Kabar hasil audisi datang ketika Acha sedang melatih model baru. Nama sutradara muncul di layar ponselnya, tetapi ia terlalu gugup untuk menjawab. Panggilan itu berhenti, lalu masuk pesan yang meminta dirinya menghubungi kembali.
“Kenapa, Mbak?” tanya Lina.
“Kayaknya hasil audisi.”
“Ya dihubungi.”
“Kalau ditolak gimana?”
Lina menatapnya heran. “Kalau gak dihubungi, Mbak tetap belum tahu.”
Acha masuk ke ruang kosong dan menelepon sambil berjalan mondar-mandir. Sutradara langsung memberitahukan bahwa peran utama diberikan kepadanya. Ia diminta mengikuti pelatihan dua minggu, lalu menjalani syuting selama tiga bulan di luar kota.
Acha mengucapkan terima kasih dengan suara setenang mungkin. Setelah sambungan berakhir, ia berdiri mematung sampai Lina masuk.
“Dapat?” tanya asistennya.
Acha mengangguk, lalu berteriak kegirangan. Mereka berpelukan dan melompat seperti anak kecil. Para model di ruangan sebelah ikut datang, membuat perayaan kecil terjadi tanpa direncanakan.
Dariel mengumumkan kabar itu dalam rapat Panggung Baru. Ia mengingatkan bahwa Acha memperoleh peran melalui audisi, bukan karena agensi membeli tempat. Kalimat tersebut membuat Acha lebih bangga daripada pujian mengenai popularitasnya.
Kegembiraan mereda ketika kontrak dibuka. Jadwal syuting padat, adegan emosional cukup berat, dan lokasi berjarak enam jam dari kota mereka. Acha akan tinggal di sana hampir sepanjang produksi.
Ryo datang setelah bekerja. Ia membaca kontrak bersama Acha tanpa menunjukkan keberatan. Justru sikap tenangnya membuat Acha curiga.
“Ryo gak senang aku dapat peran?”
“Saya bangga.”
“Tapi?”
Ryo mengaku kecewa karena mereka baru menikmati kota yang sama. Ia takut hubungan kembali dipenuhi panggilan singkat dan jadwal yang tidak bertemu.
“Aku juga takut,” kata Acha. “Tapi aku tetap mau ambil.”
“Saya tidak meminta kamu menolak.”
Mereka membicarakan pengalaman jarak jauh sebelumnya. Kali ini pekerjaan Acha tidak memungkinkan jadwal panggilan tetap. Mereka sepakat memberi kabar tanpa menuntut jawaban cepat dan menjadwalkan kunjungan hanya setelah jadwal produksi pasti.
Persoalan lain muncul ketika produser meminta Acha tidak membicarakan hubungannya selama promosi. Menurut tim pemasaran, penonton lebih mudah menerima dirinya sebagai pemeran utama jika terlihat lajang.
Acha menolak klausul tersebut. Ia bersedia tidak membawa Ryo ke acara promosi, tetapi tidak akan menyangkal hubungan jika ditanya.
“Kehidupan pribadi bukan properti film,” katanya.
Negosiasi berlangsung dua hari. Produser akhirnya menghapus larangan dan menggantinya dengan aturan bahwa seluruh pemain tidak boleh memakai hubungan pribadi untuk promosi tanpa persetujuan.
Ryo bertanya apakah Acha takut kehilangan peran karena keberatan itu.
“Takut banget,” jawabnya. “Tapi kalau aku mulai karier baru dengan menyembunyikan hal yang nyata, bedanya apa sama hidupku dulu?”
Masa latihan dimulai. Acha harus belajar merangkai bunga, mengubah cara bicara, dan menahan kebiasaan melihat kamera. Sutradara berkali-kali menegurnya karena setiap tangisan terlihat terlalu indah.
“Tokohnya gak peduli maskaranya rusak,” kata sutradara.
Acha menghapus riasan dan mengulang adegan. Ia belajar membiarkan wajahnya tampak buruk, suara pecah, dan tubuh kehilangan pose sempurna. Pada akhir minggu pertama, bahunya sakit dan kepercayaan dirinya jatuh.
Melati membantu melalui video. Ia meminta Acha berhenti meniru akting orang lain dan memakai pengalaman kehilangan yang benar-benar dipahami.
