Mereka sudah tiba di sebuah dealer mobil terkenal sejak setengah jam yang lalu. Sejujurnya Anye juga sudah menentukan pilihannya pada mobil-mobil standar yang mungil dan menurutnya lucu. Tapi jawaban dari Vano membuat Anye kesal sendiri.
"Jangan yang itu, biasa banget."
"Kamu mau pakai yang warna merah gitu? Nggak-nggak."
"Kecil banget, nanti mudah rusak."
"Jangan yang itu juga, Nye. Kekecilan."
Dan sekarang Anye memilih menyerah dan mengikuti saja apa pilihan Vano. Karena selain dia kesal, dia juga jengah mendengar kata-kata kritikan yang berselip hinaan dari Vano.
"Punya SIM, kan?"
Vano yang bertanya.
Sebenarnya pertanyaan Vano itu sangat telat. Tapi tak apa, Anye kan sabar.
"Punya, Mas. Saya pernah jadi orang kaya kalo Mas lupa."
"Ohh, mantan suami kamu?"
Dan Anye mengangguk malas.
"Ini aja, ya? Atau mau model lain?"
Anye mengintip sedikit mobil yang ditunjuk Vano. Biasa, pilihan orang kaya.
Anye menipiskan bibirnya.
"Terserah Mas aja lah."
Vano mengangguk, berarti pilihannya lah yang diambil.
"Yasudah yang ini saja, biar puas."
Anye seketika menatap Vano. Ini bosnya ngomong apa sih? Kok ambigu gitu?
Anye kembali pada kesadarannya saat Vano sudah menarik tangannya menuju sebuah ruangan.
Setelah acara bayar membayar selesai, Vano mengajak Anye untuk makan malam bersama. Karena kebetulan hari sudah menjelang malam saat mereka keluar dari dealer.
"Kamu tinggal pakai, kalo rusak bisa kasih tau saya."
Vano berucap ditengah keheningan didalam mobil.
Anye masih tetap menghadap keluar jendela. Tapi mulutnya terbuka untuk menjawab.
"Iya Mas, jadi nanti mobilnya mau saya rusak-rusakin terus biar uang Mas habis."
Vano terkekeh, Anye sangat bisa melawak rupanya.
Sementara Anya mendelik saat mendengar kekehan Vano. Apakah dirinya selalu menjadi seorang pelawak di mata Vano? Kenapa Vano terus saja terkekeh dan tertawa?
"Kamu biasanya makan dimana?"
Anye yang sedari tadi masih menatap keluar jendela kini mengalihkan pandangnya menatap Vano.
"Tuh, di pinggir jalan."
Anye menunjuk jejeran pedagang yang berjualan dipinggir jalan. Lalu keningnya mengernyit saat mobil hitam Vano berhenti di pinggir jalan.
Anye menatap Vano heran.
"Kok berhenti?"
Vano bergerak memasang rem tangan, lalu membuka seat belt nya sebelum menjawab Anye.
"Katanya mau makan disini."
"Hah?"
Anye bingung sendiri.
Kapan Anye bilang ingin makan disini? Tolong katakan kepada Anye, kapan?! Kapaaannn?!
Anye tersentak saat seat belt nya sudah terbuka dari kuncinya. Lalu terdiam saat melihat Vano sudah membuka pintu lebih dulu dan melangkah turun.
"Yuk turun."
"Tunggu!"
Anye ikut turun lalu berjalan agak cepat menyusul Vano yang sudah duduk manis disalah satu kursi meja makan di tenda nasi goreng.
"Pak, nasi goreng ayam bakarnya dua, ya. Sama teh angetnya dua."
Vano bergerak memesan lebih dulu bahkan sebelum Anye mendudukkan dirinya disebelah Vano.
Anye tercengang sebentar, Vano juga makan di tempat seperti ini? Anye pikir orang kaya macam Vano hanya akan makan di tempat yang berkelas, karena Bian pun enggan makan di tempat seperti ini.
"Mas, kamu beneran mau makan disini?"
Vano mengangguk santai, ya kan dia tidak salah.
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Emang Mas nggak takut sakit perut?"
Vano terkekeh. Heran sama pemikiran absurd Anye.
"Saya tidak begitu Anye. Saya juga sering kok makan di pinggir jalan seperti ini. Yang penting makanannya bersih."
Anye mengangguk, percaya saja dia mah. Tiba-tiba senyum manis terbit di bibir tipis Anye.
"Makasih Mas Vano. Baik banget sama Anye hari ini."
"Lagi bilang makasih?"
Bibir Anye mengerucut, sebal. Lagian siapa suruh orang serius dimainin.
"Iya, kan baru inget. Dari tadi lupa mau bilang makasih."
Lalu Vano, kembali terkekeh. Anye selalu bisa membuat suasana hati dan wajahnya berhias tawa. Entah sudah berapa kali hari ini Vano tertawa karena tingkah Anye.
"Iya, sama-sama Anye."
Anye tersenyum, melupakan begitu saja rasa sebal tak mutunya tadi.
"Unchh, jadi sayang deh."
Lalu Vano tertawa keras kali ini.
