Yoora butuh hampir satu jam untuk memercayai bahwa dirinya dikelilingi kemewahan. Melihat rumah-rumah besar sudah biasa untuknya, tapi baru kali ini dia bisa masuk dan melihat langsung seperti apa definisi mewah itu sendiri.
Hingga saat ini pun Yoora masih curiga. Pasalnya, apa yang terjadi rasanya terlalu baik, dan Yoora tahu mengharapkan kebaikan sama seperti menyebut permintaan kematian secara tak langsung. Dia masih belum bisa percaya pada Seo, namun paling tidak dia tahu semua yang tengah terjadi saat ini nyata, bukan sihir apalagi halusinasi.
Sebelumnya Yoora ditawari untuk makan daging. Pelayan di rumah itu pun sudah sampai membawakannya ke meja makan. Sayangnya Jonathan menolak, dan dalam mode waspada, Yoora yakin mengikuti Jonathan merupakan pilihan bijak.
Tapi dengan perutnya yang mulai berulah, Yoora agak menyesali keputusannya.
“Sebaiknya kau makan, Nona.” Yoora tersentak sekaligus malu ketika suara Seo di belakang terdengar. Yoora menoleh, berusaha memasang raut wajah tak suka, tetapi laki-laki itu tersenyum. “Aku akan mengobrol dengan Jonathan lebih dulu. Setelahnya susul saja kami di taman belakang.”
Yoora memicing ragu. Sekalipun lapar, dia tidak akan sebodoh itu percaya pada permintaan mencurigakan seperti ini.
“Kau menusuk pundakku, dan itu membuat kekuatanku tak bisa dikeluarkan maksimal,” tutur Seo, masih mengulas senyum. “Kurasa Jonathan juga sepakat, kekuatannya sudah pulih. Lagi pula aku masih manusia biasa, bukan makhluk super.”
“Makan saja sana,” kata Jonathan.
Alis Yoora terangkat selagi pandangannya terarah pada si Sorceré. Harus dia akui, yang Seo katakan nampaknya benar. Jonathan kelihatan lebih siap bertarung ketimbang sebelumnya. Jalannya lebih tegak. “Lalu kau?”
“Nanti saja, aku harus urus dia dulu.” Jonathan menunjuk Seo, sementara yang ditunjuk hanya mengedik ringan. “Sudah, sana.”
Yoora masih ragu setulnya, tapi karena perutnya meradang meminta perhatian, akhirnya Yoora berbalik, kembali lagi ke ruang makan. Dia akan menyusul secepat mungkin. Tak peduli seenak apa pun makanan yang terhidang—dan mungkin akan jadi makanan paling enak yang pernah Yoora makan selama 20 tahun hidupnya—dia tidak mau terlalu terlena.
Namun Yoora tahu, prinsip begitu bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan, karena godaannya ternyata kuat. Tangannya mengepal tatkala makanan dihidangkan, menyapa penghidu dan berubah menjadi bisikan-bisikan yang memancing.
Kau lapar. Kau butuh aku.
Butuh pengendalian diri lebih untuk membuat Yoora tetap berdiri di tempat, membiarkan hidangan ditata oleh dua pelayan yang datang. Lapar boleh, tapi harga dirimu penting di tempat seperti ini. Begitu dia mengingatkan diri, berusaha tak gegabah. Menjadi pencuri tidak akan membuatnya mengais-ngais meja.
“Memangnya ini tidak terlalu banyak?” Tanpa sempat berpikir lebih jauh, pertanyaan itu meluncur dari bibir Yoora. Terkejut, namun gadis itu berhasil mempertahankan ekspresinya.
Salah satu pelayan mengangguk, bahkan bertanya, “Apa ada lagi yang kau butuhkan?”
“Kalau ada yang lain akan kusampaikan,” balas Yoora. Dia tahu makanannya banyak, tapi lapar bukan sesuatu yang bisa dia ukur. Lagi pula, dia rasa perjalanan ke depan masih banyak, dan makanan merupakan komponen yang tak sebaiknya disia-siakan.
Para pelayan beranjak, dan Yoora terpikir untuk mengisi tas-tas kecilnya dengan buah-buahan yang ada. Pandangannya beredar ke sudut-sudut ruangan, merasakan dorongan-dorongan kecil untuk mengambil sesuatu yang bisa dia manfaatkan. Dia harap senjata atau sejenisnya.
