"CLAREEEE, baju gue buat syuting hari ini mana?"
Clare yang sedang memasukkan buku-buku pelajaran dan laptopnya ke dalam tas, mengeluh panjang lalu berlari ke kamar Arga.
Pintu terbuka. Menampilkan Arga yang baru selesai mandi.
"Kan, aku udah siapin di lemari."
"Ambil! Pakaiin baju gue!" Suruh Arga—dadanya telanjang—sorot matanya tajam.
Jika ciwi-ciwi—alias fans fanatiknya melihat Arga dalam keadaan seperti ini, mereka semua pasti sudah histeris dan mimisan.
Namun Clare sangat terbiasa karena mereka bersama sejak SMP.
Clare mengambil kemeja Arga lalu memakaikan ke tubuh Arga yang tinggi—tegap.
Tangannya bergerak teratur—mengancing satu per satu kancing di d**a Arga.
Berada di jarak sedekat ini membuat Arga tersenyum sinis.
“Di sekolah, ada yang deketin lo?”
Clare berhenti sejenak. Matanya menatap kancing di depan d**a Arga.
Dia menggeleng pelan. "Enggak."
Arga mencengkeram pergelangan tangan Clare. “Jawab yang bener.”
Clare mendongak kesal. "Aku udah jujur."
Arga menarik smirk samar. "Sesuai perjanjian awal—jangan temenan sama cowok. Gue nggak peduli siapa. Gue nggak suka. Lo cuma boleh deket sama gue.”
“Gan, itu—”
“Hidup lo cuma buat gue. Titik.”
"Iya."
"Iya apa?"
"Iya Arga, aku paham." Clare mengangguk patuh.
"Good girl. Gue udah transfer duit jajan ke rekening lo. Nggak usah keluar malem!!"
"Makasih!" kata Clare. "Udah selesai. Aku berangkat sekolah dulu, yaa!!" Pamitnya namun Arga menahannya.
"Kenapa, Gan?"
"Cek tawaran naskah Film buat gue, dulu!! Gue males baca kalau isinya masih acak-acakan,” kata pemuda yang anti kata 'tolong' itu.
"Iya." Clare meraih naskah di meja dan membuka file yang dimaksud.
Tangannya bergerak—membaca sinopsis cerita.
"Nana, jam tangan gue merah lo taruh mana?"
Clare menunjuk laci di sebelah ranjang kamar tanpa memutus tatapan dari naskah.
"Kaca mata gue?"
"Laci atas."
Arga langsung mengambilnya sesuai ucapan Clare. "Lo emang harusnya tau diri karena gue pungut lo dari Panti Asuhan bukan untuk hidup enak. Jangan lupa siapa yang punya lo," katanya sinis.
Clare hanya melirik—sama sekali tidak sakit hati sebab sudah terbiasa oleh mulut pedasnya.
"Gimana alur Film-nya?"
Clare baru menoleh. “Hmm... filmnya keren. Ambil aja.”
Arga melirik malas sambil memakai jam tangannya. “Siapa lawan main gue?”
“Kanaya.” Jawab Clare.
"Skip! Gue nggak mau se-frame sama dia." Cetus Arga berdiri di depan kaca—merapikan penampilannya.
Clare mendongak—heran. “Kenapa?”
“Nanti lo cemburu.”
Clare mendelik malas. “Kepedean banget. Aku nggak cemburu.”
Arga membalikkan badan dengan tatapan penuh emosi.
“Jadi lo nggak cemburu?” tanyanya meninggi membuat Clare terkejut. “Lo nggak keberatan gitu, gue acting mesra sama Kanaya—padahal lo tau kalau dia suka gue? Lo biasa aja?” tanyanya tidak terima.
Clare seketika terdiam. Namun Arga menarik lengannya kasar membuat Clare merintih.
"Jawab gue!"
“Sakit, Gan! Aku harus ke sekolah.”
Arga masih menahan lengannya beberapa detik sebelum akhirnya melepaskan.
“Ya udah, sana berangkat!!” kata Arga sinis. “Cium gue dulu!”
Dengan cepat, Clare berjinjit untuk mengecup pipi kiri Arga.
CUP!!
"Muah. Udah."
Arga langsung memalingkan mukanya dan menahan senyum—namun berdehem berusaha menguasai diri.
"Cuma di pipi?"
