Pemotretan Acha selesai sehari lebih cepat dari perkiraan. Ia dapat langsung pulang atau mengubah tiket untuk mengunjungi Ryo. Selama dua malam sebelumnya, Acha sengaja tidak membicarakan kemungkinan itu karena takut rencananya batal.
Di kamar hotel, ia memandangi daftar tempat makan yang ditulis Ryo dalam buku kosong. Jarak ke kota pria itu hanya dua jam dengan kereta. Acha akhirnya mengirim foto tiket.
‘Besok jam sepuluh. Kalau sibuk, aku jalan sendiri.’
Balasan Ryo datang kurang dari semenit.
‘Saya jemput.’
Acha tersenyum, lalu segera mengingatkan dirinya agar tidak membangun harapan seperti adegan film. Ryo mungkin tetap harus bekerja. Mereka hanya memiliki satu akhir pekan, bukan jaminan seluruh masalah jarak jauh akan menghilang.
Keesokan hari, Ryo menunggu di peron dengan kemeja biru dan jam pemberian Acha. Tidak ada bunga atau papan nama lucu. Namun ketika pandangan mereka bertemu, Acha mendadak lupa kalimat ejekan yang telah disiapkan sepanjang perjalanan.
“Hai,” katanya.
“Hai.” Ryo mengambil koper kecilnya. “Perjalanannya bagaimana?”
“Dua jam. Tapi rasanya lama gara-gara orang di sebelahku dengkur.”
Mereka berjalan keluar stasiun dengan canggung, seolah seluruh panggilan video tidak cukup mempersiapkan pertemuan langsung. Di mobil, Acha melihat kursi penumpang telah dibersihkan secara berlebihan dan dua botol minuman disediakan.
“Pak Ryo gugup?”
“Sangat.”
Pengakuan itu membuat Acha lebih santai. Ia meminta Ryo menunjukkan tempat tinggalnya sebelum mereka makan. Apartemen dinas tersebut kecil, rapi, dan hampir tidak memiliki hiasan. Hanya foto keluarga serta kartu ucapan dari Acha yang menempel di kulkas.
“Kok kartu jelek begitu dipajang?” tanyanya.
“Karena pengirimnya jarang menulis sesuatu dengan tangan.”
Acha melihat dua cangkir di meja dan bahan makanan di dapur. Ryo rupanya berniat memasak makan siang sendiri. Ia mengaku belum sempat memesan tempat di restoran karena baru mendapatkan kepastian jadwal libur malam sebelumnya.
“Bagus. Aku mau tahu Pak Ryo bisa masak apa enggak.”
Jawabannya ternyata: tidak terlalu bisa. Sayuran dipotong tidak rata dan ayam hampir gosong karena Ryo terlalu sibuk mendengarkan cerita pemotretan Acha. Mereka akhirnya makan masakan sederhana sambil tertawa.
Setelah itu Ryo mengajak Acha mengunjungi kantor cabang. Gedungnya jauh lebih kecil daripada kantor pusat. Beberapa anggota tim menyapa ramah, tetapi seorang pegawai perempuan bernama Nita tampak sangat mengenal Ryo. Ia bercanda tentang kebiasaan atasannya lupa makan dan mengingatkan jadwal rapat Senin.
Acha merasakan kecemburuan yang sebelumnya hanya muncul lewat foto. Ia menjadi lebih diam selama perjalanan menuju taman kota.
“Ada yang mengganggu?” tanya Ryo.
“Nita cantik.”
“Iya.”
Acha menoleh tajam. “Jawabannya harus sejujur itu?”
Ryo menahan senyum. Ia menjelaskan Nita adalah kepala administrasi dan sudah bertunangan. Namun ia juga mengingatkan bahwa status Nita bukan alasan utama Acha harus percaya.
“Kalau dia belum tunangan?” tanya Acha.
“Saya tetap sedang mencoba hubungan dengan kamu.”
“Kalau dia suka sama Pak Ryo?”
“Perasaannya bukan keputusan saya. Tindakan saya yang bisa saya jaga.”
