Pesawat yang membawa Arkan mendarat di bandara Adi Soemarmo dengan getaran keras, namun getaran yang jauh lebih keras terjadi di dalam hatinya. Sepanjang perjalanan pulang, kertas berisi nomor telepon Nayla tidak pernah lepas dari jangkauannya. Ia menyimpannya di dalam Al-Qur’an miliknya, agar setiap kali membuka kitab suci itu, ia akan teringat akan janjinya, dan juga ingat untuk selalu memohon petunjuk kepada Allah.
Sesampainya di desa, sambutan hangat menyambutnya. Warga berbondong-bondong datang ke rumahnya, membawa ucapan selamat dan doa. Ibunya, Ibu Aisyah, memeluknya erat, air matanya menetes membasahi bahu Arkan.
“Alhamdulillah, kamu pulang dengan selamat, Nak. Ibu sangat merindukanmu,” ucapnya sambil melepaskan pelukan, matanya memandang wajah putranya dengan pandangan penuh kasih sayang.
“Arkan juga merindukan Ibu. Lihat, Arkan membawa oleh-oleh untuk Ibu, air zam-zam, kurma, dan juga kain mukena yang dibeli langsung di kota suci,” kata Arkan sambil menyerahkan barang-barang itu.
Namun Ibu Aisyah tidak segera menerimanya. Ia menatap putranya lekat-lekat, seolah bisa membaca apa yang tersembunyi di dalam hati Arkan.
“Nak, ada sesuatu yang berbeda dari matamu. Ada senyum yang tak pernah hilang, tapi juga ada beban yang tergantung di sana. Ceritakan pada Ibu, apakah ada sesuatu yang terjadi di sana?” tanyanya lembut.
Arkan terdiam sejenak, lalu mengeluarkan kertas itu dari dalam Al-Qur’an, menyerahkannya kepada ibunya dengan tangan gemetar. “Ibu… Arkan bertemu seseorang di sana. Perempuan yang baik, sholehah, dan setiap ucapannya selalu mengingatkan Arkan pada Allah. Namanya Nayla, dia dari Jakarta. Dia yang memberikan ini, mempersilakan Arkan menghubungi jika memang ada kebaikan di dalamnya.”
Ibu Aisyah mengambil kertas itu, membacanya perlahan, lalu menatap kembali putranya. “Dan apa yang ada di hatimu, Nak? Apakah kamu sudah memutuskan, atau masih ragu?”
“Arkan ragu, Bu. Sangat ragu. Dia berasal dari keluarga berada, berpendidikan tinggi, hidupnya berkecukupan. Sedangkan Arkan… hanya anak desa, penghasilan tidak tentu, yang sedang berusaha membangun madrasah yang bahkan belum punya bangunan tetap. Apakah Arkan pantas untuknya? Apakah keluarga dia akan menerima Arkan? Dan yang paling penting, apakah ini memang takdir yang Allah tuliskan untuk kita, atau hanya nafsu semata yang sedang mempermainkan hati?” tanya Arkan berturut-turut, suaranya bergetar menahan emosi.
Ibu Aisyah tersenyum, lalu mengusap kepala putranya dengan lembut. “Dengar Ibu baik-baik, Nak. Takdir itu rahasia Allah, tapi ikhtiar itu kewajiban kita. Kamu sudah merasa hatimu tenang saat bersamanya, kamu merasa dia bisa membawamu lebih dekat pada Sang Pencipta, itu adalah tanda awal yang baik. Tapi jangan tergesa-gesa. Kalau memang dia jodohmu, tidak akan ke mana pun. Kalau bukan, tidak akan bisa dipaksa. Cobalah hubungi dia, tapi dengan cara yang benar, niat yang benar, dan tujuan yang jelas. Jangan bermain-main dengan perasaan, dan jangan pernah melupakan aturan Allah dalam setiap langkahmu.”
