punya usut, ternyata kereta mereka diserang sekumpulan siluman. Karena itulah Fyna berencana untuk mengamankan jalur menuju keratonnya dengan memburu siluman yang sering menyerang orang yang lewat di sana. Di sanalah juga akhirnya ia bertemu dengan ayahmu, Arakata. Tidak ada yang tahu asal-usul laki-laki itu. Tapi Fyna bersikukuh untuk menikah dengannya. Bahkan ia rela membuang status kebangsawanannya demi bersama lelaki itu. Bibi sempat melihatnya saat ibumu memperkenalkan laki-laki itu pada kami. Menurut Bibi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan darinya. Hingga kemudian bibi mendengar Fyna kabur dari rumah bersama laki-laki itu. Berbulan-bulan tidak ada kabar. Hingga setahun kemudian, dia datang menemui bibi dan menyerahkan seorang bayi perempuan. Ibumu adalah seorang ksatria hebat yang namanya sudah melegenda. Sementara ayahmu, bibi kurang mengetahuinya. Saat menitipkanmu, ibumu sempat berpesan, ‘Saat umurnya menginjak lima belas tahun, lambang keduanya akan datang. Saat itu tiba, aku mohon bibi mau menggunakan sihir segel tingkat tinggi untuk menyegel mananya. Setelah itu, tolong pinta ia untuk bergabung ke dalam sebuah pasukan dan minta izin untuk menuju negeri siluman. Di sana, tunjukkan kalung yang kutitipkan ini. Nanti dia akan diantarkan ke tempat seorang pria. Dialah ayahnya. Biarkan dia yang membimbingnya untuk mengendalikan kekuatan sihir. Sebab, ketika kekuatannya sudah bangkit, tandanya pergerakan kehancuran semakin dekat.’ Setelah mengatakan itu, ibumu menghilang begitu saja. Orang tua Nara yang sebelumnya diberi pesan untuk merahasiakan asal usulmu akhirnya mengusulkan untuk mengatakan padamu bahwa kamu ditemukan tergeletak di depan pintu. Bibi tidak ada niatan untuk menutupi ini. Tapi ini adalah janji yang dibuat dengan orang tuamu semasa hidupnya. Maafkan bibi.” Bibi membungkuk merasa bersalah.
“Bibi tenang aja. Aku nggak apa-apa. Jadi setelah ini, tujuanku adalah mencari ayahku. Tapi sebelum itu …,” Aku memeluk Bi Heera, ”Terima kasih karena bibi mau merawatku selama ini. Aku nggak tahu gimana cara balas kebaikan bibi.” Nara di belakang ikut bergabung dalam pelukan ini. Bi Heera juga orang tua kedua baginya. Terutama setelah kedua orang tuanya meninggal.
“Nggak ada yang perlu mengucap terima kasih. Bibi juga senang bisa merawat dua anak pintar seperti kalian. Bibi sudah menganggap kalian seperti cucu bibi sendiri. Meskipun kalian bukan darah daging bibi, tapi bibi sungguh-sungguh mencintai kalian.” Bi Heera melepas pelukannya. Beliau menatapku dan Nara bergantian. Kemudian, beliau kembali berucap, “Jadi, gini, ya, rasanya melepas anak yang sudah dewasa itu. Arakata, kamu bisa memulai pengembaraanmu saat kamu sudah cukup sehat. Bibi sudah mempersiapkan segalanya sejak umurmu menginjak empat belas tahun. Untuk Nara, ini tugasmu sekaligus amanah terakhir dari orang tuamu. Kamu harus mengikuti ke mana Arakata pergi sekaligus menjaganya agar tidak tersesat. Bisa dibilang kamu dan Arakata sudah ditakdirkan untuk saling bersama. Jadi, bibi harap kamu bisa menjaga dan membimbing Arakata dengan baik.”
Hari ini kami habiskan untuk saling mengisi satu sama lain. Sebentar lagi, aku akan menemukan takdir sekaligus alasan keberadaanku di sini. Aku khawatir pemilik asli tubuh ini meninggal karena kehadiranku.