Enam minggu berlalu lebih lambat bagi Acha daripada seluruh bulan sebelumnya. Ia sengaja memenuhi jadwal agar tidak menghitung hari, tetapi tetap mencoret kalender setiap malam.
Ryo menyelesaikan penyerahan tugas dan audit terakhir. Sistem baru mewajibkan dua persetujuan untuk pengeluaran besar serta pemeriksaan berkala oleh tim pusat. Nita ditunjuk menjadi kepala cabang sementara sampai pengganti tetap dipilih.
Pada hari perpisahan, tim mengadakan makan siang kecil. Nita mengirim foto Ryo sedang memotong kue bertuliskan, “Selamat pulang, Bos Cerewet.” Acha tertawa dan menyimpan foto itu.
Ia berangkat menjemput bersama Firza. Ayahnya bersikeras ikut karena ingin berbicara dengan Ryo secara resmi. Acha menuduh Firza hendak melakukan wawancara menantu meski hubungan mereka baru beberapa bulan.
“Ayah cuma membantu bawa barang,” kilah Firza.
“Kita bawa mobil besar dan Lina juga ikut. Alasan Ayah jelek.”
Ketika Ryo muncul dengan dua koper dan beberapa kardus, Acha berdiri di dekat pintu kedatangan. Mereka sempat saling memandang seperti pada kunjungan pertama, lalu Acha berlari memeluknya tanpa memedulikan orang sekitar.
“Katanya gak mau hubungan dipamerkan,” goda Ryo.
“Ini stasiun, bukan iklan.”
Firza berdeham di belakang mereka. Ryo segera melepaskan pelukan dan menyapa dengan sangat sopan. Sepanjang perjalanan, Firza menanyakan rencana pekerjaan, tempat tinggal, dan tabungan Ryo. Acha berkali-kali mencoba mengganti topik, tetapi Ryo menjawab tanpa tersinggung.
Ryo akan mengambil cuti dua minggu sebelum mulai bekerja di divisi baru. Ia memilih pindah ke apartemen sendiri daripada tinggal di rumah dinas Sarah. Keputusan itu membuat Firza terlihat cukup puas.
“Ayah bukan sedang memberi penilaian,” katanya ketika Acha menatap curiga.
“Wajah Ayah kayak formulir penilaian.”
Malam pertama setelah kepulangan tidak diisi kencan mewah. Mereka membantu Ryo membuka kardus. Lina menyusun peralatan dapur, Firza memasang rak, dan Acha bertugas memberi komentar tanpa banyak bekerja karena tangannya dianggap paling tidak terampil.
Setelah semua orang pulang, Acha dan Ryo duduk di lantai sambil makan piza. Kedekatan itu terasa asing setelah berbulan-bulan dibatasi layar.
“Besok kita bisa ketemu lagi tanpa beli tiket,” kata Acha.
“Kalau jadwal kamu kosong.”
“Jangan rusak suasana.”
Mereka mulai menyusun kebiasaan baru. Ryo tidak lagi menelepon pada jam tertentu karena mengira dapat bertemu kapan saja. Acha justru merasa kehilangan panggilan malam mereka. Pada minggu pertama, ia marah ketika Ryo dua kali membatalkan makan karena urusan keluarga.
“Waktu jauh, kita lebih disiplin,” keluhnya.
Ryo mengakui telah menganggap jarak dekat membuat pertemuan mudah diganti. Ia meminta maaf dan mengusulkan tetap memiliki jadwal khusus sekali seminggu. Hari lain boleh spontan tanpa menjadi kewajiban.
Acha juga belajar bahwa kepulangan Ryo bukan berarti pria itu harus selalu tersedia. Ryo ingin mengunjungi ibunya, bertemu teman lama, dan beristirahat sendirian. Awalnya Acha merasa disisihkan, lalu menyadari ia pun membutuhkan ruang yang sama.
Ujian terbesar datang ketika Sarah meminta Ryo mendampingi perjalanan bisnis karena penggantinya sakit. Tugas itu bersinggungan dengan acara Panggung Baru yang akan dihadiri Acha. Dewan kepatuhan melarang Ryo terlibat.
Sarah menerima aturan, tetapi seorang direktur menuduh Ryo tidak profesional karena hubungan pribadinya mengurangi fleksibilitas kerja.