Namun pandangannya menemukan sesuatu yang lain. Bukan senjata dan sama sekali tak tajam. Tatapannya tertuju ke cermin besar dengan pigura mengilat—mirip emas yang ditaburi serbuk perak, tapi warnanya agak ganjil—dengan sesuatu yang terukir di bingkai bawahnya. Yoora lantas mendekat, berusaha membaca tulisan itu.
Sesuatu terasa aneh, sangat. Hanya saja kepalanya dengan begitu saja menerjemahkan.
Homin te esse meto*. Ingat siapa dirimu.
Beberapa kali Yoora mengedip, memandangi pantulan dirinya. Tak ada yang berbeda, dia mengenali siapa yang dia lihat—hampir sama, kecuali satu. Ada garis hitam di bagian wajah kanannya, seakan menggores dahi hingga rahangnya, namun garis itu sama sekali tak menyentuh area matanya.
Dengan cara yang tak dapat dia pahami, sesuatu dalam dadanya bergetar, telinganya berdegung. Sesaat Yoora memejam kuat-kuat, merasakan begitu banyak sensasi mengganjal yang dirasakan tubuhnya.
“Apa kau butuh cermin, Nona?”
Yoora lantas berbalik, memandangi satu pelayan yang kembali dengan guci berwarna putih gading. Dia memandangi Yoora heran.
“Kaca itu hanya koleksi aneh Tuan Seo yang lain,” kata pelayan itu lagi karena Yoora tak berkomentar. “Tidak ada pantulan yang terlihat, kan? Aku juga tidak mengerti fungsinya, tapi mungkin keanehan itu yang membuat tuan kami menyimpannya.” Si pelayan meletakkan bawaannya di meja sebelum kembali memandangi Yoora, telunjuknya menunjuk pigura lonjong di sudut ruangan. “Kau bisa menggunakan cermin yang itu.”
“Baiklah.”
Hanya itu yang bisa Yoora katakan sementara pelayan itu kembali pergi, meninggalkannya sendiri. Alih-alih beranjak, Yoora bergeming di tempat, kulit meremang menyadari kata-kata sang pelayan. Bukan cermin, hanya pajangan aneh. Tidak bisa melihat apa-apa. Tapi Yoora yakin betul tadi itu ….
Ketika dia kembali melihat cermin itu, gambaran dirinya masih ada. Tapi hanya dia seorang yang terlihat di tengah kekosongan.
*
“Jangan mengira aku bisa membuang kecurigaanku begitu saja, Kim Seo.”
Suara Jonathan pelan, namun penekanan di tiap kata membuat siapa pun tahu itu lebih dari sekadar kalimat. Itu ancaman.
Seo menanggapinya dengan kekehan selagi mendekati pot di tengah taman, jemarinya menyentuh bunga merah besar yang mekar di tengahnya.
“Aku sama sekali tidak berekspektasi seorang Sorceré akan mengucapkan terima kasih padaku, apalagi dirimu,” balas Seo santai. “Tapi aku tidak akan menolak. Akan kuanggap itu sebagai momen istimewa dalam hidup.”
Jonathan sama sekali tidak bercanda, tetapi Seo bertindak seakan semua yang ada di hadapannya tak lebih dari lelucon. Sikapnya memang ramah, sayangnya itu tak akan cukup untuk membuat Jonathan menurunkan kewaspadaan. Jika ada yang menurun, sudah pasti kepercayaannya pada Seo. Menerima ajakan pria itu sudah menjadi keputusan yang kelihataannya tak harus Jonathan ambil. Terlalu banyak hal ganjil di sini. Meski begitu, dia tahu bahwa mereka butuh pemberhentian. Dan sekalipun Jonathan tak bisa memercayai Seo, ada sebuah kebenaran yang ingin disampaikan—sesuatu yang tak bisa begitu saja Jonathan lewatkan.
“Langsung saja,” kata Jonathan cepat, ketidaksabarannya tergambar jelas. “Apa yang mau kau bicarakan soal Ratu Jihwan?”
