Pesan Andira masuk ketika Audya baru hendak meninggalkan kantor. Isinya pendek, tetapi cukup membuat tangannya berhenti memasukkan kotak makan ke tas.
Kak, hari ini pulangnya agak telat. Masih mengerjakan tugas kelompok di sekolah.
Audya langsung melihat jam. Senin sore adalah giliran Andira menjaga toko karena dirinya harus mengajar Naura. Dina sudah mengatur waktu untuk membantu ayah mandi. Kalau Andira terlambat, siapa yang akan berada di depan?
Dia menelepon. Baru pada panggilan kedua adiknya menjawab.
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Tadi guru minta kelompokku tetap tinggal. Ada yang harus diperbaiki."
"Sampai jam berapa?"
"Belum tahu."
Jawaban itu membuat Audya menutup mata. Dulu juga semuanya dimulai dari belum tahu, sebentar, dan nanti pulang. Sulit untuk langsung percaya hanya karena Andira beberapa hari ini terlihat lebih menurut.
"Kamu benar masih di sekolah?"
Suara di seberang mendadak diam. Lalu terdengar gesekan kursi sebelum Andira menjawab lebih pelan.
"Iya. Kalau enggak percaya, aku kasih teleponnya ke guru."
Audya hampir mengiyakan. Namun dia mendengar pengumuman samar dari pengeras suara sekolah dan beberapa suara teman di belakang adiknya. Bukan bukti untuk semuanya, tetapi cukup untuk membuatnya berhenti menuduh.
"Kasih tahu ibu dulu. Tanya kira-kira selesai jam berapa. Nanti kabari lagi."
"Ibu enggak pegang ponsel."
Benar juga. Audya mengusap kening. Masalah sederhana yang berulang kali membuat mereka saling menunggu kabar. Andira bisa menghubungi Audya, tetapi ibu tetap berada di rumah tanpa mengetahui perubahan apa pun.
"Telepon Bu Dewi. Minta tolong panggilkan ibu sebentar. Bilang baik-baik. Jangan cuma titip pesan terus menghilang."
Andira mengiyakan, lalu panggilan berakhir.
Audya duduk lagi. Dia ingin langsung pulang untuk memastikan semuanya beres. Namun ada Naura yang menunggu pada jam yang sudah disepakati. Kalau setiap perubahan di rumah membuat dirinya meninggalkan pekerjaan, jadwal yang mereka tulis tidak akan pernah sungguh-sungguh dipakai.
Beberapa menit kemudian, pesan baru masuk. Andira sudah bicara dengan Dina melalui ponsel Bu Dewi. Ibu memilih menutup toko sebentar ketika membantu ayah. Andira diperkirakan selesai sebelum pukul lima dan akan langsung pulang.
Audya membaca pesan itu sampai dua kali. Tidak ada bencana. Tidak ada pertengkaran besar. Ternyata ibu bisa memutuskan sesuatu tanpa dirinya harus selalu datang untuk mengatur.
Dia hampir menelepon Bu Dewi untuk memastikan lagi, tetapi berhenti setelah membuka daftar nomor. Kalau setiap kabar Andira masih harus diperiksa melalui orang lain, kapan mereka belajar saling percaya? Audya menyimpan ponselnya, meski perasaan tidak nyaman belum langsung hilang. Hari ini dia akan melihat apakah adiknya menepati kabar yang diberikan.
Di angkutan, Audya membuka catatan pengeluaran. Keinginan membeli ponsel untuk ibu ditambahkan di bawah kebutuhan ongkos. Honor mengajar belum diterima, sedangkan uang yang disimpan keluarga sudah punya keperluan masing-masing. Dia tidak ingin memindahkan uang cadangan ayah hanya karena sedang merasa semuanya mendesak.
Nanti setelah honornya masuk, dia akan menghitung lagi. Tidak harus bagus. Yang penting ibu bisa menelepon tanpa menunggu anaknya pulang atau meminjam milik tetangga. Audya menutup catatan ketika kendaraan mendekati halte tujuannya. Satu kebutuhan lagi untuk dipikirkan, tetapi setidaknya kali ini dia menuliskannya sebelum membeli.
Di rumah Larasati, Naura menyambut dengan menunjuk payung yang dibawa Audya.
"Itu punya papa."
"Iya. Kakak kembalikan. Terima kasih sudah dipinjamkan."
Naura menerima payung itu dengan kedua tangan, lalu menyerahkannya kepada pengasuh. Gerakannya serius sekali, seolah sedang menerima barang penting. Audya tersenyum dan mulai mengeluarkan buku.