___
Jam sudah menunjuk angka sembilan saat Vano mengantar Anye pulang. Tapi, didepan pagar kontrakan Anye bisa melihat sebuah mobil hitam yang entah kenapa tidak asing dimata Anye.
Itu... Seperti mobil Bian.
"Stop Mas!"
Vano sontak mengerem, mobilnya berhenti mendadak dipinggir jalan. Padahal tinggal beberapa meter lagi akan mereka tiba di kontrakan Anye.
"Kenapa, Nye?" Vano bertanya karena melihat wajah Anye yang diselimuti amarah.
Vano mengikuti arah pandang Anye, disana didepan mobil mereka ada sebuah mobil hitam yang terparkir lebih dulu. Vano langsung dapat menebak siapa orang disana saat tiba-tiba Anye mendesis malas disebelahnya.
"Sudah saya katakan jangan pernah muncul lagi. Berani-beraninya Anda datang kesini!"
Mantan suami Anye?
Vano menepuk pundak Anye, membuat Anye langsung menoleh.
"Kenapa Mas?"
"Itu, mantan suami kamu?"
Anye mengangguk walau enggan. "Makasih ya Mas sudah nganterin. Mas bisa langsung pulang kok."
Anye bersiap hendak melepas seatbelt nya sebelum tangan Vano menghentikan gerakannya, Anye menoleh dengan pandangan bertanya.
"Saya akan ikut turun." ucap Vano.
"Nggak usah Mas, saya bisa hadapin sendiri. Lagipula ini nggak ada sangkut pautnya sama Mas Vano."
"Saya tau. Tapi, boleh kan?" Vano bertanya. Pelan, seakan enggan menyakiti perasaan Anye.
Anye kembali menatap mobil didepannya, lalu tersenyum tipis saat bisa melihat siluet dua orang yang sedang duduk didalam mobil.
Bian ternyata berani datang bersama wanita barunya.
Anye menghela napas dan kembali menatap Vano. "Saya capek Mas, saya bener-bener gak ngerti lagi sama jalan pikiran orang kaya"
"Jalan pikiran orang kaya?"
"Iya. Sudah seminggu, tapi bahkan surat cerai saja belum sampai ke tangan saya. Apa kabar yang lain? Dia sendiri yang minta mengurus semuanya tapi dia sepertinya tidak melakukan apapun. Jadi sampai sekarang disisi hukum saya masih terikat dengannya." Anye menjelaskan.
"Ada saya."
"Hah?"
Vano sedikit kikuk untuk menjelaskan sebenarnya, tapi dia sudah kepalang tanggung ini kok.
"Ada saya, jadi, kamu tinggal bilang kepada saya apa saja yang kamu butuhkan dan kamu inginkan dari perceraian itu. Saya akan mewujudkannya. Mantan suami kamu Biandra Gema Jingga, kan?"
Vano mengangkat sebelah alisnya, memasang wajah congkak penuh dendam yang jelas kentara.
Anye terdiam sebentar. Sedikit banyak mencerna kejanggalan dari ekspresi yang Vano tampilkan, tapi ujungnya tetap mengabaikan.
"Kok? Mas bisa tau? Perasaan saya nggak cerita."
"Bian? Hm, si b******k itu baru saja mengumumkan tanggal pernikahannya." Vano mendesis malas.
"Hish, Memang si Bian b******k! Tapi, Bian, Mas kenal?"
"Dia, bisa disebut musuh? Atau rival? Ahh, teman lama? Dia itu adalah isi dari semua bagian rusak dimasa muda saya. Biandra b******n jingga b******n itu harusnya pantas mati."
Mendengar desisan penuh amarah pada kalimat terakhir Vano cukup menyadarkan Anye bahwa pengabaiannya tadi sungguh salah. Tapi ujungnya Anye tetap diam dan menurut saja dengan apapun yang akan dilakukan Vano.
"Jadi bagaimana? Boleh?" Vano mengangkat tangannya, meminta salam tanda persetujuan kepada Anye.
Anye terdiam memandangi tangan didepannya sebelum tangan kanannya ikut terangkat bersalaman dengan Vano. "Okey, deal."
Setelahnya Anye membuka seatbeltnya lalu membuka pintu untuk turun dari mobil. Dari tempatnya berdiri Anye dapat melihat pintu mobil Bian terbuka, menampilkan sosok lelaki yang paling Anye benci mulai sekarang.
Anye berjalan pelan dengan sedikit terselip ragu, sebelum pintu mobil sebelahnya terbuka dan menampilkan Vano dengan gaya arogannya. Vano berjalan menyusul Anye lalu berjalan berdampingan menuju Bian.
"Selamat malam, ada perlu apa Anda kesini?" Anye bertanya sopan layaknya orang asing.
Dari tempatnya, Anye dapat melihat rahang Bian mengeras saat melihat dia berdiri berdampingan dengan Vano.
"Selamat malam, tuan Jingga?" Suara Vano yang datar terdengar.
Bian makin mengeraskan rahangnya saat melihat tangan Vano dengan lancangnya menggenggam tangan Anye.
Anye terkesiap saat merasakan genggaman tangan Vano.