Melihat gerakan bibir Seo, Jonathan sempat berpikir pria itu akan menyeringai, membuat tangannya mengepal, bersiap untuk melancarkan serangan. Beberapa mantra bahkan melayang dalam kepala. Tetapi yang Seo lakukan justru menghela napas gusar, seakan-akan ada kegetiran yang ingin dia sampaikan.
“Ada sesuatu yang salah dengan Jihwan,” kata Seo sembari menjauh dari pot besar di tengah taman, berpindah ke pot yang lain.
“Asal tahu saja, sejak awal eksistensinya sudah salah,” balas Jonathan gemas. Tentu saja itu fakta. Semenjak Jihwan dan Theo mengambil alih Merveil, banyak hal jadi berantakan. Kaum Jonathan memang langka, namun di tangan sepasang kembar itu, kelangkaan berubah menjadi kemusnahan. Satu-satunya harapan Jonathan akan Sorceré saat ini hanyalah perkamen yang ingin dia cari—berharap masih ada yang tersisa untuk kelangsungan kaumnya.
Jonathan yakin Seo pun tahu kenyataan yang ada, kendati begitu sang pria menggeleng, tubuhnya memutar untuk berhadapan dengan Jonathan, bersidekap. Selama beberapa saat, Seo terlihat bukan sebagai pengikut Jihwan, melainkan sosok pemimpin yang cemas untuk mengambil langkah selanjutnya. Caranya menatap Jonathan bukan hanya sekadar sebuah pertimbangan, tapi menyiratkan kegelisahan.
Seo lantas menggeleng. “Maksudku bukan begitu.”
“Lalu apa?”
“Belakangan ini kerajaan pusat jadi tidak stabil. Kekuatan Ratu seperti mengalami siklus fluktuatif.” Nampaknya Seo sadar penjelasan itu tak membantu, sehingga dia menambahkan, “Kau pasti tahu setiap kediaman orang-orang kepercayaan Jihwan memiliki sihir keamanan tinggi, bukan?”
Jonathan mengangguk. Itu sebabnya Jonathan harus berhati-hati setiap kali mengeksekusi rencananya. Dan itu juga yang membuatnya tak bisa tenang memasuki kediaman Seo—walikota Nord, salah satu dari beberapa orang yang mendapat kekuatan khusus dari Jihwan. Bersikap ramah sama sekali bukan opsi.
“Kudengar kau menyelinap ke kediaman Tuan Shim dan sukses,” ujar Seo. “Seharusnya kau tahu apa maksudku.”
“Sihir Jihwan melemah?” Pertanyaan itu terucap spontan, Jonathan bahkan sedikit kaget. Meski begitu Seo menanggapinya tak lebih dari anggukan kecil. “Tapi waktu itu bukan aku yang menyelinap. Sihir Jihwan memang punya pengaruh besar untuk Sorceré, tidak untuk manusia.”
Seo mengerjap heran. “Bukan kau yang mengambil perkamen?”
Jonathan menggeleng, membuat alis Seo bertaut dengan tatapannya yang penuh tanda tanya. “Aku mengambilnya, tapi Yoora yang menyelinap.”
“Gadis itu?” Ada keraguan juga keterkejutan dalam nada bicaranya. “Tunggu dulu. Dia manusia biasa?”
Awalnya Jonathan ingin langsung mengiyakan, sayangnya dengan kejadian yang terjadi malam sebelumnya, dia bahkan tak yakin jika itu jawaban yang tepat. Manusia biasa jelas tak akan punya mata merah dan reaksi aneh terhadap darah. Dan jangan lupa soal gigitan Yoora di pundak Jonathan.
“Dia cukup membantu.” Paling tidak itu bukan jawaban yang sepenuhnya bohong.
Seo nampaknya tak begitu puas, namun topik pembicaraan soal Yoora berlalu begitu saja, kembali ke bahasan mereka sebelumnya. “Siapa pun yang masuk, harusnya kau tahu pertahanan tak bisa dimasuki begitu saja. Kehadiran kalian juga tidak terdeteksi sebelumnya. Aku hanya mengandalkan firasatku.”
Entah itu harus disyukuri, atau Jonathan harus lebih awas karena pergerakan mereka bisa diketahui Seo hanya berdasarkan firasat. Tetapi dia tak berkomentar.
“Kemarin aku mengunjungi Jihwan, dan auranya melemah,” tutur Seo lagi. “Kuharap itu bisa jadi kesempatan bagus.”