Kata-kata ibunya bagaikan air dingin yang memadamkan api keraguan yang membara di hati Arkan. Malam itu juga, setelah sholat isya dan membaca doa istikharah dengan khusyuk, Arkan mengambil ponsel lama miliknya, jari-jarinya bergetar saat menekan nomor yang tertulis di kertas itu.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ini Arkan, yang bertemu denganmu di Masjidil Haram beberapa hari lalu. Mohon maaf baru menghubungi sekarang, saya memohon petunjuk kepada Allah terlebih dahulu sebelum mengambil langkah apa pun. Semoga kamu dan keluarga dalam keadaan sehat wal afiat.”
Ia mengirim pesan itu, lalu meletakkan ponselnya jauh-jauh, takut menunggu balasan akan membuatnya tidak tenang. Ia menghabiskan waktunya dengan membantu warga, mengajar anak-anak di madrasah darurat yang ia dirikan, dan terus berdoa agar diberikan kejelasan.
Dua hari berlalu, belum ada balasan. Tiga hari, masih sama. Seminggu berlalu, dan rasa kecewa mulai menyelinap masuk. Mungkin dia hanya memberikan nomor itu sebagai basa-basi saja, atau mungkin dia sudah mengubah pikirannya, pikir Arkan, mencoba menenangkan diri.
Namun pada malam hari ke sepuluh, saat ia sedang sibuk memperbaiki atap mushola yang bocor, ponselnya bergetar keras. Ia segera mencucurkan air ke tangan dan wajahnya, baru kemudian membuka pesan itu.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, kabar saya dan keluarga baik-baik saja. Maaf baru membalas, karena sejak pulang saya langsung disibukkan dengan persiapan masuk kuliah kembali, juga ada banyak urusan keluarga yang harus saya selesaikan. Saya senang sekali kamu menghubungi, sebenarnya saya sempat berpikir, apakah kamu tidak akan pernah mengirim pesan sama sekali 😊”
Senyum lebar langsung terbit di wajah Arkan, rasa lelah yang dirasakannya seharian lenyap begitu saja. Ia pun membalas pesan itu, dan sejak hari itu, komunikasi di antara mereka terjalin, tapi selalu dalam batas yang ketat. Mereka hanya berbicara tentang hal-hal yang bermanfaat, saling berbagi ilmu, saling mengingatkan ketika salah satu lalai, dan saling mendoakan. Tidak ada kata-kata gombal, tidak ada rayuan, hanya ada keinginan yang sama untuk membangun hubungan yang diridhoi Allah.
Namun kabar tentang komunikasi ini ternyata sampai juga ke telinga Pak Harun. Seorang teman yang kebetulan tinggal di desa yang sama dengan Arkan memberitahunya, dan amarahnya meledak tak terkendali. Ia segera mendatangi rumah kakaknya, orang tua Nayla, dengan wajah merah padam menahan marah.
“Kakak! Sudah tahu belum? Keponakan kita itu berhubungan dengan pemuda tidak jelas dari desa sana! Anak itu tidak punya apa-apa, tidak punya jabatan, tidak punya harta. Kalau dibiarkan, masa depan Nayla akan hancur!” teriak Pak Harun begitu masuk ke ruang tamu.
Ibu Nayla, yang sedang menyiram bunga, terkejut mendengar perkataan itu. “Apa maksudmu, Harun? Nayla tidak pernah menceritakan hal apa pun pada kami.”
“Karena dia tahu kalian tidak akan setuju! Saya sudah dapat informasi yang jelas. Mereka bertemu di Mekah, dan sekarang saling berkirim pesan. Ini tidak bisa dibiarkan, Kak. Saya sudah berjanji dengan keluarga Pak Wijaya, putranya Raka adalah calon suami yang sempurna untuk Nayla. Kaya, berpendidikan, dan punya masa depan cerah. Lebih baik seratus kali lipat dibanding anak desa itu!”
Ayah Nayla yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara. “Harun, kita tidak bisa memutuskan sembarangan. Nayla adalah anak kita, dia juga punya hak untuk memilih. Yang terpenting adalah agama dan akhlaknya, bukan harta dan kedudukannya.”
“Kakak bodoh sekali! Di zaman sekarang ini, agama saja tidak cukup untuk hidup! Kalau tidak ada uang, bagaimana mau menjalani kehidupan? Bagaimana mau membangun rumah tangga? Kalau Kakak tidak mau bertindak, biar saya yang akan membuat pemuda itu sadar akan posisinya. Saya akan pastikan dia mundur dengan sendirinya, bahkan sebelum sempat melamar!” ancam Pak Harun, lalu pergi meninggalkan rumah dengan langkah berat dan penuh kemarahan.
