Beberapa jam sebelum pertemuan di Negeri Siluman dimulai.
Di Negeri Swarnanusa.
Tepat di ruang bawah tanah yang remang-remang, yang berisi simbol aneh di lantainya, ketiga orang yang menjaga simbol itu masih berdiri melingkar. Bhre Birawa, yang paling muda dari ketiganya berdiri dengan sedikit terhuyung-huyung. Tangannya diarahkan ke atas seraya merapalkan mantra Mlaku ing Peteng. Berdiri melingkar, di sebelahnya ada Mahanta Wirabumi yang merupakan orang yang sudah Bhre anggap seperti kakaknya sendiri. Mahanta juga menganggap Bhre seperti adiknya. Mungkin karena mereka merasa senasib. Ya, mereka berdua sama-sama seorang anak desa yang direkrut oleh ‘kakak’ untuk mempelajari sihir Mlaku ing Peteng yang sebelumnya ada beberapa anak yang sama-sama disuruh mempelajarinya. Tapi, mereka semua gagal menyempurnakan ilmu itu dan meninggal karena memang ilmu sihir itu bukanlah ilmu yang sepele. Bisa dibilang itu adalah ilmu terlarang yang dikecam penggunaannya. Perekrutan ini sendiri juga dilakukan diam-diam dan tersembunyi. Bhre saat itu masih berusia lima tahun. Entah bagaimana cara si ‘kakak’ itu memilih anak yang menjadi calon pewaris ilmu itu. Tapi yang pasti, kejadian perekrutan itu sudah terjadi dua puluh tahun yang lalu. Bisa dibilang selama puluhan tahun itu mereka terkurung di ruang pemujaan tanpa bisa melihat keluar dengan bebas. ‘Kakak’ yang merekrut mereka seperti memiliki ilmu awet muda. Buktinya, dua puluh tahun berlalu sama sekali tidak mengubah wajahnya. Bahkan, lelaki itu masih seperti seorang lelaki berusia dua puluh delapan tahunan.
“Kak, apakah kakak merasa kalau tekanan mana hitam ini semakin menguat? Kemarin kita sudah memberikan banyak persembahan. Tapi, kenapa seolah energi yang kita persembahkan malah ditolak begitu?” tanya Mahanta. Ia melirik Bhre yang nampaknya tidak kuat menahan gejolak mana hitam yang mengganas. Wajar saja, beberapa hari terakhir ini mereka memang bekerja lebih keras, terutama saat simbol di lantai itu memberikan sinyal bahwa pekerjaan mereka nyaris selesai.
“Tutup mulutmu dan terus bacakan mantranya!” sentak ‘kakak’ dengan nada emosi. Mahanta terpaksa melanjutkan rapalannya meskipun ia sangat tidak tega pada Bhre yang makin melemah. Membantah ’kakak’ adalah sebuah kebodohan.
Semakin lama, mana hitam yang keluar semakin banyak. Bahkan sampai menembus ke luar dan mempengaruhi sekitar. Laki-laki bertopeng separuh berambut cokelat yang kali ini tidak memakai topengnya, melainkan jubah kebesarannya itu tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruang bawah tanah.
“Ada apa ini? Kenapa ada sekumpulan mana hitam yang pekat di sini?” tanyanya dengan sedikit panik. ‘Kakak’ yang memejamkan mata saat merapalkan mantranya perlahan membuka matanya, menatap sang tamu dengan pandangan yang lurus.
“Mohon anda tunggu sebentar, Tuanku. Prosesi ini masih belum sepenuhnya selesai. Biarkan saya dan kedua anak buah saya untuk menyelesaikannya.”
“Bagaimana aku bisa tenang kalau di luar banyak kericuhan? Aku tidak mau takhta yang sudah kudapatkan dengan susah payah akhirnya direbut orang lain!” amuknya menggebu-gebu. Tapi, ‘kakak’ masih tetap diam dam melanjutkan pembacaan mantranya.
“Kakak Ru! Apakah kamu tidak mendengarkanku?” bentak lelaki itu naik pitam. Orang yang dipanggil Kakak Ru itu juga ikut emosi. Ia akhirnya membentak dengan disertai sedikit mana dalam bentakannya.
“Bisa kau tutup mulutmu barang sejenak, Yasodana Sri Widipa? Atau boleh kusebut dengan nama Yasodana Sri Rajasanagara? Aku sudah sabar menghadapi sifat kekanak-kanakanmu. Sekarang kamu diam dan duduk di sana sampai aku menyelesaikan ritual ini! Bukannya kamu sendiri yang mengemis-ngemis kepadaku untuk membantumu? Sekarang kamu hanya cukup diam dan saksikan. Sebentar lagi gerbangnya terbuka. Untuk membuka secara keseluruhan, gerbang ini membutuhkan lebih banyak siluman yang terkontaminasi mana hitam.”
Tuannya, atau yang tak lain adalah raja dari Swarnanusa akhirnya terdiam dan terduduk begitu saja. Entah mana yang berada di bentakan itu yang berefek langsung pada lelaki itu atau karena si Kakak Ru itu menyebutkan nama panjangnya tanpa hormat dan nadanya terkesan mengancam.
Mana hitam yang dikeluarkan simbol itu adalah mana kotor yang merupakan residu mana hitam yang sudah diolah dari persembahan sebelumnya. Karena mana hitam yang dibutuhkan adalah yang murni, maka perlu lebih dulu ‘dimurnikan’ dengan cara dimasukkan dalan tubuh para siluman. Karena mana hitam yang berada di dalam tubuh siluman adalah mana murni yang menjadi bahan bakar untuk membuka gerbang.
