Anye membenarkan jilbabnya yang sedikit miring, melipat kakinya keatas kaki lainnya lalu bergerak bersidekap d**a. Semua kegiatannya dilakukannya dengan mata yang menyorot tajam pada dua orang yang berdiri tepat dihadapannya.
Bian, yang kini berdiri dengan menggandeng tangan wanita disampingnya memilih diam dan tak bergerak barang seinci-pun sejak tadi, sejak dia tiba di ruang keluarga rumahnya.
"Aku nggak kaget, cuma aku takjub. Mas kamu bawa dia langsung ke hadapan aku?"
Anye membuka suaranya setelah sepersekian detik berikutnya. Kali ini matanya tampak sedikit memerah, tak lagi menatap tajam.
Bian masih diam. Begitupun kekasih barunya--Mitha-- yang memilih hanya menjadi penonton.
"Aku tunggu kamu selama sebulan ini untuk jujur. Ternyata yang aku terima lebih dari kejujuran ya, Mas. Kamu waras, Mas?"
"Saya baik-baik saja."
Anye menghela napas. Raut dan nada datar Bian masih sama seperti yang lalu, selalu membuatnya sedikit menciut.
"Setelah enam bulan, apa yang kamu lakuin sampai kamu berani bawa dia ke depan aku, Mas?"
"..."
"Gue hamil."
Mitha yang menyahut. Jengah karena Bian terkesan enggan menjawab.
"Waaah?"
Anye melongo kaget. Tangannya bergerak menutupi mulutnya yang terbuka dan bergetar.
"Mas, ka-kamu? Astaga, kamu hebat, Mas."
Anye kembali diam. Tak tau harus melanjutkan dengan kata apa kalimatnya barusan. Dia terlalu terkejut dengan kejutan pagi ini.
"Mitha hamil, kandungannya jalan tiga bulan."
"Oh... wow." Anye terlanjur speechless. Tak tau lagi harus merespon apa.
"Aku memang nggak sebaik wanita muslimah taat agama yang mau di madu. Tapi, pagi ini aku sudah masak. Makan bersama? Mari bahas masalah kita setelahnya."
Begitu saja dan Anye melangkah lebih dulu menuju meja makan yang diatasnya sudah tersusun rapi hasil masakannya pagi ini.
Anye memilih tersenyum meski hatinya masih nyeri luar biasa. Dia menyambut dengan baik Bian dan tamunya untuk sarapan bersamanya pagi ini. Ditengah acara sarapan mereka pun tak ada satupun yang membuka pembicaraan, semuanya diam, seolah merenungi kejadian yang sedang terjadi sekarang dan memikirkan apa yang akan terjadi setelah sarapan mereka usai.
"Bibi, nanti tolong cuciin piring ya. Saya nggak sempet, makasih Bi."
Anye berucap sambil menaruh tumpukan piring kotor bekas sarapan mereka ke wastafel.
Bukankah Anye--sudah--terlalu baik? Mempersilahkan sarapan, dan bahkan sekarang membereskan meja bekas sarapan mereka, benar-benar tak bisa menemui kata dendam dihidupnya.
"Karena sungkan kalau di ruang keluarga, kita bicara dihalaman belakang saja, ya?"
Katanya dan berjalan menuju halaman belakang yang tadi diucapkannya. Anye memang sesuatu.
Setelah mempersilahkan dua orang selainnya untuk duduk pada kursi melingkar disana, Anye turut mengambil posisi duduknya.
"Aku nggak mau tau kenapa Mitha hamil. Aku cuma mau tau, kamu bisa jatuh cinta sama Mitha karena alasan apa, Mas."
Kembali Anye yang membuka pembicaraan. Karena jelas, Anye yang menjadi korban disini.
"Saya bosan. Saya benci dengan sifat kekanakkan kamu. Saya muak."
Kalimat pendek, tapi berhasil melunturkan senyum Anye.
"Lalu? Kamu memilih untuk mencari wanita yang mandiri? Bisa mencari uang sendiri? Wanita karir? Wanita pekerja keras? Iya, Mas?"
"..."
"Mas jawab! Aku nggak pernah tau kamu bisa se b******k ini untuk alasan yang menurutku nggak logis sama sekali. Muak sama sifatku? Alasan!"
Anye mengatur napasnya sejenak. Berbicara sambil menahan sakit hati ternyata menyesakkan.
"Jadi, karena ini kamu tidak mau mempunyai anak denganku? Karena kamu hanya bermain-main? Setelah bosan aku akan dibuang? Iyakan? Jawab! Biandra!!!"
"Iya!!!"
Anye terdiam. Wajahnya sedikit menunjukkan gurat ketakutan kala suara berat Bian mengeras karena amarah.
"Saya tidak cinta sama kamu! Puas, hah? Itukan yang mau kamu dengar?!"
"b******n! b******k!"
"Iya! Saya memang b******k. Mau apa kamu, hah?!"
Anye mengusap kasar pipinya. Dia tak boleh menangis lagi. Setidaknya tidak untuk sekarang, tidak untuk laki-laki yang memiliki wajah asli seperti Bian.
"Cerai."
"Apa?"
Anye menarik napasnya panjang sebelum berucap dengan lebih jelas.
"Aku mau cerai. Oh bukan, kita harus cerai!"
"Tidak. Kita tidak akan bercerai."
Anye mengangkat wajahnya hingga kini dia menatap langsung manik Bian. Manik itu sedikit banyak menampilkan raut sakit yang sama dengannya.
Tapi kali ini, Anye memilih tak peduli, semuanya sudah cukup sekarang.
"Kenapa? Kenapa tidak akan bercerai?"
"Karena kamu milik saya. Saya tidak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milik saya."