Malam itu, Nayla yang baru pulang dari kampus merasa ada yang tidak beres. Kedua orang tuanya terlihat serius, dan paman yang selalu baik padanya itu sekarang memandangnya dengan tatapan tajam, seolah ia telah melakukan dosa besar. Ia tidak tahu, badai besar sedang bersiap menghantam hubungan yang baru saja ia bangun dengan susah payah.
Dan jauh di desa, Arkan menerima sebuah surat pos yang tidak ada nama pengirimnya. Ia membukanya dengan tangan sedikit gemetar, karena surat itu terasa berbeda, amplopnya polos tanpa cap kantor pos, seolah sengaja dikirim secara diam-diam. Begitu lembaran kertas dikeluarkan dan dibaca, rahang Arkan mengeras, urat di lehernya menegang menahan emosi yang tiba-tiba meledak.
“Kepada pemuda bernama Arkan di Karanganyar
Kami tahu siapa kamu, dan kami tahu apa yang sedang kamu lakukan. Sadarlah akan posisimu! Kamu hanyalah anak desa yang hidup pas-pasan, tidak punya jabatan, tidak punya harta, bahkan madrasah yang kamu bangun saja masih menumpang di tanah wakaf. Nayla adalah putri keluarga terpandang, calon dokter yang masa depannya sudah tergambar jelas. Dia bukan untuk orang sepertimu.
Kalau kamu masih punya rasa malu dan akal sehat, putuskan semua hubungan itu SEKARANG JUGA. Jangan pernah hubungi dia lagi, dan jangan bermimpi setinggi langit untuk memilikinya. Kalau kamu nekat melanggar peringatan ini, bersiaplah menghadapi konsekuensinya. Kami bisa membuat hidupmu, ibumu, bahkan seluruh warga desamu menjadi sulit. Ingat, ini bukan ancaman kosong. Pilihan ada di tanganmu: mundur dengan terhormat, atau hancur tanpa sisa.”
Kertas itu diremas kuat-kuat di telapak tangannya, hingga lipatan-lipatan tajam membentuk lekukan yang tak akan pernah hilang. Napas Arkan memburu, jantungnya berdegup kencang seolah hendak keluar dari rongga d**a. Selama ini ia hanya berhadapan dengan keterbatasan materi, tapi tidak pernah dibegini, diancam dan direndahkan sampai ke akar jati dirinya.
“Nak… ada apa itu? Wajahmu pucat pasi, seolah baru melihat hantu,” suara Ibu Aisyah terdengar dari ambang pintu, ia baru saja selesai menyiram tanaman dan melihat perubahan drastis pada raut wajah putranya.
Arkan menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu menyodorkan surat itu ke hadapan ibunya. “Baca saja, Bu. Ternyata… keraguan Arkan bukan tanpa alasan. Ada pihak yang tidak menginginkan kita dekat, bahkan rela mengancam dan menghina seperti ini.”
Ibu Aisyah membaca surat itu perlahan, matanya menyipit tajam, namun tidak ada rasa takut yang terpancar dari wajahnya, justru keteguhan yang semakin tampak jelas. Setelah selesai membaca, ia meletakkan kertas itu di meja, lalu menatap lurus ke mata Arkan.
“Kamu dengar apa kata orang ini, Nak? Mereka menghina kamu karena tidak punya harta, tidak punya kedudukan. Tapi tahukah kamu? Harta dan jabatan itu milik Allah, Dia bisa memberikannya siapa saja kapan saja. Sedangkan akhlak, keimanan, dan keteguhan hati… itu adalah harta yang tidak semua orang miliki, dan itulah harta yang paling mahal nilainya di sisi-Nya.”
“Tapi Bu… mereka bilang bisa menyusahkan kita, bahkan menyusahkan warga desa. Arkan tidak mau karena Arkan, orang-orang yang baik di sini harus menderita,” suara Arkan bergetar, rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya.