Beberapa menit kemudian, ketiganya menghentikan ritual mereka karena untuk proses ini sudah selesai. Tinggal gerbang itu yang mencari mangsa sendiri. Tugas mereka akan tiba lagi setelah mangsa persembahan cukup dan mereka harus membuka gerbangnya.
Kakak Ru mendekati Yasodana yang masih terduduk dengan raut wajah takut. Ia memegang tangan Yasodana dan membantunya berdiri.
Kakak Ru memeluk Yasodana lalu membisikkan sesuatu. “Maafkan saya, Tuanku. Saya hanya tidak bisa diganggu. Bukankah anda juga menantikan kehadiran dan kelahiran kembali sosok yang akan menguasai dunia ini? Jadi, tolong jangan ganggu saya saat saya sedang tidak bisa diganggu.” Ia menepuk-nepuk punggung Yasodana sebelum dilepasnya pelukannya itu. Perlahan, ekspresi Yasodana yang membatu dalam raut wajah takut itu kembali seperti biasa. Ia memandang Kakak Ru dengan pandangan sedikit segan. Sementara yang dipandang hanya memamerkan senyuman manisnya seolah tanpa dosa.
Di samping lingkaran yang terlukis di lantai, Mahanta sedang mengangkat Bhre yang jatuh pingsan. Ia meletakkan lelaki itu di ranjang yang ada di salah satu ruangan di ruangan remang-remang ini. Biar bagaimanapun, ruang bawah tanah ini sudah menjadi rumah mereka juga.
Mahanta mengalirkan beberapa mana murni untuk menstabilkan kondisi Bhre. Ia juga meminumkan ramuan penyembuh ke Bhre agar lelaki itu segera membuka matanya. Selain khawatir kalau Bhre kenapa-kenapa, ia juga yakin kalau Kakak akan marah besar jika lelaki itu belum bangun saat waktunya mereka dibutuhkan telah tiba.
Mahanta mengetahui dengan jelas bagaimana sifat Kakak. Lelaki itu tipe psychopat yang seolah ditakdirkan hidup abadi dan memberikan teror di setiap manusia. Lelaki itu memang murah senyum. Tapi, untuk beberapa orang yang memahaminya, senyuman Kakak terkesan kosong dan hampa. Tanpa ekspresi, tanpa empati, senyumannya hanya untuk formalitas dan menambahkan kesan baik hati.
Mana hitam yang keluar semakin pekat. Meskipun di bawah tanah, Mahanta bisa merasakannya kalau beberapa kekacauan pasti terjadi di atas sana. Karena lokasi ruang ritual ini berada di bawah istana, Kakak sempat membangun jalan masuk tersendiri untuk menggiring siluman-siluman itu tanpa harus mengacak-acak istana. Kakak menyebarkan beberapa portal teleportasi untuk meneleportasi secara otomatis siluman-siluman yang menginjak portalnya.
***
Kembali ke Swarnanusa.
Karena kehebohan ini, diskusi dihentikan begitu saja. Aku, Nara dan Wira langsung berlari ke luar untuk kembali ke negeri kami.
“Tunggu! Kalian mau naik apa ke sananya?” tanya Ayah menghentikan langkah kami.
“Ada Jake sama Rocky, Yah. Kalo bukan mereka terus pakai apa?” tanyaku menanggapi. Ayah ikut bangkit dan berjalan ke arahku yang sudah nyaris mencapai pintu keluar. Ruang pertemuan sudah kosong karena para raja sudah kembali. Ayah langsung memberikan titah untuk raja-raja itu agar menjaga rakyatnya supaya tidak menyebabkan kekacauan lebih parah lagi. Mengingat kelemahan utama siluman adalah mana hitam.
“Kalo pakai mereka, mau berapa lama sampai Majapahit?” tanya Ayah. Aku terdiam dan memandang kedua temanku karena tidak tahu harus menjawab apa.
“Pakai Sembrani saja. Kebetulan Ayah punya beberapa. Bawalah tiga untuk perjalanan ini. Kalian perlu kendaraan yang cepat karena ini bukan keadaan sepele. Ini keadaan genting,” saran Ayah. Aku langsung menyetujuinya. Biar bagaimanapun, Ayah yang jauh lebih tahu tentang situasi ini.
“Ayo, ikut Ayah! Sembrani nggak ada di kandang karena dia bukan hewan. Mereka adalah tunggangan para raja dan utusannya yang bebas. Seandainya dia mengakuimu sebagai pemimpin, maka dia akan menuruti apa yang kamu minta. Tenang saja. Mereka tidak akan menolak kalian karena saya izinkan mereka membawa kalian.”
Ayah berjalan di depan kami. Ia mengarah ke bagian belakang istana dan berhenti saat sudah masuk ke dalam hutan yang ada di belakang istana. Ia mulai bersiul dengan nada tertentu. Secara ajaib, tiga ekor Sembrani terbang mendekati Ayah. Mereka bertiga berwujud layaknya kuda biasa. Hanya saja, rambut yang ada di kepalanya lebih panjang sampai mirip poni. Mereka tidak memiliki tanduk seperti unicorn. Tapi, ada sepasang sayap yang menekuk di punggungnya. Ayah memerintahkan kami untuk naik ke atas kuda itu. Kami naik tanpa pikir panjang. Ketiga kuda ini langsung mengepakkan sayapnya dan mulai terbang.