"Egois. Ahh, Saya mengerti. Satu p*****r, itu kurang ya, Bian?"
Anye menipiskan bibirnya. Kembali berbicara formal dengan Bian membuat luka dihatinya terasa makin menganga lebar.
"Anye!"
"Apa?! Sudah cukup ya Anda berbuat sesuka Anda. Saya muak!!!"
Bian mengusap kasar wajahnya. Keras kepalanya dan Anye sama. Masalah mereka akan menjadi masalah milik bersama jika mereka sama berteriak seperti tadi.
"Tapi kenapa?"
Kali ini Bian melembutkan suaranya. Membuat Anye mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"Kenapa? Anda tanya Saya kenapa?"
"Kenapa kamu mau bercerai, Nye?"
"Waaah, semenjak selingkuh Anda menjadi bodoh, ya?"
"Bukankah jika kamu masih bersama saya uang yang saya berikan selalu cukup? Atau sekarang kurang?"
Anye melotot tak percaya. Apa kata Bian tadi? Uang?
"Bajingaaan!!! Bian b******k! Anda pikir saya disini cuma karena uang Anda? Dasar Biadab!"
Anye menangis keras. Meski suaranya menjerit marah tapi air matanya tak bisa membohongi betapa terlukanya Anye sekarang.
"Anda yang berjanji dihadapan makam kedua orang tua saya untuk selalu mencintai dan menjaga saya. Saya menerima Anda karena Anda terlihat memiliki hati yang besar untuk saya. Tapi saya salah, ya? Atau hati Anda yang terlalu besar hingga bisa terbagi menjadi beberapa bagian?"
Anye mengusap air matanya sebelum melanjutkan. "Jangan konyol Bian. Anda jelas tau berapa isi buku tabungan saya. Saya bisa hidup hedon tanpa uang Anda jika Anda lupa. Uang Anda tak berharga dihadapan saya."
Kali ini Mitha bereaksi. Dia membelalakkan takjub, tak menyangka wanita yang terlihat lemah seperti Anye ternyata bisa memiki uang sebanyak itu.
"Lo hebat. Jelas perwujudan wanita karir."
Anye terkekeh. Melihat Mitha membuat hatinya sakit, tapi kali ini lebih sakit lagi kala melihat tatapan polos itu, seolah dia tak memiliki beban pun masalah dihidupnya.
"Umur kamu berapa?"
"Aku? 22 tahun ini." Mitha menjawab santai.
Anye tersenyum. "Masuk dunia kamu sekarang waktu umur berapa?"
Mitah menggeleng pelan sebagai tanda tak yakin lalu menjawab. "Lima tahun lalu?"
Anye terdiam. Begitupun Bian yang tampak tak bereaksi.
"Kenapa. Masuk dunia itu?"
Mitha terdiam sebentar. Menatap Anye ragu, entah harus menjelaskan atau tidak.
"Kakak gue hilang entah kemana lima tahun lalu. Korban kecelakaan pesawat saat perjalanan pulang sehabis mengerjakan proyek pekerjaannya. Hampir seluruh penumpang pesawat ditemukan meski entah hidup atau meninggal. Tapi kakak gue hilang. Dan lo tau sendiri gimana kelanjutan cerita gue, gue nggak punya uang dan ya, berhenti sekolah."
Anye tersenyum. Tak menyangka wanita dihadapannya ini sudah lebih dulu merasakan kejamnya dunia dari pada dirinya.
"Saya titip Bian sama kamu, ya. Bayinya dijaga yang baik, kamu harus bisa jadi ibu yang hebat untuk anak kamu nantinya."
Mitha mengangguk sementara tangannya mengelus tonjolan kecil yang merupakan baby bump yang tampak dari luar bajunya.
"Ceraikan Saya. Maka saya memiliki hak untuk pergi tanpa izin Anda."
"Anye."
"Apa? Sudah jelas, kan? Anda harus bertanggung jawab, Bian. Ceraikan saya dan Anda bisa bebas menikah dengan siapapun."
"Baiklah--"
Anye diam. Menunggu kalimat lanjutan dari Bian.
"Anyelir Gilsha Hizbya. Mulai hari ini, jam ini, menit ini, detik ini. Kamu bukan lagi istri saya, saya menjatuhkan talak atas kamu."
Air mata Anye menetes. Tangannya mengepal kuat. Tak menyangka, kalimat talak dapat memperparah luka hatinya.
Anye bangkit dari duduknya. Matanya memandangi dua orang yang kini masih duduk dihadapannya.
"Kalau begitu saya pamit. Bian, Mitha. Selamat menempuh hidup baru."
Anye memutar tubuhnya, berjalan menuju pintu untuk kembali masuk dan membereskan pakaiannya.
Tapi tepat sebelum pintu kaca itu di dorongnya, dia berbalik lagi.
"Assalamualaikum."
Ucapnya dan berlalu begitu saja.
Bian menutup matanya pasrah. Tubuhnya disandarkannya pada sandaran kursi. Tak lama kemudian dia merasakan ada punggung lain yang bersandar pada tubuhnya dan membuatnya membuka mata.
"Kenapa kamu?"
"Bercerai saja susah. Kamu itu kenapa sih, Mas? Kan kamu memang mau cerai?!"
Bian menghela napas lelah. Masih tak menyangka wanita matre dan arogan ini ternyata memiliki kisah pilu yang mendasari sifatnya.
"Sudahlah, saya sedang tidak ingin berdebat."
"Cepat ceraikan Anye secara hukum, Mas! Aku nggak mau ya kalau nanti pernikahan kita masih dibayang-bayangi oleh Anye."
"Iya! Bisa diam tidak sih?!"
Mitha melipat tangannya sembari mendengus. Bian selalu saja seperti ini. Enggan menuruti keinginannya.
---