“Kalau kita mundur karena ancaman, berarti kita percaya bahwa kekuatan mereka lebih besar dari kekuatan Allah. Apakah kamu mau menjadi orang yang lemah imannya begitu, Nak?” Ibu Aisyah bertanya tegas, lalu melanjutkan dengan nada lebih lembut, “Ingat pesan kakekmu, dulu saat dia berjuang mendirikan mushola ini, dia juga dapat ancaman, diusir, bahkan barang-barangnya dihancurkan. Tapi apa hasilnya? Sekarang tempat ini menjadi sumber cahaya untuk seluruh warga. Karena dia tidak pernah menyerah, dan selalu meletakkan Allah di posisi paling atas.”
Kata-kata ibunya bagaikan air sungai yang mengalir membasuh debu keraguan di hati Arkan. Ia mengangguk pelan, lalu mengambil surat itu dan merobeknya menjadi potongan-potongan kecil, sebelum akhirnya dibakar di atas tungku dapur, menyisakan abu yang terbang terbawa angin.
“Baiklah Bu. Arkan tidak akan mundur. Kalau memang ini jalan yang Allah tunjukkan, apapun rintangannya akan Arkan hadapi. Tapi Arkan juga tidak mau bersikap gegabah. Arkan akan bicara dengan Nayla, biar dia tahu apa yang terjadi, dan biar dia juga yang memutuskan, karena ini bukan perjuangan Arkan seorang diri, tapi milik kita berdua.”
Malam itu juga, Arkan menulis pesan dengan hati-hati, tidak menggunakan kata-kata emosi, hanya menyampaikan fakta apa adanya, tanpa menyalahkan siapa pun.
“Assalamu’alaikum Nayla. Semoga kamu dalam lindungan Allah. Hari ini saya menerima surat tanpa nama pengirim, isinya menghina saya, meragukan kemampuan saya, dan mengancam supaya saya memutuskan hubungan dengan kamu. Saya tidak takut untuk diri saya sendiri, tapi saya ingin kamu tahu keadaan sebenarnya. Saya tidak memaksamu apa-apa. Kalau kamu merasa berat, atau keluarga kamu tidak setuju, katakan saja. Saya akan menerima apapun keputusanmu dengan lapang d**a, karena saya percaya, apa yang terbaik pasti akan Allah berikan. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, selama kamu masih mengizinkan, dan selama jalan ini masih diridhoi-Nya, saya tidak akan pernah mundur selangkah pun.”
Di Jakarta, ponsel Nayla bergetar saat ia sedang duduk di ruang keluarga, tepat saat Pak Harun sedang berbicara panjang lebar tentang betapa tidak pantasnya Arkan untuknya. Begitu membaca pesan itu, seluruh tubuhnya terasa panas, amarahnya tak kalah besar dibandingkan rasa sakit yang ia rasakan. Ia langsung berdiri, membuat semua orang di ruangan itu menoleh ke arahnya.
“Paman, apakah Paman yang melakukan ini?” tanya Nayla tiba-tiba, matanya menatap tajam ke wajah pamannya.
Pak Harun terkejut sejenak, lalu memasang wajah tenang seolah tidak tahu apa-apa. “Melakukan apa, Nak? Paman tidak mengerti maksudmu.”
“Jangan pura-pura tidak tahu! Mengirim surat ancaman, menghina orang lain hanya karena dia tidak seberada kita. Apakah itu ajaran agama yang Paman ajarkan selama ini? Apakah ukuran seseorang berharga atau tidak hanya dilihat dari isi dompet dan gelar di depannya?” suara Nayla meninggi, matanya berkaca-kaca menahan marah dan kecewa.
“Nayla! Kamu bicara apa itu? Paman melakukan ini semua demi kebaikanmu! Demi masa depanmu! Anak desa itu tidak akan pernah bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu! Kamu itu calon dokter, dia cuma guru ngaji yang hidupnya susah selamanya!” bentak Pak Harun, kendali emosinya sudah hilang sama sekali, membuat Ayah dan Ibu Nayla tertegun mendengar pengakuan itu.