"Mas." panggilnya pelan.
Vano menoleh lalu tersenyum singkat, sebelum beralih menatap Bian. "Apa ada yang bisa saya dan kekasih saya bantu?"
"Anye, kamu masih istri saya!" suara Bian menggeram marah.
Anye menghentikan Vano yang hendak menjawab. Ia maju selangkah mendekati Bian. "Tapi saya sudah tidak sudi menjadi istri Anda!"
"Anye! Kurang ajar kamu!" Bian bergerak maju, tangannya terangkat hendak melayangkan tamparan kepada Anye.
Tapi urung, karena dengan cepat Vano mencengkram tangan Bian lalu menarik mundur Anye kebelakang tubuhnya.
"Lepas!" desis Bian.
Vano menatap Bian tajam. "Jangan pernah Anda sentuh kekasih saya. Jika sampai setitik saja Anda sentuh dia maka Anda yang akan hancur" Vano berbisik tegas.
Bian menegang sebentar, sebenarnya dia tau lelaki yang bersama Anye itu siapa. Vano adalah orang nomor satu di dunia bisnis. Jingga sendiri hanya berada di urutan kelima sedangkan Samudera adalah raja dari segala bisnis.
"Anyelir masih istri saya!" Bian tetap tak gentar meskipun nada suaranya sudah agak turun.
"Ohh wowww!" Vano melepaskan cengkeraman tangannya lalu bertepuk tangan. "Jalang didalam mobil Anda itu, kurang?"
"Itu bukan urusan anda!!!"
"Keluar anda!" Vano berucap lantang agar seorang wanita didalam mobil Bian keluar.
Dan benar saja, wanita yang berada didalam mobil Bian adalah Mitha. Mitha tetap dengan tampilannya yang memakai dress mini yang dilengkapi make up tebalnya.
"Selera anda sangat melenceng jauh tuan Jingga. Setahu saya Jingga adalah keluarga taat agama, dan boom!...anaknya suka pelacur." Vano berucap santai.
"Anda tidak perlu ikut campur dalam masalah saya!"
"Jika Anda tidak akan menceraikan Anye, maka Anye yang akan menceraikan Anda. Saya akan kirim seribu surat cerai atas nama Anye kepada Anda besok. Dan yang harus Anda tau, saya tidak pernah main-main!"
Setelah mengucapkan itu Vano berbalik menghadap Anye yang masih menunduk takut. Dia menepuk puncak kepala Anye, membuat sang empunya mengangkat kepalanya.
Vano beralih menatap Mitha. "Dan Anda, b***h. Saya jamin anda akan dibuang sesegera mungkin!"
"Jaga mulut lo!" Mitha berucap marah sambil menunjuk wajah Vano.
"Oke santai, sepertinya pertemuan kita cukup sampai disini. Saya akan mengantar kekasih hati saya untuk pulang terlebih dahulu. Permisi."
Vano berjalan memasuki pagar kontrakan dengan tangan Anye yang masih berada digenggamannya. Mau tak mau pun akhirnya Anye juga ikut tertarik kedalam.
Tapi Anye masih ingin tau apa alasan Bian menemuinya jika bukan untuk surat cerai. Anye menahan lengan Vano yang masih berjalan.
Vano berhenti, dia menoleh kearah Anye. "Kenapa?"
"Saya mau ambil surat cerai saya Mas, Bian kesini pasti mau memberi saya surat cerai." Anye berucap tenang.
"Baiklah." Vano mengangguk.
Tapi Anye hanya akan sendiri mengambilnya, Vano hanya akan mengawasi dari beberapa meter didalam pagar.
Bian yang sedang berdebat dengan Mitha menoleh saat menemukan tangan mungil menengadah didepannya.
"Apalagi?"
"Surat cerai, bukankah Anda kesini ingin mengantarkan hal itu?" Anye berucap tenang.
Vano tersenyum senang dari tempatnya berdiri. Anye memang lemah, tapi dia tau Anye bisa mengeluarkan sifatnya sesuai keadaan yang dihadapinya.
Bian berjalan cepat menuju mobilnya, mengambil sebuah map coklat lalu disodorkannya kepada Anye. Tapi belum sempat Anye mengambilnya map itu sudah lebih dulu dirobeknya menjadi empat bagian.
"Upss, robek." Bian terkekeh walau nadanya tetap datar.
Anye balas terkekeh. "Anda lucu! Astaga, saya benar-benar tidak menyangka dulu pernah jatuh cinta dengan lelaki seperti Anda."
"Kamu tidak akan semudah itu lepas dari saya. Kecamkan itu Anye!" Bian menggeram marah.
"Saya yang akan melepaskan diri tuan Jingga yang terhormat. Dan ya, saya tidak takut kepada Anda."
Anye berlalu dari hadapan Bian. Tapi baru beberapa langkah, Anye kembali memutar tubuhnya menghadap Bian. "Assalamualaikum." ucapnya.
Bian tertegun ditempatnya, "Waalaikumussalam."
Anye masih Anye yang sama, Bian. Hanya saja kamu bukan pemilik Anye lagi.
---