Pelajaran berjalan cukup lancar sampai ponsel dalam tasnya bergetar. Audya menunggu Naura selesai menulis angka, baru memeriksanya sebentar. Andira mengabarkan sudah tiba di rumah.
Kali ini Audya hanya membalas terima kasih sudah memberi kabar. Dia kembali pada Naura sebelum pikiran lain sempat memenuhi kepala.
"Kakak, Sabtu nanti bisa lihat Nau?"
Audya sudah menduga pertanyaan itu akan muncul lagi. "Kakak masih harus ke kampus pagi hari. Kalau sudah selesai dan acaranya belum habis, kakak datang. Tapi mungkin tidak lihat bagian nyanyinya."
Mulut Naura langsung melengkung turun.
"Kalau kakak bilang bisa padahal belum tahu, nanti Naura menunggu. Kakak enggak mau begitu."
"Tapi papa datang."
"Nah, nanti papa yang lihat dari awal. Naura bisa minta direkam juga."
Naura mempertimbangkan usul itu, lalu mengangguk sambil kembali mewarnai. Audya lega karena berhasil menjelaskan tanpa membuat janji tambahan. Sayangnya rasa bersalah tetap singgah. Dia memang belum pandai melihat wajah kecewa tanpa merasa harus memperbaikinya saat itu juga.
Ketika pulang, toko sudah tutup. Dina sedang duduk dengan ayah di ruang tengah, sementara Andira menyalin tugas dari buku. Audya meletakkan tas dan menanyakan keadaan mereka.
"Tadi tutup berapa lama, Bu?"
"Sebentar. Ada yang beli juga menunggu. Ayah sudah selesai mandi waktu adik kamu pulang."
Audya mengangguk. Wajah ibunya tidak terlihat kesal. Justru dirinya yang sejak sore seperti membawa masalah besar sendirian.
Setelah makan, Andira menyodorkan ponsel. Di layar ada percakapan dengan penjual kosmetik. Barang yang masih tersegel tidak dapat dikembalikan hanya karena pembeli berubah pikiran. Pengembalian hanya diterima untuk kesalahan atau kerusakan barang.
"Aku sudah tanya," ujar Andira.
"Iya. Simpan dulu barangnya. Jangan dibuka kalau masih mau dicari cara lain."
Andira menarik ponselnya, tetapi tetap berdiri di depan Audya.
"Yang tadi, aku beneran di sekolah."
Audya menatap wajah adiknya. Ada marah yang ditahan di sana, tetapi juga sesuatu yang menyerupai malu.
"Aku tahu."
"Tadi kakak enggak percaya."
Audya tidak bisa membantah. Dia merapikan posisi duduk sebelum menjawab.
"Aku masih susah percaya karena yang kemarin. Tapi aku juga seharusnya dengar dulu sebelum menuduh. Maaf."
Andira tampak tidak menyiapkan jawaban untuk itu. Dia menunduk, lalu mengangguk kecil.
"Lain kali aku kabari lebih cepat."
"Kalau mendadak dari guru, ya jelaskan. Kita cari gantinya. Bukan berarti kamu enggak boleh punya urusan sekolah."
Dina mendekat membawa buku jadwal. Ada bagian yang sudah dicoret dan diganti. Mereka menambahkan catatan sederhana: kalau salah satu terlambat, kabari dan tentukan siapa yang menggantikan. Kalau tidak ada, toko boleh ditutup sebentar.
Audya memandangi kalimat terakhir. Dulu menutup toko terasa seperti kegagalan karena setiap pembeli berarti pemasukan. Namun membiarkan ibu berlari antara kamar ayah dan pintu toko juga bukan jalan keluar.
"Besok kalau ada uang lebih, kita pikirkan ponsel buat ibu," kata Audya.
"Yang bisa telepon saja. Ibu enggak mengerti yang macam-macam."
"Bisa diajari, Bu."
Andira menunjuk ponselnya sendiri. "Sementara kalau aku sudah di rumah, ibu pakai ini saja. Nanti nomor kakak aku taruh paling atas."
Audya mengangguk. Ponsel baru masih harus menunggu. Untuk malam ini, mereka bisa mulai dari benda yang sudah ada.
Saat masuk kamar, Audya menyadari bahunya tidak sepegal biasanya. Bukan karena pekerjaannya berkurang. Ada satu urusan yang tadi berhasil ditangani tanpa harus seluruhnya berpindah ke tangannya.