“Kalau kebaikan yang Paman maksud seperti ini, maka saya lebih memilih hidup sederhana tapi hati tenang dan jalan diridhoi Allah, daripada hidup mewah tapi hati penuh dosa dan jalan yang dibenci-Nya! Saya kenal dia, Paman. Dia orang yang bertanggung jawab, dia berjuang mendidik anak-anak yang tidak mampu, dia menjaga adab dan batasan agama lebih baik daripada banyak orang yang kita kenal dan punya harta berlimpah. Apakah semua itu tidak ada nilainya di mata Paman?” bantah Nayla tak kalah keras, air matanya akhirnya tumpah juga.
Ayah Nayla menarik napas panjang, lalu berdiri dan berdiri di samping putrinya. “Harun, kamu sudah keterlaluan. Selama ini saya diam karena menganggap kamu hanya peduli, tapi ternyata caramu salah besar. Menghina, mengancam, itu bukan cara orang beriman. Kalau Nayla sudah merasa nyaman, dan calonnya memiliki akhlak dan agama yang baik, tugas kita sebagai orang tua adalah memudahkan, bukan mempersulit. Kalau kamu masih bersikap begini, maaf Harun, kamu tidak boleh lagi ikut campur urusan rumah tangga kami.”
“Baiklah! Kalau begitu, jangan sesal nanti! Saya sudah berusaha sebisa mungkin, tapi kalian sendiri yang menolak kebaikan!” teriak Pak Harun, lalu berjalan keluar dari rumah dengan langkah menghentak, pintu dibanting keras hingga seluruh dinding rumah terasa bergetar.
Setelah pamannya pergi, Nayla langsung membalas pesan Arkan, jari-jarinya bergerak cepat seolah tak mau membuang waktu sedetik pun.
“Wa’alaikumussalam say… maksudku Arkan. Maafkan orang-orang yang bodoh itu, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Jangan pernah dengarkan kata-kata mereka, karena nilai seseorang tidak pernah tertulis di buku tabungan atau di papan nama jalan. Saya di sini, saya bersama kamu, dan saya tidak akan pernah mundur. Kalau ini ujian, maka kita hadapi bersama. Kalau ini perjuangan, maka kita jalan beriringan. Ingat, kita tidak berjuang sendirian, Allah bersama orang-orang yang sabar. Besok saya akan bicara dengan Ayah dan Ibu, kita akan atur langkah selanjutnya. Tetap kuat ya, laki-laki yang saya percayai.”
Saat membaca pesan itu, beban di bahu Arkan seolah terangkat separuh. Senyum tipis terbit di bibirnya, untuk pertama kalinya setelah menerima surat ancaman itu, ia merasa ada kekuatan baru yang mengalir di seluruh urat nadinya. Ia menoleh ke arah ibunya, lalu berkata dengan nada penuh keyakinan.
“Bu… dia memilih untuk tetap bertahan. Dia bilang, kita hadapi bersama.”
Ibu Aisyah tersenyum bangga, lalu mengusap bahu putranya. “Bagus sekali, Nak. Itulah pasangan yang tepat, yang tidak lari saat angin berhembus kencang. Tapi ingat, ujian ini baru permulaan. Pak Harun orangnya keras, dia tidak akan menyerah begitu saja. Bersiaplah, badai yang sebenarnya baru akan datang.”
Benar saja, kata-kata ibunya terbukti benar. Tiga hari kemudian, berita buruk datang menghampiri. Tanah wakaf tempat Arkan mendirikan madrasah itu tiba-tiba diperselisihkan kepemilikannya. Surat pemberitahuan dari pengadilan datang, menyatakan bahwa ada pihak yang mengaku sebagai pemilik sah tanah itu, dan meminta seluruh bangunan yang ada di atasnya dibongkar dalam waktu 30 hari.
Arkan memegang surat itu dengan tangan gemetar, matanya terbelalak tak percaya. Ia tahu persis siapa dalang di balik semua ini. Dan ia tahu, pertarungan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih sulit dan berbahaya.
Apakah Arkan bisa mempertahankan madrasah yang menjadi nyawa perjuangannya? Bagaimana Nayla akan membantu di tengah kesibukan kuliah dan tekanan dari keluarganya? Akankah ikatan mereka mampu bertahan saat semua hal yang mereka bangun perlahan mulai dihancurkan satu per satu?