“Nih bagian kamu” ucap bibi sambil menyodorkan sebuah ATM di hadapanku.
“Ini apa bi?” Tanyaku.
“Ini jatah warisan buat kamu dari almarhum kakakku, ya meskipun tidak sesuai dengan surat wasiatnya yang mengharuskan semua aset di berikan pada kamu, saya tidak rela karena kamu hanyalah anak tirinya” ketus bibi.
Aku hanya menghela nafas dalam, orang tuaku tepatnya ayah tiri dan ibuku baru saja meninggal karena sebuah kecelakaan, ayah tiriku bisa dibilang dari keluarga berada meskipun tidak kaya banget namun asetnya lumayan.
Dah hari ini adalah hari pembacaan surat wasiat dari ayah, dan di dalam wasiat itu ayah mewariskan berupa peternakan lele, restoran dan sebuah rumah untuk ku, karena memang dari pernikahan ayah dan Ibu tidak ada anak selain aku.
Namun mau bagaimana lagi bibiku adik dari ayah tidak terima, aku pun tidak mau ada keributan dan menerima apa yang mereka berikan.
“Baiklah bi, aku terima apa pun yang bibi kasih”
“Haruslah, di ATM itu uangnya nggak sedikit, cukuplah untuk kamu membeli rumah kecil dan menghidupi mu beberapa bulan” kata bibi.
“Bu, jangan begitulah” kata paman.
“Sudah pak, diam saja jangan ikut campur” ketus bibi
“Dan untuk rumah ini, boleh kami tempatin selagi kamu belum punya rumah baru” ucapnya lagi.
“Baik bi” jawabku.
“Ayok pak pulang, besok kita sudah harus mengecek peternakan dan juga restoran” ajak bibi
“Neng, Maafin bibi mu ya” kata paman
“Iya paman nggak apa-apa kok” jawabku sambil tersenyum
“Ayok pak, ngapain lagi sih”
Suami istri itu pun pergi meninggalkan rumah almarhum ayah.
Aku pun beranjak meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamar kedua orang tuaku
“Bu, pak neng harus gimana sekarang” ucapku lirih
Aku pun menangis sambil memeluk foto keluarga kami.
***
Namaku Arabella Natasya, ayah kandungku pergi entah kemana di saat ibu sedang mengandung, dan hanya surat perceraian yang datang ke rumah, Ibu sendirian berjuang membesarkan aku, memenuhi semua kebutuhan, kerja tak pernah lelah hingga Ibu di pertemukan dengan ayah tiriku yang saat itu statusnya masih bujangan, banyak sekali tentangan dari keluarga ayah ketika mereka berniat hendak menikah terutama dari adiknya, namun karena mereka sungguh-sungguh dan ketulusan ibuku akhirnya mereka mendapatkan restu, ya meskipun bibi masih tetap saja tidak suka.
Ayah memang ayah tiriku. Namun, kasih sayangnya tidak di ragukan lagi, dia selalu ada di saat aku membutuhkan, Ibu pun di buat bahagia, kami seperti keluarga yang sangat bahagia saat itu, hingga kejadian na’as itu pun terjadi, takdir memang tidak ada yang tahu, mereka hendak pergi ke kota untuk menghadiri acara wisuda aku.
Dunia seakan runtuh ketika mendapat kabar kalau orang tuaku meninggal dunia, dunia seakan tidak adil, hanya mereka yang aku punya tetapi kenapa harus dua-duanya di ambil, mau marah pun tak bisa.
Adzan subuh sudah terdengar di speaker masjid, aku pun terbangun dan siap-siap untuk melaksanakan sholat subuh.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Tanyaku
“Ya aku harus mencari rumah dulu, tapi aku harus cek dulu berapa uang di ATM itu, mudah-mudahan bisa buat aku bikin usaha”
“Tapi usaha apa ya?”
Aku hanya bisa mondar-mandir memikirkan usaha apa yang akan aku lakukan untuk menyambung hidup kedepannya, namun matanya tidak sengaja melihat tumpukan buku resep kue milik ibunya, lantas dia langsung menghampiri tumpukan buku itu dan langsung tersungging senyuman di bibirnya.
