Dua tahun setelah Panggung Baru berdiri, agensi itu tumbuh tanpa kehilangan aturan awalnya. Laporan keuangan dibuka kepada artis, kontrak dibacakan bersama pengacara, dan saluran pengaduan dikelola pihak independen.
Dariel tetap menjadi pemimpin yang sering tidur di kantor. Sarah berkali-kali mengingatkan, tetapi tidak lagi memerintah. Hubungan mereka pulih melalui kebiasaan kecil: makan bersama, menyampaikan keberatan, dan meminta izin sebelum ikut campur.
Melati semakin sibuk berakting. Ia dan Dariel dapat bekerja tanpa pertengkaran, meski sisa perasaan kadang terlihat. Keduanya tidak mendekati orang lain selama dua tahun itu, tetapi juga tidak menjanjikan menunggu.
Suatu malam setelah pemutaran film Melati, Dariel mengajaknya berbicara di taman tempat mereka berpisah.
“Aku masih sayang,” katanya. “Tapi aku gak mau mengulang hubungan lama.”
Melati mengangguk. “Aku juga gak mau kembali jadi perempuan yang minta kamu percaya tanpa bukti.”
Dariel menawarkan memulai dari awal, bukan langsung sebagai pasangan. Mereka akan berkencan tanpa menyembunyikan hubungan, menjalani konseling, dan tidak memakai Sarah maupun Acha sebagai perantara.
“Kalau ternyata kita gak cocok lagi?” tanya Melati.
“Kita berhenti tanpa mengubahnya jadi perang.”
Melati menerima. Mereka makan malam seminggu kemudian di tempat umum. Tidak ada pengumuman kepada media. Ketika foto mereka tersebar, keduanya mengonfirmasi sedang saling mengenal kembali tanpa menjual kisah cinta lama sebagai promosi.
Sarah takut putranya terluka, tetapi menahan diri. Ia hanya bertanya apakah Dariel membuat keputusan dengan sadar.
“Iya, Ma.”
“Kalau begitu Mama percaya.”
Kalimat itu menunjukkan perubahan lebih besar daripada restu.
Acha juga tidak memberi saran. Ketika Melati menceritakan kencan pertama, ia hanya bertanya apakah perempuan itu merasa aman dan bebas berbicara. Jawabannya iya.
Di sisi lain, Ryo mendapat tawaran memimpin divisi baru di kantor pusat. Jabatan itu tidak bersinggungan dengan Panggung Baru dan memberinya jadwal lebih teratur. Ia menerimanya setelah berdiskusi bersama Acha.
Hubungan mereka telah berjalan tiga tahun ketika Ryo mengajak Acha ke warung mi. Tempat itu kini direnovasi, tetapi meja pojok mereka masih ada.
Ryo mengeluarkan kotak kecil. Acha langsung mengangkat tangan.
“Kalau ini lamaran, aku belum tentu jawab iya.”
“Saya tahu.”
Di dalam kotak terdapat kunci, bukan cincin. Ryo telah membeli rumah kecil dan ingin mengajak Acha melihatnya. Ia tidak meminta Acha pindah atau menikah. Ia hanya ingin menunjukkan masa depan yang sedang dipertimbangkannya.
Rumah itu memiliki dua ruang kerja, halaman kecil, dan dapur yang terlalu sempit. Acha berjalan memeriksa setiap sudut.
“Kenapa ada dua ruang kerja?” tanyanya.
“Karena kita tetap butuh tempat sendiri kalau suatu hari memilih tinggal bersama.”
Acha tersentuh, tetapi meminta waktu. Ia masih nyaman di apartemen dan takut tinggal bersama akan membawa tuntutan pernikahan.
Ryo menjawab rumah itu tetap miliknya, apa pun keputusan Acha. Tidak ada uang atau pengorbanan yang harus dibayar dengan cinta.
Setelah beberapa bulan dan sesi konseling pasangan, Acha memilih pindah dengan perjanjian keuangan jelas. Ia membayar bagian biaya hidup dan mempertahankan apartemennya sebagai aset pribadi.