Tangan kirinya terangkat, menarik tengkuk Clare pelan. Wajahnya mendekat—ingin mencium bibir Clare.
Namun Clare buru-buru menahan dadanya dengan tangan. “No.”
Arga mengerjap, lalu mendecak kesal.
“Lagi?! Kenapa sih lo selalu nolak tiap gue mau cium?!”
"Aku berangkat. Bye, Pacar!" Pamit Clare buru-buru berlari menjauh membuat Arga mengangkat alis.
"Bye Pacar?" Decih Arga merasa geli. "Minta cium aja pelit."
***
Suasana kelas 11 IPA 1 siang itu—cukup lengang.
Clare duduk di pojok, bersandar di kursinya dengan laptop di meja. Dia sedang mengecek proposal OSIS.
"YAAMPUN—CLARE!! INI GILA."
Clare terkesiap sedikit, menoleh. “Apaan, sih?”
“Lihat ini! Lihat ini!! ARGA, Yum! Gila, doi makin ganteng parah! Astaga, gue pingsan beneran, deh!” kaya Ziva lebay.
Di layar terpampang foto Arga sedang pemotretan untuk brand fashion ternama. Kemeja putih yang setengah terbuka—memperlihatkan d**a dan perut berototnya.
"ARGA GANTENG BANGET, OY!" Bukan hanya Ziva, mendadak satu kelas heboh membahas foto itu.
"Yum, bayangin, seberuntung apa cewek yang bisa jadi pacarnya." Ziva memekik tertahan.
"Emang lo tau—sifatnya di real life gimana? Kali aja anaknya toxic." Dengus Clare menopang pipi malas.
"Nggak papa, Yum. Gue mah..."
ikhlas lahir batin jadi ceweknya walaupun aslinya toxic, hehehe." Mata Ziva berbinar-binar. "Lagian, dia tuh tipe artis anti cinlok. Eh, dia udah punya cewek belum, ya?"
"Mana gue tau?"
"Andai aja dia sekolah di sini, mata gue pasti seger lihat cogan tiap hari. Sayangnya dia home schooling." Ziva tersenyum-senyum menciumi foto Arga.
Dia tidak peduli dan memilih mem-posting foto terbarunya di pantai bersama Ziva.
“Where the sun meets the waves, I find peace.”
“Yaelah, ini caption apa judul puisi SMA.” Protes Ziva.
"Diem lo!"
Clare menekan tombol post.
Baru beberapa detik berselang—notif komentar langsung bermunculan.
“Eh, eh! Ada yang komen tuh!” Ziva langsung melongok penasaran ke layar Clare. “ASTAGA—KAK GAMA?!!”
Sekelas menoleh terkejut.
Pasalnya Gama—alias Gamantara Malik Andaru adalah cowok populer angkatan kelas 12. Selain tampan, dia juga pintar. Mantan ketua OSIS sekaligus anggota basket.
Selain itu, Gama juga di kenal ramah dan baik.
"Sssttt, diem! Berisik lo!" Clare melotot dan menabok kepalanya.
"Tapi itu Kak Gama—"
"Iya, Ziv. Gue tau."
Clare membaca komentar dari Gama.
Gamantara_Malik: Cantik.
“CLARE. LO. DI PUJI. SAMA KAK GAMA!! OMG, GUE IRI PLISSS!”
Clare menatap layar dengan wajah bingung bercampur malu.
“Apaan, sih? Alay!”
“Gue udah bilang dari kapan tau, itu kakak kelas udah suka sama lo dari jaman MOS! Tiap kali lewat depan kelas, pasti nyariin lo. Titip salam lewat Eja—anak basket, udah kayak rutinitas!”
"Udah, lo sama Kak Gama aja! Udah enak tuh. Doi cakep banget."
Clare mendengus. "Nggak usah ngada-ngada. Gue udah punya cowok."
"HAH?"
***
Di sela break syuting—suasana di area tunggu cukup ramai.
Arga duduk di kursi khusus artis. Ia memilih menyendiri—bersandar malas sambil bermain HP.
Jempolnya menggulir timeline IG tanpa minat sampai satu unggahan muncul di beranda.
Sebuah foto. Clare.
Di pantai. Dengan dress putih tipis dan rambut dibiarkan tergerai diterpa angin laut. Background matahari dan ombak membuatnya terlihat—terlalu cantik.
Rahangnya mengeras.