“Aku takut kelihatan lemah,” aku Acha.
“Tokohnya memang sedang lemah. Lemah di satu adegan gak menghapus kekuatannya.”
Ryo menghadiri latihan terakhir. Ia duduk di pojok tanpa mengganggu. Dalam adegan surat ibu, Acha melihat ke arahnya sesaat, lalu mengingat bagaimana rasanya ditinggal dan tetap memilih percaya.
Sutradara menyatakan penampilannya siap.
Malam sebelum keberangkatan, Firza mengadakan makan bersama. Dariel memberi Acha tas berisi perlengkapan syuting, Lina membawa daftar kebutuhan, dan Ryo menghadiahkan sebuah bingkai kecil berisi tiket perjalanan pertama Acha ke kotanya.
“Biar ingat kita pernah berhasil melewati jarak,” katanya.
“Kalau aku sibuk dan lupa menelepon?”
“Saya akan bilang kecewa, bukan langsung menyimpulkan kamu berhenti sayang.”
Acha tersenyum. Hubungan mereka tidak dijaga oleh keyakinan bahwa masalah tak akan muncul, melainkan kesediaan membicarakannya ketika datang.
Di lokasi syuting, Acha menempati kamar sederhana dekat studio. Hari pertama berlangsung enam belas jam. Ia terlalu lelah untuk menelepon dan hanya mengirim foto naskah.
Ryo membalas dengan gambar makan malamnya. Tidak ada protes.
Pada hari ketiga, Acha mendengar gosip bahwa lawan mainnya, Kevin, diminta tim pemasaran membangun kedekatan dengannya. Kevin sendiri sudah bertunangan, tetapi hubungan itu belum diumumkan.
“Saya gak mau bikin rumor,” kata Kevin. “Tapi produser berharap kita sering terlihat bersama.”
Acha mengajak Kevin menemui produser. Mereka menegaskan promosi harus berfokus pada film. Pengalaman lama membuat Acha mengenali betapa mudahnya hubungan palsu berubah menjadi luka nyata.
Produser mengeluh mereka terlalu kaku, tetapi menerima setelah Dariel menunjukkan klausul kontrak.
Malam itu Acha menceritakan semuanya kepada Ryo sebelum berita lain lebih dahulu sampai.
“Kamu cemburu?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Aku senang.”
“Kenapa?”
“Karena Ryo jujur, tapi gak mengubah cemburu jadi larangan.”
Minggu pertama selesai dengan tubuh lelah dan hati lebih tenang. Acha belum tahu apakah film itu akan berhasil. Namun setiap hari di lokasi membuktikan bahwa ia pantas berada di sana karena kemauan belajar, bukan rayuan atau rahasia.
Peran utama itu tidak menjadikannya manusia baru. Ia tetap Acha dengan masa lalu yang rumit, kebiasaan bercanda, dan ketakutan terhadap cinta. Bedanya, sekarang ia tidak memakai peran untuk bersembunyi. Ia naik ke panggung karena memang ingin berkarya, lalu pulang sebagai dirinya sendiri ketika kamera berhenti menyala.
Sebelum tidur, Acha menerima foto Melati yang sedang mengikuti kelas akting. Dariel juga mengirim kabar bahwa kampanye lama mereka kembali menarik pelanggan bagi Panggung Baru. Orang-orang di sekelilingnya bergerak menuju hidup masing-masing tanpa harus saling meninggalkan.
Acha menempelkan jadwal syuting di dinding kamar. Ia menandai hari kunjungan Ryo dan waktu konsultasi daring dengan psikolog. Pekerjaan besar tidak boleh menjadi alasan mengabaikan kesehatan atau hubungan.
Ia lalu merekam pesan suara untuk Ryo. Bukan dialog romantis, hanya cerita tentang bunga yang gagal dirangkainya dan makanan lokasi yang terlalu pedas. Ryo membalas bahwa cerita biasa itulah yang paling dirindukannya.
Acha mematikan lampu dengan senyum. Dahulu ia mengira cinta hanya menarik jika dipenuhi persaingan dan sandiwara. Kini percakapan mengenai makan malam terasa berharga karena tidak satu kata pun perlu dimainkan.