Pertama yang dia lakukan adalah mengecek berapa jumlah uang yang di ATM nya itu.
“Huffftt, Alhamdulillah jumlahnya lumayan juga, aku harus mencari rumah yang bisa sekalian aku cari untuk usaha nanti, oke baiklah mari kita pulang dan hunting rumah.”
Arabella pulang dengan menggunakan ojek online, sesampainya di rumah dia mengerjakan sholat Dzuhur, selesai sholat dia makan, karena dari pagi perutnya belum terisi dengan apa pun, selesai makan dia mulai mencari rumah yang dia inginkan.
“Hmmm, ini sih oke, tapi harganya lumayan, dari yang lain aja deh”
Arabella harus meminimalisir keuangannya karena selain membeli rumah dia juga butuh modal besar untuk toko kuenya nanti, ya Arabella sudah memutuskan untuk membuat toko kue, tidak sia-sia dia dulu sering membantu sang Ibu untuk membuat kue, dan ternyata sekarang berguna ditambah ada resep kue yang biasanya ibunya bikin, Arabella optimis dengan ide usaha ini.
“Nah ini oke nih, ruko dua lantai, atasnya udah di renovasi buat jadi tempat tinggal, paling tinggal renovasi bawahnya saja di buat jadi kayak cafe-cade fitu, kan lagi rame tuh istilahnya yang Instragamable, harganya pun miring, coba di hubungin deh” ucapnya antusias.
Dengan hati riang dia pun menghubungi nomor yang tertera di iklan, dan janjian untuk survey.
***
Keesokan harinya dia pun datang ke tempat yang akan dia lihat, tempatnya cukup jauh dari rumah almarhum ayahnya, hampir dua jam perjalanan. Arabella sengaja mencari tempat yang jauh bukan untuk memutuskan silaturahmi. Namun, dia hanya ingin hidup dengan tenang.
“Neng Arabella ya?” Tanya ibu-ibu
“Oh iya, ini dengan Ibu Murni?”
“Iya bener neng” kata si Ibu
“Alhamdulillah ketemu juga”
“Jauh ya neng?” Tanyanya
“Hehehe, lumayan Bu, dua jam dari rumah” jawabku
“Wah, lumayan jauh yaa”
Aku hanya tersenyum
“Ya udah aduh yuk langsung masuk aja, biar sekalian bisa istirahat di dalam kebetulan ruko ini setiap hari selalu di bersihkan” ajak si Ibu
“Iya bu, boleh”
“Neng, mau sama siapa tinggal disini?” Tanya Bu Murni
“Sendiri saja bu”
“Oh begitu, kira-kira mau bikin usaha apa?” Tanyanya lagi.
“Rencananya mau bikin toko kue bu, kebetulan dulu almarhumah Ibu saya bisa bikin kue dan saya sering bantu-bantu” jawabku
“Wah bagus itu neng, di sekitar sini belum ada toko kue, semoga laris manis ya neng usahanya, betah juga tinggal disini”
“Aamiin bu, terimakasih buat doanya, nanti kalau saya sudah mulai bikin kue saya kasih testernya buat Ibu”
“Boleh boleh, kirim aja ke rumah Ibu ya, deket kok dari sini, nanti Ibu kasih alamatnya lewat chat ya” kata Bu Murni antusias
Aku hanya tersenyum melihat tingkat Bu Murni,
Aku berkeliling di ruko ini ditemani Bu Murni setiap sudut aku perhatikan apa saja yang nantinya harus aku rubah, kalau untuk lantai dua sepertinya hanya butuh ganti catnya saja supaya suasananya sedikit berubah, selebihnya sudah oke.
“Ya udah Bu saya jadi beli rukonya”
“Alhamdulillah, terimakasih ya neng, semoga berkah” ucap Bu Murni
Akhirnya aku mendapatkan rumah yang nantinya bisa aku pakai buat usaha juga, tinggal cari tukang buat nanti renovasi.
“Ayah Ibu doakan Arabella ya, semoga usaha ini sukses Aamiin.”
***