Kehidupan bersama tidak selalu indah. Ryo terlalu rapi, Acha sering meninggalkan pakaian di kursi, dan keduanya berdebat soal tamu. Mereka membuat aturan, melanggarnya, lalu memperbaikinya.
Firza awalnya keberatan karena mereka belum menikah. Acha mendengarkan, tetapi menegaskan keputusan tersebut miliknya. Firza akhirnya menghormati tanpa memutus hubungan.
Setahun kemudian, Ryo kembali mengajak Acha ke warung mi. Kali ini kotak itu benar-benar berisi cincin.
“Saya tidak melamar supaya hubungan kita pasti aman,” katanya. “Saya melamar karena ingin terus membuat keputusan bersama kamu, termasuk keputusan sulit.”
Acha tidak langsung menjawab. Ia bertanya soal anak, keuangan, pekerjaan, keluarga, dan kemungkinan salah satu ingin pindah kota. Ryo menjawab satu per satu, termasuk dengan mengatakan belum tahu ketika memang tidak memiliki jawaban.
“Kalau aku gak mau punya anak?” tanya Acha.
“Kita tidak punya. Saya ingin menikahi kamu, bukan rencana tentang tubuhmu.”
Acha menangis. Ia menerima lamaran itu bukan karena takut kehilangan, melainkan karena tahu dirinya tetap boleh berkata tidak.
Kabar pertunangan dibagikan melalui satu foto sederhana. Tidak ada kontrak iklan atau wawancara eksklusif. Dariel mengeluh karena Acha memberi tahu publik sebelum dirinya.
“Kamu tahu bareng semua orang?” tanya Acha.
“Aku bosmu!”
“Bukan pemilik hidupku.”
Dariel tertawa dan memeluknya. Melati serta Sarah membantu persiapan tanpa mengambil alih. Firza meminta berjalan bersama Acha menuju tempat akad. Acha setuju dengan syarat tidak ada penyerahan dirinya seperti barang.
Pilihan Dariel untuk mencoba lagi bersama Melati dan pilihan Acha menikahi Ryo tampak berbeda, tetapi berakar pada pelajaran sama. Cinta tidak memperbaiki masa lalu secara ajaib. Ia hanya memberi ruang bagi dua orang untuk bertindak berbeda ketika pola lama mencoba kembali.
Menjelang pernikahan, Acha dan Ryo menjalani konseling. Mereka membahas pembagian uang, pekerjaan rumah, keluarga, dan cara menghadapi sorotan publik. Pembicaraan tentang keuangan sempat memicu pertengkaran karena Acha ingin seluruh aset dipisahkan, sedangkan Ryo mengusulkan satu rekening bersama untuk kebutuhan rumah.
Setelah berdiskusi, mereka mempertahankan aset masing-masing dan membuka rekening kecil bersama. Keputusan itu bukan tanda kurang percaya. Justru aturan jelas membuat keduanya tidak memakai uang sebagai alat kuasa.
Mereka juga sepakat pernikahan tidak menghentikan terapi atau waktu pribadi. Jika salah satu membutuhkan ruang, ia harus mengatakannya tanpa menggunakan diam sebagai hukuman.
Dariel mengejek karena daftar kesepakatan mereka lebih panjang daripada kontrak artis. Acha menjawab bahwa kali ini ia membaca seluruh pasal sebelum menyatakan setuju.
Persiapan tersebut tidak menghilangkan keraguan. Namun Acha akhirnya memahami kesiapan bukan keadaan tanpa takut. Kesiapan adalah mengetahui ketakutan dapat dibicarakan tanpa kehilangan hak memilih.
Ryo pun menyimpan salinan kesepakatan mereka, bukan untuk dipakai sebagai senjata ketika bertengkar, melainkan sebagai pengingat tentang percakapan yang pernah dilakukan. Mereka berjanji meninjaunya setiap tahun karena kehidupan dan kebutuhan dapat berubah.
Acha tertawa melihat keseriusan suaminya. Namun ia merasa tenang mengetahui pernikahan mereka tidak dibangun dari asumsi diam-diam.