Acha menghela napas. Ia meminta maaf karena membangun cerita hanya dari beberapa candaan. Ryo juga meminta maaf karena sebelumnya sering menyebut Nita dalam percakapan tanpa menjelaskan posisinya.
Mereka duduk di bangku taman dan membicarakan dua bulan pertama hubungan jarak jauh. Acha merasa Ryo sering memberikan solusi saat ia hanya ingin didengarkan. Ryo mengaku Acha kadang menghilang setelah marah dan baru kembali setelah suasana hatinya membaik.
“Aku takut ngomong pas marah malah nyakitin,” kata Acha.
“Boleh ambil waktu. Tapi beri tahu bahwa kamu butuh waktu, bukan hilang.”
Kesepakatan mereka kembali diperbarui. Tidak romantis, tetapi membuat keduanya merasa lebih dekat daripada sekadar saling merindukan.
Pada malam hari, Acha menginap di hotel, bukan apartemen Ryo. Keputusan itu dibuat bersama karena mereka belum siap melewati batas kedekatan fisik. Ryo mengantarnya sampai lobi tanpa memaksa naik.
“Besok aku pulang sore,” kata Acha. “Pagi mau ke tempat terakhir di daftar.”
Ryo tersenyum. “Toko roti dekat sungai.”
Pagi berikutnya mereka sarapan di sana. Acha membelikan roti untuk tim Ryo, termasuk Nita. Ia tidak melakukannya untuk menandai wilayah, melainkan sebagai permintaan maaf diam-diam kepada dirinya sendiri karena sempat menilai perempuan yang tidak dikenalnya.
Menjelang keberangkatan, Ryo mengantar Acha ke peron. Kali ini perpisahan tidak dipenuhi ketakutan sebesar di bandara. Mereka sudah membuktikan bahwa jarak dapat diseberangi, meski tidak setiap kali merasa rindu.
“Terima kasih sudah datang,” kata Ryo.
“Lain kali Pak Ryo yang ke kotaku.”
“Pasti.”
Acha memeluknya. Saat pengumuman keberangkatan terdengar, Ryo mencium keningnya dengan perlahan, memberi cukup waktu bagi Acha untuk menjauh jika tidak nyaman. Acha justru menahan lengan pria itu sebentar.
Di dalam kereta, ia membuka buku kosong dan menulis ulasan pada halaman daftar: masakan Ryo biasa saja, toko roti sangat enak, dan kotanya layak dikunjungi lagi.
Pada baris terakhir, Acha menulis bahwa hubungan mereka masih menakutkan, tetapi ketakutan itu tidak lagi membuatnya ingin lari. Ia mulai percaya cinta dapat dibangun dari perjalanan kecil, percakapan sulit, dan dua orang yang selalu memberikan jalan bagi satu sama lain untuk memilih.
Kereta berhenti di stasiun kecil. Acha menerima pesan dari Nita yang mengucapkan terima kasih atas roti dan meminta maaf jika sikapnya di kantor membuat Acha tidak nyaman. Rupanya Ryo telah mengatakan bahwa mereka sedang mencoba menjalin hubungan, bukan menyembunyikan Acha dari timnya.
Acha membalas bahwa Nita tidak melakukan kesalahan. Ia mengakui sempat cemburu karena belum terbiasa melihat kehidupan Ryo yang berjalan tanpa dirinya. Nita mengirim gambar cincin tunangan disertai candaan bahwa masalah terbesar Ryo bukan perempuan, melainkan kebiasaannya memeriksa laporan tiga kali.
Acha menceritakan percakapan itu kepada Ryo. Pria tersebut berterima kasih karena Acha tidak menjadikan Nita sasaran rasa tidak amannya.
“Aku pernah dibayar jadi orang ketiga,” tulis Acha. “Aku harusnya tahu perempuan lain gak selalu musuh.”
“Mengetahui tidak membuat perasaan otomatis mudah,” balas Ryo. “Yang penting tindakan setelah perasaan itu datang.”
Acha menyimpan pesan tersebut. Mencintai seseorang ternyata berarti mengenal dunia yang sudah ada sebelum dirinya masuk, tanpa menuntut seluruh dunia itu berputar mengelilinginya.