“Kesempatan bagus?” tanya Jonathan, dan Seo mengangguk.
“Aku bisa mengatur sedikit rencana untuk mengalihkan Jihwan selagi kau melanjutkan perjalanan. Perkamen yang kupegang berisi bahasa sihir lama, aku tidak begitu paham. Tapi dari yang aku tangkap, perkamennya seperti peta, dan mungkin itu akan membawamu ke tempat lain. Jihwan bilang ini perkamen penting. Firasatku bilang dia terancam dengan isi perkamen ini. Karena tidak bisa dimusnahkan, dia menggunakan cara lain.”
Jonathan belum melihat perkamennya sama sekali, hanya saja mendengar penjelasan Seo membuatnya makin bertanya-tanya. Bukan soal isi perkamennya, melainkan perlakuan Seo ini.
“Perangkap apa yang kau siapkan, Kim Seo?”
Kali ini pria itu tersenyum, melangkah mendekat dan berdiri di hadapan Jonathan. Gerak-geriknya terkesan santai, dan itu membuat Jonathan mengambil langkah mundur, matanya memicing curiga.
“Oh, Jeon. Tenanglah. Kali ini aku hanya menawarkan jalan keluar,” kata Seo. “Perangkap atau bukan, semuanya tergantung caramu menyikapinya sekarang.”
“Apa maksudmu?” tanya Jonathan, alisnya terangkat. “Jangan harap bisa menipu, Seo. Kupastikan kau akan mati.”
“Dengarkan aku dulu,” kata Seo, tanannya terangkat sebagai gestur mengalah. “Ambil dua hari untuk kabur secepatnya dari sini. Pergi sejauh mungkin, ikuti perkamennya. Dengan keadaan Jihwan yang seperti ini, Jihwan mungkin bisa digeser. Theo juga jarang hadir dan berurusan dengan kepentingan kerajaan.”
“Lalu bagaimana denganmu?” Jonathan kembali bertanya. Dia cukup paham akan perjelasan Seo, tapi dia tidak melihat bagian anehnya. Belum.
“Aku bilang dua hari, Jeon Jonathan,” ulang Seo, kini tatapannya terlihat lebih serius. “Dan jika kau berhasil, Jihwan tidak akan menemukanmu. Kau aman, sekalipun aku bilang apa yang kau lakukan dan melaporkannya pada Jihwan.”
Jonathan terbelalak, jelas sekali tak menyangka rencana yang satu ini. Hanya saja dia ketika dia mempertimbangkan, tawaran itu memang tak semestinya dilewatkan. Jika Seo benar-benar akan melakukannya—sekalipun dia tak bisa sepenuhinya memercayai hal itu—tawaran ini lebih baik daripada bertarung tanpa ada jaminan pasti dia akan baik-baik saja setelah terluka semalam.
Karena itu, sekali lagi Jonathan menatap Seo lebih teliti, selagi menimang dia mengganti pertanyaanya.
“Apa yang membuatmu melakukan ini, Kim Seo? Apa yang kau harapkan?”
Kendati langsung menjawab, pria itu tersenyum—sebuah senyum penuh arti namun tak bisa Jonathan pahami, kemudian menjawab, “Aku bukan berpihak pada yang kuat, Jeon. Di dunia kejam, kekuatan memang penting. Namun kuat tak selalu berarti menang.”
Keadaan berubah hening. Jonathan diam, mengedip barang sekali pun tidak. Matanya seakan mencoba meraba tiap inci kejujuran dari Seo. Tak pernah dia mengasosiakan pria ini dengan kebajikan, tetapi ucapannya terasa benar. Memang benar.
“Ada hidup yang kupertaruhkan di sini,” kata Seo lagi. “Dan aku bertanggung jawab atas itu. Aku bukan memilih jalan terbaik, tapi jalan yang bisa mempertahankan hidup banyak orang.”
Rasanya Jonathan ingin merespons, mengatakan apa saja. Sayangnya, sebelum bibirnya sempat mengucapkan apa-apa, sesuatu terdengar dari dalam rumah. Sesuatu yang pecah, kemudian diikuti dengan teriakan yang anehnya begitu familiar.
“TOLONG BERTAHANLAH! AKU AKAN CARI BANTUAN!”
Suara Yoora. []
*