“Apa-apaan bajunya...” Gumamnya pelan, nadanya penuh amarah yang tertahan.
“Dia pikir ini nggak seksi?!” Protes Arga dalam hati.
Tanpa pikir panjang—Arga mengetuk kolom komentar, tapi bukan dengan akun resminya—melainkan akun alter-nya.
"HAPUS FOTONYA! WHAT THE HELL ARE YOU DOING????"
Belum sempat emosinya reda, matanya menangkap satu komentar lain yang langsung membakar otaknya—
Gamantara_Malik: Cantik.
"Gamantara Malik?" Desisnya tajam.
Di tambah komentar beberapa akun mengatakan ciya-ciye, cocok lah, ini lah, itu lah.
Apa jangan-jangan Clare mem-posting foto ini supaya di komentari Gamantara ini?
"b******k!" Arga langsung bangkit dari kursinya, menendang meja di depannya dengan kasar.
BRAK!!
Minuman dan makanan di atasnya terbalik, berserakan ke lantai.
Semua orang di ruangan langsung menoleh kaget.
Arga menelpon Clare.
"Halo—"
"Gue ke sekolah lo. Posting foto kayak gitu sekali lagi depan gue! Nggak usah pakai nangis!!!" kata Arga tajam kemudian menyambar kunci mobilnya.
Langkah Clare cepat keluar dari ruang OSIS.
Dan belum sempat Clare berbelok ke tangga, sebuah tangan menarik keras pergelangan tangannya.
“Eh—apa—”
"Ikut kami!"
BRUK!
Tubuh Clare ditarik paksa ke arah koridor sepi—lalu dibawa masuk ke toilet perempuan.
“Lo kira lo siapa, hah?! Dasar pick me!” Sentak Valerie.
Dia adalah Queen bee SMA Nusa Cendekia.
Kakak kelas. Penuh drama.
“Apa-apaan sih?!” Clare berontak.
"Diem lo!" Tapi Valerie sudah lebih dulu menyiramkan air dingin dari botol ke tubuh Clare.
BYURRR!
Seragam Clare langsung basah. Rambutnya menempel di wajah. Gadis itu mengerang kaget dan refleks mundur.
“Lo tuh caper banget ya. Flirting sama mantan gue terang-terangan?" Bentak Valerie.
“Gue nggak flirting sama siapa-siapa, Kak!”
Valerie mendesis dan langsung menjambak rambut Clare dengan kasar. “Jangan sok polos lo! Ketua OSIS tukang caper!”
PLAK!
Clare menampar wajah Valerie keras-keras. Suasana langsung hening.
Valerie membeku, wajahnya merah karena malu dan marah bersatu. Dua anteknya pun melongo.
“Gue cuma adik kelas. Gue Ketua OSIS. Terus lo pikir gue nggak bisa bales lo?” Suaranya tajam, tegas.
“Kalau lo mau labrak gue, di luar sekolah. Biar gue kasih lihat, gue siapa.”
Valerie seketika kicep melihat tatapan tajam Clare.
"Minggir!"
Valerie memutar bola matanya.
"MINGGIR!" Bentak Clare membuat Valerie gelagapan dan segera menyingkir.
Clare keluar dari toilet sambil menyeka wajahnya. "Sial."
“Clare?”
Pemuda tinggi dengan seragam olahraga baru keluar dari ruang basket.
Mata Gama membulat begitu melihat kondisi Clare.
“Kamu kenapa basah gitu?”
Clare buru-buru menghindari tatapan cowok itu. “Nggak papa, Kak.”
Gama menghela napas tajam, lalu tanpa pikir panjang membuka jaket training yang dipakainya.
"Eh Kak nggak usah—"
“Seragam kamu tembus pandang. Pakai!”
Dia menggantungkan jaketnya ke bahu Clare membuat Clare spontan menyilangkan tangan di d**a.
Clare menoleh pelan, ragu sejenak, lalu mengangguk kecil. “Makasih, Kak...”
Clare bergegas pergi meninggalkan Gama.
Suasana kantin begitu ramai, meja penuh, suara obrolan bersahutan saat jam istirahat kedua.
Hingga tiba-tiba...
“WOY, ADA ARGA DI HALAMAN DEPAN!!!”
"Hah? Seriusan?"
"Iya. Dia ke sini."
Sekelip mata, kantin langsung pecah.
“OMAGAAAAAT!”