Ryo mengajukan perpindahan divisi lebih cepat. Ia tidak mau Acha disalahkan setiap kali muncul konflik penugasan.
“Aku bisa berhenti dari agensi kalau itu lebih gampang,” kata Acha.
“Kenapa kariermu yang harus berhenti?”
“Karena aku gak mau kamu kehilangan kerja.”
“Dan saya gak mau hubungan kita jadi perlombaan siapa yang paling banyak berkorban.”
Mereka hampir bertengkar. Acha teringat kebiasaannya membuat keputusan ekstrem agar terlihat berani. Setelah menenangkan diri, mereka menemui bagian kepatuhan bersama. Ryo tetap bekerja hingga perpindahan tersedia, sementara tugas yang berkaitan dengan agensi ditangani pegawai lain. Tidak seorang pun perlu mengundurkan diri.
Beberapa hari kemudian, Ryo mengikuti makan malam resmi di rumah Firza. Acha memperingatkan ayahnya agar tidak bertanya tentang pernikahan. Firza mematuhi, tetapi ia meminta Ryo menjelaskan apa yang disukainya dari Acha.
“Ayah!” protes Acha.
Ryo berpikir cukup lama. “Dia berani melihat bagian dirinya yang tidak disukai dan tetap mengakuinya. Tapi dia juga lucu, meski sering bercanda di waktu yang salah.”
Acha terdiam. Ia terbiasa dipuji karena wajah, tubuh, atau ketenaran. Jawaban Ryo menyentuh sesuatu yang lebih dalam.
Firza kemudian bertanya kepada Acha apa yang disukainya dari Ryo.
“Dia kasih aku pilihan bahkan waktu dia takut jawabanku gak sesuai harapan,” katanya.
Makan malam berlanjut lebih santai. Firza bercerita tentang masa remaja Acha, membuat perempuan itu berkali-kali menutup wajah karena malu. Ryo tertawa sampai matanya berair.
Dalam perjalanan pulang, Acha bertanya apakah Ryo merasa diperiksa. Pria itu mengaku iya, tetapi memahami Firza ingin memastikan putrinya tidak kembali memasuki hubungan yang dibangun dari kendali.
Mereka berhenti di depan apartemen Acha. Ryo tidak langsung turun dari mobil.
“Saya senang pulang,” katanya.
“Walau kerjaan jadi rumit?”
“Pulang bukan tempat tanpa masalah. Pulang adalah tempat saya memilih menghadapi masalahnya.”
Acha menggenggam tangannya. Jalan pulang mereka tidak berakhir pada satu pelukan di stasiun. Ia harus dibangun ulang melalui jadwal, batas, pertengkaran, dan keputusan sehari-hari.
Namun kini jarak yang memisahkan bukan lagi ratusan kilometer. Jarak itu hanya ruang kecil di antara dua orang yang belajar kapan harus mendekat dan kapan memberi tempat, tanpa menganggap salah satunya sebagai tanda bahwa cinta telah berkurang.
Seminggu kemudian, Ryo resmi mulai di divisi baru. Pada hari pertamanya, Acha ingin mengirim makan siang dan bunga ke kantor, lalu membatalkan niat karena takut terlihat berlebihan. Ia akhirnya hanya mengirim pesan semangat.
Ryo pulang membawa dua kotak makanan dan mengajak Acha makan di balkon apartemennya. Ia bercerita tentang rekan baru, tugas yang belum dipahami, dan rasa aneh bekerja tanpa terus menerima telepon Sarah.
“Saya seperti kehilangan identitas asisten,” katanya.
“Aku juga pernah kehilangan identitas model terkenal dan pelakor bayaran. Nanti kita cari identitas baru di pasar malam.”
Ryo tertawa. Mereka sepakat pekerjaan tetap penting tanpa harus menjadi seluruh diri. Acha pun tidak ingin dikenal hanya sebagai pacar Ryo, sama seperti Ryo tidak mau menjadi lelaki yang namanya selalu mengikuti skandal Acha.
Mereka mulai membangun hari-hari biasa: berbelanja kebutuhan, bertengkar soal pilihan film, dan belajar kapan salah satu membutuhkan kesunyian. Kebersamaan ternyata tidak selalu dramatis. Justru dalam rutinitas kecil itu, Acha menemukan kepastian yang tidak pernah bisa diberikan oleh sandiwara sebesar apa pun.