Gerbang raksasa menuju wilayah suku air Kerajaan Arendele terbuka dengan bunyi debuman indah yang disahut oleh iringan terompet megah. Gerbang itu berisikan es yang dibekukan dengan pahatan yang membentuk lukisan timbul. Perahu kami perlahan berenang maju. Kupandangi sisi perahu, ada arus dan debur air yang terbentuk tanpa pengendali di atas perahu kami. Di sisi kanan dan kiri sungai, terdapat bangunan bangunan tinggi tempat para penari menyambut kami. Barangkali mereka lah yang membuat arus dan debur itu.
Perahu kami berhenti di depan gerbang bangunan yang menjulang lebih megah dari arsitektur sebelumnya. Gerbang itu berdentum terbuka saat seekor naga hitam mendarat. Seseorang dengan pakaian resmi kerajaan Arandele turun dari naga itu.
"Luelle, itu putra mahkota Atherian yang terkenal itu..." Evangelline, Putri Earl dari kerajaan Celestria, sahabatku yang selalu turut bersamaku ke mana pun aku pergi, sedang menahan histerianya. Evangelline suka sekali bergosip terutama tentang menjadi cantik, tersohor, dan pria. Terlebih kombinasi dari tampan, tersohor, dan pria, membuat Evangelline mabuk kepayang. Dia menarik-narik lengan gaunku. Ini bukan kali pertama Evanggelline seperti cacing kepanasan, hampir setiap waktu ia melakukannya.
Pria itu berdiri di sisi naga hitam tak bergeming. Tinggi menjulang, dengan rambut hitamnya yang tersemir rapih, serta iris mata merahnya yang melihat kami sekilas, tak diragukan lagi, Evanggelline akan pingsan. Sudut mataku menangkap wanita-wanita yang juga menaiki perahu, aku menghela nafas, tidak ada bedanya dengan Evanggelline rupanya. Sekarang aku mengerti mengapa begitu banyak wanita yang melamar menjadi tim penelitian Suku Air Arandele.
Satu persatu kami dibantu turun. Setelahnya, kami membungkuk bersamaan, "Hormat kami, Pangeran Mahkota Aetherian"
Pria itu tersenyum dan menoleh ke pria paruh baya di sisinya. Dia membisikkan sesuatu lalu mengangguk sekilas dan meninggalkan kami bersamanya.
***
Pria yang setelahnya menemani kami adalah kepala suku air Arandele. Bard namanya. Dia lelaki paruh baya yang murah senyum. Mudah didekati apabila rasa ingin tahu sudah di ujung tanduk. Kami dijelaskan berbagai macam hal tentang suku air Arandele. Membuatku membandingkan suku air Arandele dengan suku air kerajaan-kerajaan lainnya, termasuk tempatku lahir, Celestria. Bard tersenyum penuh penghormatan saat menceritakan perubahan-perubahan semenjak putra mahkota memimpin. Banyak kerjasama yang telah dilakukan bersama suku lainnya. Termasuk, bangunan kaca megah hasil kerjasama dengan suku api dan suku tanah.
Aku mengangguk angguk sepanjang penjelasan Bard. Pantas Pangeran Mahkota Aetherian dipuja-puja. Bard mengantar kami ke persinggahan kami yang lebih hangat dari bangunan yang ternyata adalah kastil itu. Aku tidak ikut masuk saat Bard memberi kami waktu untuk istirahat.
"Bard," panggilku.
Bard menoleh dan tampak berpikir sejenak, lalu melirik rambut merahku yang sulit untuk tidak dikenali itu. "Ah...Putri Luelle?"
Aku tersenyum. "Saya sangat tertarik dengan penjelasan Anda. Saya ingin mendengar lebih lanjut bagaimana suku air Arendelle menjalankan perubahan bersama."
Bard tampak terkejut dan terkekeh. "Ah, jadi ini putri Luelle yang aku diperingatkan oleh Pangeran Aetherian akan bertanya macam-macam."
Aku mengernyit dan tertawa kecil. Rupanya, itu yang dibisikkannya pada Bard. "Terima kasih atas sanjungannya" Aku tersenyum memandangi infrastruktur yang teratur dan bagaimana kesederhaan suku air dilindungi walaupun tersentuh oleh pihak kerajaan.
Bard melempar pandangnya jauh, "Aku akan menjelaskannya setelah makan malam" Bard memandangku lembut seperti seorang bapak pada anaknya. "Datanglah malam nanti, Putri, kami akan menjamu Anda dan kuusahakan untuk menyampaikan semampu ku"
Sebelum Bard bertolak, “Kami juga ingin belajar banyak dari Anda,” guraunya.
Aku tersenyum ramah. “Tentu, Bard”
***
Malam sepulangku dari kediaman Bard, Aku terdiam merenung.
Mendengar, menulis, dan merenung adalah lain hal dari pelaksanaan. Aku menjadi lebih mengerti betapa lelahnya Adikku, Putra Mahkota Immanuel. Ia selalu tidur larut dan tampak tidak serius. Dengan pekerjaannya yang menumpuk sulit untuk sekedar bersantai.
Kupandangi lampu meja kamar lamat lamat. Dia masih setia menemaniku. Aku menyentuh nyentuhkan kap lampu itu, ini juga merupakan salah satu penemuan hasil kerjasama suku api, suku tanah, dan suku suku lainnya. Arandelle dan seluruh keajaibannya, merupakan kerajaan yang memimpin abad ini. Bukan hal aneh bila banyak kerajaan ingin belajar dari kerajaan ini.
Putra mahkota Aetherian, begitu semua orang menyebutnya, menjadi tokoh utama dalam revolusi ini. Setelah berabad-abad lamanya dunia terkungkung dalam belenggu bangsawan yang tak becus menjalankan kerajaan. Arendele dan kerajaan kerajaan sekutu memulai bersama revolusi ini.
Itulah yang sedang mendarat dan berputar di kepalaku.
Aku memijat mijat keningku. Aku menghembuskan nafas berat. Banyak hal yang perlu kupelajari dan esok akan menjadi hari di mana Aku mulai sibuk bersama rekan penelitianku.
Aku menatap langit langit kamar.
Entah sejak kapan, belajar menjadi hal serius. Keseharianku sekarang dipenuhi oleh buku, pena, perkamen dan mengajar dari satu suku ke suku lainnya. Entah bagaimana dari mendengarkan koki istana yang senang bercerita mengenai kampungnya, apalagi tentang kemampuan suku tanah menumbuhkan tanaman-tanaman herbal, kemampuan yang diturunkan dari leluhur-leluhur mereka, menjadi peneliti yang belajar ke berbagai suku di dunia. Kuharap dengan tulisanku, aku bisa menyampaikan kerjasama dan dunia seperti apa yang bisa dibangun bersama.
Kupikir semua yang kulakukan sederhana, tetapi aku salah.
*** selesai chapter 01***