“YANG BENER LO?!”
Semua murid bangkit dari tempat duduk, berlari ke luar kantin, membawa ponsel dan suara teriakan kegirangan.
Berbeda dengan Clare yang membeku syok.
Ziva yang masih duduk langsung bangkit panik.
“CLARE, CEPAT! KITA HARUS LIAT!”
“Ziv, gue nggak mau, sumpah—”
"Ayo, ih!"
Ziva menariknya membuat Clare terpaksa ikut berlarian ke halaman depan sekolah—menembus kerumunan siswa yang saling dorong-dorongan demi melihat sosok Arga.
Dan di sana—Sebuah mobil biru metalic terparkir dengan elegan.
Seorang cowok tinggi dengan tubuh tegap menyender di mobil memakai kacamata hitamnya, kaos putih di balut jaket dan celana hitam.
“GILAAAA! Itu beneran, Arga!”
“Gue mau pingsan!”
"Dia lebih cakep aslinya, woy."
Ziva yang masih menggenggam tangan Clare makin gencar menyikut maju.
Tapi tubuh Clare terdorong dari samping oleh kerumunan.
BRAK!!
"Awh!" Rintih Clare saat tubuhnya menabrak seseorang.
Dia mendongak. Matanya melebar saat Arga sudah merengkuh pinggangnya erat.
Arga melepas kacamata hitamnya perlahan, menatap Clare dari atas ke bawah dengan rahang mengeras.
"Karena lo, gue kabur dari semua jadwal gila itu." Desisnya tajam.
Clare menunduk gugup—jantungnya berdegup kencang. Tidak boleh ada yang tau jika dia dan Arga berpacaran.
“G-Gan, jangan di sini, please...”
Tanpa bicara lagi, Arga langsung mencengkeram pergelangan tangan Clare dan menariknya pergi dengan langkah cepat.
“Ikut gue!”
“TUNGGU! DIA TARIK CLARE?!”
"Kok bisa?"
"Mereka saling kenal?!"
"Nggak mungkin plot twist-nya pacar rahasia Arga selama ini itu KETUA OSIS SEKOLAH KITA???"
Ziva sendiri melongo—ikutan syok.
***
BRAK!!
Punggung Clare membentur dinding gudang yang dingin. Dia merintih kesakitan.
"Lo—" Arga melihat jaket yang di pakai Clare. "Anjing! Apa-apaan lo pakai jaket cowok lain? Jaket siapa itu, hah?!"
Arga menarik jaket basket itu dari tubuh Clare. "BUKA!"
"Jangan Gan—"
Seketika tubuh gadis itu hanya terbalut tank top crop-top warna abu yang kini membuatnya...
"Kamu keterlaluan tau nggak?!" Teriak Clare terisak.
"Gue? Lo yang keterlaluan. Lo itu punya gue." Bentaknya emosi.
Clare menatap mata Arga dengan sorot memerah, meski suaranya nyaris bergetar.
"Gue pengen putus."
Wajah Arga menegang dan tersenyum licik.
"Lo pergi, gue ancurin siapa pun yang lo datengin setelah gue."
Clare menarik napas tajam, mencoba tetap tegar meski matanya memerah.
"Gue nggak pernah sayang sama lo."
Arga tersenyum sinis. Ia menunduk perlahan, menyatukan dahinya ke dahi Clare.
"Sayang atau enggak, lo tetap milik gue. Bahkan kalau itu bikin lo menderita. Ngerti?"
Tangan dingin Arga terangkat mencengkeram tengkuk Clare, menariknya mendekat secara paksa.
"Lo harus inget. Lo adalah pembunuh orang tua gue. Harusnya lo tau diri, gue masih mau jagain lo."
Detik berikutnya, bibir Arga mendarat di bibir Clare dengan tekanan yang menggetarkan seluruh sendi. Ciuman itu bukan sekadar kecupan. Bukan juga lembut.
Arga menekan pinggang Clare agar mendekat.
Arga tidak peduli dan melumat rakus bibir Clare dengan ciuman brutalnya.
Saat ciuman terputus, tangis Clare pecah dan terduduk lemas di lantai memeluki tubuhnya sendiri, membuat Arga membeku.
"Sial." Umpat Arga dan melepaskan jaketnya kemudian memakaikan ke Clare lalu menariknya ke dalam pelukan.
"Udah, jangan nangis! Ayo pulang!"